Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Sarapan


__ADS_3

Finna baru terbangun dari tidurnya, dengan langkah sempoyongan ia berjalan keluar dari kamar tidur mencari sahabatnya itu.


Setelah berkumpul di Dekafe, Finna menginap di apartemen milik Indira karena pikirannya masih kalut dan juga ingin berlama-lama dengan sahabatnya, membicarakan masa lalu juga hal-hal tidak penting lainnya yang selama ini tidak ia dapat dari orang lain yang ia kenal di lingkungan tempat kerjanya.


“Dira, kamu dimana?..” ia memanggil-manggil Indira yang kini sedang memasak sarapan pagi untuk mereka berdua.


“Sana mandi dulu, Aku sedang buat sarapan, sebentar lagi selesai”. Timpalnya, memandang ke arah Finna yang berjalan menuju kamar mandi.


“ummm”.


Pagi, masih menunjukan pukul 7 dan diluar sedang hujan deras entah sejak kapan. Aku terbangun karena udaranya yang sangat dingin menyusup tubuhku yang masih mengenakan baju yang kemarin aku pakai, bahkan aku tidak mengganti celana jeans ku sendiri, terlalu malas rasanya.


Aku berdiri menghadap ke jendela yang disana hujan menutupi pandanganku, berkabut tak jelas apa yang ada disana. Agak sedikit khawatir jika hujan yang berlangsung lama seperti ini akan berakibat banjir karena beberapa saluran air tersumbat sampai atau semacamnya. Entahlah, sejak hidup di jakarta aku sudah terlalu menganggap biasa fenomena banjir yang sampai setinggi orang dewasa bahkan lebih.


Dahulu sejak masih indekos, aku juga pernah merasakan, semua barang-barang didalam ruangan kosan hanyut menggenang diatas air banjir yang terus meluap, pengalaman pahit dan juga menjadi kenangan yang mengesankan karena baru kali itu aku merasakan kebanjiran dan harus menaiki perahu karet untuk berpindah dari kosan menuju tempat penampungan korban banjir. Ya aku jadi korban banjir! dan itu kemudian menyulut rasa kemanusiawianku untuk ikut bergabung sebagai relawan tanggap bencana di saat masih aktif menjadi mahasiswa kemudian akrab dengan stefan dan Rania, kita menjadi angkatan baru yang ikut andil dalam banyak kejadian bencana alam di dalam negeri.

__ADS_1


Aku meraih telepon genggamku dan membaca isi chat dari Indira, chat tadi malam dan juga pagi ini. Mungkin lebih baik aku coba menelepon indira dan meminta maaf, takut ia salah faham karena banyak pesan yang tidak langsung aku balas.


“Hallo, maaf semalam aku tidak langsung membalas pesan, aku ngantuk sekali” ucapku bermaksud meminta maaf dan mungkin sekedar menyampaikan rindu di pagi hari yang masih di hiasi gemericik air hujan.


“Iya tidak apa, apa kamu ada waktu hari ini?” tanya nya.


“Hari ini tidak ada agenda, ada apa?”


“Ada yang harus kita bicarakan, kamu bisa kesini segera?”. Indira sedikit memaksa seperti biasanya dan ini bukan kali pertama ia bersikap seperti ini, mungkin saja, memang ada hal penting yang harus segera di bicarakan dan berbicara lewat ponsel sedikit kurang efektif juga.


“Akan aku usahakan, aku mau mandi dulu” jawabku dan mengakhiri penggilan, kemudian bergegas ke kamar mandi, menggunakan pakaian rapi dan bersiap untuk ke apartemennya di Moonlight Paradise yang jaraknya lumayan jauh 1 jam perjalanan.


Akhir pekan memang jalanan raya pagi masih kosong tidak di padati oleh laju kendaraan pada hari-hari sibuk. Aku menggunakan layanan transfortasi taksi online, melaju ke apartemen Indira. Biasanya aku menggunakan ojek, hanya saja hujan tak kunjung reda tak ada driver ojek yang mau mengambil pesanan disaat hujan seperti ini.


Kurang dari 40 menit aku telah sampai di lobby depan apartemennya dan menghubungi Indira untuk menjemputku, karena membutuhkan authentication dari pemilik unit apartemen untuk bisa masuk, ini sudah menjadi standar prosedur untuk masuk kedalam hunian elit di ibu kota.

__ADS_1


“Aku pikir kamu akan lama sampainya, terimakasih ya sudah datang” disambut tawa riangnya yang membuatku terpesona ketika memandang sosok jelita yang telah mejadi kekasihku.


Begitu masuk ruangan, aku sedikit terkejut karena tenyata Finna ada di apartemen, dengan masih mengenakan pakaian tanktop warna cream dan celana pendek tipis, badannya terlihat proporsional dan seksi, kulit kuning langsat nya pun menjadi daya tarik tersendiri. Sangat cantik!.


“Pagi Finn” ucapku menyapa.


“ Hai, sini sarapan bareng, ini masakan Indira semua loh” Ajaknya untuk ikut bergabung bersama menyantap hidangan menu sarapan, ada beberapa potong pancake  yang dilumuri oleh madu dan juga beberapa potong blueberry di atasnya dan sepertinya masih terlihat baru dibuat , dan juga mangkuk agak besar yang berisi salad buah-buahan segar. Menu sarapan mewah untuk orang sepertiku ini tidak akan membuat kenyang, bantinku menjerit keras melihat hidangan yang lumayan mewah ini.


“Maaf ya sha, aku masak makanan kesukaanya Finna, apa mau aku buatkan nasi goreng ?” Indira memang tahu persis aku tidak akan memakan makanan seperti ini, karena bukan hanya terlalu mewah, akan tetapi tidak membuat perutku puas ketika menyantapnya.


“Tidak Perlu, ayo kita sarapan” pintaku kepada indira yang juga duduk di samping Finna.


Kami pun menyantap hidangan sarapan sembari berbincang santai, hanya beberapa obrolan tentang masa-masa ketika mereka berdua berkuliah dan juga gosip seputar artis-artis ternama. Kadang aku mengomentari seperlunya saja jika pembicaraannya aku fahami, namun lebih banyak untuk mendengarkan mereka saja sambil menggerakan tanganku untuk memakan beberapa potong pancake buatan Indira yang manis dan juga segar karena beberapa topping blueberry diatasnya.


“Enak sha?..” tanya Indira menatapku yang tengah menyantap potongan pancake.

__ADS_1


“Iya, enak sekali” aku menjawab dengan singkat.


........


__ADS_2