Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Lavender


__ADS_3

“Hai fin..”


“Sha.. bisa kita bicara sebentar?” ia menghentikan langkahku yang hendak masuk ke ruangan khusus rapat yang sudah di sediakan bagi tim kami untuk berkumpul di sore hari ini.


Ada rasa canggung terlihat dari gestur tubuh Finna, ia masih tidak enak hati akan kejadian tempo hari. Meski aku tak terlalu mempermasalahkannya, namun sepertinya itu tetap di pikirkan oleh finna.


“Kamu masih lama disini?. Aku ada rapat, mungkin sejam”


“Kalau kamu mau, tunggu saja nanti, bagaimana?”


“Ok deh, aku tunggu” ucapnya, ia kembali duduk di sofa berhadapan dengan Alfred yang juga menyunggingkan senyuman ke arahku.


------------


“Ok semuanya, kita mulai rapat hari ini dan siapkan semua laporan yang sudah di rekap” stefan memerintahan kepada semua personalia yang kini berada dalam satu ruangan khusus rapat di Dekafe.


Pembawaan stefan pada rapat memang sangat interkatif dan semua ucapannya bisa dengan mudah dimengerti oleh yang lainnya, itu menjadi salah satu keunggulan dari stefan sebagai Direktur yang mengendalikan semua pekerjaan operasional, mengontrol keseluruhan aktifitas perusahaan hingga menuju titik tertentu seperti yang aku gambarkan.


“Untuk semua pejabat dan beberapa perwakilan dari perusahan-perusahaan sudah kami konfirmasi kehadirannya, ada beberapa yang hanya bisa diwakilkan karena petinggi perusahaan tidak terlalu tertarik dengan acara grand opening seperti ini” penuturan Fabian disimpulkan dari beberapa laporan masuk kehadiran para petinggi perusahaan lain tak begitu tertarik dan lebih memilih untuk diwakilkan saja.


Tak masalah juga jika tak banyak para petinggi perusahaan yang datang, karena target kami adalah membuka dan mencari relasi bisnis yang nantinya bisa bersinergi dalam membangun ekosistem perusahaan IT yang bisa mendorong percepatan peningkatan teknologi di Indonesia.


Laporan demi laporan telah disampaikan, beberapa hal masih ada yang kurang cukup dikerjakan, namun bukan menjadi masalah yang mendesak dan masih bisa tertutupi nanti. Untuk selanjutnya hanya pemaparan stefan yang banyak mengintruksikan berbagai macam hal untuk kesuksesan acara grand opening perusahaan kami.


Acara di set menjadi dua, pertama grand opening yang hanya dihadiri oleh para orang-orang tua petinggi dan perwakilan perusahaan lain juga ada pejabat dan wartawan, di khususkan karena acaranya terlalu kolot sepertihalnya acara peresmian pada umumnya yang banyak disi oleh pidato-pidato yang membosankan.


Acara utama kami ada di grand launching Project Oxygen yang ini akan berada di ruangan berbeda yang lebih luas di dalam ballroom hotel yang di setting futuristik untuk memanjakan pandangan para tamu yang secara khusus di undang pada perayaan.


“Bagimana pak direktur, apakah ada masukan lain?” stefan tak bergeming, seperti tengah berpikir keras akan kata-kata yang hendak ia lontarkan.


“Sejauh ini, dari semua laporan sudah cukup. Paling nantinya semua penanggung jawab harus standby pada posisinya masing-masing untuk terus memantau”.

__ADS_1


“Kebutuhan panggung nantinya sudah seperti yang kemarin kita bahas dan kawan-kawan dari EO yang disediakan pihak hotel juga sangat tanggap pada permintaan kita, sejauh ini belum ada masalah”. Timpal Rania disusul oleh beberapa masukan dari zahra juga Xian.


“Baiklah.. Bagaimana sha? Ada yang mau kamu bahas lagi?”.


Aku yang menjabat sebagai CEO dari perusahaan hanya mementingkan pada keamanan dan kenyamanan para tamu undangan dan harus bisa memberikan kesan bagus pada mereka semua agar tak ada masalah yang berujung pada hancurnya reputasi perusahaanku yang masih seumur jagung.


Untuk itulah, setiap tamu undangan dan juga para staff harus scan identitas agar lebih meyakinkan keamanannya, aku tak ingin melewatkan sekecil apapun kesalahan, karena para petinggi perusahaan dan pejabat yang datang tentu mengharapkan mereka bisa menemukan sesuatu hal yang besar pada acara dan bukan untuk mendapatkan masalah.


---------------------------------------------------


“Hai sayang…”


“Sudah selesai rapatnya?”  tanya indira yang kini duduk bersama dengan alfred juga finna.


“Sudah, selebihnya ku serahkan ke Stefan dan Rania”. Jawabku tanpa bertele-tele, dan menggeser tempat duduk kosong di dekat mereka.


Hari ini aku terlalu banyak bercakap-cakap, sampai malas rasanya untuk membuka mulu untuk bertegur sapa dan berbicara akan hal lain yang tak ada hubungannya dengan pekerjaanku yang sedang disibukan oleh acara grand launching.


“Aku tidak ingin mempermasalahkan hal ini lebih jauh lagi” ucapku pada Finna dan disana pun Alfred seperti terkesima dengan penuturanku yang singkat.


“Kita bisa selesaikan ini segera, aku berjanji semua kerugian pasti aku ganti. Tentunya sebagai bagian dari tim management acara, bagaimana?” sorot mata alfred menyiratkan keteguhan atas apa yang ia ucapkan barusan.


“Terserah kalian saja.. aku saat ini sedang tak ingin memikirkan hal lain selain urusanku sendiri”.


Indira seperti memahami semua kegelisahan diriku, ia merapatkan posisi duduknya dan tangan lembutnya itu merayap mengusap-usap pundak ku. Entah apa yang ia lakukan, namun hal itu berhasil membuat sedikit tenang dan kembali fokus pada hal-hal lain yang akan aku lakukan.


Disisi lain Rania dan stefan masih di dalam ruangan bersama yang lainnya, banyak persiapan acara yang tak  boleh lepas dari pandangan mata, semua kredibilitas perusahaan dipertarukan pada acara perdana perusahaan kami yang baru seumur jaggung dan hendak mencoba menggebrak pasar teknologi di Negara Indonesia.


“Finna, kamu adalah temanku, aku menghormatimu seperti aku menghormati yang lainnya, namun persoalan ini sudah beda urusan. Kamu faham maksudku?”


“Tentu, aku pasti akan menyelesaikan persoalan ini dengan bantuan Alfred. Kamu, fokus saja dengan acaramu, nanti pun aku akan membantu semampunya”. Tandasnya mengakhiri perbincangan. Tak lama stefan memintaku untuk memasuki ruangan rapat.

__ADS_1


---------------------------------------------------


Berbeda dengan lingkunganku sebelumnya, kali ini ketika bersama stefan dan rania, aku menemukan kehidupan baru yang lebih menantang selayaknya sebuah pertualangan. Membuat sebuah perusahaan memberikan arti lebih pada hidupku, ada hal yang mesti diperjuangkan, tak hanya aku, akan tetapi ada yang lainnya yang membersamai jejak langkah menuju titik-tiitik tertentu yang mesti dicapai.


Tak ada hal lain lagi yang ingin aku lakukan, selain membangun ekosistem ini menjadi lebih besar lagi, agar terlihat lebih hidup dan apa yang kami lakukan memberikan banyak manfaat bagi kehidupan umat manusia yang menjadi cita-cita diriku sendiri dan yang lainnya yang tergabung di naungan perusahaanku.


“Sha.. jangan bengong!” sorot mata Rania dan sindiran kerasnya membuat buyar lamunanku.


“Emh.. ?”


“Itu berkasnya, cepat tanda-tangani” saut Rania menepuk beberapa berkas di hadapanku.


“Ini pembayaran hotel ya? Aku cek terlebih dahulu” aku mengecek dari baris-baris anggaran yang sudah di sepakati untuk pembayaran dengan pihak hotel.


Lelah setelah seharian bekerja secara penuh dari pagi hingga petang. Setelah semua selesai, beberapa orang undur diri dari ruang rapat untuk pulang beristirahat di rumahnya masing-masing, tinggalah aku, dan stefan. Sama sepertiku, stefan pun mulai merasakan tensi yang semakin memuncak karena dalam waktu dekat kami akan membuat event besar perdana.


“aku pulang duluan ya sha.. capek sekali hari ini…” ucapnya


“Iya hati-hati di jalan bro..”. kami berdua berjalan keluar dari ruangan rapat, aku menghampiri indira dan stefan lanjut berjalan menuju parkiran luar setelah berpamitan denganku dan juga mas hendy.


“Mau langsung pulang, atau….” belum sempat kalimatnya selesai indira menatapku lembut dan mengisyaratkan untuk duduk disampingnya.


‘Tunggu ya, aku mau santai-santai dulu disini”.


Untuk beberapa menit, aku memejamkan mata, duduk bersandar pada sofa sangat nyaman dan menenangkan di iringi oleh alunan musik musik jazz yang tak tau siapa penyanyinya itu, tetapi cukuplah untuk menemani waktu santaiku saat ini bersama indira.


Mas hendy menghampiriku yang masih terhenyak di kursi sofa di kafe nya, dan meletakan gelas kaca yang berisi hasil seduhan kopi mas hendy, sepertinya itu kopi yang disaring denga metode barista yang terbilang cukup rumit dan tak banyak barista yang memahami cara penyeduhannya ini.


“Cobalah, ini pasti akan menenangkanmu”. Ujar mas hendy kemudian kembali ke tempatnya dibalik meja kasir yang lanjut mengurus pembayaran dari beberapa customer yang hendak memesan kopi.


Wangi bebungaan dan aroma manis menyeruak lembut mengganggu indra penciumanku, baru kali ini aku mencium aroma kopi yang begitu misterius dengan wangi bunga yang sepertinya itu adalah bunga lavender.

__ADS_1


“emh.. wanginya nikmat sekali” batinku, sembari menikmati sesapan pertama dari seduhan kopi yang begitu nikmat tiada tara.


__ADS_2