Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Lelaki Tak Berguna


__ADS_3

Resepsi setidaknya dihadiri oleh keluarga dari dua belah pihak pasangan. Namun pada pernikahanku ini, hanya pihak dari keluarga Indira saja yang bisa menyertai langkah kami menuju pelaminan, ada rasa sesak teramat sangat di dadaku, mungkin jika aku tidak berseteru dengan ayah dan mau mengikuti jejak langkahnya menjadi pewaris keluarga, maka tidak perlu seperti ini kejadiannya.


Aku merasa sangat malu kepada pak danang ayah dari Indira, selain beliau yang mengatur keseluruhan dari rangkaian acara, beliau juga mau menerimaku sebagai mantu yang tak jelas orang tuanya seperti apa.


Pada malam hari ini aku jadi banyak berdiam diri di kamar memikirkan nanti pagi pada gelaran akan dan juga resepsi pernikahan. Terutama menyangkut masalah orang tua yang juga semestinya hadir karena orang tua Indira tentunya memiliki hak untuk tau asal-usul dan keluarga yang sebenarnya aku miliki.


Ada sedikit kecurigaan pada ayah Indira. Beliau ini, semenjak pertama bertemu tak pernah menyinggung urusan urusan keluargaku atau sekedar menanyakan nama ayah dan almarhum Ibu. Mungkin saja beliau memahami ini hal yang sensitive untuk ditanyakan, atau ada hal lain yang beliau tutupi dari aku dan Indira.


Saat ini kami berkumpul bersama Pak danang, dan juga bibi, dan paman dari Indira di ruang makan sembari menyantap makan malam yang sangat mewah dengan sajian masakan ala restoran.


“Saya minta perhatiannya.. Di hari yang berbahagia ini, saya ucapkan selamat kepada Sharon dan juga anak ku tercinta Indira atas pernikahannya yang akan dilaksanakan besok jam 8 pagi.. ekhmm” ia menghentikan ucapannya dan melirik beberapa orang yang tidak memperhatikannya.


“Indira akan mengakhiri masa lajangnya, anakku ini sudah berumur 27 tahun dan belum pernah menikah, semasa hidupnya ada beberapa lelaki yang sudah mendekati namun hanya memanfaatkan kebaikan putriku tercintaku ini. Saya bahagia sekali ada seseorang lelaki yang bisa merubah sifat kekanak-kanakan anakku ini sampai seperti sekarang. Kali ini Indira yang aku kenal manja sudah lagi tidak seperti dahulu, sekarang menjadi Wanita dewasa yang sudah matang untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama nak Sharon”. Semua memperhatikan dengan seksama tiap ucapan pak Danang, diantaranya ada kakaknya yang Bernama Fahri dan adiknya Intan dan beberapa keluarga yang juga tinggal di daerah tak jauh dari Kawasan perumahan ini.


Fahri sangat berbeda dari intan dan juga Indira, wataknya keras dan sedikit tidak menyukaiku. Ketika tadi bertemu dan hendak menjabat tangannya pun ia enggan menyambut tanganku, cuek dan ketus sekali omongannya kepadaku.


“Sekalipun diantara kalian ada yang tidak setuju terhadap keputusanku menikahkan Indira kepada lelaki ini, saya tidak peduli. Saya tidak pernah salah dalam menilai orang, bagi saya hanya nak Sharon inilah yang cocok bagi Indira. Namun begitu jika diantara kalian ada yang tidak senang dengan keputusan ini, silahkan angkat bicara” Pak Danang memperhatikan satu-persatu tiap orang di meja makan yang hadir dalam jamuan makan malam.

__ADS_1


“Papah kenapa berani sekali menikahkan adikku kepada lelaki yang tak jelas asal-usulnya ini, aku tidak setuju!. Kenapa baru sekarang papah memberitahu kami, ini pun terlalu dadakan. Tak ada gelar pertunangan atau apapun itu. Harusnya kedua belah-pihak orang tua yang mendiskusikan persoalan pernikahan ini”. Fahri ada benarnya, ia menyatakan ketidaksetujuannya dengan alasan yang kuat, siapapun akan tidak mempercayai orang yang tidak jelas juntrungannya tiba-tiba masuk kedalam kehidupan mereka semua dan menjadi bagian dalam keluarga besar.


“Lihat lelaki itu… seperti gembel saja, pakaiannya lusuh tak terurus. Apakah papah yakin mau menikahkan Indira yang cantik jelita ini dengan lelaki miskin itu”.


“Bagaimana nasib Indira nanti kelak ia menikah bersama lelaki tak tahu diri ini, jangankan membiayai kehidupan istrinya, untuk dirinya sendiri sepertinya dia pun tak bisa!” Viona adalah anak dari konglomerat ternama yang memiliki banyak perusahaan dan menjadi istri dari Fahri. Semua orang mengenalnya bermulut pedas, tiap ucapannya pasti akan menyinggung siapapun yang tidak ia sukai.


Viona meliat kearahku dengan tatapan jijik seperti melihat seonggok kotoran yang tak layak ada diantara mereka yang secara garis besar sudah sukses dalam meniti karir dan membangun kerajaan bisnisnya masing-masing. Wajar jika Viona menyulut kekesalan di tiap orang yang kini tertuju kepadaku.


“Kakak ipar tolong dijaga ucapanmu, aku lebih mengenal calon suamiku dibanding kamu, jangan seenaknya ngomong!” Indira buka mulut dan memprotes ucapan pedas Viona dengan membela diriku.


Suasana menjadi gaduh dan tidak terkontrol lagi. Sejak lama Indira memang selalu jadi bahan ledekan kakak iparnya, meski begitu Fahri tak pernah dapat menengahi mereka berdua karena bagiamana pun Viona adalah Istrinya dan dia akan terus membelanya meskipun harus melukai Indira adiknya sendiri.


Ayah Indira menggebrak meja sampai semuanya terdiam


“Cukup sampai disitu! Tidak ada alasan apa pun kamu berhak menjelek-jelekan putriku” Viona mengepalkan jemarinya kesal kepada Indira yang selalu dibela oleh ayahnya.


“Sebagai orang tua, saya hanya ingin kalian hidup rukun tanpa perlu saling menghina seperti itu. Kenapa kalian selalu menjelek-jelekan putriku, apa salah Indira kepada kalian semua? Terutama kau Viona. Ingat dengan siapa kamu berbicara saat ini, berani melawanku, ku usir kau sekarang juga!” Pak danang melihat viona yang kini tertunduk lemas karena makian mertuanya, mau bagaimana pun ia tak kuasa melawan ayah dari suaminya itu, apalagi perusahaan orang tuanya sudah banyak dibantu oleh pak Danang dengan menggelontorkan jumlah uang yang tidak sedikit untuk menyelamatkan perusahaan ayahnya disaat krisis ekonomi 2 tahun lalu.

__ADS_1


“Kakak.. tolong jangan emosi, meskipun ucapan viona seperti itu, tetapi ada benarnya juga, tolong beri alasan yang dapat meyakinkan kami semua agar setuju terhadap pilihan Indira dan juga Kakak. Jangan sampai kehadiran orang baru ini nantinya malah mencoreng citra baik keluarga kita, kakak harus memperhatikan hal itu juga” ucap dahlia adik dari pak danang. Ia mencoba menengahi pembicaraan malam ini dan tidak berpihak pada siapapun.


Walaupun begitu, jelas Nampak ketidaksukaanya kepadaku yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik ku sampai bingung harus berbuat apa jadinya Ketika semua orang tertuju melihat ke arahku.


“Mohon maaf sebelumnya. Pak Danang, Bibi-Paman, dan semuanya. Saya memang bukan orang yang kaya raya seperti halnya kalian semua, tetapi saya seorang laki-laki yang pasti akan bertanggung jawab terhadap istri saya kelak setelah sah menjadi pasangan suami-istri. Saat ini mungkin saya bukanlah siapa-siapa dan tidak memiliki apapun, saya tidak sedang mengambil keuntungan apapun dari menikahi Indira, saya sangat mencintai calon istri saya sepenuh hati, tentu akan terus berupaya untuk membahagiakannya. Saat ini pun saya sedang merintis karir bersama perusahaan yang saya bangun, tak lama lagi perusahaan saya akan grand opening sekaligus peluncuran produk inovatif dibidang IT. Saya yakin saya mampu membangun perusahaan agar dapat membahagiakan dan memberi nafkah lebih bagi istri saya. Aku mau tak mau harus mengambil langkah untuk bisa meyakinkan mereka dengan langsung menceritakan hal yang sedang aku lakukan untuk proyeksi kedepannya ketika sudah menikah dengan Indira, agar tidak ada keraguan lagi diantara semuanya kepada Indira dan juga kepada keyakinan orang tuanya yang berani menerimaku di keluarga ini.


“Sudah jelas semuanya? Kalian sudah mendengarkan apa yang Sharon ucapkan, jangan anggap remeh itu!” ucap pak danang tertuju pada semua yang memprotes keputusannya.


“Semua orang juga bisa ngomong seperti itu, apa buktinya? Memang kita bisa makan cinta? Ini bukan cerita novel !” Viona masih tak mau kalah dan terus memojokanku.


“Mohon ijin bicara” Pak danang melirik ke finna yang sedari tadi sudah emosi mendengar semua orang menjelek-jelekan aku dan Indira, ia pasti akan mengatakan hal yang gila seperti biasanya.


“Ya, silahkan”


“Perkenalkan saya temannya Indira, saya akan menjamin kesuksesan dari perusahaan yang dirintis oleh Sharon, bukan karena Sharon adalah calon suami dari teman saya. Akan tetapi perusahaan saya tertarik untuk investasi sebanyak 50 miliar rupiah agar perusahaannya kelak bisa menjadi besar dan bisa menjalin partnership dengan perusahaan keluarga saya, yang saat ini saya memegang kendali penuh terhadap perusahaan group Wicaksono sebagai penerus di perusahaan PT. Digital Karya Bangsa”. Ia kembali duduk setelah sebelumnya berdiri tegap untuk menjelaskan perusahaan yang kini menjadi milikinya itu akan berinvestasi di perusahaan rintisanku.


Finna memang wanita gila, kegilaanya ini berhasil membungkam semua orang yang ada di ruangan ini begitu pun dengan pak danang yang kehabisan kata-kata untuk menanggapinya.

__ADS_1


“Nah. Sudah jelas bukan?. Ayo kita nikmati hidangannya sebelum jadi dingin. Hahhahaha”.


__ADS_2