
Ceklek!
Pintu terbuka.
"Permisi, Nyonya," terdengar suara seorang pelayan perempuan di pintu kamarku beberapa menit sepeninggal James. Aku tidak tahu ia pergi ke mana.
Sekarang, aku yang masih terbaring di tempat tidur dengan penutup mata dan tangan terborgol, meringkuk miring dan agak menelungkup untuk menutupi tubuhku dari pandangan pelayan itu. Dan untungnya, pelayan itu bisa bersikap sopan, dia juga tipikal seorang perempuan yang bijak. Ia menutupi tubuhku dengan selimut, lalu membuka penutup mataku dan membuka borgolku dengan kunci yang ditinggalkan James di atas meja rias.
"Nyonya belum makan siang. Sebaiknya Nyonya makan dulu untuk memulihkan tenaga."
Aku menggeleng. "Nanti saja," kataku, kemudian aku berusaha bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang. "Saya ingin mandi dulu." Saya ingin membersihkan tubuh saya yang kotor ini.
"Tapi Nyonya sedang sakit. Nyonya harus makan dan minum obat."
"Saya tahu. Jangan khawatir. Nanti saya makan sekalian makan malam."
"Baiklah kalau begitu, biar saya siapkan air hangat untuk Nyonya mandi."
Mengangguk. Aku beringsut, duduk di tepi ranjang dengan berselubung selimut saat ia meninggalkanku dan pergi ke kamar mandi. Sejenak kemudian aku mendengar suara air mengalir di bak mandi.
Dari posisiku, aku meraih ponselku dari atas nakas, lalu terdiam.
"Benarkah dia mencintaiku?" akhirnya aku bergumam melihat foto pernikahanku dengan James yang kini menjadi wallpaper di layar ponselku, menggantikan foto kekasihku, Bang Jack.
__ADS_1
Selain foto itu, tidak ada hal lain di ponselku. Tidak ada pesan atau panggilan tak terjawab. Yeah, aku tahu, aku sadar betul, memang sebaiknya tidak ada pesan ataupun panggilan telepon dari Bang Jack, sebab ponselku tentu saja sudah dipasang penyadap oleh James. Pada akhirnya aku memang harus pasrah terkurung di tempat ini. Ada atau tidak adanya ponsel, aku tetap tidak akan bisa berkomunikasi dengan Bang Jack. Bang Jack pun sudah pasti menyadari hal itu.
Sejenak kemudian, aku berdiri dan berjalan menuju ruang ganti. Kutanggalkan selimut yang menyelubungi tubuhku lalu mengenakan jubah mandi.
Air berhenti mengalir. Baknya sudah penuh, dan aku pun segera keluar dari ruang ganti.
Di hadapanku, pelayan itu membungkukkan tubuh. "Air hangat Anda sudah siap, Nyonya."
"Terima kasih," ucapku.
"Apa ada yang Anda butuhkan lagi?"
"Tidak. Terima kasih."
Aku mengangguk, lalu pelayan itu keluar dari kamarku dan menutup pintu. Aku pun masuk ke kamar mandi. Cermin tertutup uap air. Gumpalan gelembung yang halus praktis meluap dari tepi air.
Kulepas jubah mandiku dan buru-buru masuk ke air, menceburkan diri ke bak mandi. Suhu airnya benar-benar pas dan terasa nyaman. Kumiringkan kepala ke belakang dan meluncur ke air selama beberapa saat, membasahkan rambut.
Ketika aku muncul ke permukaan lagi, aku menghela napas dalam-dalam lalu menyandarkan tubuh dan memejamkan mata. Memikirkan segalanya.
Pikiran pertamaku tertuju pada pernyataan James yang mengatakan bahwa aku bukanlah seorang gadis perawan. Aku memikirkannya, apa mungkin itu benar? Dan jika benar, kapan aku kehilangan keperawananku?
Apa mungkin setelah oknum polisi selingkuhan bibiku itu menembak ayahku, lalu ayahku meninggal dan aku pingsan, apa mungkin dia memperkosaku saat itu? Apa mungkin dia melakukan itu untuk membuktikan bahwa aku memang benar-benar sudah diperkosa -- supaya masyarakat yakin bahwa ayahku memang melakukan perbuatan bejat itu kepada putrinya sendiri -- padahal polisi itu yang telah melakukannya? Tapi kenapa tidak ada yang memberitahuku, misalnya dokter di puskesmas? Atau pamanku? Atau siapa saja. Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Bahkan tidak ada hasil visumnya.
__ADS_1
Lalu pikiranku tertuju pada kejadian saat aku melompat ke laut.
Aku menggeleng pelan. Mungkinkah ada seseorang yang menemukanku sebelum Bang Jack menemukanku? Dan apa mungkin orang itu memperkosaku? Atau... justru Bang Jack yang sudah melakukannya, mungkin sebelum dia membawaku ke rumah sakit? Tapi rasa-rasanya itu tidak mungkin. Meski aku baru mengenal pria itu, aku percaya kalau dia bukanlah seorang lelaki bajingan. Dia memang memiliki hasrat terhadapku, aku pun bisa merasakannya, tapi itu dengan cinta. Bukan dengan pemaksaan.
Dan berikutnya aku malah berpikir mungkin itu hanya akal-akalan James. Mungkin saja, kan?
Masuk akal. Mungkin dia berpura-pura mengatakan kalau aku bukanlah gadis perawan supaya aku tidak marah karena dia sudah memaksakan dirinya terhadapku? Apa mungkin dia sudah mengganti seprai di ranjang itu? Atau sebenarnya... dia belum menyentuhku? Dia hanya ingin menakut-nakutiku? Tapi kenapa dia harus melakukan itu -- kenapa harus berpura-pura? Apa tujuannya? Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Amarahnya terhadapku nyata. Ada api kebencian dari caranya menatapku tadi. Apa itu karena dia benar-benar kecewa kepadaku? Apa benar dia mencintaiku? Dia cemburu?
Namun terlepas dari semua itu -- yang kini menjadi pertanyaan menggantung di atas kepalaku -- aku berpikir, seandainya memang aku bukanlah perawan, atau -- jika memang James yang sudah merenggut keperawananku dan dia tidak mau mengaku, apa pentingnya lagi semua pikiran ini? Intinya aku sudah tidak perawan lagi, bukan?
Jika James mau berbaik hati padaku, lebih baik aku diam dan menurut. Entah sampai kapan. Namun jika tidak, jika dia benar-benar akan menjualku pada papanya, maka lebih baik aku mati daripada aku menjadi seorang pelacur. Terpaksa ataupun tidak, aku tidak akan pernah mau menjadi pelacur.
Yap. Seperti waktu aku melompat ke laut, aku memilih mati daripada menjadi pelacur. Setidaknya, kalau aku mati, aku bisa bertemu dengan ayah dan ibuku di surga. Kami bisa berkumpul dan bahagia di sana. Daripada aku terus hidup dan jadi pelacur, maka bukan cuma rasa sakit dan tersiksa yang akan kurasakan, tapi itu berarti aku juga akan membuat kedua orang tuaku sedih melihat putrinya hidup dalam kegelapan.
Aku pasrah, Tuhan. Aku akan tetap di sini dan menurut pada James jika dia mengampuniku. Pasrah, menerima takdirku sebagai istrinya. Pasrah, entah bahagia atau tidak. Pasrah, sampai Kau sendiri yang mengubah takdirku. Mungkin, jika Engkau berbaik hati pada Bang Jack dan membuatnya mampu memutar balik keadaan, maka aku akan bersyukur. Tapi jika tidak, aku akan menjalani takdirku -- sebatas mana yang aku mampu. Sebatas mana aku bisa bertahan. Yang pasti aku harus tetap waras. Aku tidak boleh gila karena keadaan ini. Sekarang aku mesti menyelesaikan mandiku, aku mesti makan, lalu minum obat. Menjadi putri tidur seperti Aurora, dan terkurung seperti Rapunzel.
Yeah, mungkin inilah kisah terbaru di era masa kini. Nasibku tidak sebaik Cinderella, bahkan aku tidak punya identitas yang jelas.
Siapa aku? Emilia Fransiska? Rose Peterson? Atau Rose Harding?
Tapi faktanya aku adalah istri Tuan James Harding. Namun hati ini juga tak bisa kucegah, aku berharap Bang Jack akan membawaku pergi. Tapi...
Akankah dia tetap mencintaiku meski aku bukanlah seorang gadis perawan?
__ADS_1