
"Hai anak cantik, lagi gambar apa sih anak mama?" Tanya rania kepada anak perempuannya yang sedang corat-coret di buku gambar yang baru dibeli tadi siang selagi mereka ke swalayan.
"Gambar bunga-bunga ma" terlihat bunga warna-warni di buku gambar dibuat dengan pensil yang dihiasi oleh krayon berwarna.
"Pintar sekali anak mama.. ini buat tugas besok di sekolah?" tanya Indira memastikan anaknya sedang mengerjakan PR atau sedang main-main saja dengan buku gambar yang baru dibeli.
"Iya ma, kemarin pak guru memberi tugas menggambar dirumah, bisa gambar apa saja". ucapnya menjawab pertanyaan sang ibu yang kini membantu merapikan barang-barang peralatan sekolah yang bertebaran di lantai.
"Dea mau punya taman bunga ma, ada mawar dan bunga angrek. pasti indah sekali.." keinginanya memang sudah lama, namun terlalu sulit baginya untuk merawat tanaman bunga jika terus-terusan sibuk seperti sekarang ini, dan lagi tidak ada lahan di tempat kontrakan yang saling berhimpitan satu rumah dengan rumah lainnya.
"Do'akan mama ya nak, nanti kalau kita bisa punya rumah, mama janji buatkan taman bunga buat dea". Ia memberikan harapan yang juga telah ia rencanakan sebelumnya untuk mencari perumahan murah yang bisa dicicil agar anaknya bisa tinggal di tempat yang lebih layak dan tidak perlu terus-terusan berpindah tempat seperti sekarang ini.
"Benar mah? mama janji? janji ya ma buatin dea taman bunga nanti" ia mengulurkan tangan dan menjentikan jari kelingking sebagai tanda janji diantara mereka berdua.
"Iya sayangku. Nah sekarang ayo bantu mama beresin barang-barang nya ya". setelah itu dea langsung membereskan peralatan belajarnya dan memasukannya ke rak kecil tempat buku-buku dan juga alat tulis.
......................
Cuaca pengap dan panas, bermodal kipas angin untuk sedikit mengobati rasa gerah di rumah kecil petakan yang mereka tinggali. Lamuannya terbang jauh memikirkan banyak hal, tentang anaknya, tentang masa depan merea berdua juga tentang sharon yang belum ada kabar sudah 2 hari lebih.
Semua tugas-tugas yang diberikan sharon telah ia selesaikan dengan baik. pihak hotel tempat grand opening pun sudah sepakat dengan konsep yang rania tawarkan meski harganya jadi lebih mahal sedikit, tetapi itu sepadan untuk memberikan kesan baik di para tamu undangan nantinya, selebihnya ia tinggal menunggu kabar dari sharon.
Dering telepon memecah keheningan malam, indira langsung mengangkat sambungan panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
__ADS_1
"Hallo, dengan siapa ini?" memastikan siapa penelpon yang mengganggunya di malam hari seperti ini.
”Ok baik, nanti aku atur semuanya, bagaimana keadaanya sekarang?". kabar yang sangat tidak baik ini datang dari stefan yang saat ini masih di Jepang berbulan madu dengan istrinya. Karena ada insiden di cirebon, sharon harus dilarikan ke rumah sakit dan kabar terakhir yang diterimanya, sharon sudah tersadar namun tak tau kapan kan pulih.
Disini ia tengah berpacu dengan waktu dan hal yang buruk menggangu pikirannya sekarang. tak ada orang lain lagi selain 4 orang yang menemaninya merancang seluruh event dan juga pengelolaan kantor. Disaat genting seperti ini, ia bingung harus seperti apa, namun begitu tak ingin semua orang merasakan kekhawatiran berlebih yang mengakibatkan kemunduran produktifitas di kantor.
Ia harus mencari cara sendiri agar bisa menangani semuanya. paling tidak tim utama masih utuh dan terus mendorong kesuksesan dari acara yang nanti kan diselenggarakan kurang dari 2 minggu lagi. Rania memijat-mijat kepalanya, pening akan semua hal yang terjadi dan butuh penyelesaian dengan tepat. Pasalnya sharon jadi tidak bisa membantu secara langsung dan stefan pun baru datang 2 hari lagi. Tak ada cara lain untuk menunda grand opening, namun setiap tim mesti tau kenyataanya agar bisa lebih banyak mengambil tugas yang tidaklah sedikit.
Rania membuka grup chat tim perusahaan dan memberitahukan tentang rapat esok pagi yang harus segera ditindaklanjuti hal mendesak ini, semakin banyak ide akan semakin baik. tak baik pun jika harus memikirkannya sendiri yang nantinya malah tidak bisa ditangani keseluruhan tugas yang ada.
"Mama sakit?" tanya nya melihat indira yang sedang memijit kepalanya sendiri.
"Tidak sayang. mama cuma pusing sedikit. Ayo tidur nak". ajaknya dan menuntun anaknya itu menuju kamar tidur.
......................
"Siap mbak, sepertinya hari ini bisa saya selesaikan. Besok saya ada tugas bareng Kian untuk perancangan model interface yang bugging dan harus segera diperbaiki" Pada sekala project besar Fabian memang sangat bisa diandalkan, ia faham situasi dan juga ada hal urgent yang saat ini harus di prioritaskan agar mudah menangani persoalan lain nantinya.
"Ok, lanjut zahra, terus berkontak dengan perusahaan-perusahaan IT yang kemungkinan tertarik dengan Project Oxygen. aku sudah siapkan Term of Reference dan surat undangan khusus untuk perusahaan yang nantinya bisa bekerjsama dengan kita". Zahra mengangguk mantap mengambil berkas terkait dan langsung melihat daftar perusahaan yang bisa menjalin kemitraan kedepannya.
"Xian, fokus dengan proses update dan kerusakan-kerusakan di project Oxygen. ini ada beberapa referensi terkait program-program yang harus di prioritskan. selebihnya nanti menunggu kabar dari CEO terkait hal ini". Xin Qian adalah partner sharon di beberapa project sebelumnya. Ia sangat memahami alur program dari rekannya itu lebih dari siapapun.
"Siap Mbak Ran.. Serahkan kepadaku" ucapnya penuh arti disusul seulas senyum tipis di bibirnya.
__ADS_1
"Kayla, tolong tangani beberapa disain yang harus segera diselesaikan, nanti kamu bersamaku mengerjakan ini".
"Ok guys. Time is runnin' out, semangat semuanya karena waktu kita tidak banyak". ucapnya menutup rapat disusul tiap orang berdiri meninggalkan bangku masing-masing dan mulai berjibaku dengan tugas yang sudah ditetapkan.
Waktu yang tak banyak itu harus bisa dioptimalkan agar segala sesuatu berjalan lancar tanpa kendala. Rania kembali ke ruangannya disusul Kayla, disainer muda yang memiliki bakat pada pengolahan disain animasi. beberapa grafik di program oxygen pun banyak yang di buat ulang olehnya bersama rania yang tak kalah hebat dalam seni grafis.
"Mbak ran, bagaimana keadaanya CEO sekarang, apakah bisa pulih sebelum tenggat waktu acara?" tanya nya penasaran tentang kabar sharon yang sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
"Pasti bisa, aku yakin. sebelum itu kita harus bekerja keras demi peluncuran project oxygen. Jangan sampai kita gagal launching!” ia mengutarakan keinginannya untuk menyukseskan acara yang telah dirancang sejak bulan lalu dan bukan persoalan tugas pekerjaan saja, tetapi kecintaan terhadap disain-disain yang ia buat dan juga perusahaan ini yang telah banyak berkontribusi bagi kehidupannya.
Saat ini tak ada waktu untuk mengeluh dan saling melempar tanggung jawab, dengan bekerja sama dan mengkolaborasikan berbagai ide bersama tim, semua hal akan menjadi mungkin dan bisa terwujud.
Disela pekerjaanya yang sedang ia kerjakan bersama Kayla, telepon kantor berdering dan di angkat oleh Dahlan. ia memberi tanda kepada Rania jika itu panggilan penting.
"Hallo selamat pagi" ucapnya membuka percakapan.
"Baik sha. aku sudah mengusahakan semuanya bersama tim, kamu tak perlu khawatir dan fokus untuk kesembuhanmu".
"Baiklah, kami tunggu!"
Usai menutup panggilan, Indira berteriak kepada semuanya.
"Perhatian semuanya.. CEO akan sudah sembuh, ia akan kembali lusa ini" semua perhatian tertuju pada pengumuman penting Rania dan bersorak ketika mengetahui sang CEO akan kembali membersamai mereka semua.
__ADS_1