
Kereta cepat mengantarkan dua insan yang sedang dimabuk cinta menuju Kyoto Jepang. Meski perjalan sangatlah cepat, namun tak begitu terasa berbeda dengan ketika menaiki kereta saat di Indonesia. Medina terus menerus melirik ke segala arah melihat semua sudut tempat dari kereta shinkansen sekitar 2 jam lebih perjalanan dari stasiun kota tokyo menuju kyoto dalan jarak ratusan kilometer.
Didalam perjalan, mereka memesan Bento dengan irisan daging ayam yang terlihat lezat dan juga salad dressing dari kol yang manis dan segar rasanya.
"Enak sekali ya.." Ucap Medina kepada suaminya yang juga sedang menikmati hidangan yang disediakan di dalam shinkansen.
"Iya.. ayo segera habiskan, sebentar lagi kita akan sampai". Ucap Stefan.
Sepanjang perjalanan banyak ditemukan sungai-sungai dan juga pepohonan hijau, beberapa kali melewati perkebonan jeruk yang sangat luas. Pikiran Medina melayang menikmati hamparan pemandangan selama perjalanan dan terkagum dengan hal-hal baru yang baru terlihat olehnya selama di Jepang.
"Sayang.. Nanti kita langsung ke penginapan atau kemana dulu ?" tanyanya kepada stefan. Ia mengantuk setelah kenyang makan dan sedikit ingin merebahkan badannya.
"Kamu ngantuk ya... sini" ia pun merapatkan posisi duduknya dan menyandarkan kepala suami dipundaknya.
"Iya.. nanti kita langsung ke penginapan dulu. sudah di booking dan sekitar penginapan pun banyak objek wisata yang bisa kita kunjungi". tangkasnya panjang lebar menceritakan rencana hari ini ketika sampai di kyoto.
"Aku ingin coba kimono... rasanya seperti apa ya.." Ucapnya penasaran dengan baju tradisional gadis-gadis jepang yang sering kali ia lihat di beberapa drama dan film-film negeri sakura itu.
"Nanti ya sayang..." Ucap stefan pelan dan mulai memejamkan matanya menikmati rasa kantuknya untuk beberapa saat sebelum sampai di tujuan.
Sesaat stefan tertidur, ia pun tak menyianhyiakan moment tersebut dan memfoto kemesraan mereka berdua di dalam kereta dan memposting di sosial media.
"Bagiku, Jepang adalah tempat jauh yang tak bisa ku singgahi. Namun bersamamu, kemanapun menjadi mungkin. Love you my hubby" Celotehnya pada caption foto ia posting ke sosial media, tak selang beberapa detik, muncul berbagai komen-komen yang memberikan selamat kepada mereka berdua dari teman-temannya Medina di dunia maya.
__ADS_1
Beberapa menit sebelum ia sampai di tujuan, suara notifikasi pesan instant muncul di gawai stefan.
"Mohon do'anya untuk kesembuhan Sharon" Pesan yang muncul merupakan pesan yang dikirim secara masal oleh Indira ke semua kontak temannya di LumeChat.
Stefan terbangun dan membaca pesan itu. terkejut dibuatnya karena seharusnya hari ini sharon dan indira melangsungkan pernikahan mereka. kenapa ada pesan yang seperti ini, dengan khawatir ia mencoba menghubungi indira dan menanyakan langsung perihal pesan yang ia kirim.
"Dira.. apa yang terjadi dengan sharon? ia sakit apa?" Tanya nya kepada indira lewat sambungan telepon selular.
Penjelasan indira begitu jelas sekali mengenai detail kejadian yang menimpa mereka, dan sharon menjadi korban penyekapan dan sedang di rawat di Rumah sakit karena peluru yang menembus perutnya yang kini sedang terbaring koma setelah beberapa jam lalu melewati prosedur ketat tim medis dalam menangani hal itu.
"Bagaimana bisa, Siapa yang tega melakukannya dir?". Indira pun masih belum mengetahui secara jelas perkara yang tengah terjadi. Ia hanya tau kini calon suaminya terbaring belum sadarakibat luka dalam yang di alami.
"Ya tuhan... berat sekali perjalananmu kawan.. kenapa dunia begitu membencimu untuk bisa bahagia" ucap stefan. ia menundukan wajahnya. Disaat ia sedang bersenang-senang dengan pujaan hatinya, sesuatu yang beruk menimpa sahabat sejatinya itu, stefan tak bisa menerima situasi sulit ini. Meski begitu, Indira dan Finna memintanya untuk tidak perlu khawati dan tetap mendoakan dari jauh untuk kesembuhan Sharon. Ia pun mencoba menjelaskan jika suatu waktu Stefan nekat untuk segera pulang, ia langsung mencegah karena Sharon pun ingin mereka berdua berbahagia dalam moment bulan madu yang hanya bisa dilakukan sekali seumur hidup.
"Iya sayang" ia mengangguk pelan dan kembali menyandarkan dirinya di bahu Medina.
-------------------------------------------------------------------
Setibanya mereka di Stasiun kyoto, Stefan mencegat salah satu taksi yang banyak terparkir tak jauh dari lokasi stasiun untuk mengantarkan mereka ke penginapan yang sudah di pesan beberapa hari lalu. Selama perjalanan ia hanya terdiam tak berbicara sepatah katapun. Medina menyadari perilaku suaminya jika sedang tak ingin diganggu, ia hanya bisa menggengam tangan suaminya dengan erat untuk menenangkan.
Tempat yang mereka tuju adalah hotel tradisional yang begitu megang dengan bangunan khas jepang di sekelilingnya tumbuh beberapa pepohonan sakura yang tak sedang berbunga, berdua bergandengan tangan menaiki anak tangga yang cukup banyak dan lumayan jauh beberapa puluh meter agar sampai di penginapan, dan terlihat tulisan Izuyasu Ryokan tertulis di papan nama berukuran besar dengan kaligrafi kanji bahasa jepang dan juga ditulis.
Pelataranya pun luas, ada berbagai macam tumbuhan dan bunga-bunga menghiasi sepanjang pelataran itu. sekelilingnya pun banyak pepohonan rimbun menutupi hampir semua wilayah dari penginapan, meski begitu di musim dingin yang bersalju, banyak sekali tumpukan salju di jalanan dan di antara pepohonan-pepohonan yang tumbuh.
__ADS_1
melihat pemandangan dengan hamparan pepohonan yang telihat memutih karena salju, stefan bergeming dari diam nya dan melihat kesemua penjuru perlahan-lahan semangatnya pun bangkit kembali dan mengambangkan senyuman ke arah Medina yang juga memandanginya dengan tatapan lembut penuh kasih sayang.
"Kita nikmati ya sayang.. setelah itu kita pulang ke Indonesia, aku tak apa-apa jika bulan madu kita hanya berlangsung cuma beberapa hari saja".
"Terima kasih cantik". ia mengecup kening istrinya itu dan dilihat oleh beberapa pasang mata di depan sana.
"Tuan dan Nyonya, selamat datang di Izuyasu Ryoka.." Semua pelayan memakai kimono berbaris di pintu masuk penginapan dan memberi salam dengan cara menunduk hormat kepada tamu yang datang.
Para pelayan sangat teliti dan ramah sekali terhadap pengunjung dan juga tersedia pelayan hotel yang bisa berbahasa inggris agar mudah berkomunikasi dengan warga negara luar. Stefan pun mengkonfirmasi tempat yang telah di booking sebelumnya dengan menyerahkan bukti identitas diri agar pesanan sesuai dengan pemesannya.
Mereka berdua di antar langsung oleh resepsionis yang juga menjadi pelayan khusus bagi warga negara asing. sangat profesional dan juga mudah mengarahkan para tamu ke ruangan dan menjelaskan semua fungsi dari masing-masing item yang ada didalam kamar.
Melihat wanita cantik berbaju kimono yang mengantarnya ke kamar, Medina terpana, kagum akan kecantikan yang dibalut oleh kain halus berwarna biru laut dengan motif bunga sakura putih. Ia sangat ingin memakai pakaian kimono yang sama yang digunakan oleh pelayan tadi dan mencoba menanyakan tentang ketersediaan kimono untuk disewa dan dipakai olehnya, tentu hal itu mengundang keingintahuan suaminya dan juga berniat mennggunakan pakaian-pakaian tradisional jepang, namun sayangnya mereka tidak menyediakan kimono sewaaan di penginapan ini tetapi si pelayan mengarahkan untuk menuju toko pakaian tradisional yang jaraknya tak jauh dari tempat penginapan, menurut penuturannya disana tersedia semua jenis motif yang cantik-cantik untuk dipakai.
Sudah ditetapkan setelah mereka beres-beres pakaian dan sebagainya mereka berdua akan menuju tempat yang tadi ditunjukan oleh pelayan. 100 meter ke sebuah toko yang menjual bahan-bahan pakaian dan juga menjual kimono yang sudah jadi yang langsung bisa digunakan.
"Ayo sayang.. cepat, nanti keburu sore.." ia memanggil-manggil suaminya dengan penuh semangat karena tak sabar ingin segera sampai di toko yang dimaksud.
"Sebentar ya sebentar.. sabar dong sayangku..." ia pun bergegas menemui istrinya yang berdiri di depan pintu geser ke luar kamar.
"Ayo" ucap stefan kemudian meraih dan menggenggam tangan medina.
*****************************************
__ADS_1