Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Rumah Baru


__ADS_3

Setelah sukses dengan peluncuran Project Oxygen, pekerjaan semakin santai untuk tak seperti pada saat persiapan acara kemarin. Hanya tinggal menjalankan beberapa diagnostik log pada pengaturan jaringan server atau cek beberapa bugs (sistem yang rusak) kecil yang masih bisa ditangani oleh aku dan Xian.


“Bro.. Makan siang dulu deh”. Ajak Fabian kepada Xian yang tengah asik bermain game FPS BattleGround.


Selain bekerja, Xian adalah influencer dengan pengikut 100K penonton di channel nya dan sering live streaming sambil bermain game bersama squad yang ia bentuk bersama teman-teman di internet.


“Hmm.. Nanti” Ucapnya tak mempedulikan Fabian yang terus mendesak.


“Bian, ayo bareng aku” Zahra menghampiri Fabian yang masih berada dekat meja kerja Xian.


“Ah.. Payah. Ayolah kita berdua saja”.


“Yuk”. Bergegas mereka berdua keluar dari ruangan kantor menuju pusat kuliner 2 blok terpisah dari kawasan kantor Arcadia.


Suasana kerja yang akrab layaknya sebuah keluarga lebih cocok untuk anak muda milenial, tebebas dari sekat kelas-kelas sosial atau perbedaan apapun, misalnya Zahra dan Fabian meski keduanya berbeda keyakinan agama, akan tetapi keduanya bisa nyaman saling berkomunikasi tanpa segan-segan juga Zahra untuk meledek Fabian, begitu pun sebaliknya.


“Za, gimana kerjaan mu?”


“Lancar?” tanya fabian.


Fabian duduk menghadap ke arah Zahra. Sembari berbincang mereka membuka-buka menu makanan yang akan dipesan.


“Sejauh ini sih, lancar..”


“Hanya saja, aku masih bingung dengan pembuatan disain karakter atau item-item game. Beda sekali dari tempatku kerja dulu”. Ia terus nyerocos tanpa tau kapan kan berhenti, dan fabian dengan tatapan lembutnya terus memperhatikan ucapan demi ucapan perempuan manis di hadapannya itu tanpa sedikitpun mengedipkan mata.


“Hey! Itu ditanya sama masnya, mau mesen apa”


“Malah bengong”. Ia tersenyum sinis melihat kelakuan temannya yang sedang asik dengan dunianya sendiri.


“Eh.. Iya iya aku pesan.....”


...----------------...


Sejak tadi pagi Rania mengabari kalau hari ini ijin untuk tidak masuk kerja, semua pekerjaan di tangani oleh Zahra termasuk di bagian disain-disain yang sudah terlebih dahulu dikerjakan oleh Rania, jadi selebihnya tinggal penambahannya sesuai instruksi yang diberikan.


Dari tiga hari lalu, aku memberikan masukan masukan kepada Rania untuk segera pindah dari rumah kontrakan lamanya dan membeli unit di perumahan yang cukup terjamin keamanan dan kebersihannya, agar anaknya bisa lebih nyaman bermain di lingkungan bersama anak-anak lain yang sebaya menikmati masa kecil penuh kenangan.

__ADS_1


Dahlan pun membantu Rania untuk pindahan hari ini, aku mengijinkan karena aku sendiri tak akan bisa membantu disebabkan beberapa ada meeting diluar kantor bersama client. Bersamaku, ada direktur utama CTI yaitu Stefan. Kami berdua akan membantu di akhir pekan untuk sekedar beres-beres di rumah barunya yang dibeli oleh perusahaan dengan sistem pemotongan gaji sebanyak 20% dari pendapatan Rania.


“Eh.. Sabtu nanti jadi ke rumah Rania ?” tanya Stefan.


“Jadi”.


“Kamu coba ajak yang lainnya juga, kalau mereka mau” usul untuk mengajak yang lain juga, itu pun jika mereka mau meluangkan waktu di akhir pekan.


"Sip!"


Di luar ruanganku ada Indira, ia tidak masuk kerja pada hari ini dikarenakan mengambil cuti selama seminggu dari jatah cuti tahunannya yang belum ia ambil. Ia masuk membawa goodie bag ukuran kecil berwana merah marun.


"Hai Stef. Apa kabar, gimana Medina ?" ia memasuki ruangan menyapa stefan terlebih dahulu untuk menanyakan kabar istrinya yang beberapa waktu lalu sempat jatuh sakit akibat kecapean kerja.


"Sudah baikan, cuma masih butuh istirahat aja". jawab Stefan.


Indira duduk di  sofa dekat dengan meja kerjaku dan meletakan tas yang tadi ia bawa, mengeluarkan isinya yang berisikan dua buah tempat makan dari plastik berwana hijau.


"Sini.. Aku masakin jamur tiram dan ayam balado. Pasti kamu belum makan siang kan ?" ajaknya untuk bersantap siang.


'Iya, aku lapar banget"


"Sana.. Cuci tangannya dulu" Perintahnya.


"Yes Mam!" jawabku dengan nada tinggi seperti dapat perintah dari komandan perang.


"Apa sih.. Dasar!".


Bulan ini, tidak banyak pekerjaan yang akan menyita waktu, setidaknya beberapa orang bisa menangani persoalan-persoalan sederhana di pengembangan aplikasi, hanya untuk update beberapa fitur dan penambahan fitur-fitur yang sudah di jadwalkan pada rapat sebelumnya.


Aku berpikir untuk mengambil beberapa hari saja untuk berlibur bersama istri, menikmati waktu berdua di suatu tempat yang sejuk dan menenangkan. Melepas penat di pantai atau di pedesaan yang tenang, aku ingin menikmati waktu kita berdua, hanya saja, aku tak tau banyak tempat yang bagus.


Sempat terpikir untuk ke luar negeri, seperti ke New Zealand atau menikmati musim salju di Italy ke pegunungan Mont Blanc yang terkenal karena keindahannya. Tak masalah jika pun harus berlibur di Indonesia, bisa saja ke Bali atau Lombok atau daerah terdekat seperti ke Bandung, asalkan ada waktu berdua saja itu sudah lebih dari cukup.


Karena, dalam dua bulan ini, aku hampir tidak pernah meluangkan waktu lebih untuk berbincang dalam suasana yang bagus dengan Istriku, sebagian besar waktu habis untuk di kantor dan mengerjakan perbaikan-perbaikan sistem bersama tim.


Kadang kala aku pulang larut malam sampai di apartemen, dan sering juga sampai menginap di kantor, demi mengejar deadline. Tak hanya aku, yang lainnya pun hampir sama karena kepedulian yang di bangun bukan hanya pada perusahaan akan tetapi pada project besar yang tidak akan ada tempat lain yang melakukan gebrakan seperti CTI dalam memproduksi Project Oxygen.

__ADS_1


Semangat itulah yang membuatku dan tim ingin tampil maksimal di acara opening tanpa ada terdapat kendala yang bisa membuat reputasi kita jelek di mata orang lain. Semangat besar itu pula yang membuatku sedikit kewalahan, lelah. Mungkin nanti aku akan berlakukan work from home agar ada waktu bagi semuanya untuk bisa beristirahat dan di lain waktu mereka tetap standby jika ada suatu tugas yang harus segera dilaksanakan.


"Aku mau liburan, kamu ada saran?" Tanyaku basa-basi ke Indira.


"Sebelum itu, bukan kah kamu sudah janji. Ingat?" Tukasnya.


Aku  Ingat janji itu, ke rumah orang tuaku. dan aku sudah berjanji sebelumnya, jika setelah acara peresmian perusahaan aku akan mengenalkan lebih jauh kepada keluargaku. meski pun begitu, aku masih belum punya cukup keberanian, tetapi karena sudah kepalang berjanji, tidak ada cara lain selain menepati janji itu dan membawa Indira menghadap ke orang tua dan adik-adik.


Itu telah menjadi hak Indira sebagai istri, ia pun ingin bercengkrama dengan keluarga barunya, apalagi kedua adik ku perempuan, mungkin saja mereka bisa lebih akrab dan saling menjaga tali persaudaraan.


"Iya aku ingat, senin depan aku tidak ada jadwal, bisa kan?"


"Bisa.. Aku tak sabar mau bertemu adik-adikmu. mereka berdua sangat cantik, kadang aku minder didekat mereka.. kalah cantik aku". keluhnya karena memang benar, adik-adikku tumbuh cantik dan mempesona, aku pun kaget ketika melihat mereka di pernikahanku waktu itu di Cirebon.


"Kamu lebih cantik dari mereka, No Doubt!"


"Thanks, dear.." ucapnya, kemudian ku belai rambut nya yang tergerai beberapa menutupi kening nya dan ku kecup lembut.


Pipinya merah merona, mungkin malu mungkin juga ingin membalas kecupan, sayangnya kita berdua tidak di tempat yang bagus untuk melanjutkan kemesraan, karena tak lama Fabian, Zahra dan Stefan sudah kembali ke kantor.


...----------------...


Dilain waktu, Rania tengah mengepak barang-barang yang masih bisa ia pakai dan menyortir barang yang tidak perlu ia bawa ke rumah barunya.


Disana ia bersama Dea dan juga Dahlan. mereka terlihat sibuk dengan tugasnya masing-masing. meski Dea masih kecil ia tak segan mengangkat-angkat barang dari dalam lemari kemudian di pindahkan ke kotak kardus yang sudah di susun rapih di lantai, semuanya di urutkan berdasarkan jenis-jenis nya.


"Kalau buku-buku cerita ini, bagaimana?" tanya Dea kepada sang Ibu.


"Sebentar ya sayang" ia sedang melipat beberapa baju dan memilah baju, diantaranya ia melihat baju dari lelaki yang telah mencampakannya. Ia termenung beberapa saat dan mencoba mengikhlaskan semuanya.


Ia masukan semua pakaian itu ke dalam karung bersama sampah-sampah dan barang yang sudah rusak tak terpakai.


"Mbak, itu bajunya masih bagus-bagus, kenapa di buang?" tanya dahlan penasaran ada baju-baju kaos dan kemeja laki-laki.


"Sudah rusak" jawabnya cepat tanpa menghiraukannya.


...****************...

__ADS_1


.


Note : Terima kasih semuanya, sudah mengikuti cerita sampai episode ini. Salam hangat dari saya kepada semua pembaca.


__ADS_2