
Karena beberapa hal yang menjadi pertimbangan bersama, aku dan Stefan sepakat untuk WFH (work from home). kita semua lelah di minggu-minggu terkahir ini karena persiapan dan segala macam pekerjaan untuk peresmian dan *launching * Project Oxygen. Meski tiap orang tidak menyatakan lelah atau sebagainya, akan tetapi tidak ada salahnya juga membuat pola kerja yang tidak harus monoton untuk selalu datang ke kantor.
"Senin depan, kita uji coba kerja dari rumah, jadi untuk sementara tidak perlu ke kantor".
"Nanti jika ada hal-hal lain, langung komunikasi di virtual". Stefan memberikan pengumuman itu langsung kepada yang lain dan disambut baik oleh semuanya.
Xian dan aku membuat room party tertutup, . Kita membuat markas sederhana di dalam aplikasi project oxygen yang tidak sembarang orang bisa masuk, karena ruangan memerlukan sandi untuk membuka otoritas ruangan. Sengaja kami buat agar bisa kapan saja berinteraksi atau melakukan rapat bersama, karena di dalamnya sudah ada fitur voice & video, jadi tidak hanya sekedar melihat karakter-karakter bejalan saja, namun juga bisa sambil melakukan video conference.
"Semuanya sudah selesai, tinggal nanti aku sebar kode invite nya ke yang lain" batinku.
Xian masih memberikan sentuhan-sentuhan akhir didalam ruangan di aplikasi PO agar terlihat keren dan modis, ia memang cukup handal dalam urusan yang bersangkutan dengan game atau semacamnya.
"Segini, cukup ya Sha?" ucapnya bertanya kepadaku yang sedang menikmati secangkir kopi.
"Sip. keren banget bro!" .
Lanjut kita berbincang tentang model WFH ini, karena ini baru pertama kali kita lakukan, mungkin di perusahaan lain sudah banyak melakukan 'bekerja dari rumah', dan setahuku jika Xian dulunya kerja di bagian programing yang tak perlu selalu berada di kantor. Dari pengalamanya, mungkin ia bisa memberikan banyak saran agar kami pun bisa melakukan metode pekerjaan ini dengan benar.
Sejauh yang ku dengar darinya, bahwa pekerjaan kadang membebani kita semua mau dimanapun pekerjaan itu dikerjakan. ada keuntungan dan kerugiannya tersendiri. kadang kala, orang malah terlalu santai sampai lupa ada deadline, atau juga karena tidak berada bersamaan di ruang dan yang tempat yang sama, maka muncul banyak kesalahpahaman. Hal tersebut sangat berbahaya, bagi perusahaan karena akan banyak persepsi-persepsi yang salah diantara para pegawai.
"Selama kita masih cuma segini aja, menurutku sih gak masalah.. kecuali nanti sudah banyak pegawai, nah... barulah kita pikirkan lagi". Tandasnya menjelaskan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi selama WFH.
"Tapi, aku ada satu saran kalau kita WFH". ucapnya membuatku penasaran, karena ia tak membahas kelanjutannya.
"Coba.." pancingku agar ia mengutarakan sarannya.
“Sebaiknya, WFH dilakukan bergiliran, dan selalu ada yang menjadi head officer atau team leader di tiap divisi untuk mengontrol setiap progres dari tugas-tugas yang harus dikerjakan”. Usulnya, meskipun itu hal yang umum. Akan tetapi aku jadi di ingatkan kembali agar lebih cepat untuk mencari pegawai lain untuk membantu perkembangan laju unit usaha di perusahaan.
Ada baiknya nanti aku coba bicarakan dengan Rania dan Stefan. Mungkin juga aku harus berkonsultasi dengan Finna, karena pada manajemen perusahaan, Finna lebih memahami seluk-beluk secara menyeluruh. Aku menyadari betul, keadaan ku saat ini memang sangatlah baru dan tidak banyak pengalaman dalam membangun usaha.
“Thanks bro.. Nanti aku tindak lanjuti usulanmu” Aku sangat terbuka akan usulan atau pun keluhan dari tim yang ada sekarang, Xian adalah satu dari beberapa orang yang aku percaya, dan tak salah membawanya memasuki tim utama di perusahaan, aku jadi banyak terbantu dengan skill programing dan juga pemikirannya.
Luas langit membentang di pandanganku dari balik jendela kantor, biru cerah dengan awan putih yang menggantung disana membawa pikiranku melayang menjelajah khayalan tingkat tinggi mencoba meraba-raba masa depan dari diriku, dan perusahaan yang kini aku jalankan.
__ADS_1
“Apakah semua orang pernah melewati masa-masa seperti ini?, setiap detik yang terlewat, banyak menyisakan beban yang kian lama kian membesar dan membebani diri. Alangkah baiknya jika, semuanya bisa berjalan lancar tanpa hambatan.” monolog batinku di siang menuju sore hari ini.
“Sha.. Besok jangan lupa jam 9 pagi kita ada pertemuan dengan tuan Edward di Hotel Mercury” Suara Stefan yang ia kini berdiri di hadapanku.
“Ok, besok aku datang lebih pagi”. Jawabku.
“Sip!”.
“Aku pulang duluan” lanjutnya, ia hendak pulang, karena kesehatan Medina istrinya masih harus sering dipantau olehnya. Kini mereka berdua sudah memiliki rumah pribadi yang terpisah jauh dari orang tuanya Stefan. Tidak ada siapapun di rumah mereka, hanya mereka berdua saja disana, dan setiap hari Stefan harus berangkat ke kantor dan meninggalkan istrinya yang masih dalam masa penyembuhan akibat sakit beberapa hari lalu.
“Salam ke istrimu bro.. Semoga lekas sembuh”
“Ok, terima kasih.. Aku pulang sekarang” ucap stefan dan berlalu menuju parkiran.
Cukup sudah melamun, aku lanjut fokus pada layar monitor di depanku, menenggelamkan diri pada baris-baris kode. Tiap-tiap baris kata yang ku tulis dalam bahasa pemrograman sangat berpengaruh penting pada kelangsungan beberapa aplikasi yang sudah diakses oleh banyak orang.
Mesti teliti dalam memasukan baris-baris perintah bahasa pemrograman khususnya pada bahasa python (bukan nama jenis ular). Kali ini aku menyiapkan beberapa patch untuk update bulanan dari project oxygen, untuk menghadirkan event akhir tahun pada perayaan Natal dan tahun baru.
Saat ini yang fokus pada pemrograman baru aku dan Xian, sepertinya harus menambah beberapa personil di bagian ini dan aku teringat pada tim debugger yang aku hire dua bulan kemarin untuk meningkatkan performa dengan mencari celah-celah kerusakan pada sistem dan lainnya. Mereka sangat cekatan dan juga bisa diandalkan, hanya saja kurangnya pengalaman menjadi batasan yang butuh di dampingi oleh mentor yang berpengalaman.
...----------------...
Indira sedang merapihkan meja kantornya, dan bersiap untuk pulang karena hari ini tak banyak pekerjaan yang tertunda. Sesekali pulang tepat waktu di jam 17:00 WIB. Ia bergegas menuju parkiran basement tempatnya memarkir mobil di tempat khusus para petinggi biasa memarkirkan mobilnya berbeda dengan area lain yang di sediakan untuk para staff.
“Hey Dira..”
“Indira..” teriak seseorang dari pintu keluar kantor, namun Indira tak bergeming karena sedang mendengarkan musik dari earphone bluetooth yang ia pakai.
Lelaki itu menghampiri Indira ketika ia hendak memasuki mobil, tangan nya cekatan untuk cepat menahan handle pintu mobil agar tidak tertutup.
“Andre!. Apa yang kamu lakukan disini?”. Indira membentak, kaget karena secara tiba-tiba lelaki yang tak lain adalah mantan pacarnya yang tega mencampakan dirinya agar bisa berhubungan dengan kawan baiknya yaitu Finna.
“Tunggu sebentar” Pintanya, memohon agar ia mau mendengarkan perkataanya.
__ADS_1
“Aku tidak ada waktu untuk meladeni cowok brengsek seperti kamu!”
“Pergi! Atau ku panggil satpam untuk mengusir mu?” Indira mengancam, wajahnya memerah karena menahan amarah yang tak ada habisnya, mungkin dendam karena perlakuannya selama berhubungan, Andre begitu egois dan kesabaran Indria sudah sampai pada batas yang tak bisa lagi memaafkannya.
"Aku mohon Dira, dengar dulu"
"Tolonglah aku dira.. Aku tak tau lagi harus meminta tolong ke siapa.."
"Please.. Dira.." Andre mencoba menggenggam pergelangan tangan Indira, namun dengan cepat ia tepis kemudian melayangkan tamparan keras ke pipi Andre.
Indira bukan lagi sosok wanita lemah yang sama seperti hari yang lalu, sikap cengeng dan rapuh tak ada lagi pada dirinya, berkat kekonyolan harus mempertahankan hubungan toxic yang ia dapatkan dari andre, ia belajar untuk merubah dirinya menjadi lebih mandiri dan kuat. Dan lagi kini ia telah menyandang sebagai Istri dari seorang laki-laki yang amat ia cintai melebihi siapapun.
"Dasar perempuan ******!" Andre menjambak rambut Indira mencoba memaksa untuk menyeret keluar dari mobil dan membuatnya menjerit kesakitan.
Dalam hati, ia berharap ada seseorang yang mau menyelamatkannya dari situasi ini. Beruntung ada seorang satpam yang mendengar adanya keributan. Pak Hamdan yang menjadi petugas keamanan di kantor, tanpa pikir panjang berlari ke sumber suara dan disana ia menyaksikan seorang lelaki yang tengah menjambak Indira.
'Berhenti!"
"Lepaskan!.." Pukulan keras tepat bersarang pada pipi memercikan darah segar dari mulutnya.
Andre terhuyung-huyung, pening dan sakit ia rasakan bersamaan, tubuhnya menggelepar jatuh tak berdaya. Tak cukup sampai disitu, Pak Hamdan menendang bagian pinggang Andre dan semakin membuat andre tak kuasa untuk bangkit.
"Bu Indira, tidak apa-apa?" Tanya si petugas keamanan, untuk memastikan Indira tidak terluka.
"Terima kasih pak, saya tidak apa-apa". Jawabnya.
"Baiklah, sebaiknya Ibu segera pulang, biar saya yang urus pria ini".
Indira menutup pintu mobil dan terdiam untuk beberapa saat, shock karena kejadian itu. Ia melihat Pak Hamdan menyeret paksa tubuh Andre menuju pos satpam, hampir tak percaya kenapa Andre begitu nekat untuk menemuinya dan meminta tolong. Jika itu terjadi di masa lalu, mungkin ia langsung luluh dan tentu akan menolongnya dengan senang hati.
Berbeda kini, sebisa mungkin dirinya tak mau lagi ada urusan apapun dengan Andre, bahkan terasa jijik jika harus bertemu sosok lelaki yang pernah menyakiti dan memperlakukan Indira seperti alat yang jika sudah tak dibutuhkan maka akan dibuang begitu saja.
...****************...
__ADS_1
.
.