Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Sementara Menunggu Hujan Reda


__ADS_3

Indira dan Finna bergabung Bersama kami untuk berbincang santai sore ini yang dihiasi hujan yang mengguyur ibu kota Jakarta. Tadinya mereka hendak berbelanja di sebuah Kawasan perbelanjaan pusat kota, namun karena cuacanya seperti akan badai, mereka memilih untuk pergi kesini dan menunggu setidaknya sampai hujan mereda.


Karena terlanjur berkumpul, akhirnya obrolan kami bertiga tentang Stefan yang akan bergabung ke perusahaan kami sudahi saja, dan dilanjut nanti jika ada kesempatan. Saat ini kami lebih mementingkan moment kumpul Bersama menikmati sajian kopi dan berbagai macam makanan di meja yang sudah disediakan para koki dan barista dari kafe ini.


“Hei Finn, apa kabarnya?” Stefan berbasa-basi menanyakan kabar.


“Baik, kamu sendiri bagaimana? Ada Kabar, kamu keluar dari perusahaan ya?” perusahaan yang dipimpin oleh Finna masih bekerja sama dalam menangani beberapa project, tentunya kabar tentang Stefan yang akan resign sudah terdengar oleh finna, dan ia mencurigai hal ini karena di daftar para petinggi perusahaan, nama Stefan sebagai wakil direktur sudah dihapus dan diisi oleh orang lain.


“Benarkah itu?” Indira sangat penasaran terhadap pertanyaan Finna, ia menatap dalam-dalam wajah Stefan yang kini kikuk, salah tingkah karena finna membocorkan info yang tidak terduga.


Stefan menyeringai memperlihatkan deretan gigi putih bersihnya menatap ke arah para gadis yang menghujaninya berbagai macam pertanyaan yang sulit untuk ia hindari.


“Stefan bergabung ke perusahaanku, dan ia akan menduduki jabatan direktur saat ini, dan aku bisa fokus sebagai CEO” aku menjawab pertanyaan mereka sekaligus, setidaknya agar Stefan tak perlu lagi berpura-pura dan salah tingkah karena hal itu.


Toh memang itu kenyataanya dan lambat-laun semuanya juga akan mengetahui alasan penting kenapa dirinya berpindah haluan untuk bisa membangun perusahaan bersamaku dan juga Rania.


Aku pun lanjut menjelaskan tentang rencana-rencana kami bertiga dalam membangun perusahaan yang kami beri nama PT. Karya Citra Digital Nusantara. Kami bertiga juga yang memberi nama perusahaan ini dan kini dengan Stefan bergabung aku menjadi sangat leluasa dalam menangani pekerjaan-pekerjaan sebagai seorang CEO yang masih sangat awam dan harus banyak belajar lagi, dan aku membutuhkan Stefan untuk menemani perjalanan kedepannya dalam menyambut berbagai macam tantangan yang akan kami hadapi bersama-sama.


“Seharusnya kamu menjadi komisaris, kan semua modal perusahaan berasal dari uangmu..” Finna menjelaskan penanaman modal awal yang saat itu menggunakan uang pemberian Stefan dan tentu saja hal itu pun diketahui oleh yang lain. Namun dari penjelasan Stefan, sebaiknya komisaris nantinya dipegang oleh para investor yang akan menanamkan modal, dan saat ini kami bertiga harus fokus pada pembangunan perusahaan dan juga pada pengembangan-pengembangan berbagai macam project yang salah-satunya adalah project oxygen yang harus dirilis sebulan lagi di publikasi ke masyarakat luas.


"Membangun perusahaan bukanlah hal yang mudah, bukan karena kalian sudah berteman sejak lama, kemudian itu akan mempermudah semuanya. Tolong hindari itu, dan bersikap professional karena pertemanan kadang kala malah akan menyulitkan rancangan perusahaan yang sejak awal kalian rintis. Ini hanya pengalamanku saja, dan kalian berhak tau dan memikirkan lebih baik lagi”.

__ADS_1


Ucapan Finna ada benarnya, dan kami setuju terhadap hal itu. Namun begitu, aku malah lebih menginginkan pertemanan ini yang akan membangun dan menjaga keutuhan perusahaan, selain bersikap professional kami akan lebih tau masing-masing kapasitas dan saling melengkapi satu dan lainnya. Aku mempercayai bahwa pertemanan adalah modal yang tidak semua perusahaan bisa memilikinya. Kultur yang akan dibangun pun lebih mengarah kepada keakraban setiap member untuk bisa terus menerus meningkatkan kinerja dengan saling bahu-membahu membantu setiap pekerjaan dan bisa meningkatkan pengalaman tiap-tiap personal.


Indira menggelayuti bahu lenganku, manja seperti biasa namun saat ini tidak kenal tempat dimana ia berperilaku seperti itu, aku membalas sikap mesranya itu, mengusap lembut rambut hitam panjangnya dan merangkul pundaknya yang kini menempel di bahuku.


“Ekhmm.. mesra-mesraannya bisa ditempat lain tidak?” Finna protes dengan perlakuan Indira kepadaku.


“Hahahha.. biarkan saja, orang pacaran memang seperti itu, serasa dunia milik berdua” timpal Rania disusul tawa riang darinya dan juga Stefan.


……..


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, awan makin menghitam dengan gemericik suara hujan turun, sepertinya memang tidak akan reda. Lalu Lalang kendaraan diluar pun tidak begitu banyak, hanya beberapa saja yang memaksakan berkendara pada kondisi seperti ini, banyak orang lebih memilih menunggu hujan reda tanpa tau kapan itu kan terjadi.


“Jam 4 aku harus Kembali ke kantor untuk meeting, aku pamit duluan ya” Rania bermaksud undur diri setelah memesan taksi online.


“Aku juga harus pulang sekarang nih” Stefan kemudian berdiri dan mengajak Rania untuk ikut bersamanya.


“Kalian berdua hati-hati ya..”


“Jangan kebut-kebutan!” timpal Finna.


Selang beberapa menit mereka melajukan kendaraan ditengah hujan yang Kembali deras kemudian menghilang dari pandangan kami bertiga yang masih duduk terdiam di kafe.

__ADS_1


“sepertinya aku jadi obat nyamuk saja disini, sebaiknya aku pulang juga” Finna menyindir kemesraan kami berdua saat ini dan mulai membereskan barang bawaanya yang tergeletak diatas meja.


“Eh.. kemana finn? Aku masu ngomong sesuatu sama kamu” ucapku mencoba menghentikannya.


“Ah. Lain waktu saja, aku juga masih ada pertemuan hari ini, dan ini sudah cukup sore, aku harus bergegas ke Kawasan perkantoran di daerah Sudirman”.


“Kamu punya nomorku, nanti berkabar saja sha” ucapnya, kemudian menginggalkan kami berdua.


“Hati-hati ya finn” Indira memeluk temannya itu, dan Finna melangkahkan kakinya menuju parkiran untuk pergi ke kantor rekanannya di Kawasan Sudirman tak jauh dari sini.


…………


Pengunjung kafe semakin disesaki oleh para pecinta kopi atau yang hanya sekedar berteduh dari cuaca ekstrim diluar sana, mereka dari berbagai macam kalangan, ada orang tua dan juga anak-anak muda yang tengah kasmaran begitupun dengan para pekerja kantoran yang masih mengenakan dasi yang tergantung sembarangan di kemeja kerjanya.


Perubahan demi perubahan di tempat ini sangat ku rasakan ditiap harinya. Mas Hendy memang sangat telaten dalam mengatur bisnisnya, hanya berawal dari kios kecil kini bisa membangun tempat ini menjadi berbagai ruangan yang setidaknya itu bisa menampung 200 orang dan juga ia sudah membuat rencana untuk membuat lantai 2 dan akan semakin banyak ruangan untuk bisa menampung lebih banyak orang lagi.


Seperti itulah membangun usaha, harus cermat dan juga cekatan dalam menanggapi perubahan, kemudian memanfaatkan moment untuk meningkatkan dan meluaskan cakupannya. Mas Hendy mengajariku hal itu “jangan pernah membuat cabang jika core bisnisnya masih belum kuat”. Hal itulah yang kini aku terapkan, bertahan dengan kondisi sekarang dan meningkatkan tiap-tiap aspek yang ada dalam perusahaan sekuat mungkin.


“Sha, kita pulang yuk..” Indira menatap layer ponselnya untuk memantau pergerakan taksi online yang beberapa menit lalu sudah ia pesan.


“Ayo..”.

__ADS_1


.........


............


__ADS_2