
Meski harus menanggung malu karena kecurangan para panitia, kini Finna mencoba untuk menerima keadaan dan berpura-pura tak mempermasalahkannya. Jika pun harus mempersoalkan kejadian tempo kemarin, posisinya akan sulit dan kekuatan yang ia miliki tak sebanding jika harus melawan para petinggi lainnya yang jelas ada diatas derajat dirinya.
Pusing karena banyak hal yang harus diselesaikan, finna memijat-mijat kepalanya mungkin sedikit lelah akibat terlalu banyak bekerja dan semua urusan jadi kurang bisa fokus ia selesaikan seperti biasa. Mentalitas pengusaha memang harus tahan banting dan bisa memahami sesuatu dengan cepat dan tak bertindak gegabah, hal itu yang selalu ayahnya sampaikan kepada finna sebagai anak yang mewarisi bisnis keluarga.
“Hai, kamu baik-baik saja ?” Alfred mendekatinya untuk mengajak makan siang, dan ada hal lain yang ingin iya sampaikan.
Segera setelah mereka berdua berbincang santai, lanjut menuju sebuah family restaurant yang jaraknya setengah jam perjalanan, sengaja mencari tempat yang agak jauh agar bisa santai tanpa terganggu oleh orang lain yang mungkin mengenal finna.
“Fredy.. Kenapa kamu diam saja, kamu pasti tau ulah siapa ini semua?” ia geram terhadap beberapa petinggi dan pelaksana acara Invovation-Tech Festival dan langsung menyemprot alfred yang juga bagian dari tim management di acara besar tahunan yang baru saja selesai diselenggarakan.
“Entahlah.. Aku tidak ingin cari masalah di negaramu, ini bisa berdampak buruk pada perusahaanku nantinya”. Sanggahnya.
Ia membuka menu, dan mengintruksikan pelayan untuk mencatat semua pesanan mereka berdua di jam makan siang yang mulai ramai didatangi oleh orang lain yang juga hendak beristirahat setelah penat bekerja.
“Ya tentu aku faham itu. Tapi kamu punya banyak kuasa dan koneksimu bagus di lingkaran pusat”.
“Oh madam... Tidak semudah yang kamu pikirkan. Jika ingin melawan kita harus tau apa yang sebenarnya kita sedang hadapi”.
“Secara pribadi aku minta maaf karena kawanmu mendapatkan kesulitan karena proses management yang buruk, tolong jangan berperasangka buruk kepadaku”.
“OK.. Baiklah “.
Finna menyerah endesak alfred untuk mengatakan keterlibatannya dan orang-orang lain pada banyak kasus yang terjadi di acara kemarin, dan ini bukan hanya tentang sharon, tetapi banyak keluhan lainnya yang juga hampir serupa. Pikirnya, alfred akan mengatakan semua hal-hal lain yang tidak ia ketahui dan bisa menjadi bahan bagi finna untuk berkelit jika suatu waktu ada orang lain yang menyudutkannya di banyak persoalan selama penyelenggaraan acara Inovation-Tech Festival.
“Tenang saja, aku menjamin keselamatanmu”.
“Cheers..” suara denting lembut dari dua gelas yang beradu menutup pembicaraan mereka.
Hidangan lezat sudah tersaji di harapan mereka berdua, tak menunggu lama, mereka sibuk dengan makanannya masing-masing, menghabiskan setiap hidangan tanpa ada sepatah katapun terucap.
Semakin ramai restoran di datangi oleh beberapa orang yang kebanyakan dari mereka ada para pekerja kantoran di kawasan sudirman. Alfred terlihat risih karena tingkah laku setiap orang yang begitu berisik dan membuat banyak kegaduhan selama ia sedang menyantap makanannya.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Finna.
“Apa tidak ada tempat lain yang lebih tenang ?”
“Semuanya seperti kaum barbar, berisik sekali. Restaurant seperti ini harusnya bisa jadi tempat bersantai. Gzzzzzzzz”
“Hahahaha. Kau sendiri yang mau meminta ke tempat ini. Aku sih ada tempat lain kalau mau bersantai”. Finna menertawakannya yang sedang kesal karena tak bisa tenang menyantap hidangan di situasi ribut seperti itu.
“Ayolah, ajak aku ke tempat-tempat yang lebih bagus”.
“Hari ini aku mau bersantai, tanpa harus memikirkan pekerjaan” pintanya kepada finna.
“Ayo ikut aku sekarang”. Ajaknya kepada teman juga rekan bisnis si bule dari Amerika.
“Kemana?”
“Cerewet sekali, tunggu saja nanti juga tau”
——————————
Setelah cukup lama menjalin komunikasi, mereka berdua jadi akrab meskipun beda usia dan kini perusahaanya bermitra dengan group wicaksono dari perusahaan Finna. Perusahaan Alfred sendiri bergerak pada teknologi peralatan medis yang mutakhir dan menjadi core bisnis yang menjanjikan dalam mendulang kekayaan, tak heran jika finna jadi banyak belajar dari alfred dan akrab juga sebagai seorang teman.
‘Istrimu apa kabar ?” tanya finna ketika mereka berada di tengah kemacetan di Jakarta pusat.
“Baik, rencananya minggu depan dia kemari bersama anak-anak dan mau liburan ke bali, kau mau menemani kami?”
“Gila kamu, kenapa juga harus ikut berkumpul bersama keluargamu”
“Hahaha.. Ajak saja pacarmu, biar kita bisa berlibur bersama”. Timpalnya dan tertawa kenncang.
“Aku sudah putus dengan pacarku” finna menjelaskan perkara hancurnya hubungan percintaanya dengan andre karena kehadiran orang ketiga.
__ADS_1
“Maafkan aku, aku tidak tau” ia menyesal mendengar temannya itu patah hati.
“Tak apa, aku tidak perlu menangisi lelaki brengsek. Sekarang aku sedang menikmati masa-masa lajangku saja”
“Suatu saat kamu pun akan menemukan lelaki yang tepat dan baik untukmu. Tunggu saja.” ucap alfred memberikan semangat kepada finna agar kelak mendapatkan pasangan yang ia idam-idamkan yang tentunya baik dan juga bertanggung jawab.
Di perjalanan kini mereka berdua lebih banyak diam, canggung karena obrolan tentang cerita patah hati finna dan tak tau lagi harus membuka topik pembicaraan. Berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing sedangkan finna fokus pada kemudi mobilnya untuk menembus kemacetan dan hendak pergi ke tempat yang biasa ia datangi kalau sedang suntuk.
Tak lama mereka berdua turun dari mobil dan masuk ke sebuah kafe yang tak terlalu besar namun cukup meyakinkan. Ia mengenal tempat ini dari Indira dan juga sharon, konon ini adalah tempat yang sering dikunjungi oleh sharon dari semasa kuliahnya.
“Selamat datang..” Seorang pria pemilik kafe menyambut kedatangan mereka berdua.
“Hallo Mas Hendy, apa kabar?” tanya finna basa-basi.
“Baik, tumben tidak bareng Indira. hahhaa”.
“Iya nih mas, Indira masih kerja jam segini. Jadi aku ajak si bule buat icip-icip kopi aja disini nih..” kemudian ia memperkenalkan di bule kepada mas hendy pemilik Dekafe.
Ruangan diselimuti wewangian dari berbagai macam aroma biji kopi, sangat menenangkan dan tidak berisik, diantaranya beberapa mahasiswa tengah asik ngopi dan mengerjakan tugas ada juga yang cuma sibuk dengan gawainya masing-masing santai sembari mendengarkan alunan lagu-lagu jazz yang di putar di playlist cafe.
Alfred cukup kagum dengan penataan dari kafe ini, ia kini bisa bersantai dan berleha-leha di tempat sejuk dan tentram tak lagi harus mempedulika urusan pekerjaan yang menyita waktunya beberapa waktu lalu mengerjakan acara. Ia duduk dan merebahkan badannya pada sofa sembari menunggu pesanan kopinya, meski tak terlalu suka kopi akan tetapi suasananya sangat nyaman, sesekali berbincang santai dengan finna yang berada di hadapannya.
Terbayar sudah , lamanya ia di dalam mobil dengan kemacetan di tiap arus jalanan yang juga menambah kelelahan hanya dengan melihatnya pun, namun kini ia bisa bersantai menikmati hidangan kopi juga suasana kafe yang begitu menenangkan hatinya.
“Ini pesanannya, silahkan dinikmati”.. 2 cangkir kopi Cappuccino hangat tersaji di meja di temani pelengkap berupa kue brownies dan cheese cake.
“Terima kasih mas hendy..”.
.
.
__ADS_1
.
************************************