
Finna dan 5 orang lainnya sudah menunggu kami berdua yakni CEO dan Direktur Utama PT. Cakrawala Teknologi Indonesia (CTI). mereka menyambut hangat kepada kami berdua dan mempersilahkan duduk di meja memanjang di ruangan rapat di gedung yang tak jauh dari tempat acara kami berlangsung.
"Bapak, Ibu semuanya kita mulai saja rapat singkat ini" Finna langsung menuju pada inti pembicaraan.
"Perkenalkan saya Edward Muller. saya tertarik untuk bekerjasama dengan perusahaan kalian, saya pikir akan sangat bagus jika kalian bisa membuka server di negaraku untuk langkah awal ekspansi ke negara-negara di Eropa, bagaimana menurut kalian?" ucap Edward dengan sangat meyakinkan.
Edward adalah relasi bisnis Finna, beliau memiliki perusahaan multinasional yang lumayan terkenal yaitu Sonne Corp yang telah memiliki perwakilan perusahaan di 25 negara termasuk di Indonesia. Ia pun lanjut membahas fokus bisnisnya di bidang IT untuk pembuatan game, aplikasi smartphone dan berbagai macam hal lain yang belum aku ketahui.
Dirinya menjelaskan kalau misalkan kami bersedia membuka server di Jerman, mereka siap memfasilitasi server dan perangkat pendukung lainnya.
"Sangat mudah bagi kami untuk memberikan full access pada server yang kita miliki di Jerman, jika kalian tertarik, aku bisa mengurusnya". tandasnya melanjutkan tawaran-tawaran perusahaanya pada kami berdua. Tentu Stefan pun sampai kehabisan kata-kata untuk bisa menjawab penawaran Edward yang sangat lugas ia utarakan.
"Mohon maaf, mohon tunggu sebentar... Kami belum bisa mencerna maksud anda tuan Edward. Tawaran tuan sangat begitu mengiurkan sampai-sampai ini seperti mimpi saja" aku mencoba menengahi pembicaraan sengit yang berlaku sepihak, karena aku dan Stefan benar-benar tak ada celah barang sedikitpun untuk menyela.
"Ah.. tentu.. tentu.." ucap Edward sembari menggaruk-garuk rambut di kepalanya yang terlihat beruban sebaian.
"Maafkan, tuan Edward hanya sedang semangat karena kalian bisa membuat project oxygen. Yang sangat mustahil dilakukan oleh perusahaanya". Ujar Lilly, sekretaris pribadi Edward.
Lilly berparas cantik blasteran Indo-Jerman, beliau adalah teman Finna semasa kuliah di Finlandia, dan dari hubungan pertemanan mereka, Finna mencoba memberikan peluang kemitraan perusahaanya dengan perusahaan CTI.
"Tidak apa, Saya faham, dan saya sangat senang dengan antusiasme tuan Edward.. Sungguh". Stefan angkat bicara, menyambut semangat dari pihak di depan kami.
"Akan tetapi, kami ini masih perusahaan kecil. Apakah tidak terlalu beresiko, jika perusahaan tuan harus bermitra dengan kami saat ini?" lanjutnya, dengan mimik muka kebingungan Stefan yang dibuat-buat untuk memancing arah pembicaraan yang lebih intens dari Edward dan yang lain.
"Hahahaha..."
"Tentu saja aku sudah memikirkan ini dari minggu lalu, sejak nona Finna menyampaikan kepada kami tentang program besar yang sedang kalian kerjakan, dan menurut saya itu adalah ide brilian yang tidak akan pernah ada terlintas dipikiran perusahaan ku"
"Project Oxygen sangat memukau, dan ini bisa menjadi virtual space di masa yang akan datang, dan tentu kami pun siap ikut dalam pengembangannya, mungkin nanti akan ada penambahan fitur Artificial Reality dari perangkat yang kami produksi di Jerman" ide yang keluar dari Edward bukanlah hal yang baru bagi kami, tetapi kami senang bahwa ada orang lain yang juga memiliki pemikiran yang sama.
Perbincangan kecil kami harus berhenti karena tanpa sadar waktu telah hampir jam 2 sore, kami sepakat untuk bertemu di akhir pekan untuk kembali membahas hal ini dengan lebih serius lagi.
__ADS_1
Aku melihat senyum ramah tuan Edward dan Lilly, mungkin mereka pun merasakan hal yang sama seperti kami, yang makin bersemangat untuk lebih meningkatkan semuanya ke taraf yang lebih tinggi.
"Baik.. semuanya, kami pamit.. terima kasih atas waktunya". Ucapku menyudahi pembicaraan.
...----------------...
"Xian dan Zahra, tolong cek merchandise di lobby hotel, petugas disana sudah menyiapkannya dan sekalian saja langsung minta diangkut ke ruangan". sesuai instruksi Rania, mereka berdua pun lanjut menuju lift bergegas untuk mengambil pesanan merchandise yang nanti akan dibagikan kepada para tamu undangan.
"Gimana Ran?" tanya Stefan kepada Rania yang sedang berjalan menuju ke ruangan acara.
"Kalian berdua kenapa lama sekali sih.." tanya nya dengan ketus.
"Hehe.. Sorry, tadi ada bos besar minta ngobrol-ngobrol". celetuk Stefan.
"Halah kalian, pasti ngabur buat sebat ya!, ayo sini bantu." ia pun berjalan masuk tanpa mempedulikan kami berdua.
"Hush.. Jangan bikin Rania emosi, mati kamu!" Stefan sejak dulu memang suka iseng dan seringkali aku pun jadi ikut kena getahnya dan Rania akan memarahi kami berdua panjang-lebar tanpa henti.
Sesampainya di ruangan, semua tim sudah berkumpul, dan menyambut kami berdua. Fabian, Kayla, Zahra, Xian Rania dan tentu saja Dahlan i manusia yang selalu menjadi tim support jika kami sedang kewalahan, kami menyebut Dahlan sebagai Runner yang akan berlari dengan cepat untuk menutupi kekurangan hal lain dan semuanya hormat dengan sikapnya yang jujur juga pantang menyerah.
"Siang pak boss" ucap Dahlan.
"Hmm.. Biasa aja gausah bas bos bas bos segala" jawabku menanggapi Dahlan yang senyum-senyum ketika kami baru saja datang.
"Gimana? semua sudah di cek lagi Ran?" tanyaku kepada Rania yang sedang bersama Zahra tengah menyusun lembaran-lembaran kertas laporan petunjuk acara.
"Sejauh ini, aman. dan Pihak EO sudah standby di pos masing-masing" Rania memberikan 2 lembar kertas petunjuk acara pada sore hari ini.
Semua rancangan acara di buat oleh Rania yang juga melibatkan pihak Event Organizer, dibuat sedemikian sistematis karena banyak unsur-unsur penting di dalamnya, agar acara bisa meriah dan dinikmati oleh semua tamu yang hadir.
Kerja keras Rania begitu luar biasa, kehadirannya seperti penafsir dari setiap instruksi yang ku berikan agar dapat dipahami oleh yang lainnya, karena itulah dia bisa menguasai tiap aspek penting dari kegiatan ini.
__ADS_1
Tanpa segan, ia pun pasti menegur jika ada kesalahan sekecil apapun itu. Sosok wanita super ini selain di segani oleh yang lain, disisi lain pun ia memahami apa yang kami butuhkan, tak salah jika memberikannya posisi penting di perusahaan, dan aku sangat amat terbantu karenanya yang mampu kerja keras membangun perusahaan ini dari titik belum memiliki apapun.
"Jika ada yang kurang faham bisa langsung obrolin ke aku ya guys.."
"Kita standby di posisi masing-masing dan jika ada masalah apapun itu, langsung kabari, Ok?"
Ujar Rania disambut jawaban mantap dari semua personil.
...----------------...
Setelah itu kami bubar menuju pos masing-masing di dalam ruangan, memantau semua hal dan sesekali berbaur dengan paraamu undangan yang sudah mulai memadati tiap sudut, ada yang berdiri berbincang dengan teman-temannya, ada juga yang duduk membuka laptop dan gadget smartphone menunggu kami membuka server Project Oxygen.
"Sha.." Finna melambaikan tangannya ke arahku dari pintu masuk ruangan, ada Indira juga disana.
Aku bergegas menghampirinya mereka berdua.
"Wah rame banget, lebih rame dari acara opening tadi pagi ya.." ujar Finna terkagum-kagum melihat ratusan orang memadati seisi ruangan.
"Haha.. Begitulah, lagian siapa juga yang mau mendengar bapak-bapak berpidato".
"Aku kira kamu sudah pulang, maaf tadi aku gak kabarin kamu". Tanyaku kepada Indira.
"Iya.. Ini, kamu minum dulu ya, kamu kelihatan cape banget". Indira memberikan botol minuman dingin kepadaku yang langsung habis ku minum.
Sudah hampir waktunya untuk acara dimulai, aku bergegas menuju ruang tim untuk berganti pakaian menggunakan pakaian yang lebih santai, karena acaranya pun bukan acara formal.
Sebisa mungkin aku berbaur dengan yang lainnya juga agar terlihat casual, santai dan tetap nyaman di pandang oleh para tamu-tamu yang hadir pada sore ini.
...****************...
Agak sedikit kewalahan untuk menyelesaikan novel ini dikarenakan pekerjaan dan hal-hal lain yang menyita konsentrasi penulis, pun begitu, saya coba untuk terus menulis dan menyelesaikan dari bab per bab menuju titik ******* di akhir episode. Rencananya, novel ini selesai di chapter 120 dan semoga saja tidak ada hambatan dalam penulisannya.
__ADS_1
Trims..