Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Rapat


__ADS_3

Sudah hampir seminggu aku libur dari urusan kantor yang dimana aku sangat dibutuhkan saat ini untuk menindaklanjuti beberapa persoalan yang membutuhkan kehadiran seorang CEO. Bagiku, pengalaman berharga yang aku dapatkan selama tinggal di Cirebon dengan segala masalah yang menimpaku, telah banyak memberikan pelajaran berharga untuk lebih mawas diri dan selalu siap sedia dimanapun dan kapan pun.


Tak ada yang menyangka akan tertimpa musibah. Semua memaklumi ketidakhadiranku di perusahaan dalam seminggu ini dan kini waktu untuku membayar semuanya. Membayar semua kinerja para pekerja dan juga rania yang sudah sangat membantu melewati masa-masa sulit ketika aku tidak berada disini.


“Kita mulai rapat jam 10, siapkan laporan masing-masing” Ucapku setengah teriak kepada semua yang sudah hadir di kantor.


“Sha.. Kamu yakin tidak apa-apa? Kamu bisa istirahat beberapa hari sampai lukamu sembuh..” belum sempat rania menyelesaikan perkataanya aku mengisyaratkan agar ia tidak terlalu khawatir dan jangan sampai terdengar yang lain, agar mereka pun tidak jadi ikut khawatir.


“Terima kasih kamu sudah banyak membantu, tak salah aku memilihmu untuk bergabung”. Ucapku pada rania, disambut senyumannya yang mengembang di bibirnya itu.


————————


Rapat berlangsung cukup lama sekitar 3 jam. Sebagaian besar masalah sudah teratasi bahkan sebelum aku sampai di Jakarta. Mereka berlima sangat cekatan dan juga ada Dahlan yang baru kali itu aku melihat ia tengah serius mengerjakan beberapa dokumen keuangan, untuk membantu pekerjaan rania.


Sejak ia mendapatkan tugas sebagai asisten Rania dan juga merangkap sebagai Divisi pemeliharaan kantor. Ia berkerja dengan giat dibawah arahan Rania dan ini menunjukan sebenarnya ia sangat bisa diandalkan, nanti akan aku berikan reward yang setimpal untuk kinerjanya itu, dan juga beberapa orang lainnya yang mem-backup tugas selama aku tidak ada.


“Sebaiknya kita mencari beberapa volunteer yang bisa memberikan gambaran pengalaman bermain di Project Oxygen, mungkin juga membuat tim Debugger yang secara khusus untuk mencatat kecacatan dari aplikasi, bagaimana menurutmu Sha?”. Xian memberikan pandangannya terkait kurangnya SDM yang bisa menangani persoalan pengetesan aplikasi yang akan segera di launching 2 minggu lagi.


“Apa perlu membuat event beta release, misalkan saja, 1000 orang pengguna pertama bisa mengetes aplikasinya. Sebagai timpal balik ke mereka, kita berikan beberapa item premium yang bisa mereka dapatkan selama proses beta release ini?”. Ada benarnya juga dari saran Zahra terkait aplikasi, dan juga sudah hal yang umum dari official release selalu ada event beta release yang maksudkan untuk melakukan penjaringan informasi pengalaman pengguna yang nantinya akan lebih banyak me-review aplikasi kemudian melaporkan masalah-masalah yang terjadi dari fitur-fitur yang ada.


“Ok, ada saran lain?”. Tanyaku kepada semua tim yang kini sedang rapat bersama untuk persiapan dari release party untuk Project Oxygen.


Beberapa saat, ruangan hening, semua orang tengah berpikir ide-ide lain yang bisa membantu dalam menangani bagian-bagian penting dari aplikasi yang nantinya akan di jalankan, kami tidak ingin menghadirkan produk cacat ke pasaran, apalagi kita hanya perusahaan kecil yang mencoba peruntungan untuk melejit naik ke permukaan menghadapi para pesaing lain yang tak kalah hebat. Namun, aku sangat percaya diri dengan project Oxygen yang aku buat dibantu oleh tim yang hebat pula. Rasanya, kami bisa menghadapi situasi genting saat ini dengan mudah.

__ADS_1


“Baik, Pertama kita membutuhkan 5 tim debugger, kita bisa mencari mahasiswa jurusan IT. Agar lebih murah dan efisien untuk pengerjaanya selama seminggu. Terkait bayarannya, coba di rumuskan anggarannya nanti.  Kedua, event beta tester ini cukup penting. Dimana, mereka akan menjadi user pertama yang akan menikmati aplikasi ini disemua platform, paling tidak saat ini kita sudah bersiap untuk masuk di apps store semua device. Tolong usahakan, event ini dilangsungkan ketika sudah ada tim debugger yang juga bisa ikut menangani jika nanti muncul banyak report dari para beta tester”


“Sejauh ini, ada hal lain yang akan di tanyakan?” ucapku sebelum mengakhiri diskusi dari rapat kali ini.


Semua ide dari mereka sangatlah menarik dan aku pun sepemikiran, yang ini membuat diskusi jadi lebih mudah dan cepat bisa langsung di eksekusi bersama-sama. Setibanya besok stefan kemari, pastinya ia pun akan banyak memberikan masukan dan membantu hal-hal lain terkait urusan jaringan perusahaan yang saat ini masih sangat sedikit yang akan ikut serta dalam acara Peresmian Perusahaan sekaligus publikasi aplikasi Project Oxygen.


“Sebelum itu, saya ucapkan terima kasih banyak kepada kalian semua dan mari kita bangun perusahaan ini menjadi lebih besar lagi, sekian rapat kali ini saya tutup”. Tepuk tangan dari semua tim membuatku makin bersemangat dan tak sabar sampai project ini berjalan dan bisa dinikmati oleh semua orang.


———————————


Setelah lelah seharian di kantor aku berangkat menuju kontrakan yang sudah lebih dari seminggu belum sempat mampir. Karena saat ini aku hidup bersama istri di apartemen, rasanya aku tidak perlu mengontrak rumah lagi. Bu Lisa sepertinya kemarin sempat menelponku disaat aku masih koma dan terbaring di rumah sakit, nanti sekalian aku akan bertemu beliau di rumahnya dan memberitahukan untuk selesai mengontrak di rumahnya itu.


Jalan raya di sore hari memang seperti neraka, apalagi di daerah timur yang menghubungkan banyak kota seperti Bekasi, Depok dan Bogor, jalur ini adalah jalanan utama menuju ke tiga kota besar itu, tak ayal jalanan pun sangat ramai, bising dan tentu saja macet parah.


“Jam pulang kerja selalu saja seperti ini, menyebalkan sekali!” ia mendengus kesal karena beberapa dari pengguna jalan raya selalu cari-cari kesempatan untuk nyerobot melalui celah-celah kecil diantara mobil-mobil yang juga terhenti akibat macet.


“Iya bang, jam 4 sore memang selalu seperti ini ya”. Sekedar basa-basi saja menimpali ucapannya.


“Mas tidak buru-buru kan?” tanya nya memastikan penumpang tak sedang dikejar waktu karena persoalan penting.


“Saya baru pulang kerja bang, santai ko.. Susah juga kalau pun mau cepet sampai”.


“Tenang mas, saya cari jalan tikus nanti di perempatan depan” Sekalipun berat baginya untuk terbebas dari zona macet namun begitu ia tetap mempedulikan penumpangnya yang ingin segera sampai ke rumah untuk beristirahat.

__ADS_1


Benar saja, selang beberapa menit keluar dari perempatan jalan, tukang ojek langsung membelokan kendaraanya menyusuri jalanan kecil gang sempit menuju kontrakanku yang masih sekitar 5km jauhnya. Mungkin ia sudah mengenal lama jalanan ini.


“Wah terima kasih banyak bang, ini uangnya” aku memberikan uang 100 ribu rupiah sebagai upah perjalanan yang sebenarnya hanya 30 ribu saja, namun berkat kepiawaiannya itu kami berhasil sampai tanpa perlu lama-lama di jalanan macet arah ke Bogor.


“Mas, saya tidak ada kembaliannya ini, saya tukar dulu ke warung di depan ya..”


“Tidak apa-apa bang, terima kasih ya” aku pun segera meninggalkannya dan masuk ke gang sempit menuju rumah bu Lisa.


—————————————————


Disana bu Lisa tengah duduk di kursi di teras luar rumahnya, bersama anaknya yang masih balita, ia pun segera menghampiriku yang sudah lama tak ia lihat beberapa waktu lalu, karena aku pun sibuk dengan segala urusan dan banyaknya rentetan kejadian yang tidak bisa terprediksi sebelumnya.


Setelah mendengar pembicaraanku, bu Lisa sangat bersimpati terhadap kejadian yang menimpa diriku. Di lain sisi aku pun sudah menikah yang membuatnya begitu bahagia ketika mendengarnya. Sekalipun kita hanya sebatas pemilik dan penyewa kontrakan, namun kepedulian bu Lisa sangat besar kepadaku, ia banyak membantu di beberapa tahun aku mendiami rumahnya.


Setelah berpamitan, aku mengepak beberapa barang yang penting dan semua pakaianku, sisanya, biar para kurir jasa pindahan rumah yang melakukannya besok. Saat ini aku membawa beberapa barang-barang penting saja, seperti komputer, laptop dan beberapa pasang baju yang sekiranya bisa masuk di dalam tas.


“Sayang, kamu sudah pulang?” tanyaku kepada indira lewat telepon untuk memastikan ia sudah di apartemen, dan saat ini aku membawa banyak barang dan akan menuju ke sana.


Indira sudah ada di apartemen dan aku pun memberhentikan taksi menuju apartemennya yang jaraknya 2 jam perjalanan jika dalam kondisi macet seperti tadi. Lumayan aku bisa beristirahat di mobil karena seharian ini benar-benar melelahkan.


Andai saja aku menerima ajakan indira yang akan menemaniku hari ini, mungkin aku tak akan selelah ini, dan lagi sebenarnya luka di perut bagian kiri masih sedikit ngilu dan perih. Pastinya akan membuat indira marah jika tau aku masih banyak pergi-pergi seperti ini mengelilingi jakarta. Tak ada pilihan lain saat ini hanya bisa memaksakan diri agar segala kinerja setiap orang di perusaanku dapat terbayar, aku harus memastikan semuanya berjalan sesuai rencana tanpa ada kendala dikemudian hari yang dapat merepotkan banyak orang.


Andai hidup bisa semudah itu.....

__ADS_1


**********************************


__ADS_2