Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Cemburu


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju apartemen, suasana di antara aku dan Bang Jack terasa dingin, kaku, dan seakan-akan kami berdua adalah orang asing. Aku tahu kami tidak boleh sembarangan bicara karena ada penyadap suara di ponselku. Tapi, ini, kami nyaris tidak bicara satu sama lain. Bang Jack hanya menanyakan bagaimana kabarku, dan setelah aku mengatakan kalau keadaanku baik-baik saja, obrolan kami terputus.


Sesampainya di apartemen, kami langsung keluar dari mobil dan menuju lift, sementara para bodyguard menunggu di luar bangunan apartemen.


"Aku jarang pulang ke sini," kata Bang Jack setelah pintu tertutup. "Kalau kamu tidak capek, bisa tolong bersihkan kamarku? Aku ingin istirahat."


Modus!


Aku tahu Bang Jack hanya menjadikan itu sebagai alasan. Dan itu membuatku dilema, aku ingin tertawa menyadari modus Bang Jack, tapi juga takut, aku tidak tahu apakah cctv yang dipasang oleh James masih aktif ataukah tidak. Dan lagi, yang sangat kuinginkan adalah memeluk Bang Jack, tapi kata-kata James yang memintaku untuk menjaga kesetiaan terngiang-ngiang di kepalaku. Membuatku takut.


"Baiklah. Aku ke kamarku sebentar."


Bang Jack mengangguk. Dia melepaskan sepatu dan jaketnya lalu pergi ke kamarnya.


Setelah dari kamarku untuk menaruh tas tangan dan ponselku, aku pergi ke belakang untuk mengambil kemoceng dan sapu, lalu masuk ke kamar Bang Jack. Pria itu duduk di kursi meja riasnya.

__ADS_1


Aku mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan. Asli modus. Apanya yang harus dibersihkan? Jelas-jelas semuanya bersih tanpa debu sedikit pun.


"Hatiku yang perlu kamu bersihkan, Rose."


Deg!


"Hatiku yang sakit dan dipenuhi amarah. Hatiku yang sedang cemburu melihatmu dicium pria lain tepat di hadapanku."


Aku tertunduk. "Maaf," kataku. "Tapi itu bukan kemauanku. Aku...."


Secepat kilat, pria itu bangkit dan langsung menyambarku. "Aku tidak perlu permintaan maafmu," katanya, suaranya serak dan ia merengkuh tubuhku begitu kuat. Rasa-rasanya, tulang-tulangku serasa akan remuk dibuatnya. Semua benda yang ada di tanganku berjatuhan ke lantai.


Jawabannya muncul dalam bentuk luapan emosi. Bang Jack menyambar bibirku, mencium bibirku dengan kasar dan brutal.


"Kau milikku. Kau milikku, Rose. Kau milikku." Dia mencium bibirku lagi dengan kasar. "Katakan, kau masih milikku, kan? Masih ada aku di hatimu, ya kan?"

__ADS_1


Aku tidak mengatakan apa pun. Tidak dengan kata-kata. Aku menyambar bibirnya, menciumnya, membalas ciumannya dengan kasar dan brutal. Menciumnya sangat lama hingga aku sendiri merasa engap kehabisan napas.


"Masih perlu kukatakan? Apa aku masih perlu menjawab pertanyaanmu dengan kata-kata?" Aku menatapnya dengan lekat, air mata sudah menggenang memenuhi kelopak mata.


Bang Jack menggeleng. Dia kembali menangkup wajahku, menyambar bibirku, dan perlahan telapak tangannya berpindah, dia menangkup bagian belakang kepalaku dan mencengkeram helaian rambutku. Kemudian, dengan perlahan, kaki kami melangkah hingga mencapai dinding.


Oh... dia menggila. Dia membuatku mabuk akan sentuhannya, hingga tanpa sadar, aku membiarkan bibirnya menjelajahi tengkuk leherku yang waktu itu dalam keadaan bersih. Bang Jack menciumku, membenamkan gigi-giginya hingga mengisa* tengkuk leherku sampai meninggalkan jejak merah.


"Ouch! Emm... Abang... Abang... ukh...! Ya Tuhan, Ya Tuhan... Emmmmm...!"


Aku mengeran* hebat dibuatnya.


"Aku kangen sekali padamu, Rose," ia menggeram di telinga. "Aku tidak bisa menahan diri untuk menuntaskan rasa rinduku. Aku tersiksa menahan rindu."


Aku tersenyum. "Kalau begiu lepaskan saja," kataku tanpa malu. Lagi-lagi keberadaan Bang Jack di sisiku membuatku tak terkendali. Lagi-lagi aku seperti wanita jalan* dan mengabaikan semua perintah James.

__ADS_1


"Boleh?"


Aku mangangguk. Bang Jack tersenyum girang dan langsung melepaskan kancing-kancingku, dan sesaat kemudian aku tersadar: di tiga titik tubuhku terukir nama James.


__ADS_2