
Rania tertunduk lesu memandangi karpet lusuh dihadapannya itu. Selama ini ia bertahan dengan pekerjaanya sebagai guru TK, dengan gaji ala kadarnya saja sumbangan dari orang tua murid yang mungkin setiap bulan hanya mendapatkan tak kurang dari 2 juta rupiah. Dengan berbekal keakhlian menggambar, ia pun membuka jasa drawing di internet di sebuah situs platform yang menyediakan layanan pembuatan gambar dari beberapa seniman-seniman lokal maupun mancanegara. Dengan kemampuannya di bidang grafis ia mendapatkan keuntungan yang cukup untuk menutupi kebutuhan dirinya dan anaknya yang saat ini masih bersekolah di sekolah dasar swasta di kota jakarta.
Orang tuanya bukanlah hartawan, ia hanya seorang pegawai negeri yang belum lama ini pensiun di usianya yang menginjak umur 67 tahun. Setelah mengetahui Rania hamil diluar nikah, keluarganya mulai menjauh dan tak memberikan kesempatan untuk kembali ke rumah keluarganya, dengan kondisi mengandung seorang bayi hasil hubungan terlarangnya dengan Toni, ia memutuskan untuk hidup mandiri seorang diri disebuah rumah kontrakan 3 petak disebuah kawasan kumuh di daerah jakarta pusat.
Dirinya benar-benar mendapatkan nasib malang, bukan hanya keluarganya, tetapi teman-teman seangkatannya meninggalkannya begitu saja, termasuk lelaki biadab yang telah membenamkan benih pada rahimnya. Toni meninggalkan Rania disaat umur 5 bulan kandungannya. Dengan alasan dirinya akan ke daerah sumatera untuk bekerja di sebuah perusahaan tambang milik pamannya, ia pergi dan berjanji akan kembali dan tiap bulan akan terus mengirimkan nafkah finansial padanya. Namun itu hanya berselang 2 bulan saja, toni hilang tanpa kabar setelah itu.
“Aku benar-benar minta maaf tidak bisa membantu di saat kamu membutuhkan pertolongan, maafkan aku ran” ucapku meminta maaf sebagai seorang teman dekatnya aku baru mengetahui fakta berita ini setelah bertemu dengan stefan.
Bertahun-tahun aku putus kabar dengan sahabat-sahabatku, pikirku mungkin mereka telah sukses diluar sana sampai lupa untuk memberikan kabar kepadaku. Aku pun enggan dan malu untuk bertanya kabar, dari 3 sahabat baik ku ini, hanya stefan yang masih ada kontak dan 2 lainnya tak pernah bisa lagi dihubungi.
“Aku terlalu malu untuk menghubungi kalian” wajahnya menyiratkan kepedihan mendalam dari semua kemalangan yang menimpa dirinya.
“Bisa saja aku menghibungimu atau stefan, tetapi aku takut kalian akan menjauhiku juga seperti teman-teman yang lain”. Tandasnya menyambung kalimat dengan air mata yang kini menetes.
“Sudahlah ran, aku tidak ingin kamu memikirkan hal lalu, kita harus terus melangkah, dan aku membutuhkanmu sekarang, tentu aku pun akan dengan senang hati membantu sebisaku untuk kehidupanmu mendatang. Pintaku seraya menggengam tangannya yang kurus tak terawat.
Setelah perbincangan itu aku memahami lebih jauh lagi kehidupan seperti apa yang telah ia lalui, juga Toni yang sampai hari ini tidak ada lagi kabar tentangnya. Namun begitu, Dea adalah buah hatinya yang sangat ia cintai dan berharap akan memberikan kehidupan yang layak lebih dari apa yang mampu ia beri sekarang.
__ADS_1
Dengan sedikit harapan, Rania menerima ajakanku untuk bergabung bersama membangun perusahaan yang nantinya akan banyak bergelut dibidang software house dan menjadi pengorbit project Oxygen. Kemampuan seni grafis yang ia miliki terbilang cukup bagus dan bisa memberikan kesan lebih baik pada software yang aku buat, ini yang akan menjadi nilai lebih dari berbagai macam aplikasi-aplikasi diluaran sana yang bersaing nantinya dengan perusahaan yang akan kami bangun bersama.
Perbincangan kami pun menjadi lebih santai dan cair, tak ada lagi kesedihan yang menghantui pikiran Rania. Kadang senda gurau tentang masa lalu kami ia ceritakan kembali dengan raut wajah ceria lebih baik terlihatnya dibandingkan tadi disaat ia menceritakan kehidupannya itu. Aku bersyukur ia tetap menjadi Rania yang ku kenal.
“Aku ada sedikit masalah sha..” ucapnya tiba-tiba serius.
“Apapun itu aku pasti akan membantumu, katakanlah..”
“Dengan sepenuh hati aku akan membantumu membangun perusahaan, hanya saja aku meminta gaji tiap bulanku lancar, untuk kehidupan putriku juga untuk menutupi hutang-hutangku” ia menceritakan perihal masalah yang tengah melilit kehidupannya itu, hutang yang terus menumpuk bunganya di setiap bulan.
Setelah setuju, aku pun menanyakan besaran hutang yang harus ia bayar beserta bunganya. Sebesar 40 juta untuk membayar keseluruhan hutang ia pada seorang rentenir di kota yang tiap bulan harus ia cicil, karena tidak kunjung selesai, maka bunganya makin menumpuk saja sampai hari ini.
“Kamu yakin sha.. Itu uang untuk sewa kantor kan?” tanya nya.
“Santai.. Sewa kantor hanya 50 juta per tahun, lagi pula ini hanya ruko kecil saja, dan mungkin hanya bisa dipakai oleh 5 sampai 7 orang saja”. Aku pun menceritakan strategi pembuatan perusahaan kepadanya agar ia tidak terlalu memikirkan uang yang akan ia pakai untuk membayar hutang. Aku cukup yakin semuanya akan berjalan normal dan kita bisa membangun ini dari titik terkecil menuju perusahaan besar nantinya.
“Baiklah sha, aku benar-benar berterimakasih sekali” ia membungkuk dihadapannku.
__ADS_1
“sudahlah jangan dipikirkan.. Kita pasti bisa!” jawabku penuh keyakinan.
Dering telephone mengagetkanku kala berbincang dengan rania.
"Sha.. Kamu sudah selesai bertemu temanmu itu?" tanya indira kekasihku.
"Sudah. Aku mau mengenalkannya kepadamu sore ini, kita bertemu di dekafe ya". Aku mengajak bertemu rania dan juga stefan sore ini di cafe langganan kami.
"ok, sore ini aku pulang jam 4, nanti aku menyusul kesana".
"ok" jawabku singkat mengakhiri panggilan.
"Ran, sempatkan waktu untuk ke dekafe ya nanti jam 4" perintahku ke rania
"Aku ada hal lain yang mau di bicarakan , dan mau mengenalkanmu ke pacarku".
"Nanti aku kesana bersama Dea" jawabnya.
__ADS_1
Kami pun berpamitan dan hari ini aku harus bertemu dengan seorang pengelola kawasan perkantoran pusat untuk proses penyewaan bangunan yang akan kami pakai sebagai kantor nantinya.