
Setelah breafing bersama tim, rania bergegas pulang untuk menjemput Dea dari tempat les bahasa inggris yang tak jauh dari kantornya, dan masih di kawasan central arcadia. Ia khawatir meninggalkan anak semata wayangnya itu sendirian dirumah karena kesibukan rania berbeda dari sebelumnya.
Sebelum ia bekerja menjadi guru dan freelance designer, tak begitu sibuk sehingga masih bisa 24 jam mengawasi putri kesayangannya itu. Berbeda dengan kondisi sekarang yang sudah jauh lebih sibuk karena berbagai macam tugasnya di kantor sebagai seorang designer dan juga menjadi bagian penting dari tim utama jajaran petinggi perusahaan rintisan.
"Bagaimana belajarnya nak?" tanya rania kepada dea yang sedang memakai jaket berwana biru muda.
"Menyenangkan..! aku suka belajar bahasa inggris ma" ucap dea dengan riangnya.
"Ayo naik" setelah mengenakan helm mereka menaiki motor matic yang sekarang menjadi kendaraan utama rania untuk mensuport pekerjaanya dan juga untuk mengantar-jemput dea ke sekolah dan ke tempat les.
Meski jalanan mulai padat karena laju kendaraan yang banyaknya di isi oleh para pekerja yang hendak pulang, namun di jalur yang rania lalui tanpak lenggang hanya ada beberapa mobil yang melewati mereka. Rania terus memacu kendaraan menuju rumahnya, dengan seksama ia melihat spion untuk memastikan dea dan juga kendaraan-kendaraan lainnya dibelakang agar terhindar dari situasi yang tidak dia inginkan, semua dilakukan untuk memastikan keselamatan mereka berdua.
Tak jauh dari rumahnya, ia berhenti di sebuah warung makan. memarkirkan motornya di antara kendaraan lainnya.
"Nak, kita beli makanan dulu ya, mama tidak akan sempat masak untuk malam ini".
"Iya ma, tapi dea mau tumis kangkung ya" ucap dea, ia memang menyukai semua sayuran apalagi masakan si Mbok Rukmi si empunya rumah makan asal jombang yang saat ini mereka datangi.
Sedari lama ketika ia masih mengandung, rumah makan ini tempatnya menggantungkan hidupnya untuk mencari makan. di rumah petakan kecil itu, jangankan rice cooker, bahkan semua alat-alat elektronik lain pun sudah tidak ia miliki, hampir tak ada barang-barang berharga. semuanya habis ia jual disaat si lelaki biadab itu meninggalkannya saat hamil. ia bertahan hidup dengan menjual barang-barang yang ada nilai jualnya sampai habis tak bersisa.
Sempat terpikirkan untuk mengemis di jalanan karena tak kuasa untuk menyelesaikan persoalan perutnya yanh semakin membesar dan membutuhkan banyak asupan gizi bagi si anak. Namun niatan itu ia urungkan, dan bertemu dengan Mbok Rukmi yang membolehkannya bekerja di rumah makan sederhana miliknya. Selain ia mendapatkan jatah makan 3 kali sehari, ia pun mendapatkan gaji mingguan sebesar 150 ribu. sebagai Pelayan warung kecil, gaji sebesar 150 ribu sudah cukup menutupi kebutuhannya untuk memberikan asupan nitrisi tambahan bagi si jabang bayi Sampai ia melahirkan dan juga membesarkan Dea.
__ADS_1
Semua ia lakukan untuk anak semata wayangnya saja, bertahan dari segala kondisi paitnya kehidupan memberikannya keberanian melebihi wanita mana pun. Adakalanya ia merasakan seperti manusia paling menderita di dunia, namun ketika melihat si buah hati, ada tamparan keras, fakta yang seharusnya ia terima, bahwa ia terpilih sebagai manusia, sebagai seorang perempuan yang di anugrahi anak perempuan mungil cantik jelita, itu sudah cukup menjadi alasannya untuk tetap hidup dan berjuang.
"Cah ayu, habis dari mana ini” ucap si Mbok kepada gea yang sumringah melihat perempuan tua yang ikut merawatnya sejak kecil.
"Baru pulang les bahasa inggris. Mbok, tumis kangkungnya ada?" Ia melirik piring-piring yang berisikan
berbagai macam makanan, namun belum melihat tumis kangkung yang ia inginkan.
"Maaf ya Mbok, dea mau makan tumis kangkung buatan si Mbok, Habis ya?". tanya Rania sekedar memastikan ketersediaan makanan favorit si kecil.
"Jangan khawatir, nanti tak buatkan, kalian duduklah terlebih dahulu, dan makan disini ya. kangen sama kalian berdua, apalagi sama dea" tangan keriputnya menyentuh rambut dea dan mengelus-elus perlahan dengab lembut.
"Tidak apa, Mbok akan buatkan tumis kangkung spesial buat dea, tunggu ya nak" ucap Mbok rukmi, dan langsung menghilang menuju dapur untuk memasak tumis kangkung.
Harum bumbu yang ditumis menyeruak di dalam ruangan 5x4 meter, semerbak aromanya tercium bawang merah, bawang putih dan juga cabai dan segala jenis bumbu dapur yang sedang diolah oleh sang koki yang juga pemilik rumah makan singgah sejenak. Dea pun merasakan aroma dari citarasa masakan si mbok dari kejauhan, ia duduk manis di bangku panjang berhadapan dengan segala jenis masakan hasil olahan si Mbok, ada masakan dari daging sapi, ayam, telur dan berbagai macam masakan lainnya, namun yang ditunggunya masih belum selesai dimasak.
"Sabar ya.." ucap Riana sembari mengelus punggung tangan anaknya tercinta.
"Ma, tanya resep masak tumis kangkungnya dong ke si mbok, kan nanti jadi bisa masak juga di rumah". Dea mengungkapkan kepada ibunya, keinginannya untuk selalu bisa menyantap cita rasa masakan tumis kangkung khas mbok Rukmi walaupun tidak harus mengunjungi warung ini.
"Walaupun mbok memberikan resepnya, belum tentu rasanya sama, beda tangan beda hasil, sayang".
__ADS_1
"Maksudnya seperti ini, kalau mama yang masak pasti rasanya akan berbeda walaupun bahan dan bumbunya sama dengan yang si mbok masak". Ia faham bahwa anaknya harus sekali di jelaskan secara terperinci. Dea anak cerdas yang tidak akan puas dengan alasan sederhana dan harus masuk logikanya.
"Oh gitu ya ma.. Dea nanti mau jadi tukang masak ah.. kalau sudah besar".
" Dea, cita-citanya mau jadi koki?" tanya ibunya terheran dengan ungkapan menjadi tukang masak.
"Iya itu maksud dea, mau jadi koki.. boleh kan ma?".
" Boleh, sayangku" ia pun mengecup kening anaknya itu dengan lembut dan memberikan pelukan erat, gemas terhadap anaknya yang memiliki keinginan menjadi seorang koki.
Tanpa sesosok Ayah pun, ia bisa menghidupi anakbya dan memberikan pendidikan yang baik. terlepas dari semu'a trauma yang ia hadapi, kehadiran sosok putri jelitanya telah memberikan warna lain dihidupnya, ruang yang lama kosong, kini hanya dipenuhi oleh Dea, buah cintanya yang kini menjadi sosok penyemangat dihidupnya yang telah lama hancur.
"Ayo dea, tumis kangkungnya sudah siap" Mbok Rukmi menyodorkan piring berisi tumis kangkung yang baru selesai ia buat, tak lupa dengan piring berisikan nasi dan ikan tongkol goreng.
Suasana rumah makan sederhana ini menjadi riuh ramai di isi oleh beberapa pekerja bangunan yang tak jauh dari warung. Beberapa pekerja yang mengenali mereka berdua pun menyapa dan ada juga yang duduk disebelah dea yang duduk di bangku.
"Tumis kangkungnya enak, om minta dong gea?.." celoteh seorang paruh baya yang duduk disampingnya itu.
"Om mau juga?" lucu sekali melihat raut wajah gea ketika mulutnya dipenuhi oleh nasi dan juga tumis kangkung yang sedang ia kunyah. sontak saja beberapa orang tertawa melihat tingkahnya itu.
...----------------...
__ADS_1