
“Ikat tangannya yang benar, dasar tolol. Begitu saja tidak becus!”
“Siap Boss”.
“Kita diperintahkan untuk membuatnya babak belur, tapi sebelum itu biarkan dia pingsan saja sampai besok malam lalu kita patahkan kaki dan tangannya. Hahahhaha”
“HAHAHAHA.. Boss memang kejam, aku suka caramu boss”.
“HAHAHAHAHA”
“HAHAHHAAHHAHA”.
Sudah lebih dari 2 jam aku di sekap entah dimana, kepalaku di tutupi oleh kain hitam dan tidak bisa melihat sekitarku. Kepalaku masih pening dan masih terasa sangat nyeri di ulu hati akibat hantaman dua orang tadi yang menculiku.
Aku mencoba tidak bergeming dan berpura-pura masih tidak sadarkan diri agar bisa menggali informasi penting, siapa yang membayar mereka untuk melakukan tindakan keji ini. Aku berspekulasi antara Viona atau Fahri yang membayar para preman ini untuk menghajarku dan menggagalkan pernikahan nanti pagi. Selebihnya aku tidak tahu lagi siapa diantara mereka yang ada di kediaman rumah pak danang yang berani melakukan ini semua.
“Anak ini jangan-jangan sudah mati boss, dari tadi belum sadar juga”. Ucap seorang lelaki dengan nada cemprengnya mencoba mengecek keadaanku.
“Coba saja kau tampar tampar mukanya” Suaranya berat dan sedikit serak garang sekali, merinding mendengarnya pun.
“Baik boss”
Plakkk..plakkk.. plakk.. plakkk..
“Hei manusia tak berguna, bangun kau. Jangan pura-pura tidur kau ya”. Ia mengancam dengan menampar-nampar kepalaku yang masih terbungkus kain hitam.
“Coba kau cek nadinya, jangan sampai dia mati. Bahaya kalau kita sampai membunuhnya”.
“Masih hidup dia boss, aman”.
“Ya sudah, nanti pagi juga dia bangun. Kalau tidak, nanti kita hajar lagi sampai dia sadar. Hahahaha” ucap si lelaki dengan suara berat yang menjadi pimpinan anak buahnya.
Jangan harap kalian bisa selamat dari ini semua, aku akan membuat perhitungan dengan kalian berdua, tunggu saja. Batinku mencoba menguatkan diri dan menggesek-gesekan perlahan ikatan tali yang mengikat tanganku ke kursi yang aku duduki.
Rupanya mereka sedang minum-minum beer di dalam ruangan ini, terdengar dentingan botol dan suara tenggakan air yang mereka minum. Perlahan namun pasti, aku mencoba mengegesekan tali menggerakannya naik-turun perlahan, ke sudut kursi yang kemungkinan terbuat dari kayu yang terasa dari teksturnya saat ku sentuh. Sudut kayunya cukup lancip dan mungkin bisa menjadi cara agar aku terbebas dari kekangan tali tambang yang begitu kuat ikatannya.
------------------------------------------
“Dir.. Dira.. Suara ribut-ribut apa itu?” Tanya finna kepada Indira yang baru saja tertidur tak lama beberapa menit ia membaringkan badannya yang Lelah akibat bergadang semalaman.
“Dir.. cepat bangun. Sepertinya itu dari ruangan kamar Sharon” Finna memaksa Indira bangun dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya.
“Apa si, aku ngantuk fin” Ucap Indira dengan mata yang masih tertutup akibat masih terlalu ngantuk.
Begitu terdengar semakin gaduh seperti tengah memukul dan menendang-nendang sesuatu, Sontak saja Indira tersadar dan terperanjat bangun dari tempat tidurnya. Terdengar beberapa orang sedang berbicara yang tidak begitu jelas terdengar. dan dengan cepat berlari, suara langkah berlarian begitu terdengar. ia yakin ada hal yang tidak beres dari arah kamar sebelah.
__ADS_1
Perlahan mereka berdua berjalan menuju kamar dan menemukan pintu terbuka lebar dan beberapa barang hancur berantakan dan ada noda darah di lantai. Indira pun menjerit sejadi-jadi dan menangis dengan sangat kencang kemudian lemas pingsan tak berdaya. Finna yang menyaksikan itu pun sontak berteriak meminta tolong ke siapapun orang yang ada di rumah.
Semua penghuni terbangun dari tidur lelapnya begitupun dengan pak danang yang langsung menemui anaknya yang kini terbaring di pelukannya finna, wajahnya pucat dan lemas itu dipeluk erat oleh finna, air matanya tumpah karena baru kali ini melihat Indira sehisteris itu sampai jatuh pingsan.
“Cepat angkat ke Kasur” perintah ayahnya. Finna dibantu pak danang membopong tubuh Indira untuk berbaring di kamar itu.
“Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi. Dan dimana Sharon, harusnya dia disini sekarang?” Pak danang memberondong finna dengan pertanyaan-pertanyaan tatkala ia masih terisak menangis kencang.
“Sha.. Sharon di culik, tadi kami melihat dua orang membawanya”. Finna menjelaskan dengan terbata-bata bingung harus memulai cerita darimana. Dan nafasnya pun tersenggal-senggal akibat menangis melihat kedua temannya yang akan menikah pagi ini mendapati kejadian menyedihkan.
“Bagaimana bisa!.. ya tuhan.” Tanpa pikir panjang sang ayah pun meraih gagang telepon untuk menhubungi polisi untuk melaporkan tindakan kriminal penculikan.
-----------------------------------
“Boss, bayaranku mana?” ucap si pria satunya menanyakan bayaran atas penculikanku.
“Tenang saja, aman. Ini baru uang mukanya saja, nanti Nona Vio akan menambahkan 10 juta lagi kalau semuanya sudah selesai” Kata si boss kepada anak buahnya itu, dan ternyata dugaanku benar. Yang mereka maksud nona vio adalah Viona, istri dari kakaknya Indira.
Sudah pasti akibat perlakuan orang tua terhadap viona, ia menjadi tersulut emosi dan bertindak diluar nalar seperti ini. Ditambah, tadi Fahri mencoba membujuk Finna agar membantu perusahaan mertuanya tak ditanggapi dan tidak mempedulikan bujukan dari Fahri.
Sudah berapa lama aku mencoba memutuskan tali yang mengikat tanganku ini, namun tak juga berhasil. Lapar dan juga Lelah membuat tubuhku lemah tak berdaya, andai saja aku bisa seperti tokoh di anime-anime yang pernah ku tonton, disaat terdesak tiba-tiba memiliki kekuatan super. Hanya saja itu tak mungkin untuk terwujud, aku harus lebih banyak menggunakan akal sehatku sekarang ini bukannya berkhayal yang aneh-aneh.
“Boss sepertinya dia sudah bangun” lelaki itu melaporkan kepada bossnya.
“Cepat buka
kepada anak buahnya.
Dengan sigap ia membuka penutup kain hitam di kepalaku. aku mencoba untuk tidak merespon dan masih berakting tidak sadarkan diri, beberapa pukulan dan tamparan ia layangkan namun aku tidak bergeming sedikitpun.
“Bagaimana ini boss, dia tidak sadar juga, jangan-jangan sudah mati”.
“Kau jangan bercanda, cepat bangunkan dia. Pukul sampai babak belur, kalau perlu patahkan tangannya”. Kali ini ia semakin gila saja memukul-mukul tubuhku dengan kencang.
Ngilu dan sakit sekujur tubuh ini, begitu ia membuka ikatan kaki dan tanganku dari jeratan tali, ia menendang kepala sampai aku tersungkur ke lantai dan terus menerus menendang perutku dengan sangat kuat.
“Hei pengecut.. bangun kau!” ia memaki, berteriak tepat di telinga.
Karena tidak puas ia pun mengambil ember cukup besar berisi air dingin dan mengguyur kepalaku.
Byuuurrrrrrrrr….
“Hei tuli kau ya.. cepat bangun!” emosinya semakin memuncak dan terus menendang kaki dan badan yang kini sudah basah.
Aku merasakan air dingin yang membasahi badanku, beberapa detik kemudian menjadikan badan serasa segar dengan adrenalin memuncak. Tak menyianyiakan kesempatan, aku pun melihat balok kayu yang bisa ku jangkau dari tangan.
__ADS_1
Dengan seganap tenaga, aku mengambil balok kayu sebesar betis itu dan menghantamkannya ke kaki si orang kurus yang tadi membangunkanku.
Jledakkkkkkkk.. brukkkkkk..
“Arkhhhhhhh…..".
kuu.. kurang ajar kau..!” ia berteriak kesakitan akibat hantaman keras di kakinya, dan disaat itu aku bangun dengan pandangan mata yang masih berkunang-kunang. Menghantam ke semua penjuru arah secara membabi-buta.
Pria besar yang tadi sedang asik meminum alkohol pun bangkit dan menodongkan senjata api tepat ke arahku, menembakan peluru api.
Dwaaarrrrrrrr….
“Mampus kau bajingan!” peluru berhasil melobangi bagian kiri perutku tanpa ada kesempatan untuk menghindar.
“Arrrrrrrhhhhhhh”
Dengan segenap kekuatan tersisa aku berlari kea rah si penembak, dan balok yang aku genggam dengan kedua tangan berhasil mendarat sempurna tepat dikepalanya yang botak.
Praakkkkkkkkkkk
.
“Arggggggggggggghhhh.” Badannya terhuyung ke belakang beberapa langkah, tanpa pikir panjang aku melemparkan balok kayu kemudian menghantam ke bagian perutnya. Dengan cepat ku ambil pistol yang tergeletak tak jauh dari badannya yang kini terjatuh ke lantai.
“Rasakan ini keparat!”
Dwarrrrrrrrr…..
Suara senapan api nya memekakan telingaku yang kini berdengung tak karuan, pandanganku mulai kabur, aku mengalihkan pandanganku ke anak buahnya yang masih kesakitan akibat hantaman di kakinya. Ia pun memohon-mohon ampun dan meminta maaf sembari menahan kesakitan yang ia derita di kakinya. Satu peluru lagi ku tembakkan entah ke arah mana aku tak tau. Namun aku masih mendengar jeritannya itu semakin keras nyaring terdengar di ruangan gudang yang dijadikan tempat untuk menyekapku.
Aku terlalu memaksakan badanku untuk membela diri, akhirnya aku terkulai lemas dan menyandar di dinding lusuh berwarna kusam. Di sampingku ada ponsel lipat jenis lama, mungkin ini ponsel yang dipakai mereka berdua untuk berkomunikasi dengan Viona atau siapapun yang membayarnya untuk menghajarku.
Mencoba fokus menatap layer ponsel kecil ini dan mengetik nomor Indira yang sangat aku hafal, tak lama suara yang begitu familiar ku dengar mengangkat telponku.
“Hallo.. hallo. Siapa ini.. hallo, apa kamu yang menculik Sharon. Siapa kalian??” tanya seseorang yang menjawab panggilanku.
“ Ini aku, Sharon..” Dengan terengah-engah aku menjawab pertanyaan finna yang mengangkat panggilan di ponselnya Indira.
Darah segar mengalir dan semakin membuatku pening akibatnya. Aku mencoba bangkit dan bergerak ke arah pintu keluar. Aku harus keluar dari ruangan ini agar dapat segera mendapat pertolongan.
“Tunggu sebentar..” ucapku kepada finna yang terus memberedeli pertanyaan-pertanyaan yang tidak mungkin bisa ku jawab. Dengan langkah gontai, aku mencoba membuka pintu dan keluar dari Gudang, berjalan tak tentu arah dan memasuki sebuah Kawasan industri, disana tertulis Junko Industries. Baguslah, sepertinya ini cukup untuk penanda lokasiku.
Kaki ku tak kuat lagi menopang tubuh yang telah bersimbah darah dan penuh luka, aku terjatuh tergeletak di tengah jalan di kawasan industry. Tangan kananku menahan aliran deras darah yang keluar dari bagian kiri perutku dan tangan kiri memegang ponsel yang aku dekatkan ke telinga.
“Dengar fin.. saat ini aku di Junko Industries.. tolong a…..” tak sempat menyelesaikan ucapan, kesadaranku pun kabur dan lenyap, pandangan mataku pun menghitam seketika.
__ADS_1
**********************************************************