Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Tumbuh Bersama


__ADS_3

"Terima kasih Finn sudah datang.." Indira menggenggam tangan Finna mengucap terima kasih.


Sekalipun dulu Finna juga menjadi salah satu orang yang mengkhianati sahabat karibnya itu, namun kini ia telah sadar akan semua kesalahan yang telah ia perbuat.


Mungkin Indira masih menaruh dendam atau rasa kecewa, setidaknya ia akan selalu ada saat Indira membutuhkan dukungan darinya.


Sembari menenangkan Indira, Finna menceritakan dirinya saat dahulu kuliah di Finlandia dan beberapa kali dikecewakan oleh lelaki. Banyak lelaki yang mendekatinya hanya karena ia kaya raya dan mudah mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk cowok.


Begitu polos dan lugunya orang Indonesia di tipu oleh lelaki di negeri orang. Mencoba mengikuti alur kehidupan disana, berujung jadi tropi bergilir bagi para lelaki dalam mendapatkan hatinya. Sangat miris, wanita yang kini terlihat tanggung, dahulu sangat rapuh dan mudah untuk diperdaya oleh tipu daya lelaki.


"Kamu beruntung, ada lelaki baik seperti Sharon yang mendampingi".


"Lihat.. Kamu sudah menikah sekarang, dan aku seperti wanita bodoh yang tidak lagi tertarik akan hal-hal seperti itu" ucap Finna.


Lama Indira terdiam membayangkan apa yang telah kawannya lewati setelah mereka tak bersama. Semenjak Finna memutuskan mengambil jurusan bisnis di luar negeri, mereka pun hampir tak ada kabar, dan bertemu kembali ketika Finna telah menjadi kekasih baru dari Andre.


"Entahlah lah.. Sejak menikah, Sharon sangat cuek..." Belum lah ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Finna langsung memotong pembicaraan.


"Cowok setia itu akan terlihat cuek, setidaknya itu yang aku tau". tangkasnya mengutarakan pemikiran berdasarkan pengalaman pribadinya.


"Aku tau, Sharon tak akan berbuat macam-macam. Tapi kemarin, saat lelaki itu datang, yang aku pikirkan hanya Sharon..".


"Aku seperti ketergantungan. Karena jika ada dia, sepertinya tak akan ada masalah. Aku jadi trauma untuk pergi kemana pun tanpa dirinya".


Bulir air mata mulai menggenang dan tumpah pada pipi putih Indira. Finna yang melihat itu merasa terenyuh dan merangkul sahabat baik yang telah ia anggap seperti saudaranya sendiri.


...----------------...


"Makanannya sudah siap.. Ayo.." ajak ku kepada Indira dan Finna.


"Wah pas banget aku sudah laper Sha"


"Ayo Dir.."


"Makanannya banyak ko, kalau mau nambah jangan malu-malu Finn".


"Heee.. "

__ADS_1


"Banyak banget!" terkejut melihat meja makan penuh makanan.


Ada gurame bumbu pedas, Ayam rica-rica, juga kangkung plecing kangkung. Indira yang tadi hanya diam saja pun bergegas menuju meja makan dan duduk di samping bangku yang ditempati Finna.


"Ayo nyonya nyonya sekalian, silahkan dinikmati hidangannya". Ucapku seolah menjadi Butler restoran mewah.


"Halah.. Kamu ini Sha.." Finna menyela dan terlihat Indira pun tertawa pelan melihat tingkah kami berdua.


Karena banyaknya kejadian tak terduga, Indira sedikit shock dan itu menyangkut tentang Andre, mantan yang lama hadir di dalam hidupnya jauh sebelum aku mengenalnya. Anda di masa lalu itu aku sudah bersamanya, tak mungkin kan ku biarkan Andre mendekat sejengkal jari pun kepada Indira.


Namun angan tetaplah khayalan yang tak akan pernah terwujud, apalagi untuk mengulang waktu. Kita mungkin sudah dewasa, akan tetapi masih terus tumbuh berkembang, rasa sakit juga bahagia kerap datang tanpa di duga tanpa rencana.


Saat ini, yang paling membahagiakan bagiku adalah melihatnya tersenyum seperti sediakala. Tak ada hal lain selain itu bisa membuat Indira bahagia, hanya itu do'a yang selalu ku panjatkan.


"Makasih ya, ikan gurame nya enak sekali".


"Maaf, dalam seminggu ini aku banyak diam.." Tiba-tiba saja Indira membuka obrolan diantara kami berdua, Finna yang sedang sibuk melahap makanannya pun terkejut dan mengalihkan pandangannya padaku.


"Emh.. Aku tau kamu butuh sendiri.. Tapi, jangan ditanggung sendiri" Aku tak berani menatap matanya saat ini, ada pilu yang tak bisa ku tunjukan pada Indira.


Sebagaimana seorang suami, sedikitnya aku merasa gagal karena membiarkan Indira mengalami hal buruk di beberapa hari lalu. Mungkin karena aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri dan tanpa sadar kurang memperhatikan istriku sendiri.


Sisi ego ku menginginkan Indira untuk selalu jujur kepadaku akan apapun hal yang terjadi padanya. Namun memaksa seseorang untuk selalu berlaku jujur bukanlah hal yang benar. aku hanya bisa menunggu ia membuka hati untuk ku dan tak perlu buru-buru, perjalanan rumah tangga kami masih panjang.


"Eh.. Besok kalian mau ke rumah barunya Rania? aku ikut dong?"


"Ayo Dir.. Kita kesana juga" ajaknya.


"Oh boleh, emm..... Harus beli kado, tapi apa ya Finn. Kamu ada ide?".


"Apa ya.. Set meja kursi atau peralatan dapur, mungkin". Finna jadi berpikir keras karena temannya meminta saran, tetapi dia juga tidak tau kado yang cocok buat Rania.


"Anaknya Rania mau bikin taman kecil di rumah barunya, mungkin kalian bisa membelikannya vas bunga untuk di taman, mungkin juga tanaman bunga juga bisa, bagaimana?" saranku agar mereka tak perlu repot untuk mencari-cari kado, mengingat ini sudah hampir petang dan juga macet di jalan raya.


"Wah boleh juga itu, aku coba hubungi toko tanaman langgananku".


...----------------...

__ADS_1


Pagi-pagi sekali kami meluncur ke rumah barunya Rania, dengan bantuan peta digital, kami menuju ke perumahan yang di maksud.


Sengaja pagi-pagi sekali kami pergi, agar jalanan belum terlalu macet, dan di perjalanan kami bisa membeli beberapa makanan untuk sarapan.


Finna turun dari mobil yang kami kendarai, menuju pintu masuk toko Pizza membeli beberapa box untuk nanti dinikmati bersama yang lain.


Di persimpangan tugu pahlawan, mobil berbelok ke arah matraman dan masuk ke sebuah jalan menuju perumahan. Kami lanjut memasuki area perumahan Palm Town di blok A lanjut ke blok G.


Di depan rumah, Rania sedang menyapu halaman, membersihkan sisa-sisa sampah dari karton dan kardus-kardus yang sudah tidak terpakai.


"Hey Ran.." Finna berteriak menyapa Rania.


"Loh... Kalian. Kenapa tidak kabari dulu sih!"


"Duh, masih berantakan rumahnya, maaf ya.." ujarnya dan memperlihatkan sisi-sisi rumah yang masih terdapat beberapa box peralatan rumah yang ia bawa dari tempatnya dulu.


"Loh! kan kita kesini juga mau bantu kamu beres-beres".


"Santai Ran.. Nanti yang lainnya menyusul".


"Ya ampun Sha... Jadi merepotkan kalian semua" Rania mempersilahkan kami masuk.


Ruangan utamanya lumayan besar untuk du tempati mereka berdua. Rumahnya pun tersapat dua lantai dengan konsep minimalis.


"Dea kemana Ran?" tanyaku, mungkin saja masih tidur.


"Ah.. Dea sepertinya di atas, di kamar".


Ia pun memanggil-manggil anak semata wayangnya. Dea berlari menuruni tangga terburu-buru.


"Hai om Sharon, Tante Indira, dan Tante Finna". Ucapnya sambil menyalami tangan kami satu-persatu.


"Dea sudah sarapan belum" tanya Finna sambil membungkuk menyejajarkan tingginya dengan Dea.


"Belum.." Jawabnya malu-malu.


"Tante bawa pizza loh, Dea suka pizza ?" Finna meletakan 4 box besar berisi makanan diantaranya ada Pizza, spaghetti dan beberapa roti.

__ADS_1


"Suka dong, Terimakasih ya tante..".


__ADS_2