Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Kejujuran


__ADS_3

"Weisss.. Kamu selalu tepat waktu ya sha.." ucap seorang lelaki dari arah belakangku.


"Yo stef, iyalah.. Sudah habis 2 batang rokok untuk menunggu kalian" candaku pada stefan yang sedang menggeser bangku yang akan ia duduki.


Aku pun menceritakan pertemuan tadi dengan Rania, tentang kehidupannya juga kisah naas yang menimpa dirinya selama kita tidak bertemu bertahun-tahun lamanya semenjak lulus dari universitas.


"Uang 200 juta yang kamu berikan, sebagiannya aku gunakan untuk sewa kantor dan menutup hutang Rania, kamu tidak keberatan?". Tanyaku pada stefan, ia hendak memesan minuman pun sejenak terdiam mendengar ucapanku itu.


"Rania berhutang?, kenapa dia tidak pernah menceritakannya padaku.." timpalnya dengan raut wajah kesal karena Rania yang selama ini menjadi temannya tidak pernah sekalipun meminta bantuannya apalagi untuk masalah keuangan.


"Kenapa dia mempersulit dirinya sendiri, aku bisa bantu berapapun uang yang ia butuhkan sha.. Kamu tahu kan, kita berteman sudah lama. Apa rania masih segan untuk sekedar membicarakan kesulitannya denganku?" emosi stefan meluap seketika, kesal akan tingkah rania yang ternyata kehidupannya tidak baik-baik saja.


Perlahan aku menceritakan tentang kesulitan finansialnya, tentang ia yang terlilit hutang bertahun-tahun. Dengan seksama stefan memperhatikan cerita-ceritaku dan ada seulas kesedihan yang tersirat di kedua matanya.


"Dia hanya ingin terlihat tegar didepanmu, karena banyaknya kesulitan dihidupnya semua temannya menjauhi, dan ia takut jika kamu dan aku pun menjauh karena masalah-masalahnya itu, tolong fahami itu stef" ujarku meyakinkannya. Stefan hanya tertunduk tak menghiraukan jika seorang pelayan kafe mendekati kami berdua untuk menanyakan pesanan.


"Maaf mas, pesan apa?" ucap pelayan perempuan yang berdiri di samping meja yang kami tempati.


"Oh iya maaf, saya pesan orange juice dan potato wedges, itu saja"

__ADS_1


"Baik, mohon menunggu, terima kasih" balas si pelayan.


Lama kami berdua terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Dan stefan masih tidak terima akan semua kenyataan yang telah aku jelaskan tentang Rania di kehidupannya selama ini. Ia seperti mengutuk dirinya sendiri sebab mengetahui semuanya itu dariku bukan dari Rania, ini yang membuat dirinya begitu marah dan kesal.


Dari balik dinding kaca ruangan terlihat seorang perempuan dan anak kecil akan memasuki kafe, wajahnya cantiknya menyeringai ketika bertatapan dengan kami dan melambaikan tangannya.


"Maaf kami terlambat".


"Dea sayang, perkenalkan ini temannya mama" ucapnya dengan senyum manis terlukis di bibir tipisnya itu.


"Hallo Dea, namaku stefan, dan ini sharon" stefan lanjut memperkenalkan kami berdua.


Berbicang santai di sore hari ini begitu berkesan, aku menyaksikan stefan yang kembali ceria seperti biasanya dan Rania pun tetap menjadi sosok wanita yang kami kenal dengan senyum manisnya itu. Syukurlah aku bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan mereka berdua.


Tingakah dea pun sangat lucu dan beberapa kali membuat kami tertawa. Beberapa kali ketika menyantap spaghetti, saus nya sukses membuat mulutnya belepotan berlumuran saus merah dan meninggalkan beberapa noda di bajunya. Anak-anak memang menggemaskan sekali pun sedang melakukan kesalahan, dan orang yang lebih tua harus mampu memahaminya.


"Ran, aku mau ngomong sesuatu sama kamu" stefan tengah serius menatap Rania dan kemudian menatapku.


"Kalian ke meja lain saja, biar aku yang menjaga dea" ucapku menimpali perkataan stefan.

__ADS_1


Mereka berdua pindah ke sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk mengadakan pertemuan penting dan tempatnya tertutup. Aku tau maksudnya, karena pada akhirnya mereka butuh untuk berbicara dan saling jujur. Persahabatan yang telah terjalin lama ini membutuhkan kejujuran dan stefan merasa kecewa karena Rania tidak pernah jujur untuk semua masalah yang telah dihadapi selama ini.


Mungkin mereka sedang bertengkar sekarang, seingatku ketika kuliah mereka kerap berbeda pandangan dan saling beradu argumen tentang berbagai hal dan akhirnya harus dilerai karena kelewat batas perbincangan. Wajar saja jika berbeda pandangan, akan tetapi aku coba berpikir positif, toh mereka sudah dewasa dan bisa lebih saling memahami dengan mengesampingkan egonya masing-masing.


Aku pindah duduk ke samping Dea, karena sejak ibunya meninggalkan ruangan ini, ia kelihatan gelisah dan hanya mengaduk-ngaduk spaghetti tanpa memakannya.


"Dea, kenapa makanannya tidak dihabiskan.." tanyaku basa-basi. Jujur saja, aku belum pernah menghadapi anak kecil sebelumnya, sedikit ragu juga untuk memilih bahasa yang mudah dimengerti anak-anak.


"Om, mama aku kemana sih, koq lama ya". Bukannya menjawab pertanyaanku, ia malah balik bertanya tentang ibunya.


"Mama lagi ngobrol penting sama om stefan, sebentar lagi juga kembali" ujarku menenangkan Dea yang mulai bosan.


Bingung. Itu yang aku rasakan ketika bersama Dea anak dari Rania. Entah apa lagi yang harus aku bicarakan dengan anak sekecil ini. Tatapan matanya hanya tertuju pada makanannya yang sedang diaduk-aduk tak menentu. Mungkin juga ia merasakan kecemasan terhadap ibundanya yang belum kunjung kembali, seperti ikatan batin yang kuat yang mungkin bisa merasakan kejanggalan terhadap sesuatu hal.


"Kamu tidak suka makanannya ya, Dea mau pesan lagi makanan lain?" tanyaku mencoba membuyarkan lamunannya. Namun tak ada jawaban yang berarti, ia hanya menggelengkan kepalanya saja sambil terus tertunduk.


......


.....

__ADS_1


__ADS_2