
"Oiii.. Malah asik sama hp" ucap stefan memanggilku yang sedang membalas beberapa pesan dari indira.
"Hehe, sorry sorry" jawabku.
"Chating sama pacar ya?" tanya nya penasaran. Aku hanya bisa mengangguk tanpa bersuara untuk menjawab pertanyaan nya itu.
Stefan selalu ribut untuk masalah yang menyangkut urusan wanita. Dan lagi, semasa kuliah aku hanya pernah berpacaran sekali dan hanya berlangsung beberapa bulan. Dan mendapati diriku yang kini memiliki tambatan hati, membuatnya bersemangat untuk mengetahui pacarku.
"Wah akhirnya kamu tidak menjomblo, kenalin dong sha.." pintanya dengan ekspresi menggodaku untuk mengenalkan indira.
"hemmm"
Aku pun menceritakan semuanya tentang hubunganku dengan indira. matanya terlihat serius menyimak segala penuturanku tentang indira, tak lupa juga tentang mantan pacarnya yang menghancurkan hidup indira saat selingkuh dan sahabatnya indira.
Semua aku ceritakan tanpa ada yang aku sembunyikan. Stefan pun terhenyak di kursi kayu kafe, memejamkan matanya kemudian memijat-mijat dengan jarinya sendiri. Entah apa yang ia lakukan, seperti menjadi stress setelah mendengarkan ceritaku.
"Dari dulu kamu tidak berubah ya" ujarnya dengan mata yang masih terpejam.
"Tetapi aku bersyukur, kamu sudah menemukan wanita yang menurutmu tepat, aku pasti mendukung hubungan kalian berdua. Tandasnya, dan mengarahkan kepalan tangannya ke arahku, dan ku sambut dengan tinjuku yang beradu dengan tinjunya.
" Ahh benar juga, aku melupakan sesuatu" ucapnya membuatku keheranan dengan temanku ini.
Stefan mengangkat koper ke meja bundar yang sedang kami tempati, dan merogoh suatu lembaran warna merah jambu, dengan aksen sulur berwana emas. Tidak salah lagi itu adalah undangan pernikahan, tetapi siapa yang menikah? Batinku bertanya-tanya apa maksud dari semua itu.
Setelah mengatupkan koper kecil itu dan meletakan kembali ke bangku kosong di dekatnya, ia pun menyerahkan lembar undangan itu ke hadapanku dengan mimik berseri-seri.
__ADS_1
"Stefan Alfianto dan Medina Pratiwi". Aku membaca nama di dalam undangan pernikahan secara perlahan.
"Gilaaa, serius kamu mau menikah?" ujarku bertanya dengan nada yang tidak percaya, aku ragu cowok playboy satu ini bisa memutuskan untuk menikah.
"Hei.. Tidak sopan ya, jelas saja aku serius mau menikah, asal kamu tau, aku tidak akan terus-terusan menjadi lelaki brengsek dan bermain-main dengan wanita".
Aku menepuk keningku sendiri, antara terharu bahagia juga sekelebat rasa tidak percaya dengan semua perkataan stefan.
"aku tidak seperti yang dulu, percayalah aku sudah tobat, sudah bukan masanya lagi aku bermain-main perempuan" ucapnya mencoba meyakinkanku.
Dia pun bercerita tentang dirinya dan perempuan yang hendak ia nikahi.
...
Bermula dari sebuah kejadian yang tak terduga saat stefan sedang memarkirkan mobilnya, dan mendapati seorang wanita yang berjalan sempoyongan di lahan parkir kantor tempat ia bekerja.
Setelah ia memarkirkan mobilnya, ia berjalan cepat ke arah perempuan itu hendak membantunya untuk membawa ke klinik terdekat.
"Ada apa denganmu? Apa yang terjadi? " pertanyaan itu tidak dihiraukan oleh si perempuan, dan berjalan membelakangi stefan.
"Hey.. Apa yang kamu lakukan, ayo kita segera ke klinik" pinta stefan meyakinkannya untuk segera mengobati lukanya itu.
"Aku baik-baik saja tuan stefan" tak lama ia tetap berjalan, tubuhnya ambruk terjatuh kemudian pingsan. Dengan sigan stefan mengangkat tubuh itu masuk ke dalam mobilnya dan bergegas menuju klinik yang tak jauh dari kantor hanya 10 menit perjalanan.
Perasaannya cemas, ia mondar-mandir di ruang tunggu klinik beberapa saat sampai dokter yang merawat perempuan itu keluar dari ruang rawat, dengan tergesa-gesa ia menghampiri sang dokter dan bertanya tentang kondisi pasien yang ia bawa.
__ADS_1
Setelah berbincang cukup lama ia pergi menuju ruang rawat, dan perempuan itu terbaring, beberapa luka yang sempat ia lihat, kini sudah di perban.
"apa yang terjadi sebenarnya" ucapnya melihat tubuh perempuan di depannya itu ia tidak tega. Mungkin terjatuh dari tangga, atau terserempet mobil.
Beberapa waktu berselang, dia terbangun dan mencoba untuk beranjak dari ranjang pasien yang ia tempati, namun dengan cepat di cegah oleh stefan.
"Istirahatlah dulu.." ucap stefan dengan lembut seraya menatap wajahnya.
"T-Tuan Stefan kenapa anda ada disini? "
"Saya dimana?" ucapnya bertanya dan merasa aneh dengan kondisinya sekarang yang terbaring dengan selang infus yang masih menempel.
"Kamu tidak ingat? Tadi aku membawamu ke Klinik setelah kamu pingsan" jawab stefan. Ia duduk di sampingnya.
"Namamu siapa?" tanya stefan ke perempuan itu.
"Saya Medina, Saya pelamar pekerjaan di tempat tuan stefan.
Stefan pun teringat di pagi tadi ia menangani beberapa pelamar, calon pekerja baru di PT. Cahaya Manufaktur Indonesia. Dan ia bersama HRD yang menangani proses perekrutan karyawan baru.
Pantas jika medina tau namanya, pasti ia mengenal setelah perkenalan tadi pagi.
"ngomong-ngomong, kenapa kamu sampai terluka seperti itu?".
Pertanyaanya membuat medina tertunduk beberapa menit, kemudian menceritakan kronologi kejadian yang menimpanya.
__ADS_1
Setelah usai wawancara daei proses akhir recruitment pekerja, ia hendak ke basement tempat ia memarkirkan motor metic miliknya, namun, disaat itu ada mobil sedan yang melaju menabrak tubuhnya secara tidak sengaja. walaupun tidak terlalu kencang, hanya saja badan sedikit terlempar san sikut tangannya tergores saat terbentur lantai di tempat parkir.
Ia pun mendapat cacian dari si pemilik mobil karena tidak hati-hati dan memperhatikan mobil yg sedang melaju.