Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Batas Normalitas


__ADS_3

“Sudah selesai semuanya?” Tanyaku ketika memasuki ruangan di lantai dua kantor.


“Sedikit lagi..”


“Bahan-bahan desain sudah selesai semua tinggal approval dari mas sharon saja”. Ucap Zahra, tanpa bergeming sedikitpun mereka sibuk semua dengan layar laptop dan komputernya masing-masing.


“Baiklah, kita off jam 3 ya. Nanti kalian ikut aku semuanya”. Ada hal penting lain yang harus di bicarakan, namun lebih baik tak dibicarakan di kantor agar lebih santai.


“OK”.


Siap”.


Rania bergegas menuju arahku, dan menyerahkan beberapa dokumen yang harus aku tanda-tangani dan periksa dari berbagai sumber berita yang sudah di posting di berbagai media untuk acara opening nanti.


“Ok ran, sebentar aku cek terlebih dahulu”.


Seksama, aku memandangi lembar demi lembar dengan tulisan yang terlalu kecil untuk ukuran font yang di cetak ke halaman kertas jenis A4, sedikit pusing melihatnya tanpa bantuan kacamata. Sepertinya aku harus memeriksakan kembali kondisi mataku ke dokter. Sudah lebih dari seminggu ini pandangan mata kurang bagus ketika melihat objek-objek yang terlalu kecil seperti buram pada pandangan dan tidak begitu jelas terlihat.


Malas sekali mengenakan alat bantu pengilhatan semacam kacamata, pikirku itu bukan hal yang keren jika dipakai oleh ku, akan terlihat seperti bapak-bapak. Bertahun lamanya pun aku lebih memaksakan untuk membaca, namun kali ini lebih semakin samar kelihatannya.


Selesai dengan urusan-urusan dokumen, aku menyerahkannya ke meja rania dan disana zahra sedang diskusi dengan rania tentang animasi mana yang akan digunakan pada layar proyektor pada acara opening. Tim grafis memang sangat mahir dan juga ada rania yang bisa membimbing untuk menentukan selera yang bagus dilihat oleh semua orang, itu menjadi bagian dari keakhliannya yang sangat aku butuhkan.


“Ini, sudah selesai ran..”.


“OK sha..” timpalnya singkat.


———————————————————-


Selesai Memenuhi tugasku, dan juga memastikan tugas yang lainnya telah usai, kami semua berangkat menuju Dekafe untuk lajut briefing dan mengevaluasi beberapa persiapan penting untuk acara nanti. Aku sudah pesan worksingspace ke mas hendy untuk kami semua agar ada suasana baru selain suasana sumpek yang ada di kantor.


Maklum saja, kami baru berdiri dan belum ada kepikiran untuk menyewa tempat yang lebih besar. Nantinya kantor di Central Arcadia hanya digunakan untuk keperluan tim programer saja, dan tim management harus ada tempat khusus yang lebih relevan untuk menjadi tempat bertemu client agar lebih terlihat keseriusan perusahaan dalam menjalankan roda bisnis di bidang IT.

__ADS_1


Hal itu sudah sering dibahas bersama rania dan juga stefan, agar lebih fokus pada pengelolaan administrasi dan perencanaan matang kedepannya kami ingin ada kantor pusat yang bisa kami tempat dan setidaknya tidak terlalu memalukan jika ada prusahaan lain yang datang untuk membangun kemitraan.


Persoalan sekarang adalah kita tidak bisa memenuhi semua keingin secara langsung, karena keterbatasan dana karena bukan barang murah untuk mengontrak kantor yang kondusif sebagai pusat, apalagi jika harus membelinya, harus merogoh kocek lebih besar dan kami belum siap untuk itu.


“Sayang hari ini kemana?” tanya indira dari sambungan telepon.


“Aku baru selesai semua pekerjaan, kita rencananya mau ngumpul rapat di dekafe, kamu mau ikut?” jawabku dan mengajak indira juga untuk datang ke dekafe.


“Wah, bole boleh. Nanti jam 5 aku meluncur kesana ya sayang..”


“iya”


‘Ok deh, semangat ya cinta..”. Nada manjanya itu membuatku semakin ingin segera bertemu dan memangkunya ke atas tempat tidur.


Istri cantik dan perhatian memang menjadi idaman setiap lelaki, diluar dari hal itu, indira memiliki hal lain yang membuatku selalu kagum akan dirinya. Ia tak pernah mengeluh akan kehidupanku yang bisa dibilang belum sepenuhnya bertanggung jawab atas kehidupannya, terutama pada hal materi.


Karena mempersiapkan perusahaan, aku tak ada pemasukan dari apapun. Saat ini lebih banyak pengeluaran untuk menggaji karyawan. Termasuk nekat, tapi aku tidak sedang berjudi. Aku yakin peluangku untuk membuka bisnis dibidang IT bisa memberikanku lebih banyak hal selain hanya materi. Saat ini aku hanya bisa menunggu dan tetap berusaha semaksimal yang aku bisa dalam melajukan roda kehidupan perusahaan yang didalamnnya telah terisi orang-orang yang aku percayai, tak mungkin jika usaha besar mereka tidak dibarengi oleh penghargaan yang setimpal.


————————————————————-


Stefan anteng dengan steering mobilnya tak mempedulika apapun selain ingin segera sampai ke lokasi dan lekas berleha-leha diruangan ber-AC. Maklum pendingin di mobilnya tak cukup sejuk karena diisi oleh 5 orang didalamnya.


“Sabar bro..”


“Sabar.. Sabar.. Mbahmu lah.” kesal juga zahra pada stefan yang mengemudi diluar batas normal manusia, bisa saja dia mengambil celah kecil diantara mobil mobil lain.


“Hahahahhaha”.


Kali ini Rania masuk ke mobil fabian sengaja menghindari untuk bareng bersama stefan karena sudah tau kelakuan lelaki itu jika sudah berada dilintasan jalanan lupa jika ia membawa nyawa lain didalam sana dan menyengajakan untuk kebut-kebutan.


Lama terombang ambing pada kemacetan,  semakin lama semakin jengah juga dan itu pun yang dirasakan oleh stefan. Beberapa kali ia mengutuk pengendara sepeda motor yang nyelonong menyalip kendaraanya. Indira tiba-tiba saja menelpon dan mengabari sudah duluan sampai di lokasi dan menunggu bersama Finna yang juga sedang berada disana dengan rekan bisnisnya.

__ADS_1


Apakah kebetulan, atau finna memang sengaja mencariku ke tempat biasa aku singgahi. Entahlah..


“Ayo semuanya”.


Setelah mengatur posisi parkir kami keluar dan bersama-sama masuk kedalam kafe yang disana sudah si om om berotot dengan wajah yang tidak akan pernah terlihat ramah kepadaku juga pada stefan, ibarat musuh besar kami selalu saja bertengkar. Bertengkar kecil yang sebenarnya hanya candaan saja.


“Bawa banyak orang, sanggup bayar memangnya?” Ujar si pemilik kafe dengan tampang sangarnya yang tak menyisakan senyum sedikitpun di mulutnya.


“Loh... Ko bayar, ngutang dulu lah mas bro.. Santai, awal bulan dibayar”.  Ucapku menggoda mas hendy.


“Iya mas hendy kita kan lagi bokek. Masa mau dipalak juga sih... Kasihan dong kami anak-anak kecil ini.” stefan menambahi omonganku yang berhasil membuat naik pitam mas hendy


“Kalian, bajingan-bajingan tengik berani berlagak di kedaiku tak cincang jadi soto betawi besok hah.. Mau?” tubuh kekarnya menunjukan kekuatannya, tangannya berkacak pinggang seolah menantang kami berdua untuk tarung saat itu juga.


Namun zahra, xian dan fabian mencoba menengahi kami dan melerai pertengkaran konyol yang biasa ini. Fabian mendorong badanku dan stefan ke belakang menjauhi mas hendy dan Zahra dan Kayla mencoba menenangkan mas hendy. Tingkah laku kami tak lupa tersorot oleh beberapa pasang mata para pengunjung disana yang sedang tenang menikmati kedamaian menyeruput kopinya masing-masing, pun begitu Finna dan Si bule amrik yang ikut khawatir terlihat dari raut wajahnya yang panik karena tiba-tiba suasana damai menjadi ricuh.


“Sharon, Stefan sudah sudah becanda kalian ini aneh sekali, mas hendy juga mau saja menaggapi duo gila ini”. Rania membentak kami bertiga karena telah mengganggu kenyamanan para pengunjung lain yang ada didalam kafe.


Aku dan stefan saling berpandangan kemudian tak kuat untuk tidak tertawa kencang karena melihat semuanya begitu panik dan hanya indira dan rania saja yang faham situasi yang sedang terjadi.


“Hahahahhahahah”...


“Hahahhahahhahahahah”.


“Sudah kalian sana, ruangnya sudah ku siapkan.. Ingat ya, bayar..!!!!!” ucap si pemilik kafe dengan nada yang sengaja ditinggikan.


“Cih... Pelit” timpal stefan melihat si mas hendy melenggang menuju bar untuk menyiapkan pesanan-pesanan yang masuk.


.


.

__ADS_1


.


***********************


__ADS_2