Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Terbuai


__ADS_3

Sewaktu aku selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan kimono-ku, Bang Jack tengah duduk di sofa, sarapan. Sisa sandwich di piring yang tak mampu kuhabiskan, sudah habis dilahap olehnya, berikut buah-buahan juga tak luput ia santap dengan lahap. Ya ampun, dia tertawa sementara aku menggeleng-gelengkan kepala sewaktu melenggang di hadapannya.


"Abang kelaparan?"


Dia mengangguk. "Aku tidak bisa makan dari kemarin gara-gara memikirkan keadaanmu."


"Hmm... gombal."


"Serius, Sayang."


"Hei, Abang jangan memanggilku sayang," kataku pelan. "Nanti ada yang mendengar kan gawat."


Aku pun masuk ke ruang ganti dan mengambil pakaian secara acak. Aku tidak mau sibuk memilih ataupun memikirkan pakaian mana yang cocok untuk kupakai. Tidak. Aku tidak peduli pada penampilanku, karena aku hidup bukan untuk James. Lagipula, mau memakai pakaian apa pun, cantikku sudah natural. Aku sudah cantik dari sananya. Kecantikan yang tak berguna. Malah justru seperti mala petaka bagiku karena kecantikan ini membuatku menjadi incaran para lelaki jahat yang menginginkan tubuhku.


Yap, kecantikan itu tidak selalu menjadi keberuntungan bagi seorang wanita.


Setelah selesai berganti pakaian, aku pun keluar dan langsung duduk rapat di samping Bang Jack. Kupeluk pinggangnya dengan perasaan bahagia. "Abang harus peduli pada kesehatan Abang. Tanpa aku, Abang harus tetap makan, supaya Abang sehat, Abang bisa berpikir jernih, dan Abang bisa memikirkan cara bagaimana Abang bisa membawaku pergi dari sini. Dengan aman."


"Yeah, tapi tidak usah membahas soal itu dulu. Kamu doakan saja aku supaya apa yang kurencanakan nanti bisa berjalan dengan lancar."


Aamiin. Pasti akan kudoakan.


"Rose?"


"Emm?"


"Lehermu sakit?"


"Lumayan. Kalau disentuh baru terasa sakitnya."


"Kasihan. Tahan, ya, Sayang. Aku sengaja tidak ingin... menggigitmu, mengisa* darahmu, karena aku tahu pasti rasanya sakit. Kalau aku tambahkan, nanti kamu malah jadi tambah sakit."


"Tapi aku rela menahan sakit itu untukmu. Mau seberapa banyak pun, aku rela. Abang menyentuhku dengan cinta, dengan kasih sayang, dan aku mengikhlaskan diriku untukmu karena aku pun sangat mencintaimu."


Ah, sudah selembut dan semanis itu aku berkata-kata, Bang Jack malah menertawaiku. "Kamu menggodaku, Sayang? Hmm?"


"Abang...!" pekikku. Kulepaskan pelukanku dari tubuhnya.


Dia semringah. "Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendengarmu berteriak gemas padaku. Aku suka mendengarnya. Aku rindu."


"Uuuh... Abang. Abang jangan membuat suasana jadi mewek. Aku tidak mau menangis lagi...."


Dia mengangguk-angguk. "Cup, cup, cup, Sayang...," bujuknya. "Tidak, kok. Jangan menangis lagi. Oke?"


"Hu'um. Daripada Abang membuatku menangis, mending...."


Kedua alisnya terangkat. "Apa?"


"Rasa kangenku tidak ada habisnya."


"Oh, gadisku yang nakal."


"Eummmmm...."


Gila! Hanya dengan pria ini aku bisa lepas kendali. Bisa-bisanya kami berdua bermesra-mesraan di kamar ini -- di sarang singa yang beringas -- dan jika kami sampai ketahuan, maka tamatlah riwayat kami.

__ADS_1


Tapi aku tidak mampu menolak. Aku tidak mampu mencegah diriku untuk menikmati kemesraan ini. Bersamanya, aku memasrahkan takdirku, sekalipun aku akan mati setelah ini. Tidak apa. Aku ingin menikmati kebahagiaanku sebelum ajal menjemputku. Aku tidak mau menolak ketika Bang Jack menarikku ke atas pangkuannya. Dengan bebas, beringas, dan liar, kami berdua berciuman, bibir dengan bibir, lidah dengan lidah, lalu ia kembali mencumbu dada.


"Abang."


"Emm?" Dia berhenti mencumbuku.


"Aku ingin... mengakui sesuatu."


"Apa?"


"Aku... aku terima kalau Abang akan kecewa padaku. Tapi kalau aku tidak mengatakan soal ini, aku... aku akan merasa... aku mengkhianatimu."


Bang Jack menghela napas dalam-dalam. "Katakan saja, ada apa?"


Aku berdeham. "Emm... tadi... tadi pagi... James memaksaku menyentuh itunya."


"Maksudmu?"


"Tapi aku tutup mata. Aku tidak melihat--"


"Tidak usah dibahas. Please, jangan." Jemari Bang Jack menahan bibirku.


"Aku... aku minta maaf, Bang. Aku terpaksa. Aku takut padanya."


"Tidak usah dibahas, tolong?" Dia meraih tangan kananku dan menggenggamnya erat-erat. "Tidak apa-apa. Aku tahu kalau kamu terpaksa. It's ok. Anggap saja hal itu tidak pernah terjadi."


"Terima kasih." Aku menyuruk ke dalam pelukannya. "Emm... Abang tahu, aku takut sekali memikirkan kalau Abang akan melompat ke laut saat Abang tahu kalau aku diculik. Aku...."


Sekarang dia tertawa, dengan agak dipaksakan. "Aku memang bodoh, tapi tidak sebodoh itu juga. Saat aku curiga waktu kamu tidak menjawab teleponku, aku langsung mengecek cctv. Aku jadi tahu kalau ternyata kamu diculik. Lah, masa aku langsung melompat ke laut?"


"Aku menelepon seseorang, lalu meminta orang itu untuk menjemputku dengan speedboat. Masa iya aku harus berenang?"


"Oooh...." Aku jadi malu sendiri karena sempat berpikir yang aneh-aneh. Dasar gadis udik. Kok tidak berpikir positif, sih!


Bang Jack menjawil hidungku. "Gadisku yang polos," ujarnya.


"Omong-omong, boleh aku tanya soal... gadis-gadis... yang dikirim ke Thailand?"


Bang Jack mengedikkan bahu. "Aku hanya mengawal. Yang memutuskan, dan yang mengirim, itu si bos. Keputusan bos. Tanggung jawabnya bos. Bukan aku. Aku hanya memastikan mereka akan sampai ke tempat tujuan dengan aman. Hanya itu."


"Tapi kan itu berbahaya. Bagaimana kalau ada... polisi, maksudku TNI AL, atau siapa pun yang menghentikan kapal kalian?"


Lagi-lagi Bang Jack menertawaiku. "Terima kasih sudah sangat peduli padaku. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Seandainya hal itu terjadi, kami akan beralasan kalau kami hanya sekelompok teman yang sedang berlayar. Tidak ada yang akan mengaku kalau mereka wanita... semacam itulah. Kamu paham soal itu. Dan itulah Tuan Johnson, itu juga alasan kenapa dia hanya mempekerjakan orang-orang yang mau dan sukarela bekerja padanya. Demi keamanan bisnis gelapnya."


Well, sekarang aku paham. Dan sebenarnya aku juga ingin bertanya soal mendiang kekasih Bang Jack yang katanya tewas karena dilenyapkan, tetapi kuurungkan niatku. Aku takut jika aku mengungkit hal itu, itu akan melukai hati Bang Jack -- membuka kembali luka lamanya yang aku tahu luka itu tidak akan pernah sembuh.


"Masih ada yang ingin kamu tanyakan? Hmm?"


Kugelengkan kepalaku dengan ragu. Tidak usah, Rose. Tidak usah.


"Hayooo... apa yang ada di pikiranmu? Jujur, ya."


"Yang ada di pikiranku? Jelas kamu."


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Kamu yang selalu ada di pikiranku."


Nekat, kali ini aku yang menyambar bibirnya. Aku yang mencium Bang Jack dan membuatnya merasa engap. Dan itu malah memancing rasa gemas pria itu terhadapku.


"Kamu nakal, ya. Hmm? Dasar." Secepat kilat Bang Jack membalikkan posisi, sekarang aku yang terduduk di sofa sementara Bang Jack berdiri seraya agak membungkuk di hadapanku. Lalu, tanpa terduga, ia menarik lepas dress yang kukenakan, lalu melemparkannya ke lantai. Kemudian... kemudian ia menyentak turun bra-ku.


Ya ampun, yang sekali di kamar mandi tadi seolah menjadi rambu hijau dan membuatnya bisa melakukan hal ini lagi kepadaku dengan bebas.


"Boleh?" tanyanya. Ia berdiri tegap dengan bertopang lutut di hadapanku, persis di depan dadaku. "Hanya jika kamu mengizinkan."


Aku mengangguk.


Praktis, dia tersenyum kemudian menggila. Dalam kelebat cepat, tahu-tahu Bang Jack membuat punggungku bersandar di sofa sementara ia melahap dadaku dengan liarnya.


"Tidak cukup. Ini tidak cukup," ia menggeram dan entah bagaimana pastinya, dia menggendongku dan membawaku ke ranjang. "Aku menginginkanmu sebelum pria itu mendahuluiku."


Hentikan dia, Rose...! Hentikan!


Hati kecilku berteriak, tapi hasratku berkata lain. Meski -- aku tahu, kejujuranku tadi yang memicu dirinya menjadi emosi seperti ini.


Sekarang, aku -- terbaring di ujung ranjang. Kedua kakiku terlipat ke atas, dan ada Bang Jack di antara keduanya.


Oh, ya ampun.


Ya ampun....


"Abaaaaang...!"


Di permukaan kain tipis itu, Bang Jack berbuat nakal padaku.


Eummmmm... aku mesti bersusah payah menahan suaraku. Aku gemetar. Kakiku menekan kuat permukaan ranjang seolah-olah sedikit lagi saja uratku akan putus semua karena kelakuan nakalnya. Kemudian, masih dengan rasa geramnya, Bang Jack bangkit, ia menarik turun dalamanku lalu merangkak naik ke atasku, bersilang kaki.


Ctek! Ikat pinggangnya terbuka, lalu ritsletingnya, kemudian celananya pun turun, berikut *alaman yang membungkus dirinya.


Dan -- terpampang. Sekarang aku melihatnya -- yang mendambakanku. "Katakan ya, please? Katakan ya."


"Ya. Ya. Tentu. Aku untukmu. Aku bersedia kamu menyentuhku. Aku mau." Aku bukan untuk James.


Oh, dia terarah. Tepat di tengahku. Aku bisa merasakannya yang kini sudah menyentuh permukaan kulitku. Aku... aku bahagia. Aku sudah sepenuhnya siap untuk momen ini.


"Aku memilihmu. Hanya kamu."


"Atas nama cinta."


"Em, atas nama cinta kita. Please?"


Bang Jack mengangguk, dan ia tersenyum bahagia. "Aku cinta padamu."


Lalu...


Lalu...


"Sayang... aku pulang...."


James?

__ADS_1


__ADS_2