Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Janji Yang Tertunda


__ADS_3

Dua hari berbaring dalam koma, kesadaranku entah berada dimana namun bisa menangkap semua ucapan indira tatkala tubuhku tak berdaya. ia terus berada disamping memberikan sentuhan lembut dengan jemarinya yang kecil terkadang kecupan lembut di dahi.


Bahagia bersamanya adalah janji yang tak mungkin ku ingkari, bersama hingga tua nanti, menikmati segelas teh hangat dan biskuit serta memandang senja temaram pada saat tenggelamnya mentari.


Tubuhku masih terasa sakit dan ngilu di sekitar bagian kiri perut akibat peluru sempat menembus membuat luka yang cukup dalam, jahitan bekas luka masih cukup basah belum mengering dan aku belum diperbolehkan untuk beraktifitas agar jahitannya tidak sobek ,nantinya menyebabkan infeksi.


Dibantu oleh suster-suster cantik nan ramah, mereka bergantian menyiapkan sarapan atau sekedar mengecek bagian luka yang masih entah kapan kan pulih, paling tidak aku ingin pulang dan kembali mengerjakan project yang masih terkatung-katung, karena tak tau kabar persiapan untuk acara grand opening di jakarta.


"Pagi sha.." Finna menyapa duluan bersamanya indira masuk membawa beberapa buah-buahan segar.


"Bagaimana keadaanmu sayang?" indira tanpa mempedulikan kehadiran finna menyapaku dengan mesra dan mencium keningku.


"Ekhmm.. ingat dong, disini ada yang jomblo. hmmm" ia mendengus kesal karena kemesraan kami berdua.


"Hahahha. sabar ya fin, nanti juga kamu dapat yang ganteng kaya sharon" ucap indira mencoba meledek finna yang masih memadang muka kesal.


"Oh iya, ini handphone mu sha" aku mengambil smartphone yang beberapa hari ini tertinggal di rumah indira.


Penuh notifikasi dari beberapa pesan dan panggilan yang tidak bisa aku jawab, kebanyakan dari Rania dan stefan yang mengkhawatirkan keadaanku saat terjadi insiden kemarin.


"Hallo ran, bagaimana perkembangan disana?"


"Maaf aku baru bisa menghubungimu, terkait semua acara aku serahkan sepenuhnya kepadamu, gunakan semua anggaran yang ada untuk kesuksesaan grand opening nanti tapi sebisa mungkin prioritaskan ke hal yang lebih penting" aku memberikan tugas kepada rania untuk menjadi penanggung jawab sementara selama aku belum bisa hadir di kantor.


Aku sadar ia pasti sedang kerepotan, namun begitu dia dan tim sudah mengadakan rapat dan menangani keseluruhan tugas yang hanya tinggal beberapa hal lagi yang belum fix.

__ADS_1


"Sebisa mungkin aku akan datang dua hari lagi ke kantor, aku sudah tidak apa-apa hanya luka belum begitu sembuh, tapi aku pasti usahkan semuanya aman dan terkendali". ucapku kemudian menutup panggilan setelah rania memahami situasi pelik yang sedang ku hadapi.


Lega rasanya jika banyak yang sudah membantu untuk penyusunan rencana grand opening perusahaan dan launching aplikasi yang sudah kamu buat. tinggal menunggu kesembuhanku, paling tidak sampai aku bisa untuk berjalan, itu sudah lebih dari cukup. Kasian rania harus berjibaku dengan berbagai tugas-tugas penting sedangkan aku hanya berbaring di ruang rawat pasien.


"Sha, sebaiknya kamu perbanyak istirahat, suster juga sudah mengatakan kalau lukamu belum kering tertutup. pasti akan membutuhkan waktu lama sampai benar-benar pulih".


Indira menasehatiku setelah ia mendengar percakapan dengan rania, aku faham kekhawatirannya itu. Namun saat ini, justru harus memaksakan diri, kalau tidak, nanti acara akan gagal, ini akan berdampak buruk bagi reputasi perusahaan yang baru berjalan 4 bulan dan tentu nanti para relasi bisnis tidak akan tertarik untuk bekerjasama.


Selagi sibuk dengan banyaknya permasalahan yang sedang aku pikirkan, Pak Danang masuk dan menyapa. Beliau ditemani oleh sekretarisnya hendak membicarakan tentang kejadian dua hari yang lalu dan secara pribadi ia meminta maaf atas semua hal yang terjadi dan kegagalan acara pernikahanku dengan putrinya itu.


"Terima kasih pak, Bapak tidak perlu meminta maaf seperti itu. Tidak ada yang menyangka akan ada kejadian seperi kemarin, musibah ini sudah berlalu dan ini bukan salah bapak" ucapku mencoba menghentikan beliau yang menunduk meminta maaf.


"Bukan seperti itu nak, semua ini salah bapak yang gagal mendidik anak" aku pun tak heran dengan apa yang tengah ia bicarakan, karena Viona adalah dalang dari masalah ini, tentu juga bersama suaminya.


"Bapak tak menyangka anak yang sudah bapak didik sejak kecil akan bertindak keji melakukan penculikan, bapak minta maaf sekali nak, juga dira maafkan ayahmu ini ya sayang.." Indira mulai memahami arah pembicaraan ini dan ia yakin bahwa fahri lah yang menghancurkan kebahagiaanya demi meladeni istrinya yang buruk akhlaq.


"Tidak nak, Kakakmu dan viona sudah di dalam penjara, dan akan di sidang seminggu lagi, papah sudah tidak akan memanjakannya lagi, biar ia menuai dari apa yang sudah ia tanam". Ucap ayahnya itu mencoba menenangkan putrinya yang emosi karena tindakan kakaknya.


Sudah sepantasnya ia marah dengan sifat naif dari kakaknya yang hanya menginginkan harta orang tua. Sudah sejak lama, kakaknya selalu mengincar posisi-posisi strategis di perusahaan ayahnya. , beliau tidak mengijinkan karena ia dianggap belum pantas.


Sikap tamak kakaknya itu terlihat sejak menikahi viona, istrinya yang angkuh selalu merendahkan indira. Sebagai adik ipar, indira hanya bisa memaklumi dan menjaga sikap terhadap viona, akan tetapi viona selalu punya alasan untuk melakukan perundungan kepada indira.


"Sudah ya dir..., kakakmu sudah mendapat ganjarannya, sekarang tinggal persoalan kalian berdua mau bagaimana?" Finna mengalihkan pembicaraan untuk membahas pernikahanku yang tertunda 2 hari dari waktu yang tadinya sudah ditentukan.


"Nak sharon, maaf untuk semuanya, hari ini bapak atur semua keperluan pernikahan dan juga untuk atur suster perawat yang akan menangani perawatanmu, jadi hari ini kamu bisa kembali ke rumah bapak". pak danang menyarankan perawatan private di rumahnya, dan tak bisa ku tolak niat baiknya itu.

__ADS_1


Jujur saja, aku tidak begitu suka dengan suasana di rumah sakit meskipun saat ini di ruangan VVIP yang cukup meeah untuk sekelas rumah sakit. Namun begitu, tetap tak nyaman dan jarak pandangku hanya jendela luar dan ruangan ini saja, akan lebih baik jika berada di rumah indira dan semua orang jadi tak perlu bolak-balik rumah dan rumah sakit.


"Baik pak, terima kasih banyak".


......................


Perawatanku di pindahkan ke rumah indira, lebih tepatnya ke kamar indira, sedang mereka berdua pindah ke kamar yang kemarin aku tempati, mungkin karena takutnya aku trauma dengan kejadian kemarin, walaupun sebenarnya tidak masalah kalau harus berada di kamar itu, toh masalah pun sudah selesai dan tidak ada lagi yang perlu ditakuti. Hanya karena finna dan indira terus keukeuh agar berpindah tempat, ya sudah aku menyerah saja sia-sia pun harus berdebat dengan mereka berdua yang kepala batu.


Suasana mulai tenang siang hari ini, aku mengantuk karena efek obat yang ku minum agar mempercepat pemulihan luka. Tersedengar Bunyi ketukan di pintu, seseorang pria tua masuk ke dalam ruangan dan menyapaku, suaranya familiar, aku mengenali suara serak dan agak berat itu, dan benar saja seseorang yang tidak seharusnya ada disini, kini hadir di hadapanku.


Sorot matanya tajam, menatap lekat ke arahku yang terbaring di kasur dengan selang infus yang menancap di lengan kiri. Aku tak menyangka ia bisa mengetahui keberadaanku disini,


apa maksud dari semua ini?. batinku mencoba menerka-nerka apa yang tengah terjadi sampai lelaki yang paling aku benci bisa hadir di hadapanku.


"A a. yahhhh, kenapa bisa ada disini?" tanyaku tak bisa menyembunyikan rasa kaget karena kehadirannya.


"Orang tua selalu tau dimana anaknya berada.."


Sikap dinginnya, benar-benar khas ayah, dan itu yang paling aku benci!.


.


.


.

__ADS_1


.


...****************...


__ADS_2