
“Aku keluar dulu cari makan, ada yang mau kamu pesan ?” tanyaku disela-sela kesibukannya membuat disain.
“Nasi padang di luar pintu gerbang itu aja sha, sepertinya enak. Aku pesan ayam bakar ya” jawabnya, memesan untuk makan siang hari ini.
“Baiklah, nasi padang ya?” aku pun berjalan ke ke luar komplek perkantoran Arcadia, hanya beberapa ratus meter saja untuk sampai ke sebuah rumah makan khas Padang yang hari ini banyak dipadati oleh beberapa pekerja yang juga sedang makan disana.
Karena penuh, aku pun mengantri menunggu giliran memesan, karena hendak membeli beberapa bungkus makanan untuk kita berdua dan juga untuk para pegawai yang sedang membereskan kantor. para tukang ini disiapkan langsung oleh pihak penyedia layanan dari Arcadia, paling tidak aku membantu untuk menyediakan konsumsi makan siang saja, karena tidak ada hal yang bisa aku lakukan, semua sudah dikerjakan oleh para tenaga akhli di bidangnya masing-masing, mulai dari pengecatan dinding, perbaikan atap, pemasangan jaringan internet dan urusan seperti menggotong barang-barang. Semua dikerjakan dengan telaten tanpa cela.
Lama juga untuk memesan makanan disini, karena jam makan siang ruangan ini sesak oleh para pembeli yang makan di warung atau orang-orang sepertiku yang membungkus makanannya untuk dibawa. Setelah mengantri sekitar 10 menit, seorang perempuan muda mempersilahkanku memesan, 7 bungkus dengan lauk-pauk ayam bakar dan tak lupa kuah dan sayuran cukup lezat yang menjadi ciri khas dari masakan padang.
Aku mengajak makan siang para pemuda yang sedari tadi sibuk dengan pekerjaanya masing-masing, duduk bersila di lantai bawah yang sudah bersih namun belum terlalu banyak perabotan yang menghalangi kami. Ber-delapan kami duduk melingkar menikmati sajian makan siang nasi padang yang dibungkus, tak lupa juga minuman teh kemasan yang tadi aku beli untuk melengkapi sajian.
“Mas, ini mau buat kantor apa ya?” tanya seorang tukang, yang tugasnya mengecat dinding ruangan.
“Ini nanti jadi perusahaan untuk pembuatan software komputer dan juga smartphone, banyak macamnya, kami juga membuat game untuk hp” timpalku memandang ke arahnya.
Ia pun mengangguk-ngangguk terkesan dengan penjelasanku, sampai harus berhenti memakan makanannya.
“Sudah.. Sudah, ayo makan. Nanti keburu dingin makanannya” seru lelaki paruh baya di sampingnya itu.
Walau begitu kami tetap saling berbagi cerita, tentang pekerjaan mereka juga kehidupan mereka yang menjadi perantau, kebanyakan dari jawa dan sunda dan mungkin umurnya masih 20-24 tahun, mereka masih muda hanya ada satu lelaki saja yang sudah hampir berumur 50 tahun dan masih aktif bekerja menjadi tukang dari bagian perawatan kantor dari komplek Central Arcadia ini.
Setelah usai santap makan siang, kami pun kembali ke kesibukan masing-masing melanjutkan sisa pekerjaan yang hari ini sudah harus selesai, namun pria yang bernama Dahlan ini menghampiriku di lantai 2.
“Mas, maaf boleh ganggu waktunya sebentar?”
__ADS_1
“Oh iya mas Dahlan, ada apa ya?” tanyaku terheran, apakah ia mau melaporkan tentang pekerjaannya atau ada hal lain.
Kalimatnya itu pun membuat rania terhenti dari pekerjaanya membuat disain dan juga ikut memperhatikan.
“Anu mas, saya kan bukan asli dari pegawai sini, saya cuma tukang cabutan yang dibawa Pak Ishak....” sebelum kalimatnya selesai Rania mamotong ucapannya itu.
“Mas mau minta upah dari kita juga?” Rania bertanya dengan nada ketus ke arah Dahlan, ia berpikir orang ini akan meminta upah lebih karena bukan secara resmi dipekerjakan oleh pihak Arcadia, dan karena itu upahnya kecil dan bermaksud meminta kepada pihak kami.
“Maaf Mbak, Mas, bukan seperti itu. Saya di beri upah yang cukup dari Pak Ishak yang membawa saya”
“Maksud saya, kalau Mas membutuhkan pegawai untuk merawat dan membersihkan tempat ini, saya bersedia sekali, saya sedang butuh pekerjaan, apapun akan saya kerjakan Mas..” ucapnya memelas dan menunduk ke arahku. Perihatin sekali melihat seorang pemuda ini yang ternyata masih baru di Jakarta tengah berjibaku mencari sesuap nasi demi keberlangsungan kehidupan keluarganya di kampung yang miskin.
Ia terus bertutur menceritakan dirinya yang saat ini menumpang di kontrakan saudaranya dan belum ada pekerjaan yang pasti menghasilkan. Ia hanya buruh paruh waktu di berbagai tempat, kadang ikut menjadi petugas kebersihan, jadi kuli bangunan dan juga kadang pergi mengamen demi mengumpulkan recehan yang bisa membuatnya membeli makan untuk dirinya sendiri.
“Kalau boleh tau kamu lulusan apa sekolahnya?” Rania bertanya secara langsung berdiri di hadapannya yang membuat Dahlan sedikit grogi.
“Saya lulusan SMK, tidak pernah kuliah karena tidak ada biaya mbak. Nanti saya akan kesini lagi untuk membawa persyaratan lamaran kerjanya kalau di ijinkan, mohon maaf sebelumnya saya sudah lancang berbicara seperti ini”. Ia tertunduk lemas di samping Rania yang juga tengah memperhatikan gelagatnya itu.
“Tidak perlu..”. ucapku aku pun berdiri menatap Dahlan yang seperti ketakutan.
“Baik mas, maaf sudah mengganggu” ucapnya dengan bermaksud meninggalkan ruangan ini, kemudian dihentikan oleh Rania.
“Tunggu, main pergi saja, ini belum selesai” ucap Rania sedikit membentak dan tersenyum-senyum ke arahku. Ia faham sekali maksudku tanpa perlu memberitahunya secara langsung.
“Aku tidak butuh Ijasah atau surat lamaran kerjamu, Sejak besok, kamu adalah karyawan disini”.
__ADS_1
“Benarkan? Terima kasih Mbak, Mas, ia terperangah dengan ucapanku yang menerima dirinya menjadi pekerja di perusahaan sebagai Office Boy nantinya.
“Hanya saja, untuk satu bulan ini, gaji kamu hanya 2,5 juta saja. Anggap aja itu uji coba bekerja di perusahaan ini, aku menantikan kerja kerasmu” aku mengayunkan tanganku menepuk pundaknya.
“Siap Mas, saya akan dengan senang hati bekerja untuk perusahaan ini” ia menangkap tanganku dan menyalami seraya menunduk di hadapanku. Setelah itu ia pergi ke lantai bawah dan melanjutkan pekerjaannya mengecat dinding yang hanya tinggal satu ruangan saja yang belum selesai.
Rania tersenyum-senyum dengan tingkah lelaki itu, meskipun ia terlihat meragukan, akan tetapi ada keyakinan kalau ia akan bekerja dengan sungguh-sungguh untuk ikut serta memajukan perusahaan yang baru kami rintis ini.
“Sha, kamu iseng seperti biasa ya...” disambut tawa nya itu.
“Hahahaha.Hahahah.”.
Kami jadi tertawa dengan kejadian barusan. Sebenarnya aku sudah membicarakan hal ini dengannya untuk mempekerjakan Office Boy, hanya saja belum ada kandidat yang bisa kami ajak. Dan masih terlalu dini untuk membuat lowongan pekerjaan secara online yang nantinya justru malah akan menambah kebingungan kami untuk memilih dari sekian banyaknya pelamar pekerjaan.
Beruntungnya ada Dahlan yang tidak disangka akan mengajukan dirinya untuk bekerja bersama. Seperti sebuah kebetulan, kehadirannya untuk meminta pekerjaan menjadikan kami sedikit jahil, meskipun begitu Dahlan cukup bisa kami percayai, aku melihat kesungguhan dari sorot matanya itu, dan semoga perusahaan ini bisa lebih banyak menjaring karyawan-karyawan lain nantinya.
..........
__ADS_1