
“Sayang, kamu tidak apa-apa di rumah sendirian?” Medina masih terlihat lemah dan sering kali mengalami pusing.
Saat Stefan hendak pergi, ada rasa tak tega di dalam benaknya. Mungkin sebaiknya untuk tetap menemani sang istri agar ia pun merasa puas dan tak perlu khawatir.
“Aku baik-baik saja.. Kamu pergilah, yang lain pasti sudah menunggumu” Ucap Medina menimpali dan meminta Stefan untuk tetap pergi menuju rumah Rania.
“Mana bisa aku pergi disaat istriku sakit. Lagipula disana banyak orang juga, nanti aku kabari yang lain kalau aku tidak bisa datang”.
“Kamu tak perlu khawatir” lanjut Stefan mencoba meyakinkan istrinya, toh ini juga bukan urusan penting menyangkut pekerjaan yang mendesak, dan disana sudah ada Sharon, Fabian dan yang lain.
“Baiklah..” Ia tersenyum menatap kedua bola mata Stefan, terlihat raut wajah yang murah tanda suaminya itu khawatir sekali.
Lebih baik menghabiskan waktu berdua dengan orang tercinta, dan minggu-minggu ini dia sibuk sekali di kantor, belum banyak waktu untuk lebih memperhatikan Medina. Meski istrinya mengerti tentang pekerjaan sibuk yang menyita waktu Stefan, akan tetapi ia begitu merindukan quality time berdua. Mungkin dengan segelas teh hangat dan cookies menjadi pelengkap di pagi cerah saat ini.
“Apa tidak sebaiknya kita periksa kembali ke dokter?”
“Tidak, aku baik-baik saja, kemarin dokter kan cuma bilang aku kecapean kerja, dan harus banyak istirahat di rumah”. Ia menepis saran Stefan untuk check-up ke dokter.
“Ya sudah, tapi jangan ngebandel ya... Aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu”.
“Nanti tidak usah masak, aku pesen online saja ya..” lanjutnya. Kemudian mengambil ponsel genggamnya untuk menghubungi Sharon yang sudah ada di rumah Rania.
...----------------...
“Yahhh.. Kenapa Bro..”
“Tapi istrimu baik-baik saja kan?” tanyaku kepada Stefan.
Ia mengabarkan tak jadi ikut membantu, karena kesehatan Medina belum kunjung pulih membaik, sebaiknya memang tetap bersama disana dan tidak memaksakan untuk datang. Karena bagaimana pun, jika Medina ikut kesini malah nantinya akan cape di jalan.
“Medina masih sakit, jadi Stefan tidak datang hari ini, dia titip salam buat semuanya”. Aku memberitahukan hal itu kepada Rania, dan ia pun jadi khawatir karenanya.
“Memang, sakitnya parah ya Sha?” ia lanjut bertanya, penasaran karena tak biasanya Stefan sampai rela tak datang ke acara kumpul-kumpul seperti ini.
Stefan adalah orang yang tidak akan pernah melewatkan waktu untuk kumpul-kumpul bersama teman. Bisa dibilang, kalau tak ada dirinya serasa kurang lengkap jika sedang berkumpul. Namun begitu Rania memahami bahwa Stefan tak seperti dulu, cowok playboy yang gemar membuat nangis para wanita. Dia kini menjadi suami siaga yang selalu taat terhadap istri, dan itu adalah hal positif bagi Stefan.
“Ayo Ran.. Mumpung masih pagi, udaranya juga masih seger. Kita beres-beres sekarang”.
“Ayo..”
__ADS_1
Rania menginstruksikan ke para lelaki untuk mengangkat barang-barang yang berat dan sementara para perempuan bertugas untuk menyusun barang-barang dan juga peralatan seperti kursi, meja dan perabotan elektronik.
Tugas yang dikerjakan oleh 7 orang, jadi cepat selesai dalam waktu yang singkat. Zahra, Fabian, Xian nampak kelelahan, mereka duduk di selasar sembari menikmati air sirup dan beberapa cemilan yang tadi kami beli.
Rania, Indira juga Finna masih sibuk mengatur layout ruangan dari barang-barang yang mau di geser. Rania masih bingung dengan tata-letak peralatan dapur, selain kitchen-set yang sudah permanen, beberapa, seperti rak piring juga peralatan elektronik dapur masih di geser-geser mencari posisi yang pas menurutnya.
“Gimana Ran, Sepertinya ok..” Tepatnya, mereka hanya melihat benda-benda yang ku geser tanpa benar-benar membantu.
“Nah.. Boleh nih. Sip, sepertinya sudah semua”.
“Cukup Sha.. Disitu saja” Ucapnya sambil memperhatikan kanan-kiri letak perabotan yang ia punya.
“Udah ya... Cape nih, istirahat dulu..” Keluhku, meski masih pagi, namun keringat sudah bercucuran, lebih lebih dari sewaktu aku berolahraga, lelah sekali rasanya.
Aku menuju teras depan, disana mereka bertiga sedang asik berbincang-bincang santai sembari menikmati sajian makanan.
Langit cerah biru terhampar luas, beberapa burung gereja dan walet berterbangan, ada yang hinggap di antara kabel-kabel listrik, berteger diatasnya. Jam masih menunjukan pukul 8:45 pagi dan udara masih sangat segar, karena di hari libur akhir pekan seperti ini, lebih banyaknya semua orang memilih untuk tinggal di rumah dan menghabiskan banyak waktu bersama keluarga, tak banyak kendaraan yang melintas, semua mobil masih terparkir di rumahnya masing-masing di dalam kawasan perumahan Palm Town.
...----------------...
“Sudah semua ya” tanya Xian.
“Kak Sharon, boleh tanya sesuatu ?”
“Hmm.. Boleh”.
“Kak Sharon, sudah lama berteman sama mbak Ran?” Tanya Zahra penasaran dengan hubungan pertemanan kami bertiga.
“Dari smester 1 di kampus, Kenapa memangnya?”.
“Tidak, cuma penasaran, ko kak Sharon, kak Stefan dan mbak Rania akrab banget, ternyata memang pertemanannya juga sudah lama”.
“Begitulah, kalau salah satu ada yang membutuhkan bantuan, ya kami langsung bantu tanpa berpikir apa-apa”. Jawabku memberikan alasan karena pertemanan kami berlangsung cukup lama hampir genap 10 tahun.
Bukan karena lamanya, akan tetapi kita saling mengisi kekurangan satu dengan yang lain. Stefan pernah marah karena Rania selalu bawel menceramahi dirinya yang selalu mempermainkan wanita, akan tetapi ia pun menyadari kesalahannya setelah di peringatkan oleh Rania, berkat hal itulah didinya kini bisa berubah.
Dan aku pun begitu, jika bukan karena modal usaha yang diberikan oleh Stefan, tak mungkin aku bisa membangun usaha yang sekarang mulai melaju perlahan-lahan.
“Semoga kita juga bisa berteman lama” Ucapku menutup percakapan.
__ADS_1
“Ayo kita masuk” Ajak ku kepada mereka bertiga.
Belum sempat aku masuk ke dalam rumah, nampak seorang kurir berhenti tepat di rumah Rania.
“Paket.. Atas nama Ibu Rania”. Ucapnya setengah teriak agar si empunya rumah mendengar.
“Oh iya mas, Sini paketnya saya yang terima, Ibu Rania nya ada di dalam”. Aku menerima lembar penerimaan dan menandatanganinya.
Paketnya aku kenali dari toko komputer yang semalam ku pesan untuk pembelian PC lengkap dengan segala aksesorisnya.
“Dahlan, sini bantu aku angkat”. Karena PC yang lumayan besar aku jadi tak bisa mengangkat peralatan lainnya yang masih di segel dalam box kardus terpisah.
“Siap mas”.
Kami berdua membawa masuk paket, dan aku meminta Rania untuk menunjukan ruang kerjanya, biar langsung aku setup semu barang-barang yang telah ku pesan sebagai kado untuk Rania.
“Ini Paket kamu yang pesan ya Sha?” Tanyanya, ia meraba box besar berisikan komputer dengan harga yang lumayan mahal.
Ia terperangah ketika aku membuka Box besar yang petama, berisi layar monitor 42 inch Layar panel OLED dengan ketajaman warna yang luar biasa, cocok untuknya yang menjadi seorang disainer grafis. Setelah membuka semua box, aku pasang satu-persatu PC, monitor, mouse, keyboard dan semuanya berwana putih, terlihat mewah dengan pantulan cahaya warna-warni dari dalam casing PC.
“Sha.. Ini terlalu berlebihan buatku..”
“Pasti mahal banget kan?”
“Duh.. Sha... Gimana ini” Tanyanya terus menerus tak kunjung henti.
Ia sibuk melihat fitur-fitur di komputer barunya itu. Aku sukses membuatnya kaget setengah mati melihat perangkat High-tech terbaru yang aku rancang sendiri dan pesan secara custom ke penyedia layanan jual PC terpercaya.
“Kamu suka?” Tanyaku.
“Suka banget, ini seriusan buat aku Sha?”
“Yup.. Terima saja, aku sengaja memberikanmu PC ini agar kamu makin semangat menggambarnya”.
“Terima kasih banyak sha..”. Ia pun kembali mencoba PC barunya itu dengan mimik wajah seolah tak percaya dengan barang mahal dihadapannya.
...****************...
.
__ADS_1