Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Innovation-Tech Festival


__ADS_3

Pukul 1 siang hari mereka bertiga sampai di lokasi untuk meninjau tempat yang telah disewa beberapa waktu lalu untuk ikut serta dalam acara Innovation-Tech Festival. Rania, Stefan dan juga Fabian masuk ke dalam ballroom yang sangat begitu megah dan besar. Mereka terkagum dengan segala perisapan dari tiap-tiap perusahaan dalam membangun citra yang bagus pada acara nanti dengan mendekorasi sertiap tempat yang sudah tersedia.


Rania mendatangi seseorang yang bertanggung jawab atas pengelolaan acara, menjelaskan bahwasanya mereka hendak memakai gerai yang sudah di sewa dan saat ini harus segera bersiap-siap membereskan tempat dan mengatur tata letak setiap barang dan juga dekorasi yang akan dipakai.


Rania dan Stefan terperangah ketika mendapati nama perusahaan tak ada dalam daftar penyewa tempat untuk event. Jelas sekali ini ada hal yang tidak beres karena bagaimana pun hak penggunaan bagungan sudah diberikan.


“Bagaimana bisa?. Kami sudah registrasi dan mendapatkan ijin penggunaan tempat ini”


“Kenapa tempatnya dialihkan ke perusahaan lain?” Rania bersitegang dengan pengelola Booth atau gerai tempat semua perusahaan unjuk produk yang dibuat yang akan di pamerkan pada acara Innovation-Tech Festival.


“Silahkan mbak cek terlebih dahulu, di nomor 73, bukan perusahaan yang mbak sebutkan tadi, disini ditulis PT. Muara Harapan, tidak ada kesalahan pada pengelolaan kami, ini semua sudah sesuai prosedur yang ada”. Ucap Ronald yang menjadi penanggung jawab gerai di acara ini.


“Ini surat yang kami terima dari management, bagaimana bisa tempat kami di alihkan ke perusahaan lain, jelas jelas kami sudah mendapatkan hak penggunaan”


“Apa kalian mau mempermainkan kami?” Semakin marah saja Rania ketika mengetahui bahwa perusahaan tidak masuk dalam list penggunaan tempat, ini sama saja, pihak pengelola berbohong, karena bukan dengan uang sedikit untuk bisa tampil memamerkan produk di acara besar seperti ini.


“Tenang dulu ran..” ucap stefan mencoba menenangkan amarahnya rania yang sudah memuncak pada tim pengelola tempat pameran.


“Bagaimana bisa tenang, uang 30 juta dibuat untuk pameran, sekarang kita tidak dapat apa-apa disini? Jangan gila kamu!” Akhirnya stefan pun ikut kena omelan rania yang tak bisa tinggal diam begitu saja ketika uang administrasi penyewaan tempat harus raib tanpa kejelasan pasti.


“Rania, Stefan? Kalian disini. Ada masalah apa?” dari samping, sesosok perempuan muda dengan blazer warna cream dan rok pendek. Ia menghampiri Rania dan stefan yang berdiri tak jauh darinya.


“Finna?.. Kamu disini juga?” ucap stefan memecah keadaan yang sedang tegang antara rania dan tim pengelola ruangan.


“Iya, aku disini sedang mengecek persiapan acara, karena aku bagian dari tim management Innovation-Tech Festival” Perusahaan wicaksono yang sekarang telah diserahkan kepada Finna, selalu ambil peran penting dalam event-event besar seperti ini untuk mewadahi tiap-tiap perusahaan baru atau pun perusahaan besar yang berkecimpung dibidang teknologi, dan dirinya menjadi staf di management tim pengelola seluruh rangkaian event.


“Kalian sedang ada masalah apa?” Tanya Finna kemudian.

__ADS_1


Rania menjelaskan perkara penyewaan tempat, yang saat ini tempatnya tidak bisa mereka gunakan karena telah disini oleh perusahaan lain. Secara garis besarnya, perusahaan telah jauh-jauh hari menyewa dan mendapatkan balasan surat yang juga sebagai bukti untuk penggunaan tempat. Namun, perusahaan tidak masuk dalam daftar, dan sama-sekali tidak ada dalam daftar tenant yang menggunakan tempat di event ini.


Setelah finna mendengar penjelasan Rania dan Stefan, mereka berdua di ajak ke suatu ruangan, dimana ruangan itu berisi dari tim pengelola acara dan juga panitia pelaksanaan acara.


“Bapak Alfred, tolong cek surat ini. Kenapa mereka tidak ada di dalam list” tanya Finna kepada lelaki berhidung mancung dan berkulit putih pucat, jelas dirinya adalah orang Amerika yang juga membuka perusahaan di Indonesia dan kini masuk di tim Management bersama Finna.


“Sebentar aku cek terlebih dahulu..” Ia membuka surat kemudian mengernyitkan dahi karena ada hal yang tidak beres dalam penanganan perusahaan-perusahaan penyewa tempat. Ini hal buruk yang akan membingungkan pada acara besar seperti ini.


Pasti ada seseorang yang sengaja mencari celah pada hak guna tempat, karena seminggu lalu tempat ini memang telah disediakan untuk Perusahaan dengan CEO bernama Sharon namun kali ini di tempat itu berganti dengan Perusahaan PT. Muara Harapan dengan CEO Yusnida Latif.


Untuk mencari kejelasan perkara, Alfred memerintahkan anak buahnya untuk memanggil CEO PT. Muara Harapan dan juga orang yang bertanggung jawab atas registrasi penyewaan tempat.


“Tolong tunggu beberapa saat, kami akan coba menyelesaikan masalah ini”.


“Saya secara pribadi meminta maaf atas ketidaknyamanan ini semua, kami pasti akan memberikan tempat yang sesuai perjanjian di registrasi yang sudah dilakukan” Ucap Alfred.


Lama menunggu orang-orang yang tadi di intruksikan untuk hadir di ruangan ini dan belum juga muncul, sudah hampir 20 menit berlalu, Rania dan Finna juga Stefan mencoba tetap tenang dan berbincang-bincang santai sembari menunggu kedatangan yang lainnya yang terlibat pada persoalan penggunaan tempat.


“Ah betul juga. ajak sharon kemari”. Timpal finna.


.............................


“Permisi..”


“Silahkan masuk” ucap seseorang di dalam ruangan.


“Finna, kamu ada disini juga?” sedikit terkejut didalam ruangan ada Finna, Stefan, Rania, Fabian dan seseorang yang belum aku kenal yang tengah duduk di meja besar yang tertulis Manager Pelaksana Acara.

__ADS_1


“Sebenarnya ada apa ini?” Tanyaku heran dengan panggilan mendadak dari stefan yang menyuruhku untuk hadir ke tempat ini.


Padahal aku sedang menyiapkan update baru untuk beberapa game yang sudah dibuat agar nanti pas acara release party, semua aplikasi aman terkendali dan nyaman digunakan oleh semua user, akan berdampak buruk jika di hari rilisnya malah banyak terdapat kerusakan program. Namun setelah mendengarkan penjelasan dari stefan aku pun tak bisa menyembunyikan kekecewaanku terhadap pengelola tempat yang aku rasa mereka tidak kompeten dalam mengurus acara sebesar ini.


“Saya Sharon, anda siapa?” tanyaku kepada orang bule yang baru ku ketahui ia adalah tim management pengelolaan acara.


“Perkenalkan nama saya Alfred Sebastian, saya pimpinan tim management pengelola acara”. Ucapnya dan mengurlurkan tangannya untuk berjabat tangan.


“Baik, bapak Alfred, saya cuma ingin menegaskan satu hal. Kembalikan uang perusahaanku dan aku tidak jadi ikut serta di acaramu ini”. Ucapku kepadanya yang kini ia diam mematung, mungkin tak percaya ada seseorang yang akan berbicara selancang itu padanya.


“Maksud anda apa?” Tanya nya mencoba mengkonfirmasi ucapanku tadi.


“Saya tidak bisa mempercayakan perusahaan saya kepada tim pengelola yang tidak becus mengurus hal kecil semacam hak guna tempat. Ini kecacatan kalian semua tim pengelola, dan saya mundur dari acara ini. Segera kembalikan uang perusahaanku”


“Bukan jumlah yang besar bagi kalian, bukan begitu?” timpalku dengan nada sarkas mencoba meledeknya.


Ruangan hening, Finna pun terkejut dengan kalimat yang aku lontarkan kepada Alfred, ia mencoba menengahiku namun aku menyuruhnya untuk diam. Tak perlu lagi ada perdebatan atau diskusi yang tidak penting, karena sejak awal pun aku tidak begitu tertarik dengan event exhibition seperti ini, hanya membuang-buang waktu dan tenaga saja, lebih baik kami fokus ke rencana perusahaan.


“Ayo kita pulang, kita tidak perlu ada di tempat ini, pekerjaan kita masih banyak”. Rania, Stefan dan Fabian mengikutiku di belakang, berjalan keluar ruangan.


Sangat disayangkan jika Finna pun ternyata bagian dari tim management yang buruk. Ada rasa tak enak kepadanya yang sudah banyak membantuku selama ini, namun begitu aku tidak ingin terlibat lebih jauh dari acara meskipun itu sebuah perhelatan besar, namun apalah artinya bagi kami yang sebenarnya belum menancapkan bendera dengan kokoh pada pertarungan tiap perusahaan. Akan lebih baik jika kami mundur dan mungkin kedepannya kami pun bisa berpartisipasi namun tidak untuk sekarang.


Beberapa kali Alfred memanggil namun tak aku indahkan. Tak ada ketertarikan bagiku untuk tampil di acara seperti ini, dan juga pengelolaan yang buruk hanya akan mendatangkan petaka dikemudian hari, dan aku lebih mementingkan progres dari acara yang sudah kami rancang sebelumnya.


.


.

__ADS_1


.


**********************


__ADS_2