Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Pulang


__ADS_3

“Finn.. Aku boleh tanya sesuatu ?” Ujarnya, ia menempatkan dirinya di bangku samping Finna di meja yang sudah di pesan untuk acara bersama-sama tim dari CTI.


“Boleh, ada apa ?” balik bertanya dan sedikit heran dengan perubahan sikap Indira yang berubah secara tiba-tiba.


Beberapa menit yang lalu mereka berdua tertawa asik bercanda tentang berbagai hal yang tidak penting untuk dibicarakan, semacam obrolan wanita dengan teman wanitanya. Kali  ini raut wajah serius sekaligus murung terlihat jelas di wajah Indira yang membuat Finna berpikir keras menebak alur pembicaraan kedepannya akan seperti apa, karena jarang sekali Indira mau menanyakan masalah serius.


“Sebenarnya, apa tujuanmu untuk berinvestasi dengan nominal yang sangat besar di CTI”


“Maaf sebelumnya, aku tidak bermaksud apa-apa”. Indira tak berani menatap langsung ke arah Finna, ia berkutat dengan gelas berisikan jus yang sedikit demi sedikit ia minum.


Pertanyaan itu bisa dengan mudah di jawab oleh Finna. Hanya saja, ia mengenal sahabatnya cukup lama dan mencoba mencerna sebaik mungkin pertanyaan itu agar ia bisa memberikan jawaban yang memuaskan.


“Emm... Kamu khawatir sama Sharon ?” timpalnya berbalik tanya.


“Sedikit” jawabnya cepat.


“Baiklah.. Jadi, aku sengaja berinvestasi agar bisa mempercepat pertumbuhan perusahaan. Jika pertumbuhannya cepat dan sistematis, otomatis aku pun akan dapat keuntungan besar dari 20% saham yang kini aku miliki di CTI”.


“Siapapun menginginkan keuntungan lebih, dan tentu saja aku seorang pebisnis yang membutuhkan keuntungan”.


“Lebih tepatnya, Ide Sharon, entah itu tentang Project Oxygen atau yang lainnya, semuanya memiliki value yang besar jika bisa di sokong secara baik terus-menerus”.


“Akhir-akhir ini, Sharon sangat cuek kepadaku”.  Tanpa sadar Indira mengeluh di hadapan teman baiknya itu dan berhasil membuat Finna tertawa cekikikan mendengar keluhan dan helaan nafasnya.


“Hahahaha... Dira.. Dira..”


“Kamu ini.... Ko ketawa sih Finn!”  Indira menyikut pinggang Finna yang berada disamping kanannya.

__ADS_1


“Duh.. Sakit perut aku Dir.. Kamu ini loh, kalian kan pasangan suami-istri kan?”


“Ada-ada saja kamu Dir..” ia tak  berhenti tertawa, kelakuan sahabatnya itu memang sangat menggemaskan, apalagi jika bersangkutan masalah cowok.


Sejak dari semasa Kuliah, Indira memang bukan sosok perempuan yang bisa peka dan bisa memberikan perlakuan kepada lawan jenisnya. Sikapnya yang polos seperti anak SMA membuatnya banyak mengalami putus cinta akibat kurang peka terhadap pasangan.


“Dira.. Suamimu sedang bekerja untuk membangun masa depannya bersamamu. Tentu, ada waktu dia menghabiskan banyak waktu sendiri untuk memperjuangkannya. Dia melakukan itu semua, jika bukan untuk kamu, lantas untuk siapa?”


“Jangan terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu Dira...” lanjutnya memberi penjelasan dan kini Finna memeluk sahabatnya itu agar ia lebih merasa tenang tanpa perlu mengkhawatirkan hal yang tak perlu ia pikirkan.


Restoran yang mereka tempati adalah restoran kelas atas yang memiliki ruangan khusus untuk semacam acara gathering keluarga. Tersedia 12 bangku di meja panjang mengarah  pada landscape pemandangan kota Jakarta. Dengan susana yang sedikit mendung di luar sana karena sudah masuk musim penghujan di bulan November membuatnya agak sedikit redup. Finna menginstruksikan kepada pelayan yang ada disana untuk menyalakan lampu agar lebih terang dan bisa dengan nyaman untuk berbincang-bincang saat nanti sudah berkumpul semua.


Dari  arah pintu masuk, Dahlan dan Zahra datang lebih awal di susul Xian dan Fabian. Mereka saling sapa mengakrabkan diri, karena jarang sekali bertemu Finna dan juga Indira yang menjadi istri dari Boss mereka.


...----------------...


“Guys.. Sepertinya bakal banjir” Ujar Fabian yang terlihat khawatir karena ia harus pulang ke daerah Jakarta barat.


“Ayo, kita pulang. Sudah sore juga kan” ajak Rania.


“Kamu ikut aku saja Ran,” ucapku kepada Rania yang juga khawatir karena hujan deras dan Dea sendirian di rumah.


“Ok, ayo kita pulang”.


Setelah berbincang-bincang dengan yang lain, kami pun memutuskan pulang lebih awal dan tidak ada pilihan lain. Jika nantinya banjir, maka kita semua bakal terjebak di restoran ini dan hanya bisa menunggu sampai banjir surut.


Terlihat genangan air di jalan raya sedikit tinggi dari tadi yang aku lihat. Seperempat tingginya dari ban mobil terendam. Indira mengarahkan laju kendaraan ke arah yang lain, mencari celah menuju rumah Rania masih 3 kilometer lagi untuk sampai di rumahnya.

__ADS_1


“Maaf ya dir ngerepotin” ucap Rania yang tidak enakan karena harus diantar oleh kami berdua.


“Santai aja Ran, lagi pula kan kita searah. Jadi tak masalah”. Jawabnya sambil sesekali dirinya memperhatikan kaca spion.


Jalanan sedikit lenggang dan hanya ada beberapa kendaraan saja yang mau melaju di antara genangan air yang semakin meninggi. Daerah ini memang telah menjadi langganan banjir karena di daerah pinggiran ada banyak pemukiman dan juga gedung-gedung tinggi, dan belum lagi karena drainase  dari sistem pembuangan yang kurang optimal.


Tiba di perempatan, belok kiri dan kami berhenti tak jauh dari lampu merah di daerah pusat untuk mengantarkan Rania. Setelah berpamitan, kita berdua lanjut tancap gas menuju apartemen yang masih 40 menit jarak tempuhnya.


“Kamu cape?” Tanyaku basa-basi agar ada pembicaraan diantara kami berdua.


Ia menggelengkan kepalanya saja untuk menanggapi pertanyaanku dan kembali fokus menatap jalan raya. ada rasa canggung diantara kita berdua mungkin karena hampir satu bulan ini aku jarang menyempatkan waktu untuk duduk berdua dan berbincang seperti kemarin-kemarin, berbeda dari hari biasanya ketika kami bersama, namun belakangan ini aku lebih terfokus pada pekerjaan.


Kesibukan mempersiapkan acara sangat menyita waktu. Karena banyak hal yang belum aku perbaiki dari program yang ku jalankan dan juga  beberapa persiapan, membutuhkan analisis  dan pertimbangan. Konsentrasi pecah dan tak begitu menghiraukan keberadaan Indira. Biasanya aku terbangun pagi di sampingnya, namun beberapa waktu ini aku lebih duluan ke kantor atau kadang kala menginap disana.


Bukan berarti aku tak mempedulikannya dan lebih memprioritaskan pekerjaan. Hanya saja dalam kondisi itu, aku ingin acara yang sempurna dan dapat memberikan kepuasan kepada semua orang yang hadir. Tentu dari Project Oxygen yang menjadi daya tarik utama tak boleh ada sedikitpun kecacatan ketika launching. Dan aku bersyukur semua orang membantu, begitupun Indira. Kehadirannya pun selalu menjadi penyemangat dalam hidup, memberikan kekuatan ketika ku kehilangan arah, arti kehadirannya begitu besar tak ada kalimat yang bisa menggambarkan itu semua.


Sebaiknya nanti aku lebih banyak meluangkan waktu berdua bersamanya, mungkin liburan ke luar kota bisa memperbaiki kecanggungan kita bedua sekaligus refreshing terbebas dari hiruk-pikuk alam Jakarta. Nanti saja, aku coba tanya Stefan bagusnya liburan kemana, aku juga tidak begitu tau tempat-tempat liburan yang seru.


“Terima kasih banyak sayang..” ucapku lirih kemudian mengecup pipi putihnya.


"iya..".


...****************...


Note: sabar-sabar nungguin review editor. kadang sehari bisa langsung lolos dua bab, kadang cuma satu bab. jadi begitulah.


Saya juga masih belajar-belajar cara menulis yang benar. jadi karena tulisannya banyak yang gak jelas, harap maklum dan jika ada kritikan dan saran silahkan berkomentar di kolom komentar.

__ADS_1


Trims.


__ADS_2