Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Situasi Sulit


__ADS_3

Menjelang pagi disaat fajar menyingsing menyemburatkan kemilau warna kuning di langit, Indira tersadar mendapati dirinya berada di kamar dan sekujur tubuhnya lemas tak bertenaga. Pandangannya mengitari seluruh ruangan kamar, berharap Finna ada disana, namun yang ia cari tak ada. ia sempat berpikir apakah semua yang terjadi tadi hanyalah mimpi buruk di tidurnya yang lelap.


Sembari berjalan menuju ruang depan, ia memegangi kepalanya yang sedikit sakit. dengan perlahan ia menuruni anak tangga menuju ruang keluarga untuk bertemu ayah dan lainnya. Namun disana hanya ada adiknya yang bernama Intan.


"Kakak tidak apa-apa?, sebaiknya istirahat saja kak.." Intan menghampiri indira, khawatir akan kesehatannya karena sempat shock dan pingsan beberapa jam lamanya.


"Aku baik-baik saja, papah mana?" kemudian intan bergegas memanggil papahnya yang sedang berbincang dengan seorang petugas polisi di depan rumah.


Karena penasaran, akhirnya Indira mendekati ayahnya dan juga petugas polisi yang sedang berbincang serius. indira tersadar kemudian akan apa yang terjadi semalam bukanlah mimpi. Mengingat kejadian semalam tak kuat rasanya sampai ia hampir menangis namun ditahannya agar bisa lebih jelas mengenali situasi yang kini sedang terjadi pada sharon calon suaminya itu.


"Pah.. bagaimana, sudah ada kabar dari sharon?" Tanya indira pelan dan kemudian pandangannya mengarah ke petugas polisi yang berdiri dihadapannya.


"Korban sudah dilarikan ke rumah sakit pelita harapan mulia, keadaanya sekarang kritis dan sedang ditangani oleh petugas medis".


"Ya tuhan... apa yang sebenarnya terjadi... pah ayo kita ke rumah sakit sekarang". Linangan air matanya tak lagi bisa di bendung dan ia menutupi wajahnya yang kini menangis tersedu-sedu.


"Papah masih ada urusan disini, kamu berangkat bersama intan ditemani supir. bergegaslah nak, Calon suamimu sedang membutuhkanmu sekarang".


-----------------------------------------------------------


Setelah suasananya tenang, Indira dan intan pun sudah berangkat ke RS, dua petugas polisi yang terlibat pada penangkapan pelaku penculikan datang ke rumah dan langsung menghadap petugas yang sejak tadi mengamankan rumah pak danang.


"Kita harus cepat bertindak." Ucap si petugas yang baru datang.


"Siap".


Setelah berbincang sebentar dengan pak danang, mereka pun menuju kamar Fahri dan Viona. sejak awal para polisi sudah dapat mengambil kesimpulan jika kejadian ini di inisiasi oleh salahsatu penghuni rumah dan keterlibatannya akan berakibat fatal akan upaya penculikan dan penganiayaan secara terencana dan bisa disangsi minimalnya 7 tahun penjara.


Setelah Bersiap, tiga petugas tadi langsung mengetok pintu kamar tersangka. tak lama Viona membuka pintu, secara cepat dua petugas meerangsak memasuki kamar dan memborgol Viona dan juga Fahri yang tengah duduk di kursi sofa kamar.

__ADS_1


"Saudara Fahri dan nona Viona kami tangkap atas tindakan kriminal kasus penculikan dan penganiayaan. dan ini surat penangkapannya" Petugas itu membuka surat yang berisikan perintah penangkapan keterlibatan kasus yang menimpa sharon.


"Lepaskan, apa-apaan ini, aku tidak bersalah.. tolonggg. lepaskan.!" Fahri meronta-ronta begitupun viona ia terus menendang-nendang kaki petugas yang meringkusnya.


"Kurang ajar!, lepaskan. kalian tidak tau siapa aku ya.. ku buat kalian menyesal nanti" Viona mengancam petugas yang terus mendorongnya untuk berjalan ke luar.


"Pah tolong pah.. aku tidak bersalah. ini semua tuduhan palsu, aku tidak bersalah.!!!!" fahri memohon setengah berteriak ke ayahnya yang terlihat sedih dan kecewa melihat anaknya yang telah dewasa berbuat keji kepada sharon.


"Papah tidak pernah mengajarkan berbuat kriminal seperti itu nak, kamu mengecewakan papah".


"Aku tidak akan pernah membantumu, sesali semua perbuatanmu nanti di dalam penjara..." Pak danang mengalihkan pandangannya yang sedikit nanar akibat air matanya mengalir, ia sedih dengan perbuatan anaknya yang diluar batas norma, sangat tidak manusiawi.


-------------------------------------------------


"Kak, sabar ya.. terus berdo'a untuk kesembuhan kak sharon" Intan mencoba menenangkan kakaknya itu agar tetap tegar dan sabar dalam menghadapi ujian ini.


Ia merasakan kesedihan kakaknya yang teramat dalam, tak henti-hentinya dirinya memeluk Indira yang sepanjang perjalanan menangis pilu. Tak tau lagi apa yang bisa ia lakukan saat ini untuk bisa menenangkan kakaknya yang sedang bersedih. Seharusnya, hari ini adalah hari kebahagiaan kakaknya menikah dengan orang yang ia cintai, menjadi utuh sebagai suami-istri. Namun takdir berkata lain, kenyataan pahit yang ia terima justru sebaliknya, kejadian naas yang menimpa dirinya dan sharon adalah hal yang sangat membuatnya terpukul dan sedih melebihi kesedihan saat ia dikhianati mantannya dahulu yang sudah mencampakannya.


"Terima kasih ntan.. kakak sayang kamu. Tolong do'akan calon kakak iparmu ya, nanti kalau kita sudah menikah, Sharon pasti bisa menjadi kakak yang lebih baik dari aku.. dia lelaki yang baik".


"Iya kak, aku pun terus mendo'akannya, kakak yang sabar ya" intan hanya bisa menanggapi ucapan Indira dengan memintanya untuk terus bersabar, anak seumurannya tak faham harus berbuat dan berbicara apa agar bisa menenangkan kakaknya yang umurnya jauh terpaut dengan dirinya yang masih belia. Namun begitu, ia sangat menyayangi kakaknya dan mencoba untuk terus men-support sebisa mungkin.


Sesampainya di Rumah sakit, Indira berjalan terburu-buru menuju petugas untuk menanyakan ruang rawat pasien.


"Suster, pasien yang baru saja masuk bernama Sharon ada diruang rawat mana?" ia bertanya tergesa-gesa kepada seorang suster yang melintas dihadapannya.


"Pasien bernama sharon di rawat di IGD bu, silahkan naik tangga ke lantai dua, belok kiri di ruangan pertama". ucapnya menanggapi pertanyaan indira.


Indira berlarian menaiki tangga yang menghubungkan ke lantai atas, tubuhnya yang lemas tak lagi dirasa olehnya, ia tengah dipacu adrenalin untuk bisa segera bertemu sharon secepat mungkin. Saat sampai di ruangan IGD yang di maksudĀ  disana Finna sedang duduk termangu menunggu selesainya proses penanganan pasien. Finna yang melihat kedatangan Indira langsung bangun dan menyerbu memeluk tubuh sahabatnya itu.

__ADS_1


"Dira.. kamu baik-baik saja?" tanya nya sedikit khawatir karena ia sempat pingsan saat penculikan kekasihnya itu.


"Aku tidak apa-apa, bagaimana keadaan sharon, sharon kenapa fin?".


Meski Finna enggan untuk menceritakan kejadian perkara, namun akhirnya ia buka mulut dan menjelaskan secara ditail tentang apa yang terjadi dan yang menimpa sharon. Badannya tertembus peluru senapan api dari pelaku penculikan, dan ditemukan tergeletak di jalan setelah ia kabur dari ruang penyekapan di gudang kawasan industri.


Mendengar penjelasan Finna, Indira semakin kehilangan keseimbangan badannya, ia terkulai lemas tak berdaya, namun berhasil di topang oleh Intan yang berada dibelakangnya.


----------------------------------------------


Telah lama ia menunggu selesainya upaya dokter menyelamatkan Sharon, namun belum ada tanda-tanda sudah selesai. Ia semakin tak sabar dan juga khawatir terjadi hal-hal yang paling ia takuti. Baginya jika kehilangan Sharon, seperti kehilangan separuh jiwa, kini ia hanya bisa menunggu sebuah keajaiban dan tindakan medis yang tepat untuk menyelamatkan Sharon.


"Kak, ini diminum dulu ya.." Intan menyodorkan air mineral botol kepadanya.


"Iya dir, kamu harus minum dan makan dahulu, badanmu belum sehat betul itu" saut finna.


"Berdoa ya kak, aku juga ikut mendo'akan, Kak sharon pasti kuat dan selamat koq.. aku yakin." ia mencoba menguatkan keyakinan kakaknya agar tetap berpikir positif untuk keselamatan sharon. Tak lama lampu IGD padam penanda tindakan medis sudah selesai, Indira dan Intan pun bangkit berdiri menunggu dokter keluar dari ruangan.


"Dok.. Dokter, bagaimana keadaan calon suami saya?" Indira mempertegas jika ia adalah orang terdekat sharon saat ini, agar ia lebih tau hal yang terjadi pada shaon.


"Pasien berhasil selamat, peluru yang bersarang pada tubuhnya berhasil kami keluarkan dan lukanya sudah dijahit, saudara sharon keadaanya sudah stabil. sebentar lagi bisa langsung di pindahkan ke ruangan rawat inap". Dokter yang bertubuh tinggi itu menjelaskan secara umum kondisinya dan bisa berhasil melalui situasi kritis.


"Terima kasih dokter, boleh saya melihat keadaanya sekarang?" Tanya nya tak sabar ingin melihat keadaan pasien.


"Silahkan Ibu tunggu saja di bawah, selesaikan proses administari perawatan dan pasien bisa segera dipindahkan ke ruang rawat inap agar bisa di jenguk". dokter pun pergi meninggalkan mereka bertiga disusul para perawat lainnya yang kemungkinan akan mempersiapkan pemindahan pasien ke ruang lain.


"Baik dokter.. terima kasih banyak".


"Terima kasih tuhan.." susulnya mengucap syukur kepada tuhan. saat ini Indira bisa merasa lega karena calon suaminya bisa selamat.

__ADS_1


*****************************************


*****************************************


__ADS_2