Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Mentari Pagi Hari


__ADS_3

Mentari pagi menyeruak menyinari kamar dari balik tirai jendela . hangat dan menyilaukan mata, rasanya tak ingin beranjak dari tempat tidur di pagi hari ini karena beberapa hal, dan semalam aku bergadang tak bisa tidur, memikirkan banyak hal tentang apa yang akan terjadi hari ini. Biarlah, aku terlalu ngantuk hanya karena sinar matahari. Tolong beri sedikit waktu untuk melanjutkan tidur panjangku di pagi hari ini.


Tok tok..


Pintu kamar diketuk oleh seseorang, meski pelan suaranya sangat mengganggu, aku tak mau mempedulikannya. Namun seseorang membuka pintu dan berjalan ke arahku, aku menyadari langkahnya yang terkesan hati-hati. Mungkin itu Indira yang mau membangunkanku.


“Shaaaaa… ayo bangun.!!”.


“Bangunnnnn.. Ayo sarapan!” ia terus-terusan berteriak nyaring sekali, mungkin akan sampai terdengar ke ruangan lain.


“5 Menit lagi ya..” aku semakin menarik selimut sampai menutupi kepalaku.


“Dasar Pemalas!” suara tak asing ini pastilah Finna, dan mereka berdua seenaknya saja masuk ke kamar lelaki.


“hemmmm..”


“Bangun.. Bangun..!!” ia semakin berani berteriak dan tangannya sangat jahil menggelitiki pinggangku, tak tahan karena geli, aku menarik tanganya dan tubuhnya tersungkur ke pelukanku.


“HEH. Masih pagi sudah mau mesra-mesraan” Finna makin sewot karena kelakuanku menarik tubuh Indira pas kepelukanku.


“Hehehe.. maaf maaf..” ucapku.


“Sebentar, aku mau cuci muka dulu”.


Terpaksa aku bangkit dari Kasur empuk yang menemaniku malam ini menuju kamar mandi. Setelah mencuci muka dan sikat gigi, aku berjalan ke arah mereka berdua yang berdiri mematung tepat depan pintu kamar.


“Ayo Sarapan..” ajaku kepada mereka.


“Dasar..!” Finna memelototiku.


“Sudah sudah.. ayo ke ruang makan.” Rania menggandeng tanganku dan juga tangan finna menuju ruang makan, disana sudah ada Ayahnya Indira dan Bu yanti yang sedang menyajikan menu sarapan diatas meja.

__ADS_1


Menu sarapan pagi ini, bubur ayam buatan Bu yanti, rasanya enak dengan kuah kaldu ayam berwarna kuning. Kami bersama-sama makan dan menikmati hidangan.


“Bagaimana tidurnya semalam ?” ia menatapku dan finna yang menjadi tamu di rumah ini, sekedar basa-basi dari tuan rumah.


“Nyenyak sekali pak” Jawabku sedikit berbohong, padahal aku semalam bergadang sampai jam 3 baru bisa tertidur pulas, dan saat ini aku masih sangat mengantuk.


“Indira terus ngajak ngobrol, jadi kami tidur jam 2 pak” Finna melirik Indira yang tengah asik menyantap bubur ayam di mangkuknya.


“EH.. koq aku sih yang disalahin, kamu sendiri malah terus curhat kan…” Indira tak mau kalah karena finna sengaja membawa namanya, sekedar meledek.


“hahaha.. kalian ini. Papah senang kamu punya teman yang baik, terima kasih nak finna sudah mau menemani anakku yang manja ini”. Ucapnya kepada finna dan tersenyum lembut melihat anaknya yang melanjutkan makan, pura-pura tidak mendengar kalimat ayahnya.


Susana meriah di ruang makan adalah hal yang tidak pernah aku rasakan selama ini, setelah aku pergi dari rumah, hal seperti itu seperti hilang dari kehidupanku dan lebih banyak menyantap makanan sendiri di warung langganan dekat kontrakan.


Setelah selesai makan, ayah Indira berpesan kepadaku untuk menyerahkan dokumen identitas ke sekretarisnya untuk mengurus segala kebutuhan administrasi pernikahan, jadi nanti aku dan Indira harus ke kantor urusan agama bersama sekretaris ayahnya untuk mendaftar pernikahan. Kemungkinan besar, kita akan menikah di hari esok, dan aku tidak perlu kahawatir akan semuanya karena setelah proses pendaftaran, nantinya sekretaris ayahnya Indira yang akan menyiapkan semua kebutuhan pernikahan kami.


Meski begitu aku harus mengabari rania terkait ini, karena nantinya aku tidak bisa ke kantor lagi. Agar semuanya bisa tetap terpantau, aku pun mesti memastikan persiapan launching aplikasi buatanku yang menjadi produk utama perusahaan. Dengan begitu rania pun tidak akan kebingungan dalam menangani persiapan-persiapan selama aku tidak masuk kantor.


“Sha, ayo kita siap-siap. Pak yanto sudah nunggu di depan”. Pak yanto yang di maksud Indira adalah sekretaris pribadi dari ayahnya, ia sedang mempersiapkan kendaraan mobil bersama supir bersiap menuju kantor urusan agama seperti yang ayahnya Indira katakana tadi.


Aku bergegas ke kamar dan mandi secepat kilat, dan berganti pakaian rapih agar lebih formal karena mau datang ke instansi pemerintahan di kota ini. Setelah selesai aku dan Indira pergi bersama pak yanto ke kantor KUA dan meninggalkan Finna sendirian di rumah.


......................


Tak sampai 1 jam proses pemberkasan pernikahan, kami langsung pulang dan menyerahkan urusan disana ke pak yanto agar lebih cepat selesai dan besok bisa melangsungkan pernikahan sederhana kami di rumah ini.


Meskipun hanya pernikahan sederhana, namun pagi ini, banyak sekali orang-orang yang hendak menyiapkan acara penikahan. Letaknya nanti ijab qobul akan berlangsung di taman rumah yang cukup besar bisa menampung sekitar 50 orang. Di taman sudah tersedia kursi-kursi yang dibalut kain putih bersih dan dibuatkan juga panggung mini untuk tempat pernikahanku dan Indira.


“Papah sepertinya mau membuat acara resepsi kecil-kecilan sha.. maaf ya jadi seperti ini”.


“Aku pikir hanya akan ijab-qobul biasa tanpa perlu ada acara seperti ini”. Meski begitu ada sedikit rasa senang terlihat dari wajah Indira, tak apa juga jika semuanya bisa terlaksana dengan baik, aku tidak akan protes atau apapun, asalkan semuanya bisa menikmati moment kami berdua.

__ADS_1


“Kita ikuti apa mau ayahmu saja ya sayang..” ucapku menenangkan Indira.


“Kalian sudah datang?” Finna berjalan ke arah kami dari belakang yang juga mau menyaksikan tempat pernikahan nantinya.


“iya di KUA cuma sebentar. sisanya sudah sama pak yanto, jadi bisa kami langsung pulang”. Jawab Indira.


“Tadi aku sudah menyiapkan kado buat kalian lohhh” ucap finna. Sepertinya selama kami pergi ia sudah menyiapkan sesuatu sebagai kado pernikahan kami.


“Apa fin..” tanyaku sedikit penasaran dengan kado pemberiannya itu.


“Nanti!. Nikahnya saja belum. Sabar yaa..!” ia berkacak pinggang memelototiku.


“hahahahhah, sudah.. kita ngobrol di atas saja yuk” Indira mengajak kami ke balkon rumahnya. Disana lebih tenang jauh dari kebisingan dari orang-orang yang sedang mempersiapkan acara untuk esok hari.


Rimbun pepohonan menutupi sinar matahari di balkon, suasana tenang seperti ini memang sangat cocok untuk menikmati hidangan teh dan kue kue manis sambal ngobrol ngalor-ngidul bersama. Rumah yang sangat asri dan tenang. Baru satu hari pun aku sudah betah tinggal di rumah ini.


“Sha, kamu sudah kasih kabar ke teman-temanmu, mungkin ke Stefan?” tanya Indira, ia menyadarkanku tentang hal penting ini diwaktu tepat, aku harus menelpon Stefan meskipun ia sedang di Jepang rasanya tak adil kalau tidak memberitahukan berita sepenting ini.


“Hallo, bagimana di jepang?” aku menelpon Stefan yang sedang berbulan madu di jepang menikmati hari-hari spesialnya berdua dengan sang istri.


“Bro.. besok aku mau menikah dengan Indira”. Ucapku mantap tanpa keraguan dan disusul pekikan yang menyakitkan telinga karena keterkejutan Stefan mendengar berita pernikahanku.


Aku pun menjelaskan semuanya secara detail kenapa bisa dadakan seperti ini, semua ini karena ayahnya Indira dan aku mengikuti kemauan orang tuanya dan menurutku ada benarnya juga untuk menikah secepatnya, toh jika membutuhkan resepsi besar bisa nanti saja, yang terpenting saat ini kami sudah sah sebagai sepasang suami-istri yang saling mencintai.


Berkali-kali Stefan memaki di telpon karena pemberitaanku ini, aku khawatir karena bisa jadi dia nekat langsung pulang ke Indonesia karena hal ini.


“Tak perlu, kamu doakan saja. Kalian baik-baik di Jepang, salam buat Medina”. Sahabatku satu ini memang sangat ekspresif sekali dalam mengutarakan apa yang ia pikirkan, berkali-kali telingaku sakit karena suaranya yang memekik keras.


Sangat bersyukur memiliki teman-teman yang begitu baik dan bisa menjadi sandaran tatkala aku membutuhkan mereka. Walaupun di pernikahanku ini, tak satupun teman yang bisa ku undang karena acara yang terlalu mepet sekali.


Biarlah, semoga esok berjalan lancar dan sah sebagai lelaki satu-satunya yang akan mendampingi Indira sampai kami tua nanti.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2