Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Tentang Esok Hari


__ADS_3

Dalam hidup ada masanya berpisah setelah pertemuan yang menggembirakan. Begitupun dalam rumah tangga, adakalanya semua tak berjalan mulus dan terkadang tidak bisa menerima kekurangan masing-masing.


Disanalah letak kesabaran yang sebenarnya sedang diuji, mampuh bertahan ataupun tidak tergantung dari tiap-tiap orang. Namun begitu, kedalam hati seseorang siapa yang tau, mungkin terlihat biasa-biasa saja, walau sebenarnya tengah menanggung beban hidup yang teramat berat.


Rania sedang memikirkan tentang masa depan anaknya yang masih belia, tanpa seorang ayah kandung, tanpa sanak family. ia hanya mengenal ibu yang membesarkannya tanpa tau seperti apa sosok seorang ayah.


Sampai hari ini, ia belum bisa membuka hati untuk lelaki lain sebagai teman hidupnya. Tak ada kali kedua untuk terjerembab di kesalahan yang sama, cukup lelaki brengsek itu saja yang sudah menelantarkan ia dan putrinya, tak akan mau lagi menjumpai lelaki seperti itu lagi, tak apa jika Dea terus menerus menanyakan keberadaan ayahnya, toh ia sendiri pun tak pernah tau lelaki yang telah menghancurkan hidupnya itu masih hidup atau sudah mati.


Namun terkadang ada pertanyaan-pertanyaan dari Dea yang sulit untuk di jawab, tentu itu tentang sosok lelaki yang seharusnya menjadi ayah kandung dari dea, dimanakah keberadaanya, apakah dia tampan, pekerjaanya apa, apakah akan berkunjung di hari raya, dan lain sebagainya.


Selama ini, hanya bisa mengalihkan permbicaraan jika Dea sudah menanyakan hal tersebut, karena ia pun tak tau harus menjawab apa. Baginya, cukup ia mendapatkan kebutuhan hidup sehari-hari dan pendidikan yang layak tanpa perlu mengetahui ayah kandung yang sedikitnya ikut berperan dalam kehidupannya sebelum ia terlahir.


"Dea.. sudah malam, ayo kita tidur" ajak rania kepada dea yang masih asik membaca cerita dongeng putri duyung.


"Dea.." lanjutnya memanggil


"Iya ma.." timpalnya kemudian merapihkan buku-buku di meja belajarnya yang berukuran kecil dan bisa dilipat.


"Dea kenapa, koq tidak langsung menjawab pas mama panggil" Rania menyadari ada hal lain yang sedang Dea pikirkan saat ini, karena meskipun ia terlihat fokus membaca, sebenarnya pikirannya tengah mengawang-awang memikirkan sesuatu hal.


"Tadi di sekolah dea mengerjakan soal tentang pekerjaan orang tua, dan dea tidak mengerjakan soal pekerjaan Ayah, dan dea di tegur oleh ibu guru".


ia berhenti sejenak kemudian ia memejamkan matanya beberapa saat seperti sedang menahan diri untuk tidak terlihat sedih dihadapan ibunya.


"Dea tidak tau pekerjaan ayah, dea juga tidak tau ayah dimana.." ia sesenggukan tatkala mencoba menjelaskan perihal tugas yang ibu guru di sekolah berikan.


"Sabar ya nak.. jangan sedih lagi. ada mama disini yang akan selalu menjaga dea". ia menenangkan buah hatinya sesaat sampai akhirnya ia tertidur.


Rania mencoba tenang dan memikirkan esok hari ia harus ke sekolah dan berbicara dengan kepala sekolah tentang hal ini. Tak ada ketentuan untuk menegur anak tentang ketidaktahuan akan persoalan keluarganya.


......................

__ADS_1


......................


Cuaca dingin menyelimuti malam ini di Cirebon, bukan karena sedang liburan atau hal main-main. Aku sengaja datang ke rumah ayahnya Indira karena ada hal penting yang mesti dibahas secara langsung tentang keseriusanku untuk meminang Indira.


Meskipun tidak dalam waktu dekat, setidaknya aku sudah mengutarakan maksud baik ku dan ke depannya aku bisa mempersiapkan semuanya terutama memberitahukan ke kedua orang tuaku yang telah hampir 10 tahun lebih tidak pernah ku beri kabar. Walau aku pun tau mereka tidak akan sudi untuk menerima dan mengantarkanku untuk menikahi Indira.


Malam ini kita berempat berkumpul untuk menyantap hidangan makan malam yang cukup mewah. ada masakan semur daging, sayur sop dan beberapa tumisan sayur, semuanya sudah tersedia di meja makan.


"Ayo.. mari kita makan" ajak Pak Danang ayahnya Indira mempersilahkan menyantap masakan yang sudah disiapkan.


Dibuat lapar sekali perutku melihat hidangan-hidangan lezat ini.


Tanpa pikir pikir panjang aku menyiuk nasi dan membubuhkan beberapa potong daging semur dan beberapa sayuran tumis dengan porsi besar.


Sayangnya harus menjaga etika makan, kalau sedang sendirian, pastinya aku akan makan dengan tangan tanpa perlu sendok garpu. Walaupun masakannya sangat lezat namun kurang pas kalau tidak langsung menggunakan tangan seperti biasanya aku makan di warteg.


"Pelan-pelan makannya, seperti belum makan 3 hari saja kamu ini" Finna menggodaku disaat aku sedang menikmati makanan di piring yang hampir habis.


"Hehe.. aku belum makan tadi siang fin". Sejak tadi aku belum makan, kalau bukan karena panggilan telepon dari ayah indira mungkin tadi siang aku makan dahulu di warung.


Finna dan ayahnya Indira kompak tertawa karena sang putri begitu perhatian sekali terhadapku.


"Papah apa sih ko ketawa.. kamu juga fin". ia sedikit malu karena dua orang ini seperti sedang mengejeknya.


"Hahahaha.. sudah sudah ayo lanjut makan, nak Sharoon nambah lagi, jangan sungkan-sungkan".


"Siap pak.. laksanakan!" berlagak mendapat perintah dari panglima perang, aku menuruti perintah beliau, tanpa basa-basi aku kembali mengambil nasi dan lauk pauk yang lain yang belum aku coba rasakan. Terlihat di sebrang meja finna menggeleng-gelengkan kepalanya karena kelakuanku yang tidak tau malu.


......................


Setelah puas makan, perutku serasa penuh kekenyangan hampir tidak ada ruang lain lagi di perut ini. Masakan khas rumahan namun rasanya seperti masakan koki di restoran bintang 5 saja.

__ADS_1


Selesai makan kami semua menuju taman yang dipenuhi berbagai macam tanaman hias yang entah apa saja jenisnya, aku hanya tau bunga anggrek, mawar dan melati yang sedang bermekaran di malam hari ini.


kami duduk melingkar di meja bulat yang tidak terlalu besar, cukup untuk 6 orang karena ada 6 kursi di meja.


"Yanti, tolong buatkan 2 kopi" perintah sang calon mertua kepada bu yanti pembantu satu-satunya yang standby di rumah ini.


Sembari menunggu sajian kopi dan teh, kami berbincang santai tentang pekerjaan masing-masing dan juga beberapa wejangan bisnis dari pak Danang.


Beliau ini, memiliki berbagai macam usaha, namun yang paling besar adalah usahanya di tambak ikan dan udang sebagai produk untuk eksport ke luar negri, khususnya ke China, karena rekanan bisnisnya kebanyakan orang negri tirai bambu yang telah ia jalin kerja sama selama puluhan tahun.


Tak lupa ia pun menceritakan pahit-manis tatkala baru memulai usaha, ditentang keluarga, diabaikan dan juga hal-hal lainnya yang membuatnya pernah merasakan terasing dari semua orang. Meski begitu, ia tak pantang menyerah untuk terus bangkit membangun usahanya sampai seperti sekarang ini.


"Nak sharon katanya sedang membangun usaha di bidang industri digital, bagaimana kelanjutannya sekarang?". tanyanya penasaran tentang prosfek di bidang usaha digital yang sedang ku geluti saat ini bersama kawan-kawanku.


"Sejauh ini lancar pak, bulan depan kita akan adakan grand opening perusahaan sekaligus mempublikasikan tentang aplikasi yang kami buat bersama-sama". aku kemudian menjelaskan tentang sebuah rancangan aplikasi yang diberi nama Project Oxygen tentang dunia virtual untuk berkomunikasi dan juga berpetualang di dunia digital.


"Bapak kurang faham terhadap teknologi sekarang, jangankan virtual-virtual seperti yang kamu bilang, pakai semartphone pun sulit sekali dimengerti. hahahah" ia kemudian menunjukan ponsel lipat keluaran tahun 2000an yang cuma bisa digunakan untuk kirim SMS dan telepon saja.


Meskipun sudah tua, ayahnya indira masih memiliki selera humor dan bisam membuat kami tertawa dengan guyonan-guyonannya. Karena wataknya inilah, ia bisa membangun relasi dengan siapapun dan dipercaya oleh rekan-rekan bisnisnya. Diluar dari sikapnya yang tegas, akan tetapi ada sisi yang lembut dan humoris dan bisa berinteraksi dengan generasi manapun.


"Jadi.. apa rencana kalian kedepannya?" ia menatapku dan Indira, pertanyaanya ini sangat singkat dan padat dan harus dijawab dengan baik dan meyakinkan.


"Kita tidak mau terburu-buru pah, kita berdua masih mengejar karir agar lebih leluasa kedepannya". Indira mencoba menjawab pertanyaan ayahnya, dan tentunya bukan itu yang ingin ayahnya dengar.


"Papah faham betul, tetapi mau sampai kapan kalian mengejar karir yang tentu tidak akan ada habisnya jika terus dikejar". pernyataan pak Danang ada benarnya. Bagi manusi, tidak ada yang namanya cukup. jika mendapatkan A maka pasti harus mengejar B dan begitupun selanjutnya.


"Papah cuma mau memberi saran, bagaimana kalau nanti pagi nak Sharon dan kamu langsung menikah saja, papah yang urus semuanya".


"Haaa... menikah?"


"Bagaimana Bisa?"

__ADS_1


"Papah jangan bercanda!".


...****************...


__ADS_2