
Membangun perusahaan tidaklah mudah, dikarenakan segala sesuatunya harus benar-benar dipertimbangkan dengan matang, terlebih jika nantinya akan melibatkan tim besar yang ikut bersama membesarkan perusahaan.
Perihal ini memang aku termasuk awam dan terbilang cukup nekat. Hanya bermodalkan pengetahuan dalam buku-buku manajemen bisnis, aku menjadi terlalu percaya diri untuk bisa medirikan perusahaan yang nantinya akan melibatkan beberapa temanku.
Ucapan Finna memang ada benarnya, jika apa yang tengah aku bangun ini tidaklah realistis dan tidak ada hal untuk dijadikan ladang keuntungan yang akan menunjang kehidupan perusahaan. Aku terlalu terpaku pada sebuah inovasi tanpa memikirkan feedback yang akan didapatkan dari membangun sesuatu, apakah akan untung atau tidak, aku kurang berpikir lebih dalam lagi, dan terlalu terpaku pada hal yang aku sukai saja. Tidak lebih.
Entahlah, saat ini aku benar-benar kalut dan ingin lebih memikirkannya kembali lebih dalam.
“Kamu sudah tidur?” pesan masuk di ponsel ku dari Indira.
“Kamu baik-baik saja sha?”
“Maafkan sikap Finna ya, dia tidak bermaksud untuk menyinggung dan membuatmu marah”
Aku hanya menatap kalimat-kalimat dari pesan Indira tidak untuk membalas, entah apa juga yang akan aku bicarakan.
Ada baiknya untuk istirahat lebih awal, hari ini cukup melelahkan harus wara-wiri kesana-kemari mengerjakan berbagai macam hal.
__ADS_1
Rasanya ingin terlelap dengan nyenyak malam ini, meskipun masih terlalu awal untuk tidur, tetapi lebih baik sebisa mungkin untuk beristirahat. Hari ini aku terlalu banyak mengeluarkan banyak energi. Aku lelah!.
......................
Finna terduduk di ruang tamu apartemen milik Indira, ia menatap ke langit-langit dengan tatapan kosong dan tak mempedulikan sekelilingnya.
“Kamu masih memikirkan Andre?” Tanya Indira yang kini duduk di sebelah sahabatnya itu.
“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, lebih baik kamu move on dan cari pengganti yang lebih baik, aku yakin kamu akan menemukan lelaki yang lebih baik dari Andre, Percayalah”. Ia menggeser posisi duduk untuk merangkul tubuh sahabatnya itu untk sekedar menenangkan.
Finna yang tengah melamun pun tersadar oleh sikap Indira yang lembut seperti dahulu disaat mereka masih menjadi mahasiswa. Baginya sekarang Indira adalah bukan hanya sahabat tetapi orang yang amat berharga yang akan selalu ia temani untuk berbagi suka dan duka. Finna telah tersadar akan kesalahan-kesalahannya sendiri yang mengakibatkan keretakan hubungan diantara keduanya.
“Aku sudah tidak terlalu memikirkan itu, aku sedang memikirkan hal lain”. Ia melepaskan pelukan Indira dan mulai bercerita kejadian tadi di kafe ketika dirinya mengkritik sharon.
“Ucapakanku tadi sangat keterlaluan, aku selalu seperti itu jika menyangkut persoalan pekerjaan”.
“Aku tidak bermaksud untuk menyinggungnya, tidak Indira. Aku hanya ingin dia lebih teliti lagi dalam membangun perusahaan yang nantinya akan ia kembangkan. Aku sudah banyak melihat orang-orang yang ambisius dalam mengejar karirnya untuk membangun perusahaan namun berujung kegagalan karena persoalan yang sangat sederhana. Harus realistis dalam membangun usaha, Ia harus memikirkan bagaimana mendapatkan keuntungan dari apa yang ia kerjakan, bukan hanya untuk mengejar nafsunya saja untuk mewujudkan apa yang ia inginkan”.
__ADS_1
Indira memperhatikan dengan seksama penjelasan Finna, dan terkagum dengan sosok wanita ini, pandangannya jauh kedepan dan tak ada maksud untuk menjatuhkan Sharon, hanya saja, Finna orangnya kaku dan tidak berbelas kasih jika memberikan kritik.
“Aku faham, dan kamu tidak perlu khawatir, Sharon tidak akan membencimu karena hal ini, aku jamin” timpal Indira meyakinkannya agar sahabatnya ini tidak perlu khawatir.
“Baiklah, mungkin nanti aku akan meminta maaf secara langsung ke kekasihmu itu” ia menyandarkan dirinya ke bahu Indira.
“Aku tahu” Indira kembali memeluk tubuh sahabatnya itu.
Diluar dari urusan pekerjaan, Finna adalah wanita yang sangat rapuh, sulit bersosialisasi karena sikapnya yang terlihat angkuh itu. Hanya Indira yang benar-benar memahami jalan pikirannya dan itu membuatnya berpikir untuk selalu menjaga sahabatnya itu. Tak ingin lagi ada kehancuran diantara hubungannya, sudah cukup baginya harus bermusuhan karena persoalan lalu tentang Andre.
"Mungkin nanti aku bisa membantunya, apa kamu keberatan?" tanya Finna.
"Tentu saja, itu ide bagus!". Timpal Indira.
"Aku masih takut kalau kamu..." belum selesai finna berbicara langsung dibungkam mulutnya oleh tangan indira.
"Aku tau yang akan kamu ucapkan, tenang saja, aku mempercayai kalian". Disusul tawa manis tersungging di bibirnya yang tipis.
__ADS_1
..........