Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Masalah Sepele


__ADS_3

Pagi ini, aku harus bergegas pulang untuk mempersiapkan bahan-bahan yang akan di ajukan kepada client. Ada satu project yang masih tersisa untuk diselesaikan pada bulan ini, dan sudah membuat janji meeting di kantor perusahaan Cipta Buana di Jakarta Selatan.


Selesai sarapan bersama indira, aku pun pamit untuk pulang dan berjanji untuk kembali lagi malam ini ke apartemennya.


Sebelum sempat masuk ke kontrakan, seseorang memanggilku, yang ternyata adalah pemilik kontrakan ini.


"Eh mas, dua bulan lagi kontrakannya mau diperpanjang tidak? Soalnya kalau mas tidak perpanjang, tempat ini sudah ada yang berminat pakai" ujarnya to the point.


"Anu Bu.. Saya kasih keputusannya 2 hari lagi ya" jawabku kepada Bu Lisa si pemilik kontrakan yang sudah aku kenal selama hampir setahun ini.


Ibu Lisa orangnya cukup ramah tetapi tidak suka bertele-tele. Aku cukup menyukainya karena sifatnya. Bukan hanya cantik dengan jilbab panjangnya akan tetapi ia rajin membantuku untuk mengurus rumah ini jika aku harus pergi lama ke luar kota.


"Iya, nanti beritahu ya mas"


"baik bu, 2 hari lagi saya kabari" jawabku.


Untuk sewa kontrakan rumah ini membutuhkan 18juta rupiah, harga yang aku sanggupi saat itu pertama kali menyewa rumah ke bu Lisa.


Hanya saja beberapa bulan belakangan, aku banyak mengabaikan permintaan project dari client karena terlalu sibuk dengan project Oxygen, alhasil pendapatanku pun sedikit menurut. Mesti mengatur strategi lain agar aku bisa tetap produktif mengerjakan project pribadi tetapi harus ada pendapatan yang tetap di setiap bulannya untuk bisa disisihkan untuk keperluan seperti sewa rumah, beli listrik, biaya makan dan kebutuhan lainnya. "emmm. Apakah harus meminjam uang untuk bayar kontrakan" gumamku sembari mengecek beberapa nomor kontak di handpone ku yang kemungkinan bisa aku hutangi.

__ADS_1


"ah, mungkin stefan bisa meminjamiku uang" pikirku, kemudian aku hubungi lewat telepon.


"stef, kamu dimana?" tanyaku.


"hey sha, aku masih di kantor. Ada apa nih tumben menghubungiku.?".


Aku pun menjelaskan perihal apa aku harus mengubunginya, setelah faham dengan kondisiku, stefan memintaku bertemunya di Dekafe, tempat yang biasa kita datangi sewaktu kuliah dulu.


Stefan adalah salah satu dari 3 teman dekatku semasa kuliah, perangainya tak jauh beda dengan para lelaki metrosexual di Jakarta yang hobi clubbing, perawatan wajah ala opa opa korea dan tentu bermain wanita juga.


Meski kelakuannya sedikit menyebalkan, tetapi dia sangat peduli terhadap teman-temannya, dan menjadi mood booster kalau kita berempat sedang bersama-sama, dan hal yang tentu kalau stefan mengetahui siapa diriku sebenarnya.


.....


"Ini cafe tidak pernah berubah dari jaman masih kuliah. Hahaha" ujarnya melirik ke arah mas hendy si pemilik kafe.


"Dasar bocah-bocah tak tahu diri, cepat pesan!" ujar mas hendy yang mengetahui stefan yang sedang menyindirnya.


"mas hendy emang gak asik nih.." stefan mencibir kelakuan mas hendy yang disusul tawa riangnya menggelegar seisi ruangan.

__ADS_1


"apa kabar sha?" tanya stefan memulai pembicaraan


"baik, kamu sendiri apa kabar?"


Stefan kemudian menceritakan kehidupannya sekarang ini yang sudah hidup mandiri tanpa bantuan orang tuanya, kini ia menjabat sebagai wakil direktur PT. Cahaya manufaktur Indonesia, yang telah memiliki banyak pabrik di luar kota Jakarta. Temanku satu ini memang lelaki cerewet dan tak henti-hentinya berbicara, aku pun hanya menanggapi sedikit di sela-sela obrolannya.


"Kamu butuh berapa sha untuk sewa rumah? Tanya nya serius dan menatap tajam ke arahku.


"Aku perlu 18 juta stef, tetapi aku hanya bisa menyicil untuk pembayarannya nanti" jawabku.


"Mana sini kirim nomor rekeningmu" pintanya


Setelah mengirimkan nomor rekeningki, stefan sibuk dengan smartphone nya. Beberapa menit kemudian ada notifikasi dari e-banking di smartphone ku.


Kaget dengan isi pesan dari notifikasi e-banking, aku pun melirik ke arah stefan yang sedang meminum kopi hitam nya dan ia pun tertawa pelan.


"hahaha.. Santai sha" ujarnya


"ka-kamu gila ya, ini 200 juta, aku bayarnya bagaimana stef" tanyaku masih dengan kondisi terkejut oleh kelakuan temanku satu ini.

__ADS_1


"Tidak usah meributkan hal sepele, pakai saja, aku tau kalau bukan untik hal penting, kamu pun tidak akan pernah meminta bantuanku. Dibandingkan saat dulu kamu yang sering ngebantu aku, jumlah itu tidak seberapa" ucapnya mencoba menenangkanku.


"Oh iya, jangan pernah berhutang uang ke siapapun, selama aku mampuh, aku pasti bantu kamu sha, jangan khawatir" sambungnya.


__ADS_2