
Cuaca masih sangat dingin, aku dan indira memutuskan untuk kembali ke apartemen sebelum cuacanya semakin memburuk, terlihat awan kian menghitam mendung menandakan akan kembali hujan lebat.
Kami berjalan di trotoar menuju arah apartemen miliknya sambil berpegangan tangan.
"aku mau minta sesuatu sha.." ucapnya membuyarkan pandanganku yang tengah mengitari setiap sudut pemandangan malam ini yang mulai sepi dari kendaraan yang biasanya berlalu-lalang.
"apa?" timpalku agar heran dengan perubahan sikap indira yang menunjukan ekspresi serius.
"tapi, kamu janji jangan berpikiran buruk kepadaku" Aku mengangguk tanda setuju.
"aku ingin bersamamu malam ini, temani aku ya sha.." pintanya dengan rona merah terlukis di wajahnya yang sedang menahan malu.
Permintaan cukup berani dari seorang wanita seperti indira, mungkin akan membuat orang lain salah faham. Tapi setelah lebih jauh mengenal dirinya, aku faham situasi saat ini.
Indira hanya ingin ada seseorang yang menjaga, dan membuatnya nyaman, tidak lebih dari itu.
"tenang saja tuan putri, hamba akan menemani sampai tuan putri terlelap" jawabku dengan sedikit menggoda disusul cubitan manjanya di perutku.
Aku pun tertawa tak kuat melihat ekspresi wajahnya yang kesal.
"Jahat.. Jahat.. Jahat.." seraya memukul-mukul punggungku.
Aku pun berlari untuk menghindari pukulannya itu kemudian disusul oleh indira yang juga berlari mengejar. Beberapa orang yang melihat kami saling kejar pun keheranan, ada juga yang berteriak menggoda.
" kejar terus nona, jangan kasih kendor"
__ADS_1
"cieee cieee..."
Karena lelah, aku pun berhenti di sebuah convenience store, dan duduk sembarang di pelataran parkir sembari mengatur nafas yang masih terengah-engah. Indira yang baru sampai pun ambruk tepat disampingku.
"kamu tuh, bikin aku olah raga malam jadinya.." ucapnya dengan nafas yang tidak beraturan akibat harus berlari-lari malam hari.
"hahahah.. Sebentar ya, aku beli minum". Ucapku sekedar mengalihkan pembicaraan kemudian masuk ke dalam toko membeli 2 botol air mineral.
"nih di minum dulu" memberikan botol minuman yang masih tersegel kepadanya.
........
Sesampainya di apartemen, kami merebahkan diri di sofa, mendinginkan badan yang di hembus kesegaran dari AC ruang tamu. Meskipun diluar udaranya sangat dingin, karena kita berlarian tak jelas, keringat deras membasahi tubuh membuat lengket seluruh badan. Malam yang sangat melelahkan sekali.
"aku mandi duluan ya dir" tak tahan lagi dengan bau keringatku sendiri.
.......
Seusai mandi aku ke kamar indira dan duduk di meja kerjanya. Nampak indira berjalan ke arahku sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"ngerjain apa sha?" tanya nya melihatku yang tengah asik di depan laptop yang baru saja aku nyalakan dan mengecek beberapa file yang tadi sudah di unggah.
"cuma beresin berkas ko, besok lagi aku kerjainnya" balasku tanpa mempedulikan kehadirannya di samping meja kerja bersandar pada jendela.
"kamu sih lari" candanya, kami berdua pun tertawa membayangkan hal konyol yang baru beberapa jam yang lalu kami lakukan.
__ADS_1
"aku bahagia bersamamu sha.." ucapnya dengan tenang menghadap ke arah luar jendela terlihat kerlap-kerlip cahaya pemandangan kota yang cukup indah sepeti sedang melihat jutaan kunang-kunang yang menyala di hutan yang luas.
Secara perlahan aku bangkit dari bangku menuju kepada dirinya yang masih terpaku pada pemandangan di luar sana.
"tanpa dirimu, ini hanya sebatas pemandangan tanpa arti". Monolog dirinya didepan cahaya-cahaya itu membuatku tak tahan untuk tidak memeluknya dan memberikan kehangatan yang nyata untuk bisa ia rasakan juga.
"hidupku, untukmu indira" ucapku berbisik di telinganya dan memeluk tubuh langsingnya yang mengenakan piyama tipis berwana pink dengan aksen renda-renda.
Badannya membalik ke hadapanku menatap dengan keteduhan matanya yang kemudian di tutup perlahan, disusul sebuah kecupan hangat berlangsung singkat. Pagutan demi pagutan bibir kami terus menerus saling membalas, nafas semakin menderu dengan pelukan yang kian erat, badannya melemah ku tuntun menuju kasur tanpa melepaskan ciumanku.
Badannya yang kini terbaring lemah tengah menahan gejolak yang teramat besar, pergolakan yang tidak bisa siapapun hadapi. Hanya bisa mengikuti kemana arah semua ini akan berlalu.
Setiap kecupan kian membuai dirinya, *******, erangan tanpa sadar ia lantunkan membuatku semakin tak berdaya, terlena oleh cinta yang kini kami sesap bersama.
"aku mencintaimu indira" bisikanku semakin membuat badannya kian menggelinjang, meronta-ronta tanpa ia sadari terlena dengan semua perlakuan diriku memanjakannya malam ini.
"aku juga mencintaimu" ucapnya dengan mata terpejam.
Rona wajahnya memerah membuatku tak kuasa lagi menahan. Pakaian yang ku kenakan pun tak lolos dari tangan lihainya, sampai terbuka, dan terpampang jelas otot perut dan kaki ku.
Tak ada lagi percakapan, hanya *******-******* kecil yang merdu terus memompa kita berdua berlarut-larut untuk menemukan titik akhir dari semua ini.
...
Maaf adegannya terlalu panas untuk dilanjutkan.
__ADS_1
Hehe.