Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Senyuman itu


__ADS_3

“Maaf ayah, aku tidak akan pulang ke rumah, meskipun ayah memaksa” ucapku kepada lelaki tua yang sudah berumur 73 tahun.


Sorot matanya hanya menerawang ke luar jendela kamar, memperhatikan awan putih yang beriak di kejauhan langit. Ia termenung memikirkan sesuatu dan mungkin tengah menahan gejolak emosinya karena diriku yang tidak pernah mengindahkan perintahnya dan kabur dari rumah menelantarkan adik-adikku sendiri.


“Tak apa, kau sudah memiliki semuanya, ayah hanya ingin melihat kondisimu saat ini”.  Ucapnya tak peduli dengan keberadaanku tak berani pun untuk bertatap muka berhadap-hadapan.


Bagaimaan mungkin aku akan menerimanya, lelaki egois yang sejak dulu memperlakukan kami hanya seperti mesin pengganti untuk dirinya yang kemudian hari tak lagi bisa lagi menunjukan taringya di dunia bisnis. Ia tak akan tau bagaimana rasanya menjadi alat demi kepuasan orang lain meskipun itu adalah ayah kandungku sendiri.


“Kamu seperti diriku sewaktu muda, keras pendirian dan terkadang ceroboh dalam mengartikan semua hal. Di dalam bisnis hal itu bagus, namun tak selamanya kamu harus memandang idealitas yang kamu pegang, akan banyak orang yang menderita karena kecerobohanmu kelak. Nasehat dari seorang bisnisman kawakan memang berbeda, ia telah merasakan asam garam kehidupan dalam dunia bisnis yang tak selamanya mudah.


“Pulang lah sesekali, adik-adikmu membutuhkanmu nak..” Ucapnya kemudian.


“Suatu saat aku akan pulang. Namun tidak untuk sekarang, masih banyak yang harus ku selesaikan”. Kilahku menolak secara halus.


......................


Bagiku semua omongannya adalah perintah mutlak yang tak bisa di tolak. Sudah sejak dahulu aku mengetahui watak ayah dan sekarang ketika sudah dewasa aku memiliki kebebasan lebih atas apa yang aku kerjakan dan apa yang tak ingin aku lakukan, sesederhana itu.


Berbeda dengan biasanya, kini ia lebih seperti melunak  dan tak memaksa, entah karena usia tuanya atau karena ia menyadari kesalahan-kesalahannya selama ini, terutama kepada anak-anaknya. Meski begitu tak banyak ia utarakan kepadaku saat ini, hanya beberapa ceramahnya saja tentang bisnis, karena hanya itu yang bisa ia bicarakan sejak dahulu.


Meski kekayaan nya yang melimpah ruah, namun sejak kecil aku tidak ada hasrat untuk bisa memilikinya. Biar dikata oleh semua kolega bisnisnya kelak aku akan mewarisi seluruh aset yang akan ia wariskan, aku tak menanggapi serius hal tersebut. Setelah Ibu meninggal disana titik balik bagi kehidupan kami semua. Ayah lebih sering mengurung diri di ruang kerja dan atau sejak pagi sudah pergi ke kantor, tak pernah benar-benar ada untuk kami bertiga.

__ADS_1


Dari sanalah aku bertekad untuk keluar dari kungkungan keluargaku, membebaskan diri menjadi pribadi sederhana yang sejak kecil lebih terbiasa berbincang dengan para pembantu dirumah atau bermain bersama anak-anak di kampung kecil tak jauh dari rumah, dan aku sering terkena omelan ayah karenanya, anak seusiaku harus perbanyak belajar, mengikuti les tambahan agar kelak bisa memberikan kontribusi  bersar di perusahaanya. Alasan klasik usang yang tak pernah aku sukai.


Selang beberapa menit ia berada di dalam ruangan kamar, pak danang masuk bersama indira dan menyapa kami yang sedang terdiam terlalu canggung untuk berbincang-bincang selayaknya anak dan orang tua.


“Tuan Ellard, perkenalkan ini putriku indira, namanya”. Dengan berlaku sopaan ia memperkenalkan calon istriku yang terlihat gerogi tengah menghadapi calon mertuanya sendiri yaitu ayahku.


“Ah.. Indira, terima kasih sudah menjaga sharon selama ini, aku berharap ia tak banyak merepotkanmu selama ini” Ucap Ayahku basa-basi yang ternyata ia sudah mengetahui hubungan kami berdua dari info pak danang yang sering berkomunikasi dengan ayah.


Mereka berdua adalah rekan bisnis, hanya saja beda generasi. Dahulu, sebelum Pak danang merintis karirnya itu, ia bekerja sebagai asisten ayah dan selama 5 tahun dan memutuskan untuk menjalankan bisnisnya sendiri karena ia merasa telah menemukan jalannya dan kini sukses menjadi petani tambak ikan terbesar di Jawa Barat.


“Oh tidak tuan, justru sharon yang banyak membantu dan bahkan pernah menyelamatkanku”. Ujarnya berkilah, ia sedikit takut mendapati ayahku yang begitu tajam sorot matanya menatap indira.


“Indira jangan ikuti ayahmu untuk memanggilku tuan, dan kau adalah menantuku. Panggilah seperti sharon memanggilku”. Ucapnya meminta Pak danang dan indira agar tidak memanggilnya tuan karena terlihat seperti memenggil atasan di perusahaan.


“Danang bagaimana persiapannya? Sudah beres?” Aku tak faham apa yang mereka sedang bicarakan, kedua orang itu pergi meninggalkan aku da indira di dalam kamar.


Tebakanku, pasti mereka sedang merencanakan pernikahan kami yang kemarin sempat tertunda. Dan kini ayahku benar-benar terlibat bersama pak danang.


Sudahlah, biarkan saja para orang tua sibuk dengan urusannya sendiri.


“Hmm… sha, kenapa kamu tidak pernah menceritakan apapun tentang keluargamu?” aku sadar suatu saat nanti ia akan menannyakan hal ini, meski begitu tak ku sangka harus menceritakannya sekarang.

__ADS_1


“Ya.. aku sudah bilang kalau suatu saat kamu akan tau, dan ya…. Sekarang kamu sudah mengetahuinya kan?”.


Indira hanya mengangguk pelan, dan duduk di samping kasur kemudian merebahkan didinya memeluk, detak jantungku seperti berontak berdegub kencang. Mungkin ia pun menyadarinya dan terus menyandarkan kepalanya di dadaku.


“Kenapa sayang….” tanyaku


“Tidak ada, selalu nyaman di pelukan kamu, dan mendengar debaran jantungmu..”


“Aku ingin seperti ini terus bersamamu” wajahnya memerah, mungkin ia malu dengan apa yang baru saja ia katakan.


Semoga tuhan benar-benar menjadikan kami berjodoh dan bisa menikmati semua moment bersama-sama sampai ajal menjelang. Aku tidak pernah berpikir lagi untuk mencari wanita lain untuk menggantikan kehadiran indira, ia adalah perempuan tersempurna yang pernah aku kenal, dan hanya ia yang bisa membuatku segila ini untuk mencintanya tanpa ada sedikitpun keraguan di hati ini.


Indira sedikit gelagapan ketika ayahku, dan ayahnya masuk kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


“Eh.. kami sepertinya mengganggu kalian. Maaf kalau begitu” ucap pak danang.


“Tiii.. tidak, dira hanya sedang mengecek keadaan sharon, kami tidak melakukan apa-apa pah”. Alasan macam apa itu, jelas jelas ada Patient monitor, yang merekam semua kondisiku secara realtime. Dasar indira!.


Namun baru kali itu aku melihat ayahku tertawa karena sikap indira yang salah tingkah dan berkata hal-hal yang tidak masuk di akal. mereka pun kembali dan meninggalkan kami untuk berduaan saja.


Aku benar-benar merindukan senyum ayahku sewaktu ibu masih hidup membersamai kami sekeluarga,  tawa nya yang khas dengan sedikit mengatupkan mata. Aku jadi merindukan semua moment-moment berharga kami.

__ADS_1


Terima kasih indira, kau telah mengembalikan senyuman ayahku. Batinku mengucap syukur yang teramat besar karena telah memiliki indira, sampai nanti kita menikah, aku kan berupaya menjadi suami yang akan terus membuatmu bahagia di setiap waktu, karena kau adalah bagian hidupku.


__ADS_2