
Well, aku turun dari ranjang dan mengenakan kembali pakaianku lalu aku pergi ke beranda. Bang Jack yang baru kembali dari dapur seketika panik melihatku yang sudah berdiri di atas penyangga balkon.
Dengan wajah yang dilingkupi kepanikan, dia memohon kepadaku untuk tidak berbuat nekat. "Aku mohon," pintanya. "Tolong jangan nekat. Ini berbahaya, Rose. Please, turun. Oke?"
"Aku mau mati kalau Abang memperlakukanku sama seperti perlakuan James. Aku manusia. Aku bukan burung yang bisa kalian kurung sesuka hati. Aku benci kalian berdua! Aku benci Abang yang sekarang!"
Tidak ada pilihan. Bang Jack terpaksa mengalah. "Baiklah," katanya. "Aku akan mengajakmu keluar, oke? Sekarang turun. Tolong? Tolong, Sayang, menurut padaku, ini berbahaya. Please... ulurkan tanganmu."
Ah, andainya James bisa kululuhkan semudah aku meluluhkan Bang Jack. Aku tidak perlu bersandiwara setiap hari, apalagi keseringan memikirkan cara bunuh diri yang tidak dicurigai. Tapi tidak apa, aku akan terus berusaha mendapatkan kembali tempatku di sisi James seperti yang telah kurencanakan.
__ADS_1
Dan sekarang, dengan girang, aku menyambut uluran tangan Bang Jack dan turun dari penyangga balkon -- meninggalkan hiruk pikuk di bawah sana yang heboh gara-gara melihatku yang hendak bunuh diri. Tidak hanya masyarakat umum, tapi juga para bodyguard James yang berjaga di sekitar apartemen.
Satu poin bertambah untukku. Bodyguard-bodyguard itu pasti melaporkan kejadian itu kepada James.
Dan sesuai kesepakatan, meski aku gagal mengenyahkan kewaspadaan Bang Jack, dia tetap membawaku keluar. Dia mengajakku ke bioskop, aku bahagia. Bang Jack tidak sedikit pun lengah dan nyaris tidak pernah melepaskan tanganku darinya. Pun ketika kami terbang, juga ketika kami bermain jetski, dia tetap saja menjaga kewaspadaannya. "Jangan nekat melompat ke laut," pintanya, mewanti-wanti diriku. "Kalau kamu nekat, belum tentu kali ini kamu akan selamat. Begitu juga aku, belum tentu aku akan selamat saat aku ingin menyelamatkanmu. Kamu paham, kan?"
Aku mengangguk. Tentu saja, aku tidak berniat melompat ke laut yang sedalam ini. Terlalu berisiko. Yang ada, aku akan benaran mati kali ini. Bisa jadi Bang Jack bisa menyelamatkan aku dari terjangan ombak, tapi kalau jetski-nya terbawa ombak, kami berdua bisa mati konyol di tengah laut.
Dan kesempatan itu ada. Setelah seharian yang panjang, kesempatan itu muncul pada saat Bang Jack menerima telepon di penghujung siang itu, aku nekat berlari ke air. Aku terpaksa melakukan itu demi tujuanku.
__ADS_1
Seperti dugaanku, Bang Jack begitu sigap. Aku belum mencapai kedalaman yang cukup untuk membuatku -- setidaknya terendam setengah badan, tetapi ia sudah berhasil menangkapku. Aku meronta-ronta, tapi aku tetap tidak bisa melawannya. Dia berhasil menyeretku dan membawaku kembali ke pantai.
Plak!
Aku terhuyung. Bang Jack menamparku dengan keras. Dia sudah habis kesabaran menghadapiku. Dia marah sambil berteriak-teriak membentakku. Bagus sih, tapi sakit. Meski itu sangat meyakinkan siapa pun yang melihat adegan itu, bahkan aku tahu ada bodyguard yang merekam kejadian itu untuk laporan kepada James, tetap saja, sakitnya bukan main. Dia menamparku sungguhan.
"Apa maumu?" teriaknya. "Dasar bodoh!"
Aku tidak memiliki jawaban untuk setiap kata-kata dan cercaan Bang Jack, aku hanya bisa menunjukkan tangisan dan aku berlari ke parkiran.
__ADS_1
Ya Tuhan, kali ini aku terlalu takut untuk meminta Bang Jack memohon kepada James supaya pria itu meminta maaf kepadaku dan membawaku pergi bersamanya, tinggal lagi bersamanya. Karena, saat ini, Bang Jack tidak menganggap kejadian di pantai ini sekadar sandiwara belaka. Bagaimana misiku bisa berhasil kalau Bang Jack tidak mendukungku sepenuhnya? Harusnya dia ingat, James tertawa senang di seberang sana.
Please, Abang jangan menjadi penghalang bagiku untuk mendekati James. Aku melakukan semua ini untukmu. Demi dirimu.