Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Persiapan


__ADS_3

Hanya suaminyalah yang tenang ketika mendapatkan surprise dari ayahnya itu. Karena Stefan sudah beberapa kali pergi ke luar negeri dan juga kunjungan ke Jepang bukan kali pertama buatnya.


“Jepang saat ini sedang musim bunga sakura, pasti kamu akan menyukainya” timpal Stefan.


Apapun akan ia berikan, asalkan istrinya bahagia, dan seluruh keluarga sangat mendukung hubungan mereka berdua semenjak masih pacaran yang hanya beberapa bulan sejak kejadian Medina pingsan dan ia menyelamatkannya.


“Terima kasih mah, pah..” Medina menghaturkan ucapan terima kasih . Matanya berkaca-kaca genangan air mata hampir saja jatuh berderai ke pipinya yang merah merona.


Jauh dari dari lubuh hatinya yang terdalam, ia beruntung bisa mendapatkan Medina, bukan hanya karena ia cantik dan baik hati, akan tetapi ia menjadi penerang bagi kehidupannya kini, tak lagi menjadi pemburu wanita seperti dahulu. bahkan semua temannya pun membenci atassikapnya dahulu yang terlalu memandang rendah wanita.


.......


“Sayang, hari ini aku mau bertemu Sharon, kamu mau ikut?”. Tanya nya kepada indira yang masih memegang amplop berisikan tiket pesawat dan paket bulan madu ke Jepang.


“Sepertinya aku di rumah saja hari ini, aku kan harus mempersiapkan untuk pemberangkatan kita nanti..” ia berpikir bahwa harus segera bersiap-siap karena pemberangkatan dua hari dari sekarang dan ini pasti membutuhkan persiapan yang matang, belum lagi dia tidak begitu tahu tentang negeri sakura ini.


“Baiklah, aku serahkan padamu untuk persiapannya, jangan terlalu berlebihan, ok?” Stefan menimpalinya dan kemudian mengecup kening istrinya.


“iya sayang”.


.................................

__ADS_1


“Selamat pagi mbak, tumben kesininya pagi banget....?” Dahlan menyapa Rania yang berjalan ke arahnya.


“Pagi, kamu bisa tolong bantu aku berbelanja hari ini ?” Rania mengeluarkan secarik kertas yang isinya terdiri dari berbagai macam peralatan kebutuhan kantor seperti kertas HVS, beberapa tinta printer dan juga kebutuhan lainnya yang telah lengkap tertulis di secarik kertas itu.


“Siap! Laksanakan mbak” ia menerima pesanan Rania dan beberapa lembar uang seratus ribuan untuk membeli keperluan kantor. Setelah itu ia, pergi menuju supermarket terdekat di kawasan Central Arcadia, meski tak terlalu besar namun supermarket itu cukup lengkap dan ada pusat stationary untuk membeli berbagai macam kebutuhan perkantoran.


Tepat jam 8 pagi aku sudah sampai di kantor dan hendak mengundang teman-teman semasa kuliah dahulu untuk ikut andil dalam project Oxygen dan juga menjadikan mereka tim dari perusahaan yang sedang aku rintis. Ada 4 orang yang sudah bersedia untuk menemani perjalanan kami. Kayla, Fabian, Zahra dan Xin Qian atau lebih akrab dipanggil Kian, maklum lah lidah kita terbiasa untuk menyebutkan Q menjadi K agar mudah dalam penyebutannya dan tentu ia selalu protes untuk persoalan penyebutan namanya itu. Mereka teman berbeda angkatan namun selalu aktif dalam forum alumni muda kampus dan pernah juga bersama-sama menggarap project di beberapa tahun lalu, dan kinerja mereka sangat bagus.


Jadwal meeting pukul 10 pagi sampai selesai jam makan siang, dan Rania sedang menyusun berkas-berkas yang akan kami gunakan menjadi bahan untuk diskusi dalam rapat. Agar lebih teratur dan skematis, aku percayakan untuk urusan pemberkasan kepada Rania yang menjadi sekretaris di perusahaan, ia cukup telaten dalam hal ini dan meski begitu, ia tetap mengerjakan berbagai macam design untuk keperluan aplikasi atau program yang sedang kita garap bersama.


“Pagi Ran, semua berkas sudah siap?” tanyaku disela-sela kesibukannya menaruh beberapa berkas yang sudah di bundle dalam map di atas meja rapat yang nantinya akan dibaca oleh semua tim.


“Santai... semuanya sudah pasti datang, kamu tidak perlu khawatir” ucapku meyakinkan rania agar ia bisa lebih fokus dengan tugasnya sendiri tanpa perlu mengkhawatirkan hal lain.


Saat ini hanya aku dan Rania saja yang menjalankan perusahaan dibantu juga dengan Dahlan yang menjadi petugas perawatan dan kebersihan kantor. Belum banyak yang bisa kami lakukan karena perusahaan masih dalam tahap rintisan dan masih harus mengumpulkan sumber daya manusia (SDM) yang cukup untuk bisa leluasa dalam menjalankan berbagai macam tugas.


Pada kenyataannya saat ini kami berdua sangat amat kewalahan, ada banyak hal yang harus dilakukan menjelang acara rilis dari project oxygen, aku ingin segera menyelesaikan acara perilisan dan melihat seberapa jauh program yang kami buat dapat dinikmati oleh semua orang. Setelah itu kami tinggal fokus pada pencarian investor yang bisa memberikan bantuan untuk memajukan perusahaan ini.


Semua ini tidak bisa dilakukan sendiri, maka dari itu aku mengajak teman-teman yang sekiranya bisa berjalan beriringan bersama aku dan rania. Harus ada orang lain yang sepemahaman dan juga memiliki visi yang kuat dalam memajukan perusahaan ini agar lebih tumbuh berkembang mencapai kesuksesaan di kemudian hari. Bukan perkara mudah untuk melakukan itu, tim terbaik dihasilkan dari kepercayaan satu dengan yang lainnya untuk bisa berjalan selaras beriringan, untuk bisa saling melengkapi.


Aku terlalu bertaruh, dan itu yang Finna coba sampaikan kepadaku pada hari lalu ketika bertemu dengannya. Sekalipun aku bisa menemukan tim yang bagus, akan tetapi bagaimana caranya agar mereka pun mendapat feedback yang sesuai dengan porsi kerjanya, dan itu yang masih sampai saat ini aku pikirkan dan renungkan lebih dalam. Karena mengelola sebuah perusahaan artinya aku harus bertanggung jawab atas semua hajat hidup setiap orang yang ada di perusahaan.

__ADS_1


“Daripada melamun, lebih baik kamu coba periksa beberapa berkas ini, kalau ada yang kurang sesuai nanti bisa kamu tandai” ucap Rania yang duduk disampingku,.


“Ah.. OK”.


“Kamu baik-baik aja sha?.”


“Kalau ada yang bisa aku bantu, katakanlah..” ia seperti mengetahui kegelisahaanku saat ini, namun tak ada yang bisa aku bicarakan dengannya, ini hanya permasalahanku semata, terlalu sulit untuk dijelaskan kepada orang lain.


“Terima kasih, aku baik-baik saja.” jawabku singkat dan kembali menyibukan dengan pengecekan berkas yang tadi ia minta.


Bekas-berkas yang di siapkan oleh Rania sudah lengkap semua dan termasuk draft untuk menjadi landasan dari perusahaan ini. Ketika aku membacanya, jelas sekali ini kalimat khasnya rania. Meskipun tidak sempurna akan tetapi landasan-landasan yang telah aku buat di awal, telah banyak ia ubah menyesuaikan dengan bentuk perusahaan yang nantinya akan menjadi software house, rumah yang akan memproduksi berbagai macam aplikasi dan program untuk semua jenis device mulai dari komputer, smartphone dan juga hal-hal yang masih terkait dengan dunia IT Development.


“Sejauh ini sudah cukup ran, nanti kita diskusikan lagi hal-hal lainnya. Bisa jadi yang lain pun akan banyak memberikan masukan untuk konsep kita ini”.


“Baiklah” ucapnya dan kembali ke lantai bawah hendak mengambil perlengkapan yang tadi ia minta belikan kepada Dahlan.


Dengan adanya 4 orang lagi, sepertinya rania tidak akan terlalu banyak mengalami kesulitan dan dia bisa fokus terhadap disain-disain yang ingin ia buat untuk penyempurnaan berbagai macam di project Oxygen. Kami sudah memilki jadwal yang tepat untuk Launching peluncuran program Project Oxygen setelah menimbang banyak hal, kami mengambil tanggal 13 Februari 2022, sehari sebelum perayaan valentine. Ini ide dari Rania, agar lebih banyak menjaring segmentasi remaja-remaja untuk itulah perlu juga di adakan di waktu yang tepat dan kami memiliki waktu sekitar satu bulan untuk mempersiapkan semuanya, dan dengan adanya tim, tentu acara ini akan lebih sukses digelar. Aku sangat menantikannya!.


......


....

__ADS_1


__ADS_2