Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Kesepakatan


__ADS_3

Sejak Finna mengutarakan maksudnya berinvestasi, aku sedikit bingung dibuatnya. Entah itu hanya gertakan finna agar semua orang tidak mencemooh Indira atau memang benar adanya. Beberapa waktu lalu, memang ia pernah membicarakan hal ini denganku, Rania dan Stefan kalau dirinya akan berinvestasi untuk membantu perusahaan rintisanku ini agar bisa lebih membuka jejaring yang luas di sektor industry kreatif dan juga itu sangat sejalan dengan visi dari perusahaan ayahnya Finna yang kini Finna adalah pemilih saham 70% terbesar dari semua jajaran komisaris.


Uang  50 miliar memang bukan apa-apa bagi Finna, mengingat harta kekayaan keluarganya yang tak akan habis sampai 7 turunan. Hanya saja, apakah benar ia berniat berinvestasi untuk membantuku. Aku mesti membicarakan ini dengan Finna sekarang juga, agar semuanya jelas.


Saat hendak mengetuk pintu kamar Indira, tiba-tiba saja pintu terbuka dan seorang lelaki keluar dari kamarnya, tak lain adalah Fahri, kakak dari Indira.


“Dasar tak tau diuntung.. sudah bersusah payah aku mengingatkanmu!”


“Keras kepala!” Fahri keluar dan membanting pintu sejadi-jadinya.


“Kenapa?, jangan pikir karena kamu akan menikah dengan adikku, lantas aku akan menerimamu dikeluarga ini?. Jangan harap!” ia menghardik, telunjuknya mengacung ke depan wajahku. Benar-benar orang yang sangat merepotkan.


“Hmmm..” aku diam tak bergeming menatap wajahnya yang memerah seperti cumi bakar.


Kurang ajar sekali, jika bukan kakaknya Indira tak akan aku kasih ampun, hajar sampai babak belur kalau perlu.


“Kamu tidak apa-apa ?” tanyaku penuh tanda tanya akan apa yang sebenarnya telah terjadi diantara kakak-beradik ini.


“Tidak apa-apa. Tadi kakak memintaku untuk membujuk finna agar berinvestasi di perusahaannya viona”. Ia menjelaskan persoalan kakaknya yang meminta investasi dalam jumlah yang besar dan finna tidak menaruk perhatian lebih karena kakaknya Indira tak sopan dan banyak menjelek-jelekan diriku dan juga beberapa kali memaki Indira.


“Sangat tidak kompeten sebagai pebisnis. Sikapnya saja buruk, bagaimana aku mau menyerahkan uang perusahaanku hanya untuk berinvestasi di perusahaan mertuanya yang tidak jelas. Lihat saja, jika dia berani macam-macam, tunggu saja perhitunganku nanti”. Ia mengepalkan tinjunya seolah akan menghajar seseorang.


“Sabar.. sabar.. “ ucapku menenangkan keduanya yang kesal karena kelakuan fahri di malam hari ini sejak tadi kita berkumpul bersama di ruang makan.

__ADS_1


“Kamu jangan lembek dong jadi lelaki, hajar!. Kamu itu terlalu lembek terhadap siapapun, bagaimana jika ada orang seperti itu yang menyerang Indira.” Finna mengomel dan benar saja kini ia jadi menasehatiku yang mungkin dianggapannya terlalu bersikap lunak dalam menghadapi orang-orang seperti fahri.


Padahal aku kesini juga karena persoalan lain, namun finna terus nyerocos membicarakan tentang sikapku yang dinilainya tidak bisa melindungi dan membela Indira. Bagaiman pun yang mengerti aku hanyalah Indira, mungkin aku tidak membelanya secara terang-terangan, tetapi aku selalu ada untuknya dikondisi terburuk yang pernah ia hadapi.


“Sudahlah fin.”


“Ngomong-ngomong kenapa kamu kemari sha.. ?” Indira bertanya kedatanganku tiba-tiba ke kamarnya.


“Ah tidak ada apa-apa, sebaiknya aku kembali ke kamar”. Hendak pergi kembali ke kamarku namun finna buru-buru mencegah.


“Tunggu sha. Ada yang mau aku bicarakan denganmu”. Ucapnya singkat dan aku pun masuk ke kamar Indira duduk sofa bersama mereka berdua.


Berbeda dengan kamar tamu yang aku pakai, kamar Indira sangat luas. Ada banyak foto-foto semasa kecilnya bersama ayah ibu dan kakak-adiknya yang diletakan di meja maupun di dinding kamar. Kami pun duduk santai di sofa yang terdapat di kamar sembari menikmati secangkir teh hangat.


“Tentang hal yang tadi aku ucapkan, aku akan berinvestasi sebesar 50 miliar”. Ia mengehentikan obrolannya dan menatap tegas ke arahku dengan penuh keseriusan, apa mungkin dia hanya berbohong dan itu semua hanya demi membela Indira dari hinaan Viona dan suaminya.


30%, bagaimana? Apa kamu keberatan?”. Ia menjelaskan perihal proses investasi nantinya bersifat pribadi, karena akan sangat riskan jika berada dalam pengawasan perusahaan ayahnya, nanti akan sulit berkembang dan tentu saja akan lebih di kontrol dari perusahaan induk.


Upaya ini dilakukan oleh Finna agar kami bisa mandiri dan menjadi perusahaan besar yang tidak dinaungi perusahaan besar diatasnya. Aku memahami betul arah berpikirnya, karena bagaimana pun kita ingin bekerja dan


menghasilkan produk yang kita sukai dan bisa bermanfaat dimasyarakat luas, tidak semata-mata hanya mencari keuntungan materil dalam jumlah besar saja.


“Investasinya, nanti akan dibuat parsial berdasarkan progress dari perusahaan, kuartal pertama di tahun ini aku akan menyerahkan 20 miliar sebagai modal awal bergerak. Kalian pun masih terkendala di urusan modal awal itu juga kan? Atau ada pemodal lainnya yang sanggup?”. Tanya nya dan ini perihal penting yang harus segera aku selesaikan, pastilah setelah semua ini selesai aku harus menyiapkan administrasi pemberkasannya.

__ADS_1


“Iya betul, kita sedang terkendala untuk itu, kita hanya memiliki modal tambahan sebesar 500 juta dari uang pribadinya Stefan yang saat ini dia menduduki posisi direktur”. Menjelaskan Panjang lebar hal ini semalaman suntuk, kami kadang berdebat terkait beberapa prosedur dan pola-pola manajemen nantinya yang akan aku gunakan dalam menggerakan roda perusahaan.


Beberapa kali kami beradu mulut saling mengutarakan argument masing-masing, hampir seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Baru kali ini aku begitu bersemangat dengan sebuah pembicaraan tentang bisnis, hal menyenangkan seperti ini sepertinya ayahku pun mengalaminya dan kini ayah sudah berada dalam puncak karirnya sedangkan diriku masih belum melakukan apa-apa, kalau ia mengetahui hal ini mungkin akan kecewa dengan apa yang sedang aku lakukan, yang sangat payah dalam berbisnis dan mengembangkan usaha.


“kamu tak perlu khawatir karena jumlah sahamku yang banyak, ini hanya sebagai langkah awal untuk memajukan perusahaan, Ketika perusahaan sudah di titik stabilnya aku akan menjual 20% saham kepadamu dengan nominal yang sama.


“Baiklah fin, aku mengerti. Lalu apa yang harus aku siapkan saat ini?” aku menanyakan kelanjutan kesepakatan yang telah kami buat ini.


“Tunggu sampai kita pulang ke Jakarta, nanti sekretaris pribadiku akan mengatur semua perjanjian ini, dan aku mau memastikan semua ini untuk ditutup rapat tanpa perlu ada orang lain yang tau, hanya kamu, Rania dan Stefan yang tau, OK?”. Ia menginginkan perjanjian ini tidak sampai bocor ke tangan media, karena akan berdampak besar kesemua belah pihak.


“Aku tau koq yang sedang kalian bicarakan. Lalu aku harus bagaimana?” Indira tiba-tiba menimpali omongan kami berdua. Melihat wajah polos Indira kami jadi tertawa dengan keluguannya itu.


“Diraaaaaaaaaaa…..” Tanpa pikir panjang Finna memeluk sahabatnya itu dengan sekuat tenaga sampai ia terbatuk-batuk.


“Ayo sudah malam, calon penganten harus segera tidur, kalau tidak besok kalian bisa ijab qobul hanya dengan menggunakan piyama. Hahahha” Finna berceloteh bercanda karena jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari.


Benar saja, tanpa terasa sudah hampir jam 2 pagi, bahaya juga kalau sampai telat bangun karena bergadang seperti ini, aku pamit dan menutup pintu kamar Indira lalu berjalan ke kamarku yang hanay terpisah beberapa meter saja. namun ketika baru saja hendak memasuki kamar, pintu terbuka.


Entah apa aku lupa menutupnya saat tadi?. rasanya aku tidak seceroboh itu. begitu masuk dan bermaksud menutup pintu kamar, seseorang menyapaku dan aku mengenalinya.


"Hallo bajingan..." Belumlah aku membalas sapaannya, dua orang dari arah kanan dan kiri menghantam pelipis kepalaku dan meninju dengan tenaga penuh ke arah perutku.


Bakkkk... Bukkkk.....

__ADS_1


Kesadaranku mulai hilang, tak tau apa yang terjadi, sekujur badanku sakit sekali dan pandangan mulai terasa buram.


********************************


__ADS_2