Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Terima Kasih


__ADS_3

Perbincangan berlangsung lama sampai waktu telah menunjukan jam 8 malam, Indira maupun finna masih betah berlama-lama disebuah kafe kecil menikmati keakraban mereka yang jarang sekali berduaan semenjak selesai kuliah dan sibuk dengan tiap urusannya masing-masing.


Meski Finna banyak berubah tak lagi seperti perempuan malas yang kerjaanya tidur dan nonton drama korea, sekarang pribadinya lebih tegas dan juga menjadi sosok perempuan yang disegani terutama di perusahaan yang ia jalankan.


Selama mereka mengobrol santai, hujan mulai turun membasahi kota Cirebon, laju kendaraan pun sedikit lenggang akibat hujan. tiap pengendara memilih untuk berteduh di kafe-kafe yang banyak bertebaran di daerah kota, maupun menunggu di kios-kios yang sudah tutup.


"Sebentar.." Ucap finna sembari mengangkat sambungan telepon dari rumah sakit.


"Baik suster, saya segera kesana." ucapnya pada si penelpon.


"Ayo dir, Sharon sudah sadar" Ia pun menuju kasir untuk membayar makanan dan minuman yang mereka pesan dan menuju parkiran tepat di depan pintu masuk kafe.


Indira menyusul menuju mobil dengan terburu-buru akibat hujan masih sangat deras yang tidak disangka-sangka.


"Terima kasih tuhan... akhirnya." ucap Indira sembari memejamkan matanya mengucap rasa syukur atas calon suaminya yang mulai sadar, meski begitu ia sedikit kecewa karena tak ada disampingnya.


Finna menyadari perubahan di mimik wajah sahabatnya itu, ia melaju kencang menembus hujan deras tak mempedulikan lagi keadaan. ia terus menerobos jalanan yang untungnya tak terlalu banyak pengendara yang sama seperti mereka. Ia memikirkan hanya bagaimana caranya agar segera sampai ke rumah sakit. setidaknya membutuhakan waktu 15 menit agar sampai namun begitu ia terus menginjak gas lebih kecang dari biasanya dan bisa sampai dalam waktu singkat.


Finna dan Indira berlarian ketika memasuki pintu utama rumah sakit, menaiki tangga yang memutar menuju lantai dua tempat dimana sharon di rawat di sebuah ruangan khusus VVIP. Indira masuk terlebih dahulu tak mempedulikan ada siapa di dalam ruangan itu, ia hanya memikirkan sharon, dan cuma itu yang ia butuhkan.


"Sha.. ". begitu melihatnya terbangun, Indira memeluk dan menangis kencang di pelukan lelaki yang sangat ia cintai. tak lama suster dan dokter pun keluar tanpa diminta, memahami situasi yang biasa terjadi di rumah sakit.


......................


 


"Hai.." Suaraku masih sedikit lemah untuk berbicara namun begitu sangatlah bahagia indira ada disampingku saat ini.

__ADS_1


Sebagai lelaki aku selalu gagal membuatnya bahagia, melihatnya selalu menangis seperti ini, perasaan siapapun akan terenyuh dengan kepedulian indira terhadapku namun aku belum bisa memberikan hal yang setimpal bagi dirinya.


"Hai sayang.. terima kasih kamu sudah sadar.. aku membutuhkanmu sha" Ucapnya sembari memegang tanganku yang masih sulit untuk ku gerakan.


"Aku yang harusnya berterima kasih kepadamu, kamu selalu ada menemaniku setiap saat". Meski tak tersadar secara penuh, ketika masa koma aku selalu mendengar Indira entah bagaimana caranya, hanya saja aku tak bisa membalas ucapan-ucapannya.


"Maaf, karena aku, kita jadi gagal menikah" bagaimana pun kesalahan tetaplah kesalahan, aku kurang bisa mawas diri dan waspada sampai akhirnya harus terjadi hal-hal seperti kemarin.


Andai saja aku bisa lebih kuat dan bisa melindungi diri dengan baik, tentulah aku bisa dengan mudah melawan dua orang yang mencoba menculikku. Walau pada akhirnya aku bisa melawan itu sudah terlambat. Andai kejadian itu tidak terjadi, kita telah menjadi pasangan suamu-istri yang sah dan bisa segera pulang ke jakarta.


"Sudah jangan meminta maaf seperti itu, aku senang akhirnya kamu bisa kembali kepadaku" ucapnya kala itu di susul finna yang membuka pintu dan masuk ke ruangan.


"Fin.. terima kasih sudah menyelamatkanku, tanpa dirimu, mungkin aku sudah tamat". Finna yang menjawab panggilanku di telpon dan bergegas menuju lokasi mungkin bersama petugas kepolisian. Dan itu menjadi bukti bahwa ia menyelamatkan nyawaku tanpanyalah aku tidak akan ada disini sekarang.


"Tidak perlu berterima kasih, aku hanya melakukan hal kecil, selebihnya pihak kepolisian dan petugas medis yang menyelamatkanmu".


......................


Rasa sakit di sekujur tubuh semakin terasa, sulit sekali menggerakan badan ini bahkan untuk berbicara pun rasanya kepala ini menjadi sakit. Sepertinya akan lama proses kesembuhannya, dan banyak yang sedang aku khawatikan hari ini, bukan hanya masalah Indira tetapi masalah perusahaan juga menjadi perioritasku, aku harus mengecek keadaan perusahaan nanti setelah diperbolehkan untuk pulang.


Semoga saja Rania bisa menangani semua masalah-masalah yang datang, karena pasti bukan hal yang mudah untuk menyiapkan cara grand opening perusahaan nantinya, dan aku belum membantu apapun sekarang ini.


"Maaf ibu-ibu sekalian, kami harus melanjutkan pemeriksaan pasien terlebih dahulu, tolong tunggu di luar sampai pemeriksaan ini selesai". ucap Dokter yang kembali keruangan bersama dua suster cantik-cantik yang masih muda.


"Ayo dir.." ajak finna menggandeng lengan indira agar tidak mengganggu pemeriksaan kondisiku.


"iya".

__ADS_1


 


"Fin, apakah bisa jika sharon langsung dibawa ke rumah". ia memang seperti anak kecil yang sangat konyol, bagaimana pun pasien baru terbangun dari kondisi kritis akan tetapi ia meminta untuk segera dibawa pulang.


"Tidak bisa dira.. bagaimana pun Sharon lebih baik disini dan jelas ada perawat dan dokter yang bisa terus menjaganya sampai nanti sembuh dan bisa diajak pulang". tangkasnya menanggapi ucapan Indira.


Faham betul dengan maksud indira, bisa saja ia menyiapkan kamar dengan peralatan-peralatan kesehatan yang canggih untuk di rawat di rumah, hanya saja jika terjadi hal-hal lain yang butuh segera penanganan lebih baik maka akan sangat sulit nantinya.


Pilihan terbaik adalah tetap di rumah sakit karena banyak para dokter yang bisa menangani persoalan perawatan dan juga suster-suster perawat yang menjaganya secara bergantian terus menerus.


"Ya sudha, aku tinggal disini sampai sharon sembuh". sikap kekanak-kanakannya inilah yang sangat dibenci finna, ia tau jika sahabatnya akan berbicara seperti itu.


"Terus kamu makannya bagaimana? mandi?, ganti baju?, tidur?. jangan egois seperti ini dira. sharon butuh istirahat. namanya orang sakit itu butuh ketenangan. sekali ini saja kamu tak usah berikap seperti anak kecil.." ia murka dengan sikapnya yang keras kepala dan hanya peduli dengan perasaannya sendiri dengan menghiraukan perasaan orang-orang terdekatnya.


"Iya fin iya.. maaf, tapi pulangnya setelah sharon tidur ya fin, aku masih mau bersamanya" Finna geleng-geleng kepala menghadapi perempuan ini.


"Terserah kamu saja".. ia mendengus dan kembali duduk di kursi tamu yang tersedia di dekat kamar rawat.


Namun begitu finna masih tetap sabar menghadapi indira, ia sangat faham kondisi mentalnya saat ini sedang hancur karena pernikahan yang tiba-tiba harus dibatalkan dan juga kejadian penculikan sharon yang membuatnya terluka parah. semua kejadian ini tidak bisa begitu saja diterima dengan mudah oleh indira, jika sharon belum sembuh total, sepertinya pun ia akan terus seperti sekarang ini.


.


.


.


***************************

__ADS_1


__ADS_2