
Tepat jam 11 siang aku sampai di Dekafe, terlihat mas Hendy si pemilik kafe masih beres-beres dengan 2 orang pekerja yang masih muda. Kemungkinan mahasiswa baru semester awal dan kerja sambilan untuk menambah uang jajan. Mungkin juga mereka berdua seperti kehidupanku dulu, tak ada sanak family di ibu kota hanya mengandalkan diri sendiri mencari side-job yang mudah agar bisa tetap membayar uang semester kampus dan sisa uang bisa di tabung untuk keperluan mendesak kemudian hari.
Sangat nostalgia sekali melihat wajah-wajah mudah ini, terlihat dari ekspresinya yang masih terlihat segar seperti tak ada beban, tetapi siapa tau, mungkin sebenarnya mereka tengah memikul beban berat yang melebihi apa yang aku alami dahulu sewaktu masih berstatus sebagai mahasiswa.
“Kamu datang terlalu cepat” Mas Hendy melirik ke arah dimana aku berdiri, hendak mencari bangku kosong namun semua masih tertelungkup di meja, belum diturunkan.
“Iya mas Hendy, maaf ya.. Habisnya, cuma di tempat sini yang murah meriah” menanggapi omongannya itu, aku tertawa melihat mas Handy seperti tersinggung dengan ucapanku yang menganggap ini adalah kafe murah.
“OK, khusus hari ini, kamu harus bayar 5 kali lipat dari harga biasanya” sambung mas Hendy, kurang ajar sekali si om-om berkumis ini, membuatku makin ingin terus meledeknya. Dua orang pegawai yang masih sibuk menyiapkan peralatan di meja pun seketika terhenti mendengar omongan si pemilik kafe.
“Waduh, bagaimana ini mas Handy, aku cuma bawa uang 20 ribu.. kasbon dulu deh mas”.
“HEH.! Kau pikir ini warung pinggir jalan yang bebas kau hutangi kapan saja” ucapnya dengan nada meninggi dan melotot ke arahku.
“Sesekali tidak apalah mas Hendy jangan pelit seperti itu..... Nanti rejekinya seret loh”. Ia makin bertambah kesal, terlihat dari raut wajahnya yang seperti menunggu untuk menerkamku yang kini duduk di bangku dengan kaki sengaja ku silangkan bergaya sok tidak peduli dengan kehadiran mas Handy.
__ADS_1
“Kau ini.. Kesini cuma mau membuatku kesal saja, sana pergi.!”. Stefan yang baru saja membuka pintu, mendengar ucapan mas Handy terkaget karena dipikirnya, ia di usir oleh si empunya tempat.
“Mas, aku baru datang loh, Kenapa langsung mengusirku?” tanyanya seolah tidak percaya karena ucapan mas Handy tadi yang seperti tertuju kepada stefan yang baru datang ke kafe.
Kesalahfahaman ini berhasil membuat kami tertawa kencang, Mas handy pun juga tak kuasa menahan tawa melihat stefan yang terbengong dengan masih memegang handle pintu yang kini terbuka. Tinggalah stefan yang makin tak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi di dalam ruangan ini. Entah apa yang ia pikirkan, tapi mimik wajahnya sangat lucu, terlihat bodoh sekali.
Mantap kawan.....
Aku masih tertawa geli melihat stefan, dengan raut yang masih terlihat bingung ia menghampiri dan duduk disebelahku.
“Ada apa ini?” tanya nya tak mempedulikanku yang masih tertawa dan tak bisa berhenti begitu saja hanya karena stefan bertanya.
Karena kasihan melihat stefan yang masih memasang wajah bodohnya, aku pun menjelaskan kalau aku dan pak Hendy sedang bercanda seperti biasa.
“Ya ampun.. Kamu datang Best Timing sekali kawan.! kamu datang di waktu mas Hendy mau mengusirku, itu sangat lucu sekali” aku tertawa mengingat kejadiannya kembali..
__ADS_1
“Tentu saja itu bercanda. Ya kan mas hendy...” tanyaku kepadanya disambut anggukan mantap mengiyakan ucapanku.
“Kalian ini memang selalu bercanda.. Aku pikir aku diusir sama mas Hendy. Bikin kaget saja.!”
“Pokonya mas Hendy harus ganti rugi, semua pesananku hari ini Gratis ya..!” ucap stefan dengan sedikit memaksa.
“OK Kali ini gratis, selesai itu kalian cuci piring dan ngepel lantai..!”
“Cih... pelit” Stefan mencibir lawakan si pemilik kafe.
Karena terlalu lama kami kenal satu-sama lain, hal seperti itu memang biasa, tanpa ada maksud jahat atau bertengkar. Lagi pula mana mungkin aku akan benar-benar kasbon, menghutang dulu hanya untuk segelas kopi, dan tak mungkin juga mas Hendy mengusir kami tanpa alasan yang jelas.
Di kafe ini lah pertemanan kami terjalin erat, bersama Stefan dan juga Rania. Aku tak akan pernah melupakan moment itu, sampai hari ini pun ketika ada waktu senggang, aku atau stefan pasti berkunjung untuk sekedar memesan secangkir kopi panas yang sebenarnya tak lain hanya itu mengetahui kabar dari si pemilik kafe yang telah kami anggap seperti kerabat sendiri. Rasanya kurang pas, kalau dalam seminggu belum mampir kesini.
Di Daerah Jakarta, kafe menjamur di tiap-tiap sudut dan menjajakan menu-menu yang istimewa dan bersaing dengan menu-menu lain di berbagai tempat. Namun disinilah kami ber-empat memupuk pertemanan. Saat sedih atau pun senang, kami akan kemari untuk setidaknya bercerita tentang keluh-kesah menjadi mahasiswa.
__ADS_1
Sampai saat ini kami telah memiliki kehidupan masing-masing, tempat inilah yang menjadi favorit untuk bertemu dengan teman-teman, tentu juga bertemu mas Hendy.
.....