Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Peresmian


__ADS_3

Seluruh persiapan sudah dilakukan, tim yang tergabung sudah pada posisi masing-masing, baik mereka yang menyambut dan mengarahkan tamu undangan untuk memasuki ruangan acara atau tim lain yang banyak bekerja di belakang panggung.


"Tenang Sha, semuanya sudah aman terkendali" ucap Stefan yang berdiri di samping kanan di ruang tunggu acara.


"Baguslah" jawabku sekenanya saja tanpa mempedulikan sosok perawakan Stefan yang lebih tinggi daripada aku.


Siapapun akan merasa gugup dan takut ketika memulai sesuatu, mungkinkah berhasil ataukah akan gagal, hal itu kian membayangi pikiran dan semakin takut dibuatnya. Kini hanya bisa terus berdoa di dalam hati agar semua aman lancar tanpa da masalah di hari peresmian perusahaanku ini.


Stefan juga Rania memandangiku, tersenyum lembut menyiratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan kita bertiga bisa melalui malam ini dengan penuh kebanggaan yang akan kami kenang, bahwa dihari ini kita telah yakin untuk menerjang terpaan badai dan banyaknya rintangan yang akan kami hadapi di esok hari sebagai kaula muda yang penuh cita dan harapan yang kami tanam sedalam mungkin menjadi idealisme yang akan tetap kami pegang teguh.


“Sudah siap?” Rania bertanya dan menghampiri serta membenarkan dasi yang ku kenakan.


“Aku gugup sekali Ran..” Jawabku jujur, karena ini kali pertama aku muncul ke permukaan menjadi seorang CEO dari sebuah perusahaan.


“Tentu, setidaknya kamu harus bisa mengatasi rasa gugup mu.. bawa santai saja” Ujar Stefan, ia menepuk pundak ku untuk menyemangati.


"Baiklah.. kita berdua akan kembali" Rania dan Stefan pun berjalan kembali menuju jejeran bangku yang sudah penuh di isi oleh para tamu undangan.


Aku melirik dari celah tirai yang menutupi bagian belakang panggung, setidaknya ruangan penuh sesak oleh para orang-orang hebat, pebisnis ulung juga para pejabat yang sengaja kami undang pada acara peresmian. Disana Stefan bersama Medina juga Rania, dan semua tim kompak berada di jajaran utama. Semakin aku melirik tiap sudut, semakin membuatku menjadi gugup tak menentu.


Ya tuhan.. harusnya aku tak perlu muncul seperti ini.


Pikiranku buyar seketika, tangan lembut melingkari pinggangku memeluk erat, kenal betul aroma tubuh perempuan satu ini, yang tak lain adalah istriku tercinta.


"Nervous?" bisiknya pelan.


"Emh.. iya" Perlahan aku membalik arah menatap kelembutan sorot matanya.

__ADS_1


"Akhirnya kamu bisa mewujudkan impianmu ya sayang.." ucapannya memberiku kekuatan untuk menaklukan hari terpenting dalam hidupku, dan tak boleh ada satu kesalahan pun terjadi pada hari ini, aku tak ingin membuat semua orang kecewa, baik indira maupun tim dan yang lainnya.


Berkat doa dan kegigihannya mendukung semua sikap egoisku, tiba harinya aku dapat berdiri menjadi sosok yang bisa membanggakan bagi satu-satunya perempuan yang paling aku cintai di dunia ini. Ada haru yang hampir membuatku menangis tak kuasa menahan gejolak rasa yang sangat campur aduk di hati dan pikiran. Beberapa saat aku coba tuk memalingkan muka dari Indira, namun tak bisa.


“Semangat ya sayang..” ucapnya berbisik lirih, dan mengecup lembut pipiku.


Berapa menit lagi aku harus segera naik ke panggung untuk memberikan beberapa patah kata sambutan dan juga meresmikan perusahaan ini,aku coba rileks dengan memejamkan mata untuk beberapa saat sebelum namaku di panggil oleh si pembawa acara, dan saat ini pejabat pemerintahan pusat sedang menyelesaikan pidatonya tentang pentingnya pemerintah berkolaborasi dengan para pengusaha untuk memajukan teknologi di pusat kota.


Meski ucapannya terdengar sangat dialektis ala-ala politikus kawakan, namun aku coba memahami poin-poin penting yang nantinya aku bisa bersanding dan memberikan berbagai macam program yang bermanfaat dan mengedukasi masyarakat luas di negara ini, karena itu sudah menjadi bagian dari idealisme kita semua yang tergabung di tim utama perusahaan.


Suara musik instrumen pengiring acara memecah lamunan, menandakan pidato dari Petinggi kota Jakarta sudah selesai. Dari mereka semua yang hadir hampir separuhnya adalah kolega bisnis dari Finna, setelah berinvestasi besar pada perusahaan ini, Finna benar-benar memperhatikan hal-hal penting untuk networking ke pengusaha-pengusaha lain agar perusahaan ku bisa bergabung dalam ekosistem bisnis yang lebih luas.


Masalah kemarin dengan Finna pun sudah selesai, karena sejak awal aku tidak terlalu mengharapkan untuk menampilkan produk kami di acara pameran, untung saja ini tidak memanjang ke arah persoalan lain. Aku benar-benar menghargai bantuannya sebagaimana seorang teman dan kini Finna pun ikut andil besar dalam perkembangan perusahaanku.


...----------------...


“Untuk acara peresmian, telah datang dihadapan kita semua yaitu CEO dari PT. Cakrawala Teknologi Indonesia, Kepada Bapak Sharon dan Bapak Walikota kami persilahkan untuk melakukan peresmian secara simbolis” ucap sang MC sembari menoleh ke arah kami berdua yang sudah siaga di depan tali pita yang membentang sekitar 2 meter untuk kami gunting bersama menandakan simbolis peresmian perusahaan.


“Bapak-bapak sudah hafal teks pembukanya?” Pembawa acara menghampiri kami berdua dan berbisik-bisik untuk memastikan kami berdua tidak lupa dengan teks peresmian yang sudah disiapkan oleh tim.


“sudah” ucap kami berdua serempak dengan nada pelan agar tak terdengar yang lain.


Dengan gunting yang cukup besar, kami berdua memegang bersamaan untuk memotong tali pita yang membentang dihadapan dan bersama-sama mengucapkan teks peresmian.


“Atas berkat rahmat tuhan yang maha kuasa, dengan ini, PT.Cakrawala Teknologi Indonesia Resmi dibuka”


Riuh suara menggelegar di seisi ruangan, tepuk tangan para tamu dan juga musik kencang yang dibawakan langsung oleh band pengiring acara. Sedikit ada rasa haru untuk berada di depan podium ditengah orang-orang hebat yang tidak aku kenali semuanya, namun pandanganku tertuju pada teman-teman di baris pertama, merekalah yang tau perjuanganku selama ini dalam membangun perusahaan. Disana ada pula Indira yang sepertinya tetes air mata membasahi wajahnya karena sebuah kebahagiaan melihatku bisa mewujudkan mimpi untuk menjadi pimpinan perusahaan IT.

__ADS_1


Sorot mata tajam yang ku kenal sedari kecil yakni ayahku sendiri, ia ada di baris tamu kehormatan VVIP bersama kedua adik ku disana, raut wajahnya yang biasanya serius, kini lebih terlihat seperti teduh dan ada seulas senyum tersirat di wajah keriputnya. Aku tak menyesal akan keputusanku meninggalkan keluarga. Tanpa itu semua, tak mungkin aku bisa memahami betapa sulitnya membangun perusahaan dan juga bisa mengenal banyak teman yang selalu setia menemani sampai pada titik ini. Hak waris atau apalah itu, aku benar-benar tak peduli, saat ini aku hanya ingin melakukan apa yang seharusnya aku lakukan bukan melakukan apa yang orang lain inginkan.


Setelah acara seremonial peresmian, aku mengisi pidato sambutan dan mengenalkan lebih jauh lagi tentang visi-misi dari perusahaan ini, tak membutuhkan waktu lama dan juga aku lebih ingin melanjutkan ke sesi acara opening server Oxygen yang dimana acara itu akan lebih seru karena dihadiri oleh artis-artis dan para gamers yang sudah tak sabar menunggu kami launching, aku sendiri pun tak sabar dengan untuk melihat final release nya yang sudah kami perbaiki berkat bantuan dari para beta tester yang jumlahnya 1000 player, dari report mereka kami bisa lebih mengenal kerusakan atau kesalahan pada sistem dan lebih mudah untuk diperbaiki.


Acara peresmian selesai di jam 12:00 dan lanjut pada sore hari jam 14:00 untuk acara grand launching Project Oxygen, pada saat ini, ruangan ballroom yang lebih luas dari tempat acara peresmian sudah di setting sedemikian rupa untuk para gamers bisa mengakses project oxygen secara langsung lewat device yang mereka bawa ke acara, disana kami bagi-bagi DVD installer sebagai merchandise.


Acara seperti ini lebih meriah karena tamu undangan lebih banyak dihadiri oleh anak muda kaum milenial yang penasaran dengan hal baru yang belum mereka ketahui. Diantaranya juga ada para geek yang sangat fanatik dengan video games atau hal-hal yang berbau teknologi, jadi acara lebih simple diadakan dengan menyediakan layanan internet cepat dan juga bangku panjang yang di desain ruangan ala-ala cafe gaming.


Meski masih jam 12:20 WIB, sudah banyak yang datang dan menunggu diluar pelataran hotel, aku menyaksikan bersama tim, kedatangan mereka lebih awal dari waktu opening yang sudah di jadwalkan.


“Sepertinya mereka sudah tidak sabar sha..” ujar Stefan.


“Lebih baik kita langsung giring saja ke ballroom, bagaimana?” Rania memberikan saran agar para tamu langsung saja diarahkan ke ruangan acara.


“Lebih efektif begitu, daripada nanti susah dan berkerumun pas masuk, lebih baik arahkan dari sekarang saja” Zahra pun ikut menimpali saran Rania.


“Ok, pastikan mereka semua langsung masuk saja” jawabku dan mereka dengan sigap langsung menangani masalah itu dengan cepat menggiring para pengunjung untuk langsung datang ke ruangan yang sudah di sediakan.


“Ran, tangani dulu. Aku ada pertemuan dengan  jejaring bisnis dari Finna”. Aku menyerahkan tanggung jawab sementara ke Rania, karena beberapa hal penting tentang perbincangan bisnis harus aku tangani berdua dengan Stefan.


“Ayo bro.. Mereka sudah menunggu” ajak Stefan.


...****************...


Note : Untuk para pembaca, saya meminta maaf karena jarang update dikarenakan banyaknya urusan penting yang harus saya lakukan dan sangat menyesal novel ini pun jadi terbengkalai untuk dilanjutkan. Tetapi, untuk beberapa minggu kedepan, saya akan coba untuk update rutin  3 Bab dalam sehari.


Trims..

__ADS_1


__ADS_2