
Suara sirine mobil polisi nyaring terdengar di jam 4 pagi dini hari, Pak danang dan juga adiknya keluar menyambut para petugas polisi dan memberikan keterangan tentang penculikan pada saat ini dan belum ada kabar dari para penculik tentang motif dan lain hal sebagainya tak ada satu orang pun yang tau. Begitupun finna, ia bingung untuk menjelaskan duduk perkara yang tengah terjadi.
Dua mobil tiba di kediaman pak danang, satunya mobil petugas polisi dan satunya mobil hitam mercy keluaran lama masuk parkir tepat dihalaman depan rumah.
“Selamat pagi, saya yang menangani kasus ini bersama 2 petugas. Mohon kerjasamanya.” Sang detektif dengan pakaian jaket tebal yang membalut tubuhnya, menyapa dan mengenalkan dirinya serta petugas yang akan melakukan pemeriksaan perkara.
“Tolong tunjukan tempat kejadiannya?” Ucap si petugas kepada pak danang.
Setelah
memasukin ruangan kamar, disana masih berserakan beberapa perabotan yang hancur seperti guci dan gelas. Polisi menela’ah kejadian mencari tau detail-ditail kecil yang ada di tempat kejadian perkara. Ada beberapa tetesan darah kering di lantai, kemungkinan korban sempat dipukul beberapa kali, dibius dan kemudian bawa kabur. Kemungkinan besarnya dilakukan oleh lebih 2 orang atau lebih.
“Kami meminta kerjasamanya untuk semuanya memberikan laporan atas kejadian ini, bapak ibu sekalian tolong kami meminta waktunya sebentar”.
--------------------------------------------------------------------------------------
Tak lama polisi pun menanyakan beberapa hal ke semua penghuni rumah, dan kejadian-kejadian sebelum adanya kasus penculikan, dengan ini petugas akan mudah menarik suatu kesimpulan pada penculikan Sharon yang masih belum jelas motif perkara.
Meski tak ditemukan barang bukti yang berarti, namun pada proses penyidikan ditemukan pecahan kaca dari cermin yang hancur akibat dorongan kepada korban oleh si pelaku dan juga vas bunga yang terjatuh pada proses
itu. Dan tidak ada bukti pelaku menggunakan senjata tajam semacam pisau dan lainnya. Karena noda bercak darah hanya sedikit beberapa titik saja bisa jadi karena ada pemukulan di area wajah atau kepala korban.
Detektif polisi menjelaskan secara gamblang kepada pak danang dan juga 2 petugas lainnya yang ikut membantu mengambil keterangan dari para penghuni rumah. Diketahui bahwasanya Sharon adalah calon mempelai laki-laki yang nanti pagi akan melangsungkan pernikahan bersama anaknya pak Danang, namun terjadi insiden secara tiba-tiba disaat semua penghuni terlelap tidur.
Dari setiap orang yang berhasil dimintai keterangan tidak ada laporan yang ganjil, semua orang memiliki alibi nya masing-masing dan terbebas dari tuduhan penculikan. Hanya saja ada satu keterangan dari pasangan suami istri Bernama fahri dan viona yang menganggap ini bukan tindakan penculikan, dan menduga si korban kabur karena tidak mau menikah dengan anak pak danang Bernama Indira. Dan saat ini Indira sedang pingsan belum siuman akibat trouma dan tidak bisa dimintai keterangan.
Detektif dan polisi mendapatkan kebuntuan dari kejadian kali ini. Jika ini penculikan untuk mendapatkan sebuah tebusan maka haruslah ada seseorang yang menelpon untuk meminta sejumlah uang sebagai tebusan atas korban, namun tidak ada sama sekali.
“Kerjadian kali ini, masih kami dalami dengan cermat, dan dimohon setiap orang untuk tetap terjaga di kamarnya masing-masing sampai ada kabar pasti dari pelaku. Ini dibutuhkan agar setiap orang tidak ada yang pergi dari rumah terjadinya perkara. Dimohon kerja samanya.” Si petugas memberikan point-point penting untuk tetap menjaga diri masing-masing barang kali ada hal yang harus digali kembali dari tiap laporan semua penghuni.
Detektif mencurigai ini dilakukan oleh orang dalam, atau bisa saja ada orang dalam yang terlibat untuk memudahkan proses penculikan dan semua orang dibatasi pergerakannya saat ini agar lebih mudah pada pemeriksaan lanjutan.
“Lantas bagaimana dengan Sharon, apakah bisa ditemukan atau tidak Pak?” tanya pak danang yang sangat khawatir terhadap nasib Sharon yang akan menjadi calon menantunya itu.
“Papah lebih mengkhawatirkan lelaki tak jelas asal usulnya itu, perhatikan Indira yang pingsan. Sudah aku bilang, lelaki itu akan membawa malapetaka di keluarga ini!” Fahri mengompori ayahnya agar tidak terlalu mempedulikan Sharon dan lebih mementingkan kondisi Indira kali ini.
“Jaga Ucapanmu fahri!” pak danang berteriak dihadapan anaknya itu. Tak lama Finna turun dan menghampiri Pak danang dan juga fahri.
“Kenapa kamu begitu membenci sharon, apa salah dia!”
“Kamu kan pelakunya, cepat katakana dimana Sharon!..”.
“Cepat katakan.!!!” Finna seperti mendapatkan momentnya untuk menyerang fahri yang sejak awal sangat tidak suka terhadap Sharon dan juga Indira karena diperlakukan spesial oleh ayahnya.
“Hei. Perempuan terkutuk, jangan asal bicara kau!” Viona angkat bicara dan menghardik Viona dengan tegas.
“Sudah.. cukup. Kalian berdua diam.!” Pak danang mencoba menengahi perkelahian namun tak sudah terlanjur pertikaian ini semakin sengit dan tubuh tua pak danang tidak akan bisa memisahkan mereka yang terbawa emosi.
__ADS_1
“Kalian berdua sekongkol kan, mau mencelakakan Sharon!. dasar pasangan biadab!”.
Pertengkaran tak bisa terelakan, Viona yang tak terima di maki oleh finna menampar pipi Finna dengan keras.
Plaaaakkkk…
Semakin menjadi, Finna lantas menjambak rambut viona dengan kasar, tubuhnya yang tinggi sangat leluasa menjambak rambut dan mendorongnya ke meja ruang tamu.
Sontak para petugas langsung melerai pertengkaran kedua perempuan itu dan menahan dengan sekuat tenaga agar tidak berlanjut.
“Dasar ***** kurang ajar.!” Ucap viona.
“Kamu *****!, katakana, dimana Sharon sekarang!” . meski tangan finna sudah di kunci oleh petugas polisi agar tidak ada penyerangan lagi, namun ia tetap meronta-ronta menendang kearah perut viona dan berhasil dihalau oleh suaminya.
“Perempuan gila, apa yang kau lakukan pada istriku!. Ku laporkan kau ke polisi”. Tantangnya kepada vinna yang masih terus meronta-ronta dan hendak di bawa paksa oleh polisi ke ruangan kamar.
“Silahkan, ku buat kau miskin tujuh turunan nanti, dasar pasangan keparat.!”. Finna berhasil diamankan dan di kunci di ruangan kamar. Disana Indira masih terbaring lemas pingsan karena shock calon suaminya di culik.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Suasana menjadi sangat tegang karena perseteruan tadi, viona dan Fahri diantar oleh petugas polisi masuk ke ruangan kamarnya.
Pak danang duduk di bangku dan mencoba mengatur nafasnya, ia ditemani sang detektif yang menangani kasus.
“Mohon bersabar pak, kami lakukan yang terbaik dan menyisir seluruh penjuru kota untuk melacak keberadaan Sharon dan para penculik”. Ucapnya menenangkan ayahnya Indira yang tengah meminum beberapa pil yang disediakan pembantu.
Dering ponsel Indira memecah kesunyian di kamar. Finna yang masih memeluk Indira, bangun untuk mencari letak ponsel yang berdering, ia menemukannya tergeletak di bawah ranjang kamar tidur, dan mendapati nomor tanpa nama yang menghubungi Indira.
Tanpa pikir panjang, finna mengangkat sambungan telepon dan tidak ada orang yang berbicara, ia mengira itu adalah si penculik yang menculik Sharon.
“Hallo.. hallo. Siapa ini.. hallo, apa kamu yang menculik Sharon. Siapa kalian??” ia memanggil dan bertanya siapakah gerangan yang menghubungi Indira di pagi buta ini. Selanag beberapa detik si penelpon menjawab dengan nada tersenggal-senggal seperti habis berlari dan kehabisan nafas.
“Sha… kamu dimana sha, apa yang sebenarnya terjadi..” Finna panik dan mencoba ke arah pintu dan membuka pintu berlari ke arah petugas polisi dan detektif yang berkumpul di ruang tengah.
Detektif dan juga polisi lalu bangkit dari tempat duduk dan menghampiri finna yang sedang menjawab panggilan.
“Sha.. sha.. kami kahwatir sekali, tolong beritahu apa yang terjadi. Dan sekarang kamu dimana.” Tak ada jawaban disebrang sana, Indira terus memanggil-manggil sampai beberapa detik kemudian ia mendengar sebuah lokasi yang menjadi penanda keberadaan Sharon.
“Junko Industries… Sharon ada di junko industries pak” ia memberitahu lokasi sharon ke polisi yang disampingnya itu.
Sambungan telepon masih terhubung namun tak ada lagi jawaban disebrang sana.
“Saya Ikut pak” ucap finna sedikit memaksa.
“Baik bu”. Ia mempersilahkan finna untuk ikut menjemput Sharon.
----------------------------------------------------------------------------------
__ADS_1
Petugas polisi bertiga berlari ke luar rumah dan menyalakan kendaraan operasional polisi kemudian menyalakan sirine berhambur menuju tempat yang dimaksud, sebuah kawasan industri tak jauh dari lokasi sekarang sekitar 10 menit berkendara.
“Teleponnya masih tersambung?” ucap si detektif berkacamata yang duduk di samping finna didalam mobil.
“Masih pak, tidak ada jawaban apa-apa”. Ucap finna pelan sembari terus mencoba mengecek suara sambungan telepon.
‘Sabar, sebentar lagi sampai. Kamu tunggu di mobil, dan kalian berdua nanti berpencar, cari di semua sudut kawasan yang dekat dengan Junko Industri, kemungkinannya korban kabur dari penyekapan. Siapa siaga semuanya!”
“Siap”.
Tak sampai 10 menit, mereka sampai di kawasan industri besar yang terdapat beberapa industri untuk bahan-bahan kimia dan juga beberapa pabrik baja. Junko industries yang dimaksud adalah pabrik baja yang luasanya sampai 10 hektar, terlalu luas untuk melakukan penggerebekan dalam penyelamatan korban penculikan.
Dan ada kemungkinan kalau korban sudah dianiaya oleh pelaku sampai akhirnya hilang kesadaran . semua kemungkinan bisa saja terjadi dan mesti waspada dalam menangani hal ini jangan sembarangan.
Pak
wahyu yakni sang detektif keluar bersama dua petugas lainnya
berpencar ke semua sudut junko industries untuk penjemputan korban
dan mengamankan pelaku tidak kejahatan. Semua dilakukan dengan
hati-hati.
“Siapa namamu?” tanya detektif kepadanya.
“Finna” jawabnya singkat dan masih memegang ponsel Indira yang ia pakai untuk memantau sambungan komunikasi dengan Sharon yang masih belum dapat jawaban apapun.
“Tolong panggil ambulan, kemungkinan korban membutuhkan perawatan medis segera”.
Ucapnya untuk siaga dalam segala kondisi termasuk pemenuhan kebutuhan medis nantinya dalam penanganan korban yang terluka.
Finna mengambil ponselnya dan menghubungi kontak darurat rumah sakit terdekat untuk segera mengirimkan ambulan ke lokasi. Ia cemas akan apa yang akan terjadi nantinya, ia berbisik-bisik sendiri berdoa, mendoa’kan Sharon agar selamat dan tidak terjadi hal buruk yang sangat ia takuti.
Lama ia menunggu para petugas datang, hampir 5 menit namun belum juga nampak para petugas menemukan Sharon, ia semakin khawatir dibuatnya. Menit demi menit berlalu dengan cepat ia terus merapalkan doa keselamatan bagi Sharon dan para petugas yang sedang mencari keberadaan Sharon dan juga para penculik.
Tak lama petugas medis dengan ambulan dari rumah sakit tiba dilokasi, finna turun dari mobil dan menghampiri untuk memberikan keterangan tentang kejadian perkara yang nantinya membutuhkan tindakan cepat dari para petugas medis.
Hampir 20 menit ia menunggu, dari kejauhan pak wahyu dan satu orang petugas menggotong tubuh Sharon dan langsung dihampiri oleh petugas menggunakan tandu darurat.
“Sha..sha.. Sha..” ia memanggil kawannya itu, menangis karena melihat kondisi orang yang ia kenal penuh dengan luka-luka dan lebam membiru dipelipis dan dagunya.
“Pak.. Sharon bisa selamat kan pak…” ucapnya kepada petugas medis.
“Ibu tolong jangan mengganggu, kami akan berupaya sebaik mungkin” Ia menjauhkan jangkauan tangan finna ke tubuh korban dan para petugas masuk ke dalam mobil. Langsung pergi meninggalkan lokasi.
Beberapa petugas polisi lain pun ikut berdatangan ke lokasi ada 2 mobil petugas polisi dan juga 1 mobil ambulan yang datang, sedang finna bersama si detektif mengikuti ambulan ke rumah sakit untuk memastikan keselamatan sharon. Pak wahyu sudah mendapatkan barang bukti yang kuat tentang beberapa orang yang terlibat dalam kasus ini lewat ponsel lipat yang ditemukan tergeletak di dekat badan korban yang pingsan. Sisa tugas lainnya, pak wahyu serahkan kepada petugas polisi lain agar segera mengamankan dan memberikan pertolongan pertama pada para pelaku yang pingsan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
*************************************************************