
Beberapa menit lalu Rania dan Stefan sedang berbincang serius entah apa yang mereka sedang bicarakan, semoga saja tidak sampai bertengkar.
Aku masih sibuk dengan anak Rania yang kini semakin bosan karena lama menunggu sang ibunya itu.
"Ya tuhan, mengurus anak ternyata merepotkan sekali" pikirku, karena bingung akan apa yang harus dilakukan untuk menghibur Dea.
Tak lama indira memasuki ruangan kafe dengan seseorang yang juga aku kenal beberapa waktu lalu.
"Maaf ya sha, aku terlambat.." ucap indira meminta maaf kepadaku dengan raut wajah menyesal.
" Ka.. Kalian berdua sudah baikan?" tanyaku sedikit tidak percaya terhadap dua orang yang masih berdiri menatapku ini.
"Apa sih sha.. Kita baik-baik saja koq" jawab indira dan saling pandang dengan finna.
"Eh ini anak kamu?" tanya finna kepadaku saat melihat seorang anak perempuan yang duduk disampingku.
"Kenalin, ini Dea, dia anak temenku. Temanku lg ada urusan sebentar, jadi anaknya bareng sama aku". Ucapku menjelaskan.
Mereka pun berkenalan dengan Dea yang tadinya diam sekarang jadi akrab dengan Finna dan Indira. Syukurlah ada orang lain yang bisa mengajak ngobrol Dea. Mungkin karena sama-sama perempuan jadi bisa lebih akrab.
__ADS_1
Berbagai macam minuman dan kudapan tersedia memenuhi meja terpanjang di ruangan ini yang sengaja ku pesan sebelum berkumpul. Hari ini memang istimewa, tak hanya bertemu teman-temanku ada juga Indira yang kini telah berbaikan dengan Finna, hidupku benar-benar terberkati dipenuhi kebahagiaan yang tidak bisa ku ungkapkan rasanya. Aku bahagia hari ini.
Tak lama Stefan menyapa kami yang kemudian menyusul Rania dibelakangnya. Terlihat sedikit sembab di pelupuk matanya, namun ia tetap memaksakan diri untuk menyapa dan berkenalan dengan pacarku juga temannya itu.
"Aihh.. Finna, kebetulan sekali ya". Ucap Stefan kepada Finna, ternyata mereka sudah saling kenal, kami semua pun menjadi heran, apa jangan-jangan Stefan main gila dengan perempuan ini.
"Terima kasih Bu Finna, kami senang sekali perusahaan kami bisa bekerjasama dengan perusahaan Ibu" ucapnya, dan mereka berdua saling berjabat tangan.
"Kita tidak sedang rapat. Kamu bisa memanggil Finna saja" Ia menimpali ucapan Stefan yang terlalu sopan kepadanya itu dan membuat sedikit canggung karenanya.
Stefan dan Finna menjelaskan bahwa perusahaan mereka bekerja sama dalam suatu project yang sudah berlangsung selama 7 bulan. Dan beberapa kali stefan bertemu dengan Finna untuk agenda meeting. Pertemuan yang sangat tidak terduga, dan ternyata mereka adalah rekan bisnis.
........
Perbincangan semakin meriah, tak terasa sudah menunjukan pukul 6 petang. Biasanya pada waktu ini kafe selalu dipadati oleh pengunjung namun karena ini hari spesial, aku sengaja memesan tempat untuk kami berkumpul bersama dan meminta mas Hendy pemilik kafe untuk mengatur semuanya.
Stefan memang orang yang tepat untuk acara-acara berkumpul, ada saja bahan pembicaraan dan leluconnya, membawa suasana yang hangat dan penuh keceriaan. Finna yang tadi putus cinta pun hampir tak ada bekas kesedihan yang terpancar dari raut wajahnya. Ia benar-benar tenggelam dalam kebahagiaan suasana ini. Mungkin takdirnya seperti itu, kehilangan sesuatu untuk mendapatkan hal lain yang lebih bermakna dan baik bagi dirinya.
"Eh.. Sha, bukankah kamu tadinya ingin membicarakan tentang project ya?" ucap stefan bertanya maksud sebenarnya mengumpulkan mereka, namun aku pun lupa karena suasananya membuatku terlena.
__ADS_1
"Ah tidak apa-apa, lain kali saja". Jawabku singkat. Aku merasa tidak enak jika harus membicarakan suatu pekerjaan pada moment seperti ini.
"Tidak masalah, kita bisa mendengarkanmu, dan mungkin memberimu sedikit saran" ucap Finna mencoba meyakinkanku untuk membicarakannya.
"Baiklah". Timpalku kepada mereka semua dan mulai menceritakan tentang project dan rintisan usaha yang akan aku bangun.
Hampir 20 menit aku bercerita tentang suatu project yang telah aku buat dan segera diluncurkan di akhir bulan ini. Dengan beberapa penambahan penjelas mengenai cara kerja perusahaan nantinya dan juga strategi-strategi marketing dari produk-produk yang aku keluarkan pada segmentasi masyarakat Indonesia khususnya untuk kalangan milenial yang melek teknologi.
"Ide kamu sangat bagus, dalam segi pandangan bisnis, memang terlihat tidak realistis. Bagaimana mungkin sebuah dunia virtual yang tadi kamu beri nama Project Oxygen itu tidak menjadi game, tetapi menjadi media baru untuk orang-orang berinteraksi dan hanya mengerjakan hal-hal yang biasa kamu kerjakan dikehidupan nyata"
"Siapapun pebisnis yang mendengarkan idemu itu akan pasti menolak, kenapa begitu? Karena dunia yang akan kamu buat itu bisa kamu dapatkan dikehidupan nyata. Bisa dibilang user lebih menyukai avatar mereka untuk berburu naga didalam game daripada cuma mengobrol saja seperti yang kita lakukan sekarang".
Finna memang benar-benar sangat akhli membuat orang patah semangat. Semua kritiknya tadi benar-benar masuk akal dan aku sangat membenci untuk mengakuinya. Pandangannya sebagai seorang pebisnis sukses tidak bisa dianggap sepele, karena itu adalah makanannya sehari-hari untuk menimbang dan mengevaluasi kinerja perusahaan agar tetap profit.
Seketika pun aku terdiam tanpa bisa membalas apa-apa. Dan semua orang juga terkaget dengan kritik pedas dari Finna, beberapa kali Indira mengusap pundak ku untuk menenangkan. Akan tetapi Finna tidak salah dan kali ini aku harus menimbang-nimbang segala sesuatunya agar lebih jelas dan tepat sasaran dari segmentasi yang akan di kejar.
"Kamu benar Fin, aku harus mempertimbangkannya kembali".
..........
__ADS_1