Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Tokyo


__ADS_3

Udara sangatlah dingin, orang-orang berjalan mengenakan mantel tebal, atau jaket hangat melindungi tubuh mereka dari cuaca dingin yang meliputi kota Tokyo Jepang. Medina yang baru merasakan sensasi musim dingin ini, begitu menggigil walaupun sudah mengenakan mantel tebal, stefan agak kahwatir karena hal ini baru pertama kali bagi medina ke luar negri di musim turun salju.


“Kamu baik-baik saja?” ia memandangi wajah istrinya yang sedang kedinginan.


“Iya, dingin sekali” ucapnya pelan


Dengan menyeret dua koper besar, stefan mencoba menghentikan taksi yang tak jauh dari arah mereka saat ini, beberapa taksi sudah ada penumpangnya, beruntunglah ada taksi kosong yang mau mengantarkan ke tempat tujuan mereka berdua di Tokyo Luxury Hotel yang berjarak sekitar 40 menit perjalanan dari bandara.


Setelah turun dari taksi, Medina dan Stefan berjalan bersama menuju lobby hotel, disambut oleh resepsionis perempuan muda yang nampak putih ciri khas wanita jepang. Tak ada kesulitan dalam bahasa karena ini adalah hotel internasional, jadi bisa berbicara dengan bahasa inggris untuk proses pemesanan dan verifikasi data dari pengunjung.


Setelah memastikan pesanan kamar, resepsionis mengarahkan mereka berdua menuju lift ditemani oleh petugas hotel untuk membawa barang bawaanya ke lantai 56 di kamar 502. Di dalam lift Medina masih menggigil hebat karena belum terbiasa dengan suhu rendah -5 derajat celcius, perlahan tubuhnya merapatkan diri ke stefan disambut pelukan hangat dari sang suami.


“Dingin sekali..” ucapnya lirih dan menatap wajah stefan yang sibuk dengan gawai smartphone nya untuk memberi kabar kedatangannya di tokyo kepada keluarga.


“Sabar ya sayang” ucapnya seraya mengelus lembut rambut hitam medina dengan penuh perhatian.


......................


Di bulan Januari ini Jepang masih berada di musim dingin, beberapa ruas jalan masih tertutupi salju yang menumpuk. Namun begitu jalan raya kota masih terbilang cukup padat dilalui berbagai macam orang dan juga lalu lintas kendaraan yang tak ada hentinya.

__ADS_1


Meskipun cuaca nya sedang dingin, Medina sangat bahagia sekali, dalam hidupnya ia hanya bisa melihat jepang dari tayangan televisi disaat menonton drama-drama jepang yang dibintangi para cowok-cowok keren. Dia sangat hobi menonton drama atau film jepang dan juga anime-anime. Dan disinilah ia berada bersama lelaki pujaannya untuk melangsungkan bulan madu selama seminggu penuh tanpa perlu memikirkan apapun, cukup menikmati moment berdua kali ini.


Ruangan tempat mereka menginap cukup luas, dan ruang utamanya pun besar, sangat leluasa untuk bisa berkumpul bersama-sama keluarga, dan disini mereka hanya berdua saja jadi nampak lebih luas lagi.


Sebenarnya ia menginginkan penginapan tradisional khas jepang, namun keinginannya itu di urungkan karena ia hanya bisa mengikuti kemauan dari orang tua stefan yang sudah telebih dahulu memesankan semua akomodasi untuk mereka selama di Jepang, namun begitu tak menutupi rasa syukurnya karena telah bisa menikmati liburan panjang di negeri sakura ini. Kalau bukan karena stefan dan keluarga, rasanya tak mungkin ia bisa pernah menginjakan kakinya disini.


……….


“Sayang, coba kemari..” pinta stefan yang sedang duduk bermalas-malasan di ruang utama.


Median datang dengan membawa dua cangkir coklat panas untuk menikmati malam indah pertama di Tokyo. Mereka memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu malam ini agar besok lebih bugar untuk berjalan-jalan menyusuri banyak tempat yang wajib di kunjungi di kota tokyo. Setidaknya stefan sudah tau akan kemana tempat yang ia tuju, karena bukan pertama kali ia mengunjungi tokyo, walaupun biasanya dia datang bersama rekan bisnis dan atasanya di kantor.


“Lihat besok saja sayang, nanti juga tau.. aku pasti membawa kamu ke tempat yang paling bagus di tokyo”.


“Malam ini kita santai-santai saja dahulu, tidak apa-apa kan?” stefan meyakinkan istrinya agar sabar tanpa terburu-buru untuk bepergian, toh malam ini salju masih terus turun dan sepertinya akan badai, terlalu ceroboh jika keluar pada malam penuh salju seperti sekarang ini.


“Tentu Sayang.. aku akan mengikutimu” Ia merebahkan dirinya kepelukan stefan, memanjakan diri bersama suami yang sangat ia cintai, stefan pun reflek mencium kening dan mengelus rambut medina dengan lembut.


Ini adalah malam panjang mereka berdua memadu kasih setelah sekian lama menunggu moment tepat untuk saling lebih memahami satu sama lain. Setelah melangsungkan pernikahan, banyak sekali pelajaran baru yang ia dapatkan untuk menghadapi suaminya itu. Kadang kala ia merasa dirinya kurang begitu bisa melayani dengan baik, karena pun stefan tidak pernah meminta hal-hal yang sekiranya bisa ia kerjakan sendiri.

__ADS_1


“Aku bahagia sekali.. andai ketika kita kembali ke Indonesia masih bisa terus seperti ini, hanya untuk kita berdua.” ucapnya lirih begitu syahdu terdengar di telinga stefan, ia memahami keinginan istrinya itu untuk memiliki tempat tersendiri dan memulai membangun rumah tangga hanya dengan mereka berdua dan kemudian hari memiliki seorang anak.


Sudah menjadi dambaan setiap orang untuk bisa memiliki kehidupannya sendiri, telebih jika sudah menikah dan ingin segera menata rumah tangga sebaik mungkin se-ideal mungkin. Karena dengan begitu, manusia bisa membuat rumah tak hanya sebagai tempat tinggal tapi tempat kembali menuju seseorang yang tengah menunggu di dalamnya.


Itu yang medina rasakan. Dan keinginannya ini, mungkin belum bisa dipenuhi oleh stefan karena berbagai hal yang masih harus ia persiapkan sebelumnya, dan lebih memilih untuk tinggal sementara bersama kedua orang tuanya.


“Maaf sayang, aku bahagia tinggal bersama mama papa dan adik-adik ipar, tetapi..” belum selesai medina berbicara, bibirnya di halangi oleh ajri telunjuk stefan yang mengisyaratkan agar ia tidak perlu melanjutkan ucapannya.


“Aku janji, akan terus membahagiakanmu.. sabar ya sayang..” ucapnya. Kecupan hangat mendarat di bibir Medina dengan begitu lembut, semakin lama semakin memacu deru nafas yang kian menggelora di malam hari ini tak ada waktu untuk madina membuka matanya, ia larut bersama cinta kasih yang diberikan oleh stefan yang telah menjadi lelaki terakhir yang akan menghiasi hidupnya sampai nanti maut memisahkan mereka berdua.


Butiran-butiran salju turun melayang-layang di langit tokyo, keindangan salju turun di lengkapi semarak lampu-lampu yang menerangi kota dan dengan beraneka ragam cahaya diluar sana. Suasana nan romantis dan juga dingin ini menjadi bumbu pelengkap di malam panjang mereka berdua menikmati bulan madu yang ditunggu-tunggu.


Tak ada yang bisa menghentikan mereka, sedingin apapun cuaca, peluh mengucur deras dari badan, jeritan kecil dan helaan nafas menambah gairah malam ini menenggelamkan segala kelelahan yang semestinya mereka rasakan akibat perjalanan udara berjam-jam lamanya.


“Aku sangat mencintaimu” bisik medina tepat di telinga stefan.


“Terima kasih telah menerima orang sepertiku..”


“aku pun sangat mencintaimu” ucap steafan kemudian mencium kening yang kini lembab oleh keringat.

__ADS_1


……………………………


__ADS_2