
Semakin hari, keberadaan Indira begitu mempengaruhiku, hanya karena tidak ada kabar dalam sehari saja, sudah bisa membuatku cemas dan tidak bisa berpikir secara rasional. Sebenarnya mudah saja untuk memperkirakan keberadaan Indira, karena hari ini adalah hari pertemuanku dengan sosok yang nantinya akan menjadi mertuaku. Namun karena terlalu panik, dan ada sedikit pikiran buruk terhadapnya aku mejadi terlalu memikirkan berlebihan dan sampai mengesampingkan kewarasan.
Aku memang sudah tergila-gila kepada Indira. Sejak ia menyatakan persaaannya kepadaku kala itu, aku memang terkesan sedikit cuek,akan tetapi hari demi hari yang kita lalui telah mengubah sebuah ikatan yang rapuh ini menjadi sangat kuat , menjadi kuat dengan sendirinya seiring waktu berjalan, Indira pun pasti merasakannya juga.
..........
Taksi yang aku tumpangi telah sampai di hotel Carlton. Aku terkagum dengan kemegahan gedung hotel ini, aku memandangi sekitar menyaksikan berbagai macam orang yang keluar-masuk area hotel. Mereka semua adalah kaum kelas atas yang tidak diragukan lagi kemampuan finansialnya, dari penampilanpun sudah terlihat jelas, pakaian mewah yang mereka kenakan, pastinya bukan barang murah yang biasa aku pakai. Jelas sekali perbedaan kasta sosial disini, dan aku jadi sedikit ragu karenanya.
Setelah melewati prosedur pengecekan aku pun memasuki lobby hotel, disana Indira sudah menungguku, ia melambaikan tagannya dan menyunggingkan senyum manis diatara bibir merahnya itu.
“Maaf sha, aku sudah membuatmu khawatir” ucapnya meminta maaf karena tidak memberikan kabar kepadaku sejak tadi malam.
“Tidak apa, santai ko” ucapku singkat. Jujur saja aku masih sedikit kesal karenanya, dan Indira seperti mengetahui rasa kesalku itu, ia pun meraih lenganku dan meggandeng menuju lift yang akan mengantarkan kami ke ruangan ayahnya.
“Aku tidak menyangka kamu akan sekhawatir itu” ucapnya dengan terkekeh karena mungkin ini pertama kali ia mengetahui orang yang ia sayang benar-benar mengkhawatirkannya.
“hemmm”.
“Aku bahagia sekali, kamu sekhawatir itu kepadaku, aku mencintaimu sha” ucapannya itu di dalam lift yang hanya kami berdua didalamnya.
__ADS_1
Indira memang pandai sekali bertutur kata lembut dan membuatku semakin jatuh cinta. Ia tidak akan malu untuk mengungkapkan perasaanya dimanapun dan kapanpun. Sikap terbukanya itulah yang pada akhirnya menjadi pendobrak masuk mengisi hatiku yang telah lama kosong.
..............
Didalam ruangan itu, ayahnya sudah menunggu kami berdua, wajahnya sangat serius, dan cukup menakutkan. Perasaanku campur aduk khawatir kalau ayahnya tidak akan merestui kami berdua. Selama ini Indira hanya mengatakan kalau ayahnya baik dan pasti akan merestui hubungan kami, namun dihadapannya ini, aku mematung, hanya bisa menyapa saja tanpa tau harus berbicara apa dan memulai semua ini dari mana.
“Nak, Indira ini kurang bisa menilai orang, sejak kecil ia selalu di tipu oleh teman-temannya, begitupun saat bersekolah, ia sering kali pulang dan menangis karena dijaili teman sebayanya
"Mulai saat ini, tolong jaga Indira. AKu mempercayakan semuanya kepadamu dan aku merestui hubungan kalian berdua”. Kalimat-kalimat ucapan ayahnya Indira membuatku gemetar bak tersambar petir di siang hari.
“Bolehkah saya bertanya satu hal” ucapku.
“Silahkan” ia mepersilahkanku untuk bertanya.
“Maaf sebelumnya, tetapi kenapa bapak sangat begitu yakin untuk mempercayakan putri kesayangan bapak kepadaku?” aku bermaksud mendengar alasan rasionalnya tentang semua ini, karena bagaimanapun ini seperti telalu indah untuk menjadi sebuah kenyataan.
Pada dasarnya, orang tua terlebih dahulu akan mengenali siapa orang yang akan menjadi pasangan putrinya kelak. Namun bagiku, ini terlalu cepat.
“Aku mengenalimu lebih baik dari apa yang bisa Putriku ketahui, dan aku tidak ingin bertele-tele untuk hal ini, dan pastikan kamu berjanji untuk selalu melindungi dan membahagiakan putriku ini, bisakah kamu melakukannya?” entah apa maksud perkataannya itu, karena hal ini memicu Indira untuk memercikan air matanya dan kemudian memeluk erat tubuh lelaki tua disampingnya itu.
__ADS_1
“Kamu bisa lihat kan, manjanya putriku ini” ia pun tertawa mendapati putrinya menangis di pelukannya.
“Tentu, saya berjanji untuk melindungi dan menjaga Indira sebaik yang saya bisa lakukan, lain waktu saya akan berkunjung ke kediaman bapak untuk melamar putri bapak, namun saat ini beri saya waktu untuk mempersiapkannya juga”.
“Aku tunggu kalian berdua nanti di rumah ya” ucap ayahnya itu dan melepaskan pelukan Indira.
“Terima kasih pah” ucap indira yang masih meneteskan air mata, ia bahagia karena akhirnya ayahnya itu merestui hubungan kami berdua.
Setelah perbincangan singkat itu, ia pamit pulang ke Cirebon karena malam hari seperti ini bisa lebih terbebas dari macet dan lebih cepat sampai. Sebelum pergi, ia memberikanku sebuah Pena warna hitam dengan aksen wana gold di ujung atasnya, barang ini selalu tersemat di kemejanya, aku sempat memperhatikannya tadi.
“Ini untukmu, mungkin tidak berharga, tetapi pena ini yang membawaku seperti sekarang ini” ucapnya saat memberikan pena nya itu kepadaku. Terharu dengan sikap orang tua ini, terkesan galak namun hatinya begitu lembut dan sikapnya menunjukan ia adalah orang terhormat yang tidak dimiliki oleh kebanyakan para pengusaha, aku kagum dengan sosoknya itu.
Kami berdua mengantarkan beliau menuju lobby dan disana sudah ada sopir pribadi ayahnya Indira, yang sudah siap berangkat pulang. Ia berpamitan dan memeluk kami berdua seperti anaknya sendiri. Ada rasa haru menyelimuti kami, seperti sebuah perpisahan panjang yang tidak akan menemukan garis waktu untuk bertemu kembali dan menikmati moment indah lainnya kelak.
.........
.....
__ADS_1