Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Di Antara Dua Lelaki


__ADS_3

Dengan langkah kaki gontai dan lengkap dengan gaun pengantinku, aku berjalan keluar dari kamar pengantin itu menuju ruang tamu paviliun, menemui Bang Jack.


Di sana, dia menungguku di sofa dengan wajah tertunduk: menggambarkan kehancuran. Seperti dirinya, aku pun sama hancurnya. Semua mimpi yang telah kami rajut berdua -- mimpi untuk hidup bersama, telah kandas karena pernikahan yang terpaksa kuterima. Tapi, entah kenapa, cinta dan harapan itu masih saja membelenggu hatiku. Ia enggan sirna. Terlebih sekarang, di saat aku melihat Bang Jack, ingin sekali aku memohon supaya ia menyelamatkan aku dan membawaku pergi dari tempat ini. Tapi aku tidak bisa egois. Aku mesti tetap bungkam: membungkam hatiku, juga mulutku. Itu adalah hal terkonyol bila aku melakukannya. Sebab, Bang Jack bukanlah aktor di film laga, film Hollywood ataupun film Bollywood yang bisa mengacungkan senjata dan menembak mati seluruh pasukan musuh, lalu membawaku pergi dan kami bisa hidup aman bahagia tanpa terlibat kasus hukum dari tindakan yang telah sang aktor lakukan. Bukan seperti itu. Yang ada, sebelum dia berhasil membawaku keluar dari sarang penjahat ini, dia, atau bahkan juga aku, bisa mati konyol karena tembakan musuh. Andaipun bisa dia menghabisi semua komplotan penjahat ini dengan menembak mereka satu persatu secara sembunyi-sembunyi layaknya adegan di dalam film, maka nanti dia pasti akan menjadi buronan polisi karena sudah melenyapkan nyawa banyak orang. Hidup bukanlah adegan film, bukan?


"Abang?"


Mendongak, Bang Jack menatapku senduh dengan perasaan terluka. Bisa kulihat jelas kekecewaan terpancar dari kedua matanya saat pertama kali dia melihatku kala itu -- aku, wanita yang ia cintai, yang sudah dinikahi oleh pria lain, yang masih mengenakan gaun pengantin dan baru saja keluar dari kamar pengantinku -- di mana -- ada mempelai pria, suamiku, yang baru saja bersamaku di sana. Aku tahu betapa hancurnya perasaan pria yang sangat kucintai ini.


"Abang... maafkan aku." Tangisku pecah lagi. Aku masih berdiri kaku di tempatku.


Namun Bang Jack hanya menggeleng sedih. Dia bangkit dari posisi duduknya dan berjalan perlahan menghampiriku. "Tidak," katanya. Kini dia berdiri di hadapanku. Kedua tangan kokoh yang beberapa hari belakangan ini selalu menghangatkanku, kini menangkup wajahku. Jari-jemarinya mengusap air mataku. "Aku tahu kamu terpaksa. Aku tahu mereka mengancammu. Matamu tidak bisa membohongiku, kamu mencintaiku. Ini bukanlah pengkhianatan."


"Ssst... tolong jangan bahas itu," aku memohon, dan bicara sepelan mungkin. "Mereka mengira kalau aku ini benar-benar adikmu. Jangan bahas tentang cinta kita. Tolong? Aku tidak ingin ada yang mencurigai kita. Aku-- eummmmm...."


Ya Tuhan! Gila! Dia nekat menciumku. Ini tindakan konyol! Bodoh!


Dengan panik, kudorong tubuh Bang Jack supaya ia menjauh dariku. Namun, apa dayaku, dia memegangiku dengan kuat. Aku tak mampu melepaskan diri dari rengkuhannya. Juga dari ciumannya.


Lepaskan aku, Abang. Please... lepaskan aku. Aku bukannya tidak terima Abang menciumku. Tapi keadaan ini...


Ya Tuhan, betapa takut dan cemasnya aku dalam situasi ini. Mencekam. Bagaimana jika James melihat Bang Jack mencium bibirku? Ini menakutkan. Mungkin peluru akan langsung bersarang di kepala kami.


"Please... jangan begini," sengalku begitu Bang Jack melepaskan bibirnya dariku. "Aku mohon, Abang jangan nekat."


Dia tidak mendengar, dan, malah lebih nekat. Bang Jack mengeluarkan pistolnya dan mencengkeram pergelangan tanganku. "Kita pergi dari sini."


"Ya Tuhan, Abang jangan bodoh!"


"Aku bodoh kalau aku meninggalkanmu di sini."


"Tidak. Aku tidak mau kamu nekat."


"Tidak ada pilihan, Rose."


"Tapi ini juga bukan pilihan. Ini bunuh diri namanya."


"Sama saja! Aku juga tidak bisa hidup tanpamu!" suaranya sedikit keras.


Aku menggeleng. "Pelankan suaramu, please...."


"Rose, Sayang... please...?"


"Semuanya sudah terjadi. Ini yang terbaik untuk kita semua."


"Yang terbaik apanya? Hmm? Ini kesalahan! Ini kebodohanku! Tidak seharusnya aku meninggalkanmu sendiri di apartemen. Aku bodoh!"


Penyesalan yang tak berguna. Percuma. Jelas sudah sangat terlambat.


"Please, stop. Jangan salahkan dirimu. Ini takdir kita. Lagipula semuanya sudah terjadi, kan?"


"Rose...." Dia mencengkeram tanganku lebih kuat, hendak menarikku. "Mari pergi. Ikut denganku," katanya memohon dengan mata berkaca.

__ADS_1


"Tidak. Biarkan aku di sini. Ini yang terbaik. Ini yang terbaik untuk Abang dan Mama. Khususnya untuk Mama. Aku melakukan semua ini untuk Mama. Oke? Biarkan aku di sini. Aku akan baik-baik saja. Pasti."


Dia menatapku tak percaya. "Apa maksudmu? Hmm? Jelaskan, Rose."


"Aku...."


"Jelaskan," geramnya.


"Aku... aku diculik...," isakku.


"Jangan menangis. Jelaskan apa yang terjadi sebenarnya? Apa hubungannya dengan Mama?"


"Aku diculik oleh dua orang. Mereka mengancam akan membunuh Mama kalau aku tidak membukakan pintu apartemen. Aku terpaksa. Aku tidak bisa melawan saat mereka membawaku."


Alis Bang Jack bertaut. "Siapa yang menculikmu? Anak buah Johnson?"


"Bukan. Aku tidak tahu dua orang penculik itu siapa. Tapi di jalan... di jalan ada tiga orang penjahat lain yang mengambilku dari dua penculik itu. Anak buah Tuan Johnson. Aku... aku dilecehkan. Mereka hendak melecehkan aku. Aku nyaris saja digilir."


Tak mampu kutahan. Aku menangis tersedu-sedu sementara Bang Jack kembali meraihku, dia mendekapku erat-erat.


"Mereka... yang keduanya memegangiku, dan satu orang lagi sudah telanjang di hadapanku. Aku takut. Mereka mau memperkosaku kalau saja aku tidak setuju untuk dijual ke bos mereka. Mereka ingin menjadikanku pelacur. Aku terpaksa setuju. Jadi... mereka membawaku ke sini." Kuhela napas dalam-dalam dan melepaskan diri dari pelukan Bang Jack, lalu mengusap air mata. "Setidaknya... setidaknya mereka tidak jadi memperkosaku karena aku mengaku kalau aku masih perawan. Mereka ingin mendapatkan uang yang banyak dari Tuan Johnson. Tapi... Tuan James, dia tahu kalau aku terpaksa. Sebab itu... dia... dia menawariku pernikahan ini. Dia juga menjanjikan keamanan untuk Mama. Tuan Johnson sudah setuju, Mama akan dirawat oleh beberapa orang perawat khusus. Kita tidak perlu cemas lagi, kita tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan Mama, ya kan? Mama sudah aman."


Melesak. Bang Jack merasa bersalah dan tidak berdaya. "Kamu melakukan semua ini untuk Mama?" Kedua belah tangannya menangkup wajahku. "Maafkan aku, Rose. Tidak seharusnya aku meninggalkanmu sendiri sampai mereka punya kesempatan untuk mengancammu."


Aku menggeleng. Air mataku kembali tumpah. Kupegangi kedua tangan Bang Jack yang menangkup wajahku. "Aku rela," ujarku. "Demi Abang, demi Mama. Ini pengorbanan yang pantas kulakukan."


"Tidak. Ini bukan kewajibanmu." Tangannya terlepas dari wajahku. "Aku akan jelaskan pada James, dia harus melepaskanmu dari ikatan pernikahan ini."


"Abang, tolong Abang mengerti... semua ini demi Mama."


"Lantas bagaimana dengan kita? Hmm? Bagaimana dengan cinta kita?"


"Cukup! Please...? Sekarang anggap aku sebagai adikmu. Ini pengorbanan seorang anak untuk ibunya. Tolong mengertilah."


Tapi ia menggeleng. "Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku akan jelaskan pada James--"


"Aku adikmu. Titik!"


"Rose...."


"Apa? Hmm? Abang mau kita berdua mati konyol karena membuat mereka merasa ditipu? Iya? Abang pikir Tuan James dan ayahnya akan menerima penjelasan kita? Tentang cinta kita? Tidak akan!"


Tapi pria itu bertahan pada egonya. "Siapa yang tahu? Mungkin saja James akan menerima. Bisa jadi, kan?"


"Kalau tidak?"


"Aku akan membawamu pergi dengan paksa."


"Abang pikir ini adegan film? Kita bisa keluar dengan selamat dari sini? Begitu? Abang siapa? Super hero? Abang kebal dari peluru? Iya? Kita berdua akan mati konyol. Atau Abang yang mati sementara aku dijadikan pelacur. Abang mau itu? Please... setidaknya, setidaknya Abang pikirkan Mama. Mama tidak punya siapa-siapa lagi. Kalau dia kehilangan Abang, mungkin dia akan bunuh diri. Jadi tolong... tolong, turunkan egomu. Demi Mama, demi aku, tolong...?"


Dia tetap menolak.

__ADS_1


Aku maju, memeluknya erat-erat dalam isak tangisku, dan aku berbisik, "Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak akan apa-apa. Tuan James berjanji dia tidak akan menyentuhku sebelum usiaku sembilan belas tahun. Sekarang Abang bisa tenang, kan? Mudah-mudahan dia menepati janjinya. Jadi, please, Abang pulang. Bagaimana ke depannya nanti, kita pikirkan nanti saja. Mungkin kita punya kesempatan di masa depan. Bukan saat ini. Pikirkan dengan matang apa pun yang akan kita lakukan setelah ini. Abang paham, kan?"


"Bagaimana kalau dia menyentuhmu?"


"Abang akan tetap mencintaiku, ya kan? Setidaknya, tetaplah menganggapku sebagai adik."


"Tapi aku tidak rela. Bagaimana bisa aku merelakanmu untuk orang lain? Aku mencintaimu."


"Maka cintai aku tanpa memandang aku sudah disentuh orang lain atau belum. Cintai aku, entah aku masih perawan atau tidak. Perankan bagianmu dengan baik, sebagai kakakku. Demi Mama, dan... demi cinta kita. Dengan status adik kakak, kita bisa bertemu lagi nanti. Aku sangat mencintaimu."


Dan itu adalah solusi yang terbaik untuk saat ini.


"Baiklah. Demi semuanya. Aku berjanji, aku akan membawamu pergi dari sini. Beri aku waktu untuk mengatur segalanya."


Aku dan Bang Jack saling merengkuh lebih erat. Bisikan demi bisikan cinta itu terus saja terucap. Dan jika saja James tidak keluar dari kamar dan masuk ke ruang tamu, pelukan itu mungkin bisa berlanjut lebih lama.


"Kakak dan adik yang saling menyayangi," komentarnya. "Sayang sekali aku tidak memiliki saudara."


Bang Jack menyimpan kembali pistolnya.


"Maaf kalau kami... mengobrolnya terlalu lama," kataku.


Pria itu tersenyum dan mengangguk. "Tidak masalah. Aku paham," katanya.


"Baiklah. Kami sudah selesai mengobrolnya. Rose sudah menjelaskan segalanya. Terima kasih karena Anda... sudah menyelamatkan adik saya."


Kembali James tersenyum. "Dia gadis yang baik. Pantas untuk diselamatkan."


"Em. Terima kasih." Bang Jack berpaling kepadaku. "Rose, aku pulang."


Aku mengangguk.


"Jaga dirimu baik-baik."


"Ya, Bang."


"Titip adikku, Tuan James."


"Tentu, Kakak Ipar."


Ya Tuhan... sabarlah, Bang Jack. Jangan emosi....


"Permisi. Selamat malam."


Kutatap punggungnya dengan nanar saat ia berlalu di depan mataku.


Semoga Tuhan selalu melindungimu.


"Rose, ayo, kita kembali ke kamar."


Apalagi yang mesti kuhadapi setelah ini? Bisakah aku langsung tidur saja? Tolonglah aku....

__ADS_1


__ADS_2