
"Tuan, terima kasih sudah merawat saya, saya tidak apa-apa, saya harus pulang segera" ucap medina dan mencoba bergerak bangun dari ranjang.
"Baiklah, tetapi aku akan mengantarkanmu pulang, jangan membantah. ok?" jawabnya tegas.
"Iya tuan, terima kasih banyak". Jawabnya tertunduk lemas.
Setelah selesai untuk urusan administrasi pembayaran, stefan menuntun tubuh medina menuju mobilnya, melaju menuju daerah perumahaan sederhana di Jakarta Timur.
"Ya tuhan, motorku bagaimana, tuan sebaiknya saya kembali ke kantor dan pulang sendiri saja" medina teringat motor ayahnya masih terparkir di kantor dan meminta stefan untuk kembali ke kantor.
"Tidak usah khawarir, berikan saja kunci motornya padaku, nanti aku suruh orang lain antar motornya ke rumah mu". Timpalnya tak memperdulikan medina yang sedang bergumam karena khawatir orang tua nya akan sedih ia pulang dalam keadaan terluka.
Mereka tiba sore hari di depan rumah keluarganya medina, tadinya ia akan berdiri dan berjalan sendiri, namun kakinya masih terasa lemah untuk menopang tubuh dan hampir jatuh jika stefan tidak sigap menangani situasi.
"pegangan yang erat, aku antar kau ke rumah" ucap stefan membujuk medina.
__ADS_1
Beberapa kali mengetuk pintu tidak ada siapapun yang menanggapi. Akhirnya medina menelpon ibunya dan meminta membukakan pintu untuk mereka.
Ibunya medina terkaget ketika putrinya dipapah oleh seorang lelaki tampan mengenakan jas hitam perlente. Dia bingung dengan situasi itu sampai akhirnya stefan menjelaskan singkat terkait kejadian yang dialami oleh putrinya.
Setelah berpamitan stefan bergegas kembali ke kantor untuk mengantarkan motor yang medina tinggalkan di tempat parkir. Tadinya ia pikir untuk menyuruh satpam kantor mengantarkan motor ke rumah medina akan tetapi tentu akan sulit untuk menemukan alamat rumah medina, lebih baik jika diantarkan langsung oleh dirinya sendiri, dia sudah tau tempat tinggalnya.
Setelah tiba di parkiran kantor, iya membuka jas dan dasinya ia lemparkan ke jok belakang mobil, kemudian keluar untuk mencari motor matic warna merah milik perempuan itu.
"ahh ketemu juga" ucapnya mendapati motor merah itu. Bukan motor keluaran terbaru dan juga terlihat beberapa bagian motornya sudah lecet-lecet. Setelah menggunakan helm dan menstarter motor, ia melaju ke luar parkiran menuju rumah medina.
Karena sudah lama tidak pernah menggunakan motor, stefan berkendara dengan sangat hati-hati dan tidak melaju dengan kecepatan penuh meskipun jalanan tidak sesak oleh kendaraan lain. Butuh sekitar 40 menit sampai ke rumah medina, perempuan yang tadi ia tolong. Meski lelah dan bercucuran keringat ia merasakan sensasi lain menaiki motor, sangat menyenangkan dan ada rasa nostalgia untuknya.
Di dalam rumah keluarga medina, stefan disambut bak raja, bukan saja sudah membantu medina, ia pun rela bolak-balik untuk mengantarkan motor ayahnya yang medina pakai. Keluarga ini sangat berhutang budi kepadanya.
"Tuan, saya ucapkan terima kasih banyak, saya terlalu merepotkan tuan, suatu saat saya akan membalas budi baik tuan" ucap medina tulus disaksikan oleh kedua orang tua serta adiknya yang masih kecil.
__ADS_1
Stefan menanggapinya dengan tertawa, khas nya sebagai lelaki periang. Ia menyunggingkan senyum kepada medina.
"Baiklah, sebagai balasannya aku minta kamu berhenti memanggilku dengan sebutan tuan, cukup panggil stefan saja". Ia meminta untuk tidak terlalu formal kepadanya karena memang sikap stefan yang low profile tidak begitu memperhatikan status-status sosial, baginya semua orang memiliki derajat yang sama.
"siap tuan, ehh st-stefan" ucapnya dengan malu-malu yang sukses membuat semua orang didalam rumah ini tertawa dengan tingkah laku medina.
Di dalam lubuh hatinya medina, ia kagum dengan sikap stefan, tak cuma baik dan tampan, akan tetapi sesosok lelaki itu teramat spesial dan ia hampir tak kuasa jika bertatapan dengan stefan, degup jantungnya menjadi tak menentu dihadapan lelaki tampan itu.
"Nak stefan, saya haturkan terima kasih banyak, kapan-kapan mampir lah kemari". Ujar ayahnya medina dengan penuh harap.
"Kami sangat berhutang budi kepada nak stefan, jika berkenan, silahkan datang lagi ke gubuk kami ini" ujar ibunya merendah.
Ia pun hanya senyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, jadi salah tingkah diperlakukan seperti ini. Ia hanya bisa mengangguk pelan, kemudian berjalan menghampiri taksi pesanan nya yang sudah datang.
"Om, tante saya pamit ya"
__ADS_1
"Oh iya medina, sampai bertemu di kantor ya" ia pun melambaikan tangannya dan perlahan taksi yang ia naiki menghilang dari pandangan mata medina yang masih tidak percaya dengan ucapan stefan. Apakah dirinya sudah diterima kerja, ataukah stefan sengaja langsung menerimanya menjadi pegawai. Matanya berkaca-kaca dan rasa haru menyelimuti dirinya untuk semua kebaikan dari seseorang yang baru saja ia kenal.
"Ya tuhan, seandainya saja dia adalah.....".