Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Kado Spesial


__ADS_3

Pagi-pagi sekali suasana sudah ramai di kota Tokyo jepang. Pusat kota dengan biaya hidup termahal di dunia konon katanya ada disini, wajar saja karena disetiap sudut kota banyak dikelilingi oleh berbagai macam restoran mewah, kafe-kafe lucu, butik-butik yang menjual berbagai macam brand ternama dunia. Semua ada disini.


Berbeda dengan Jakarta, bising karena laju kendaraan, di Tokyo kebanyakan orang lebih memilih berjalan kaki di setiap sudut jalan selalu dipenuhi pejalan kaki yang hendak pergi ke kantor, disini pun terdapat distrik perkantoran yang mana, setiap pekerjanya selalu masuk jam 7 pagi.


Meski masih pagi, keramaian telah menghiasi kota dengan salju yang terus menumpuk sepanjang malam tadi. Stefan memandangi langit pagi yang membentang dihadapannya, dikelilingi oleh bangunan-bangunan tinggi dan ada bianglala di pusat rekreasi kota yang terlihat cukup besar di kejauhan.


Tak terasa malam yang dingin berhasil mereka berdua lewati, sepanjang malam tidur berpelukan dalam selimut tebal yang membalut tubuh yang kelelahan akibat permainan semalam menikmati malam pertama mereka yang penuh dengan ketenangan.


Senyum medina dipagi ini begitu manis dan juga sangat cantik, dirinya yang begitu ramping tak tertutupi sehelai benang pun terpampang di depan Stefan, ia sedikit malu untuk melihatnya, meski sudah sah menjadi suami-istri, tetapi Stefan masih sedikit canggung karena belum terbiasa berdampingan dengan medina.


Berbeda dengan para Wanita yang biasa ia ajak tidur, medina begitu polos dan juga membuatnya sedikit merasakan gejolak seorang lelaki yang berbeda dari Ketika ia bersama para Wanita di masa lalunya dahulu disaat masih menjadi playboy.


Namun begitu, kehadiran medina benar-benar merubahnya menjadi lelaki gentle yang melindungi dan membahagiakan pasangannya.


“Selamat pagi sayang…” ia mengecup kening wanitanya itu dan menutupi bagian tubuhnya dengan selimut.


“Pagi.. kamu sudah bangun ya” medina terbangun oleh Stefan yang kini bermesraan di pelukan medina.


“Maaf ya saying, aku telat bangun..” ujarnya kemudian, lalu mengecup lembut pipi suaminya itu.


“Tidak apa, masih sakit?” tanya Stefan khawatir masih ada sisa rasa sakit di bagian intim kewanitaanya karena baru pertama kali melakukan hubungan suami-istri seperti semalam.


“Tidak. Aku baik-baik saja sayang, mandi yuk…” ia merangkul balik tubuh Stefan dan mengajaknya untuk mandi di bathub bersama, namun dering ponsel dari Stefan menghentikan langkah mereka menuju kamar mandi.

__ADS_1


“Sebentar ya sayangku..” ia meraih gawai smartphone nya.


Stefan terperangah kaget akan sesuatu hal, mungkin ada kabar yang penting dari Indonesia.


“Gila.. kamu serius?” ia memekik kaget dengan suara yang cukup nyaring dan terdengar oleh medina.


“Kenapa, ada apa?” ia panik karena suaminya seperti sedang ada masalah dari orang yang menghubunginya itu.


Setelah menutup pembicaraan, ia meraih tangan medina dan memeluknya dengan erat kemudian mengangkat tubuhnya yang ramping itu terangkat dari lantai pijakan.


“Sharoon mau menikah pagi ini… gila..!!”.


“Kabar macam apa ini.! Dasar temanku satu itu memang gila!”


“Hahahahahahaha” ia tertawa kencang dihadapan medina yang masih shock dengan perlakuan Stefan dan juga sikapnya yang begitu bahagia mendapatkan kabar dari sahabatnya.


Dengan seksama medina memperhatikan tiap ucapan suaminya yang sedang menjelaskan perihal kabar dadakan dari Sharon, semakin kaget saja dengan penjelasan-penjelasan terperinci Stefan. Namun ia pun menyadari dengan raut bahagia di wajahnya itu pun ada sedikit rasa sedih karena tidak bisa hadir di acara penting sahabat karibnya yang sudah berteman sejak masih kuliah.


“Apa kita batalkan saja bulan madunya, kembali ke Indonesia hari ini” ucap medina kepada Stefan yang kini duduk di sofa dekat jendela yang pemandangan mengarah ke belakang hotel .


“Aku maunya begitu. Tetapi, Sharon bilang tidak usah khawatir, dia ingin kita melanjutkan bulan madu dan nanti bertemu lagi setelah kita pulang ke Indonesia.” Meskipun ia bicara seperti itu, tetapi rasanya seperti sulit untuk menerima bahwa Sharon menikah tanpa bisa ia hadiri.


“Bagaimana kalau kita kirim kado pernikahan untuk mereka berdua…”.

__ADS_1


“Ide bagus! Ayo kita mandi dulu terus belanja”. Ucap Stefan lalu menarik tangan istrinya menuju kamar mandi.


Sebelum belanja, mereka menikmati sarapan di restaurant mewah yang juga bagian dari hotel, di hotel ini menyediakan menu-menu tradisional jepang dan juga berbagai macam makanan-makanan khas eropa, namun medina lebih tertarik dengan menu-menu sushi, kesempatan yang langka bisa menikmati makanan sushi yang langsung dibuatkan oleh chief di restoran ini.


Sembari menikmati hidangan sarapan, mereka berdiskusi tentang kado yang bagus dihadiakan kepada sharon dan Indira. Ada beberapa ide seperti kalung, cincin dan pernak-pernik semacamnya, nanum Stefan rasanya kuran puas karena rasanya terlalu canggung harus menghadiahi perhiasan dan lagi sharon pasti tidak memerlukan hal semacam itu.


Dari berbagai ide yang mereka diskusikan, akhirnya sepakat untuk membelikan sepasang jam tangan yang nanti akan dipilih dari beberapa store ternama di sini. Setelah selesai sarapan, mereka berangkat berjalan kaki tak sampai 200 meter menuju distrik Ueno di daerah Asakusa. Banyak pilihan toko yang bisa didatangi, termasuk tempat untuk membeli jam tangan.


Mereka masuk ke sebuah store official dari brand terkenal Seiko untuk mencari yang series yang bisa dihadiahkan kepada pasangan. Setelah hampir setengah jam memilih, kami sepakat membeli jam tangan Chronograph special edition. Jam tangan analog mewah seharga 15 ribu yen setara 18 juta rupiah. Barang branded yang limited edition seperti ini memang incaran bagi para pasangan karena bentuk nya yang modis berwarna hijau tua dan cocok dikenakan oleh pasangan yang baru saja pacarana atau baru menikah, begitu penuturan sales dari toko ini.


Setelah mengemas pesanan, lanjut ke layanan pengiriman paket untuk mengirim kado yang sudah dikemas. Setelah mengisi berbagai macam data, paket di serahkan untuk dikirim dengan layanan express 4 hari perjalanan sampai tiba nanti di tempat apartemen Indira.


Meski sudah siang hari dan matahari terlihat cukup menyilaukan, namun udara masih sangat dingin sekitar 16 derajat Celsius.


“Kita ke kafe itu yuk?” ajak Medina kepada suaminya.


Sebuah kafe dengan berbagai macam pernak-pernik lucu dan banyak terdapat foto-foto dan juga patung-patung kucing lucu. Bahkan papan menu yang terpampang didepannya pun dibuat selucu mungkin ada tambahan bentuk kuping kucing.


Medina memang mengincar Neko-Kafe yang sangat jarang ada di Indonesia, karena selain bisa ngopi dan memakan kue yang lezat ia pun bisa bermain sepuasnya bersama kucing-kucing menggemaskan di dalam kafe dan tentunya kucingnya pun sudah terlatih agar sopan terhadap para pelanggan.


“Aku bahagia sekali bisa ke jepang, terima kasih ya sayangku..” Ucapnya dan menggenggam tangan Stefan, ia berjalan agak terburu-buru menuju kafe.


Berbeda dari kebanyakan kafe yang selalu hingar-bingar dengan suara music atau ramai dari obrolan tiap orang, di tempat ini begitu teduh dan menenangkan. Beberapa kucing masih tertidur mendengkur lembut yang lainnya sedang berjalan menyusuri meja-meja pelanggan kafe.

__ADS_1


Beberapa kucing dari ras angora dan maincone mendekati Stefan dan medina yang sedang asik berbincang dan duduk di pangkuan mereka berdua. Tingkah lucu kucing-kucing imut ini mengantarkan pembicaraan sampai tak terasa waktu sudah sore hari tanpa mereka sadari.


...****************...


__ADS_2