
Terbangun dari tidurnya yang singkat, indira mengecek keadaan sekitar memastikan semua alat yang menunjang perawatan sharon masih menunjukan tanda-tanda vital dari tubuhnya yang kini terbaring lemas di kasur pasien.
Baru saja ia bermimpi tentang calon suaminya itu tatkala baru pertama kali bertemu dengan penuh adegan layaknya sinetron. kenanganya itu membangkitkan kerinduan yang teramat dalam. Tak disangka pria yang dulu menemani masa terpuruknya kini selalu berada dalam jangkauannya dan memanjakan indira selayaknya pasangan yang bahagia.
Ada rasa syukur yang terukir dalam hatinya bisa dipertemukan dengan lelaki bernama sharon yang menjadi pelindung dan juga lelaki terbaik yang pernah ia kenal diseumur hidupnya. meski kini ia terbaring tak berdaya karena peristiwa kemarin yang belum ia ketahui fakta sesungguhnya.
Dua hari telah berlalu tanpa terasa, kemarin ia masih bisa menatap dan berbicara seolah esok kan baik-baik saja. Nyatanya tidak ada yang baik-baik saja, kelam seperti langit siang ini yang diselimuti awan mendung, mungkin hujan mungkin juga badai, seperti sang bijak berbicara "badai pasti berlalu". Indira menunggu saat berlalunya badai untuk menyapa.
"Selamat pagi kekasihku". meski itu tak bisa ia lakukan sekarang, dirinya mencoba menguatkan hati dan pikiran dan menjadi yang pertama yang akan menyambut pulihnya kekasih yang kini terbaring.
Jalan panjang yang terlalu panjang ini begitu sulit tuk diluruskan, selalu berkelok dan banyak persimpangan yang mesti dilewati. Duka dan canda biasanya menjadi hal yang menyenangkan jika bersamamu dan menjadi keterbiasaan yang sulit tuk dihilangkan.
"Aku tak mau jika tanpa dirimu sha..." indira menggenggam tangan kemudian mengecup jemari tangan lemah dari sosok lelaki idaman pilihannya.
Tangan yang lain mengalirkan energi untuk menguatkannya, finna berdiri dibelakang menenangkan batin indira yang tengah berkecamuk meratapi keadaan yang tak lagi adil bagi dirinya.
"Sharon pasti sembuh, tunggu dan percayalah". ia memeluk sahabatnya dan melemparkan senyum tulus penuh arti demi sahabat dan pujaan hati kekasihnya indira.
"Terima kasih fin, kamu telah banyak menemaniku" ujarnya memperhatikan finna yang juga duduk di sebelahnya.
"Hanya ini yang bisa aku lakukan sekarang".
"Sebaiknya kamu pulang dulu ke rumah, ayahmu sangat khawatir". ucap finna memberikan saran agar pulang ke rumah.
"Oh iya, papahku kenapa belum kemari, ada masalah disana?" ia bertanya sedikit penasaran sejak kejadian itu, ayahnya belum sempat menjenguk sharon, namun finna tak bisa memberitahukan untuk saat ini lebih baik ayahnya sendiri yang berbicara.
__ADS_1
Kemarin Finna sempat kembali ke rumah indira untuk membawa perbekalan untuk menginap dan juga menyelidiki kejadian perkara tentang siapa pelaku yang membuat sharon seperti sekarang ini. Faktanya adalah kakaknya indira sendiri didorong juga oleh istrinya untuk menyingkirkan sharon.
Viona menghasut suaminya untuk menentang keputusan ayahnya menikahkan indira dengan sharon yang sangat ditakuti jika hak pengelolaan perusahaan akan jatuh ketangan indira dengan sharon sebagai suaminya kelak. Sejak awal Viona melihat peluang besar untuk mengontrol suaminya yang bisa ia peralat mendapatkan keseluruhan dari perusahaan pak danang mertuanya dan kehadiran sharon menjadi sinyal membahayakan jika ia menikahi indira, maka peluang mendapatkan seluruh kekayaan ayah dari suaminya akan sirna.
Berbekal nekat dan emosi akan hasutan istrinya, Fahri menyewa jasa preman tukang pukul dari sebuah kelompok paling berbahaya di wilayah itu. dengan imbalan uang 50 juta ia berhasil mengambil hati para preman untuk mematuhi perintahnya dalam aksi penculikan dan penyekapan target.
Fakta tersebut sulit untuk finna ucapkan, hanya ayahnya yang berhak memberitahukan ini agar lebih baik dalam penyampaiannya dan tak menjadikan itu beban pikiran yang berkelanjutan bagi indira, lebih buruknya lagi jika indra nantinya akan banyak menyalahkan dirinya sendiri karena perbuatan kakaknya telah menyakiti sharon yang sampai saat ini belum tersadar dari kondisi komanya.
"Ayo siap-siap kita pulang dulu sekarang, nanti kemari lagi ya". ajak finna membujuk indira untuk pulang dan beristirahat karena sudah dua hari ia tidak tidur dengan benar, takut kondisi kesehatannya malah nantinya jd memburuk.
"Tapi fin.. sharon sendirian. bagaimana kalau dia sadar dan tidak ada siapa-siapa nanti?" melihat calon suaminya tersadar adalah hal penting yang mesti dilakukan, finna pun tak bisa membantah keinginan indira. dan Indira itu kepala batu yang susah sekali dibujuk jika ia menginginkan A maka harus A tak bisa memilih hal lain yang tidak ia inginkan.
Mesti memutar otak jika harus meyakinkan indira perihal persoalan sulit ini. Finna sadar mengikuti keinginan indira pasti akan berakibat fatal bagi kesehatannya karena kurang menjaga pola tidur dan kebutuhan hariannya. sampai seorang suster masuk dan mengecek keadaan pasien dari alat-alat penunjang kesehatan di samping ranjang pasien.
"Dira.. sharon dijaga terus oleh para suster perawat, kamu tak perlu khawatir. dan jangan sampai kamu pun lupa untuk menjaga keaehatanmu. sharon pasti akan marah kalau kamu nantinya malah sampai sakit karena menungguinya terus seharian dan semalaman penuh".
Indira menatap lekat wajah kekasihnya itu kemudian mendaratkan kecupan di kening lelaki yang ia cinta, dalam hati ia terus berdoa bagi kesembuhanya agar bisa melangsungkan pernikaha yang tertunda.
"Sayang.. aku pulang dulu, besok aku kesini lagi ya.." ia mengecup jemari sharon seolah sedang meminta injin meninggalkannya sejenak.
......................
Jalanan mulai riuh ramai oleh kendaraan dari berbagai arah, kebanyakan dari para pekerja yang hendak pulang ke kediamannya masing-masing. suara deru kendaraan dan klakson yang terus dibunyikan begitu ramai membuat siapapun menjadi emosi karenanya. Tak di Jakarta ataupun di Cirebon, kendaraan roda dua dan empat begitu ramai sesak memadati jalan raya menyertai sore hari yang seharusnya indah jika tak ada bebunyian mesin dan suara teriak-teriak para pengemudi yang tak sabaran akibat macet.
Melihat pemandangan jalan raya yang memuakan ini tak digubris oleh indira yang lebih banyak termenung, asik dengan duanianya sendiri, entah apa yang ia pikirkan sekarang, namun siapapun padti bisa menebak jika ia memikirkan sosok lelaki yang sangat ia cintai.
__ADS_1
"Tuan putri sedang memikirkan apa? apa ada tempat khusus yang mau dituju sebelum pulang?" Finna menggoda sahabatnya itu yang sibuk dengan pikirannya sendiri dan enggan berbicara.
"Finnaaaa udah dong, kamu menyebalkan sekali. sudah tau aku sedang memikirkan sharon, apa lagi coba? aku khawatir dia sendirian di rumah sakit fin..." tandasnya dengan mimik cemberut menanggapi finna yang sedang mencoba menghiburnya.
"Ke kafe yuk, aku kangen nongkrong berdua sama kamu dir" ajaknya
"emh.. boleh, lagi pula aku lagi malas pulang ke rumah". ia menyetujui ajakan finna dan tanpa basa-basi finna membelokan laju kendaraanya menuju sebuah kafe yang asal ia lihat sebelum jalanan lurus setelah lampu merah menuju rumah indira.
Didalam kafe sederhana itu penuh di isi oleh para pengunjung rata-rata anak muda yang masih berumuran ABG, mereka berkelompok atau berpasangan untuk kencan menikmati sajian kopi dan cemilan yang tertera di menu.
Finna membolak-balikan menu yang hanya satu lembar itu bingung memilih pesanan apa. Begitupun Indira yang sebenarnya tidak tertarik untuk memesan. paling ujung-ujungnya ia akan memesan pesanan yang sama yang finna pesan.
"Dir.. kamu kangen masa-masa kita kuliah tidak?" ia asal bertanya tentang kenangan-kenangan mereka ketika kuliah di jogja 8 tahun lalu.
"Apanya yang berkesan selain dari susah payah membangunkan kamu tidur terus aku jadi mengantuk, dan akhirnya ikut tidur juga. hmmmm" kebiasaan jelek finna memang berpengaruh bagi indira dan sering kali ia terkena masalah karena mengikuti semua kegilaan finna yang saat itu masih remeja, sama dengan kebanyakan pengunjung di kafe ini yang juga masih ABG umuran kuliah.
"Kenapa sih kamu ingetnya yang jelek-jeleknya saja" tanyanya
"Banyak juga loh yang berkesan, misalkan saat si rio nembak kamu di depan para mahasiswa yang sedang mengikuti mata kuliah sore, atau saat kita pergi liburan ke pantai. banyak loh dir yang bagus". ungkapnya menjelaskan kenangan-kenangan tentang kebersamaan mereka.
"Mana mungkin aku nerima rio, dia saja kege'eran cuma karena satu kelompok masa aku harus menerima dia jadi pacarku, terus yang tentang liburan ke pantai apanya yang bagus, toh itu credit card kamu di blacklist oleh ayahmu. Ujungnya aku semua yang bayar". memang semasa mereka kuliah, sikap badung finna sering kali membuat indira pusing tujuh keliling. sering kali mereka berdebat dan ujungnya bertengkar.
"Hahahhahaha".
Finna tertawa terbahak-bahak mendengar indira sewot karena harus membayar cash untuk kamar dan tagihan hotel yang hampir 10juta lebih karena kesialannya berteman dengan finna. Namun begitu mereka tetap berteman dan saling menjaga satu dengan yang lainnya.
__ADS_1
"Kesialanku selalu merepotkanmu ya dir.. tapi akan aku pastikan nanti, esok dan seterusnya, kamu bisa bahagia dengan pilihan hidupmu dan aku akan menjamin itu". ucap finna dengan nada serius yang membuat alis indira sedikit terangkat karena keanehan finna yang tiba-tiba saja mengatakan hal yang sulit ia mengerti.
...****************...