Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Cinta Untukmu


__ADS_3

"Sha.. keluar yuk". indira mengajaku jalan-jalan di malam hari ini untuk berkeliling mencari hiburan di kota Cirebon.


Pembicaraan dengan ayahnya itu membuat pikirannya semakin kacau, belum lagi karena kejutan yang tidak terduga-duga, semua bercampur aduk tak karuan di kepalanya. Berdepat panjang pun rasanya percuma, ia tak bisa menang beradu argument dengan ayahnya itu.


Tak jauh dari rumah ayahnya Indira, ada terdapat pusat hiburan dan jajanan khusus yang hanya dibuka pada sore sampai larut malam, berbeda dari foodcourt biasa. Joyful Colonies nama kawasan di lingkungan perumahan ini untuk kaula muda yang senang dengan hidup glamour ala anak metropolitan jakarta.


Terdapat banyak bar, lounge, dan hiburan malam seperti diskotik, kami bertiga lebih memilih kafe berkonsep rumah antik yang banyak ornamennya di isi oleh barang-barang antik berkualitas tinggi, lebih terlihat seperti musium. Dari lukisan, guci dan beberapa barang lain yang memiliki nilai histori terpampang di semua sudut, terlihat meriah dan juga mewah.


"Jadi, bagaimana rencana kalian untuk besok?". Finna bertanya kepada kami berdua yang masih linglung karena sikap orang tua Indira yang berhasil membuat pening kepala karena usulannya yang begitu mendadak menyarankan kami untuk segera menikah.


"Tidak tau fin". indira menjawab sekenanya, tubuhnya lunglai lemas terhenyak di kursi sofa di dalam kafe ini.


Berbeda dengan suasana di luar, di dalam kafe ini sangat tenang, lamat-lamat ku dengar alunan lagu The Beatles, merdu dan menenangkan.


Nothing to get hung about


Strawberry fields forever


......................


"Aku rasa ayahmu ada benarnya".


"Haaaaaa?" aku dan finna kaget dibuatnya. tiba-tiba saja finna membenarkan usulan ayah indira.


"Begini ya, kalian sudah cukup lama saling mengenal dan cocok sebagai pasangan. tidak ada salahnya kalau kalian menikah, toh cepat atau lambat kalian pun harus menikah juga. kecuali kalian cuma main-main saja..". yang finna bicarakan hampir sama seperti yang ayahnya Indira juga katakan, aku pun memikirkan hal yang sama.

__ADS_1


Bukan hal yang tidak mungkin jika esok hari aku langsung menikahi indira, toh keluarga pacarku pun sudah pasti setuju, masalahnya sekarang ada di diri indira. Bisa atau tidaknya, ia yang putuskan dan aku mengikuti keputusannya nanti.


”Maaf sudah menunggu, ini pesanannya. ada yang mau di pesan lagi ?" ucap pelayan yang mengantarkan pesanan kami.


"Tidak. terima kasih mas" ucap finna menimpali si pelayan lelaki yang berada tepat berdiri di sampingnya.


Lama sekali kami terdiam tanpa perbincangan, sibuk dengan gawai masing-masing. aku pun bermain game saja, karena tak tau lagi harus berbicara apa. Jika keputusan aku yang pegang, aku pasti lebih mengikuti kemauan ayahnya indira juga mengikuti sarannya Finna. Toh kita sudah dekat dan sudah sama-sama nyaman, cepat atau lambat pasti menikah kecuali salah satunya tidak menginginkan adanya pernikahan.


”Sha, kamu malah main game, jadi gimana urusannya ini" Indira ini kalau sudah kesal, jadi aneh dan sering kali lucu karena sikapnya yang panikan.


"iya, terus menurut kamu bagaimana?" tanyaku seenaknya tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.


”Ya aku mau menikah, besok atau kapan pun asal sama kamu aku mau saja"


"Cuma bagaimana denganmu, bukan kah harus ajak orang tua kamu, kamu pun belum pernah memperkenalkan keluargamu sha..” mungkin yang dimaksud oleh indira, jika menikah orang tua mempelai pria juga harus ikut dan memberi restu. Padahal itu cuma adat nya saja.


”Dira.. lelaki tuh bisa menikah tanpa perlu dihadiri langsung oleh orang tuanya.


”Kamu tuh.. pengetahuan dasar semacam itu saja tidak tau". finna mulai menyolot dengan sikap Indira yang kurang memahami hal-hal seputar pernikahan.


"Oh bisa begitu ya... hahaha" tawanya yang polos sangat menggemaskan, ingin rasanya mencubit idung peseknya itu.


......................


Malam semakin larut, udara pun semakin dingin. Kami lanjut pulang menuju rumah indira yang tak jauh sekitar 100 meteran dari kawasan tempat hiburan, melewati rimbunnya pepohonan pepohonan yang daunnya berguguran jatuh mengenai kami. Meski hanya cahaya jalan tak begitu terang, namun aku dapat melihat jelas wajah manis indira, aku benar-benar jatuh cinta padanya. meski finna tak kalah cantik, namun hanya indira yang mampu membuatku tergila-gila karenanya.

__ADS_1


”Cieeeeee, koq diliatin aja sih sha...".


"Dipeluk dong istrinya". finna menggoda kami berdua yang saling lirik-lirik sedari tadi, namun karena malu jd tidak terlalu menampakan bermesraan di depan finna.


"Kamu ini fin.." indira sengaja menyenggol badan finna ke samping dan membuatnya sedikit terhuyung hampir jatuh.


Seneng sekali rasanya melihat mereka becanda seperti itu, mengingat perseteruan mereka di bulan lalu yang membuat indira lama pulih dari sakit hatinya karena finna. Untung saja semua segera cepat kembali seperti sedia kala, dan hubungan persahabatan yang telah lama retak kembali menjadi utuh untuk saling mendukung dan berbagi keluh kesah masalah kehidupan.


"Kalian sudah menemukan yang bisa mendampingi, aku kapan ya.." ujarnya, pandangannya sedikit sayu menatap kosong ke arah jalan.


" Sabar fin, aku tau pasti tuhan merencanakan hal terbaik untukmu, tunggu saja waktunya". Mencoba menyemangatinya agar tak patah arang karena belum menemukan jodoh yang tepat di usianya yang penuh dihantui pertanyaan-pertanyaan seputar kapan akan menikah memiliki pendamping hidup.


"Tuhan maha tau, tapi menunggu" ucapku kemudian, menyadur kalimat dari Leo Tolstoy dari buku karangannya God Sees the Truth, But Waits.


"Wah.. ucapanmu bijak sekali sha.." finna angkat bicara dan tersenyum ke arahku.


"Terima kasih ya, aku akan mencoba berubah jadi lebih baik lagi dan memantaskan diri terlebih dahulu". Susulnya menutup pembicaraan kita.


Entah esok kan bagaimana, aku sedikit menunggu akan seperti apa, namun mencoba tetap tenang dan memikirkan lebih matang lagi karena perjalanan mungkin akan lebih berat kedepannya, dlam hal karir pun aku belum begitu banyak yang bisa diandalkan sebagai pemasukanku yang nantinya mesti menafkahi Indira sebagai istriku.


^^^Sepertinya tuhan sedang bercanda kepadaku..^^^


Belum lama ini masih berkutat dengan segala pekerjaan penting, setibanya disini, aku mesti mendapatkan kejutan yang teramat indah yang sepenuhnya belum pantas kumiliki. semoga ada hal baik yang terjadi kemudian hari.


Hal lain yang aku pikirkan adalah bagaimana reaksi keluarga terhadap pernikahanku. Sedikit gamang karena sikap terakhir ayah begitu membenci kepergianku merantau ke jakarta. entah, apakah ia masih mau mengakui aku sebagai anaknya atau tidak.

__ADS_1


Meski begitu, aku tetap menyayangi keluarga dan tentu adik-adik tercinta yang dahulu selalu bermanja-manja kepadaku sebagai kakak tertua di keluarga.


...****************...


__ADS_2