Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Kejutan


__ADS_3

Bus melaju kencang menuju keluar tol, dan lanjut melewati jalanan yang hanya cukup untuk dua mobil. Namun begitu, sang supir tidak berniat untuk sekedar melambatkan laju kendaraan bus yang kami tumpangi. Beberapa kali Wanita disampingku ini tersadar dari tidurnya karena ulah si supir yang kelewat beringas menghadapi situasi jalanan yang mulai ramai, ada sedikit cemas yang aku rasakan, namun sebaiknya berdoa saja agar kami semua selamat sampai tujuan.


Cuaca terik mentari diluar sana begitu menyengat, rasa panasnya terasa sampai kedalam bus, meskipun sudah menghidupkan AC, akan tetapi rasa panas yang kami rasakan tetap ada dan membuat peluh bercucuran. Aku beberapa kali mengusap keringat dari dahi dengan selembar tisu, luar biasa sekali perjalanan kali ini. Kalua bukan untuk bertemu calon mertua, aku tidak akan rela menyempatkan waktu untuk pergi ke tempat sepanas ini.


Demi pujaan hati, kemana pun akan ku tuju.


......................


Jam 14:05 aku bus memasuki terminal harjamukti untuk menurunkan penumpang, namun yang keluar hanya aku dan si gadis lugu teman sebangku di bus. Selebihnya tetap melanjutkan perjalanan menuju kota berikutnya. Aku keluar dengan kening dan punduk yang bercucuran keringat, panas terik matahari tak menyurutkan langkahku yang lanjut berjalan menuju ke sebuah warung kopi sederhana memesan kopi kemasan yang diseduh lengkap dengan es batu yang banyak, cukup untuk menghilangkan dahaga di siang hari ini.


“Mau kemana mas?” tanya seorang bapak-bapak berumuran 50 tahunan disampingku yang tengah menyantap gorengan bakwan, kemungkinan tukang ojek, sudah hal biasa menawarkan jasa kepada para pengunjung warung yang tak jauh dari terminal bus.


“Saya ma ke daerah kecapi pak” ucapku membalas pertanyaan si bapak.


“Mau saya antar mas nya? Saya kenal betul daerah situ” disinilah ia mulai menawarkan jasanya, tanpa Panjang lebar.


“Boleh pak.. tapi nanti ya, saya masih mau ngopi dulu nih” ucapku sembari tersenyum ke arahnya.


“Oh monggo mas, saya tungguin”.


Mungkin karena saya masih Lelah, jadi tidak mau terlalu terburu-buru dan juga agak sungkan rasanya jika di rumah calon mertua harus merokok dan bersikap sesantai ini. Lebih tepatnya saya mencoba menikmati suasana kota Cirebon dengan segala kearifan lokalnya, meskipun Cuma sebatas singgah di warung kopi sederhana dibersamai beberapa tukang ojek dan juga para pekerja bangunan yang masih mengenakan helm proyek tersangkut menutupi kepala.


Pikiranku berpetualang tak tentu arah memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang terjadi disaat nanti bertemu Indira dan juga keluarganya, ada sedikit takut jika kedatanganku malah menimbulkan masalah. Namun begitu, aku datang pun dikarenakan ajakan dari Ayah dari calon istriku. Disaat bertemu beberapa waktu lalu kami sempat bertukar nomor telepon dan aku sudah mengabarinya bahwa akan datang hari ini ke kediamannya di Puri Permata Indah dan beliau setuju dengan kedatanganku.

__ADS_1


Akan tetapi, aku salah perhitungan. Ternyata Indira pun di ajak hari ini untuk datang ke rumah dan mungkin akan sedikit shock melihat aku nantinya datang secara terang-terangan.


Ayahnya Indira sepertinya orang aneh.


………………….


“Halo.. nak sharon, sudah sampai di Cirebon?” Ayahnya Indira menelponku dan menanyakan perihal kedatanganku hari ini ke rumahnya.


“Sudah pak, baru saja tiba di terminal. Sebentar lagi saya menuju rumah bapak” ucapku membalas pertanyaanya dengan sedikit gugup dan tiba-tiba saja detak jantungku tak karuan.


“Baiklah, bapak sebentar lagi sampai di rumah, barusan Dira juga menelpon, dia sudah sampai.”.


“Baik pak, saya kesana sekarang”. Aku mengakhiri panggilan dan meminta bapak tukang ojek yang akan mengantarkanku ke lokasi yang hendak ku tuju.


Sekitar 7 KM jarak yang harus ku tempuh. Melintasi pasar yang cukup ramai, dan tentu ada kemacetan seperti halnya di Ibu Kota, namun tak begitu lama. Hanya membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk sampai.


Setelah selesai dengan urusan administrasi, aku pun berjalan menuju rumah di blok A nomor 9. Letaknya cukup dekat, terletak dekat danau yang menjadi pemandangan utama dari komplek ini.


Ketika menyusuri wilayah komplek, rasanya sangat berbeda dengan berjalan di luar tadi. Sangat tenang dan juga segar sekali udaranya, pepohonan rindang hampir menutupi tiap ruas jalan menuju ke perumahan dan juga danau dengan air bening yang tersorot langsung oleh sinar matahari merefleksikan warna-warna hijau dari dedaunan pohon yang tumbuh disekitarannya. Sangat menakjubkan!.


"Maaf, mas cari siapa?” Tanya seorang pembantu yang berumur sekitar 50 tahunan, menyambut kedatanganku ke rumah Indira.


“Saya mau bertemu Pak Danang, Benar ini rumahnya?”

__ADS_1


“Pak Danang meminta saya untuk datang ke rumahnya” lanjut menjelaskan perihal kedatanganku saat ini.


“Mas Sharon ya? Bapak baru saja sampai. Monggo masuk, Mas sudah ditunggu bapak di ruang keluarga.. mari saya antar”. Aku pun hanya mengangguk perlahan terhadap perubahan sikap yang tadinya terkesan mencurigaiku kini bersikap sopan dan lembut.


Melewati beberapa ruangan, aku pun di bawa menuju ruang keluarga yang luas dengan sofa mewah berwarna coklat dan disana ayahnya Indira sudah menunggu.


“Sini nak duduk..” aku pun mendekat dan menyalami tangan orang tua ini. Wajah keriputnya memancarkan rasa senang akan kedatanganku.


Sepertinya ini pertanda baik.


Aku duduk disamping dan mencoba mengatur sikap sesopan mungkin. Sedikit merapikan kemejaku dan juga meletakan tas yang selalu aku bawa untuk bepergian yang isinya laptop dan beberapa potong baju ganti untuk nanti.


“Yanti, tolong panggil Indira dan finna kemari.” Ia memerintahkan si bibi pembantu untuk memanggil Indira di kamarnya di lantai 2 rumah ini.


“Dari jakarta naik apa ke Cirebon?” tanyanya basa-basi sekedar membuka obrolan di sore hari ini.


“Saya naik bus, kesininya tadi di anter ojek dari terminal” ucapku menimpali pertanyaanya. Aku masih merasakan gugup dan entah kenapa lidah seperti kelu untuk berucap banyak kata agar suasana tidak secanggung ini.


Selang beberapa menit Indira dan Finna menapaki tangga yang juga langsung menuju ke ruangan ini. Ia belum sepenuhnya sadar akan kehadirannku, namun Finna menyadarinya, matanya terbelalak lebar tak percaya melihatku ada disini.


“Sharon?. Kenapa ada disini?” tanya Finna yang kini terdiam di tangga.


“Apa!. Sha, ko kamu bisa ada disini. Papah maksudnya apa ini semua, kenapa aku tidak diberitahu kalau Sharon di undang ke rumah.?” Indira mencecar ayahnya dengan pertanyaan bertubi-tubi dan sang ayah hanya tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan anaknya.

__ADS_1


“Surprise..!!!”


...****************...


__ADS_2