Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Rumah Tangga Kita Berdua


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu sha?" suara stefan dari panggilan selular. Saat ini ia masih di jepang dan baru besok pulang ke indonesia setelah memotong waktu bulan madu mereka yang seharusnya 7 hari.


Keadaan genting, dan hanya 5 orang saja yang bisa membantu menyiapkan grand opening membuatku sedikit khawatir dan harus berpikir keras untuk bisa menutupi banyak hal untuk terselenggaranya acara yang sudah direncanakan. Begitupun stefan yang khawatir dan mencoba mendiskusikannya bersamaku lewat panggilan telepon.


"Seharusnya kamu sedang asik-asik disana, maaf jadi harus segera pulang. semua ini diluar perhitunganku". Alasan kuat yang membuatku tidak bisa banyak berpartisipasi dan kini kita kelimpungan untuk mencari solusinya.


Meskipun budget mencukupi untuk bisa menangani semua ini, lain halnya jika tidak ada SDM yang bisa diandalkan selain 5 orang yang ada di kantor yang kini dikepalai oleh rania.


"Kamu juga sha.. ada-ada saja masalah yang menimpamu. hahaha" candanya mengingat segala masalah selalu datang bersamaku, sepertinua masalah berjarak satu meter lebih dulu dari langkahku.


......................


Terus di posisi terbaring di kasur sangat tidak menyenangkan sekali. Sangat menyiksa, dan aku mencoba bangkit untuk duduk bersandar.


"Sha.. kamu ngapain? sebentar, aku bantu" Indira yang baru masuk kamar, berlari menghampiriku yang tengah berusaha untuk duduk, rasanya kepalaku pusing sekali jika terus-terusan terbaring.


"Kalau ada yang bisa aku bantu, tolong beritahu aku, ya sayang.." ucapnya mesra.


Jemarinya menggengam lenganku yang sedikit agak kurus, ia lekat sekali menatapku mungkin terharu, mungkin juga sedih melihat kondisiku yang sangat tidak baik-baik saja.


"Sha, kamu yakin mau menikahiku?" sekejap, ucapannya itu terasa sangat asing dan ia menunduk tak berani menatapku seperti biasa.


"Ada apa sayang, tiba-tiba kamu mengatakan hal yang tidak perlu aku jawab. Kamu pasti tau aku akan menjawab apa, benar?" ucapku dan balik bertanya apa maksud dari pertanyaan yang seperti meragukan ketulusanku untuk mempersuntingnya.


"Emmm. tidak ada, aku hanya ingin memastikan saja, toh selama ini aku hanya banyak merepotkan dan jadi beban bagimu". ia melepaskan jemarinya dari tanganku.


Aku faham situasi seperti ini, pun begitu tak langsung aku timpali pernyataanya. Lebih baik memilih diam dan mencoba untuk lebih lembut dan memahami kembali arti indira bagi hidupku.


"Masih banyak wanita lain yang layak, aku merasa tak berguna dan aku jadi mempertanyakan kembali, apakah aku layak berada disisimu dengan semua kebaikan yang kamu miliki". baru kali ini ia berbicara demikian dan menganggap kehadirannya adalah beban bagi diriku.


Meski aku tak pernah menganggapnya demikian, akan tetapi pandangan indira beda, dan mungkin pandangan semua orang akan berbeda juga melihat kedekatanku dengan indira.

__ADS_1


Terkadang ketulusan hati seseorang tak bisa diterka hanya karena dia sangat baik, harus di bicarakan bahwa "aku tulus mencintaimu sepenuh hati" kerap menjadi hal yang sulit dibicarakan lelaki kepada perempuan. Berbeda saat berpacaran ketika masa-masa sekolah dahulu, dengan mudahnya aku bahkan semua orang untuk mengucap cinta tanpa tau arti cinta bagi pasangannya.


"Baiklah.. dira sayang, ku mohon.. jadilah istriku, jadilah penguat bagi diriku yang membutuhkan kasih-sayangmu dan jadikanlah aku satu-satunya lelaki yang kau cintai sepanjang hidupmu, apakah kamu mau?". Akumemegang kedua tangannya, jemari lentik dan lembutnya itu seperti lunglai dan berkeringat.


Wajahnya yang merah merona karena ucapanku coba ia sembunyikan, menunduk entah apa yang kini ia pikirkan, mungkin saja malu.


"Aku mau sha, aku mau bersamamu, aku sangat mencintaimu dengan sepenuh hati. Tak peduli bagaimana pun kondisimu atau apapun itu". ia menyandarkan wajahnya didalam dekapanku untuk beberapa saat setelah ia berbicara yang dianggapnya terlalu memalukan mengucapkan kalimat-kalimat manis yang juga selalu ingin aku dengar langsung dari bibirnya.


"Nah sekarang kamu sudah tau jawabannya kan, tolong jangan pernah meragukan kesetiaanku, aku pasti bisa membahagiakanmu". ia pun mengangguk dan semakin membenamkan wajahnya di dadaku.


Ya tuhan wanita ini menangis lagi, indira.. indira..


......................


Di ruang keluarga, Tuan Ellard dan Pak Danang sedang berbincang serius mengenai pernikahan anak-anaknya yang tak disangka harus terjadi insiden yang sangat disayangkan karena kelakuan busuk dari anaknya pak danang.


"Secara pribadi dan atas nama keluargaku, aku minta maaf. tolong maafkan aku tuan. Aku ternyata tidak becus mendidik anak-anakku sendiri". ia menunduk meminta maaf kepada ayahnya sharon.


Bagaimana pun kejadiannya itu di rumah kediaman pak danang yang menjadi pelakunya adalah anaknya sendiri. Beban moral yang sangat besar, seorang anak yang telah lama ia didik menjadi sosok yang buruk akhlaknya seperti tak pernah mengenyam bangku sekolah, sangat tidak berpendidikan.


"Tentu tuan, aku tidak akan membela anakku dan juga Viona istrinya itu".


Begitu marahnya ellard kepada mantan anak buahnya yang dulu ia pungut karena kasihan menjadi pengangguran dan tidak memiliki pendapatan. Beruntung bagi danang diselamatkan oleh ellard, danang yang secara garis ekonomi hanyalah anak dari petani tambak yang pendapatan keluarganya tak bisa untuk memberikannya pendidikan kuliah di kampus besar, tatkala berkerja di perusahaan ellard yang kemudian memeberikannya beasiswa untuk bisa kuliah mengambil jurusan pertanian.


Kini ia bisa sukses dalam mengembangkan usahanya atas bantuan dari Ellard yang juga memiliki andil besar dalam permodalan bagi usahanya itu. Dari kejadian yang menimpa Sharon, Danang merasa terpukul dan malu tak disangka anaknya sendiri yang melakukan tindakan jahat diluar dari kontrol sang ayah.


"Lain kali anakmu macam-macam lagi, orang suruhanku pasti sudah mengambil nyawanya. camkan itu!" ucapnya mengintimidasi.


"Aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi lagi tuan" ucapnya. kemudian ia menunduk kembali menyesali semua kesalahannya.


"Baiklah, ku pegang ucapanmu itu danang".

__ADS_1


......................


"Sayang, aku memiliki rencana setelah kita menikah. Aku ingin membangun rumah untuk kita berdua, aku tidak terlalu cocok hidup di lingkungan apartemen, bagaimana menurutmu?". Kami berdiskusi cukup lama tentang hal ini, karena bagaimana pun hidup di apartemen terlalu membuat bosan, ruang gerak sempit dan susah untuk bepergian karena harus naik turun lift.


Mungkin jika usahaku mulai stabil dan ada pemasukan yang cukup besar, aku bermaksud untuk membangun rumah sesuai dengan keinginakanku sendiri. Indira menyarankan untuk membeli perumahan mewah namun aku tolak, karena tak jauh beda dengan apartemen, tata letak semua ruangan yang telah ditentukan sedikit menggangguku.


Aku menginginkan rumah seperti yang aku idam-idamkan, tak besar namun tak terlalu kecil. rumah dua lantai berdisain minimalis. Aku tak mau berlebihan hanya untuk membuat rumah, tak ingin bermewah-mewahan karena dasarnya rumah adalah tempat kembali dan harus nyaman, percuma jika rumahnya besar namun seperti tak ada kehidupan didalamnya.


"Tentu sayang. aku setuju saja dan sangat menantikan rumah yang nanti kita bangun. tak sabar rasanya.." ucap Indira yang setuju akan pendapatku setelah lama kita mencoba berdiskusi untuk mewujudkan rumah tangga seperti yang kita berdua harapkan.


Kehidupan masih sangat panjang, aku dan indira mencoba pelan-pelan dalam membangun masa depan kita berdua, menikmati setiap proses, baik itu hal baik maupun hal buruk yabg terjadi, tentu ada hikmah dari itu semua yang membuat kita dewasa dan semakin bijaksana dalam mengambil keputusan.


"Love you sayang" Ucapnya san mengecup punggung tanganku.


"Love you more, sweetheart".


.


.


.


.


Dear reader:


Hari ini updatenya telat karena saya sedang sibuk dengan urusan duniawi mencari sesuap berlian dan segenggam nasi. mohon maaf atas ketidaknyamanannya dalam membaca karya yang tidak berfaedah ini.


salam.


.

__ADS_1


.


...***********************...


__ADS_2